A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 58. Istighfarlah Hubby



Ayesha sudah mandi dan kini dengan memakai baju tidurnya, ia duduk di tepi ranjang sambil menatap kenangan malam purnama kemarin malam. Setelah zooming Rusia's family dengan happy ending antara Elena dengan Paman Alex, maka di malam purnama itu juga Ayesha mencoba zooming dengan Paman Alex dan Uncle John serta Sir Vladimir. Mereka berempat pun berbicara dengan nuansa yang lumayan kaku pada awalnya namun akhirnya bisa cair juga setelah Sir Vladimir memberikan kata-kata nasehat sebagai sebuah keluarga dan sekaligus permohonan maaf kepada Paman Alex. Di malam itu, mau tak mau akhirnya Sir Vladimir membongkar kenyataan bahwa sebenarnya ia masih berstatus menikah gantung dengan ibu Alex bahkan sampai sang ibu meninggal dunia. Ia menikahi karena amanah. Ia sayang pada Alex dan ingin menyelamatkan martabat sang ibu yang melahirkan Alex tanpa ayah, dan sang ibu sendiri tidak tau siapa ayah Alex sebenarnya karena ibunya seorang wanita penghibur. Sir Vladimir menikahi ibu Alex karena itu amanah dari mendiang istrinya yaitu ibu John yang ingin membalas budi atas kebaikan ibu Alex yang pernah menolongnya yang nyaris akan diperkosa perampok jalanan waktu itu.


Alex memang sudah tau tentang kenyataan pahit tentang masa lalu sang ibu, namun ia tidak tau kalau selama ini sang ayah dan ibu bahkan tidak pernah tidur bersama. Sir Vladimir belum bisa membuka hatinya untuk orang lain walau sang ibu Alex sudah meninggalkan dunia kelamnya. Itulah cinta, tidak bisa dipaksakan bukan? Hingga kemudian ibu Alex meninggal karena penyakit AIDS akibat pekerjaannya sebelumnya, dan hal ini sama sekali tidak Alex ketahui. Semua ditutup rapat-rapat oleh Sir Vladimir. Hanya Ayesha yang tau tentang hal ini karena kebetulan dia mendapat infonya dari teman dr Anne. Alex hanya tau bahwa sang ibu meninggal karena sakit kanker, dan dia merasa sang ayah tidak menyayanginya karena enggan dekat dengannya. Padahal sang ayah menghindarinya karena sibuk mengurusi sang ibu. Jadi, bukan sang ibu yang mengurusi sang ayah seperti yang Alex pikirkan selama ini, namun Sir Vladimirlah yang mengurusi ibu Alex ketika berjuang melawan sakitnya dan terbaring tak berdaya di rumah sakit milik mereka. Alex sama sekali tak tau karena dia tinggal bersama Bibi Tania yang mengurusi John kecil.


Akhirnya, dengan penuh deraian air mata dan keharuan, missunderstanding yang terjadi bertahun-tahun antara Paman Alex dan Sir Vladimir pun berakhir. Alex merasa malu karena dugaannya selama ini salah dan hidup penuh kecemburuan yang tak berdasar, karena dalam Islam, yang berhak mendapat hak waris adalah yang seiman, sedangkan Alex sudah murtad ketika remaja dan almarhumah ibunya yang muallaf ketika menjadi istri Sir Vladimir tidak mempunyai saudara kandung. Uncle John ketika itu juga sempat beralih agama, namun kemudian dia kembali lagi kepada Islam dan menunjukkan kesungguhannya, sehingga berhak mendapatkan warisan dari Sir Vladimir dan ibunya. Karena merasa kasihan pada Alex yang sebatang kara maka Sir Vladimir tetap memberinya bagian harta berupa tanah dan rumah yang cukup luas yang kini ditempati Alex dengan istrinya dan Linores dan juga diberi pekerjaan membantu John dan Ahmed mengelola pabrik batok kelapa.


Ayesha menutup layar ponselnya. Ia tersenyum bahagia mengingat momen malam purnama kemarin malam. Persoalan keluarganya sudah selesai. Ia berharap semua keluarganya di sana selalu dalam kedamaian dan jauh dari pertengkaran yang tidak berguna. Maxwell yang baru keluar dari kamar mandi kini duduk di samping Ayesha. Mereka saling memandang dan tersenyum.


"Apakah engkau sudah lega sekarang?"


"Alhamdulillaah. Aku sangat lega, Hubby. Betapa Allah memudahkannya"


"Honey sudah cukup memikirkan orang lain, maksudku...keluarga Honey di sana...sekarang cobalah pikirkan diri sendiri"


"Maksudnya?"


"Pikirkan bagaimana Honey bahagia dengan keluarga Honey sendiri di sini"


"Aku sudah bahagia, bersamamu Hubby"


"Belum seutuhnya"


"Ya. Aku tau. Tapi Hubby kan yang menundanya? Aku sudah membuka hatiku untuk Hubby"


"Tapi aku merasa belum pantas"


"Tidak. Kita sudah berjodoh. Artinya kita pantas bersama. Aku minta kita nikah gantung karena awalnya aku takut, Hubby tidak serius padaku, namun kini aku sadar Hubby tidak main-main dengan pernikahan ini"


"Aku sudah berjanji pada diri sendiri, untuk menjadi suami yang pantas untukmu. Setelah itu barulah aku berani menyentuhmu seutuhnya, hm?"


"Hubby...."


"Hm?"


"Astaghfirullaah...benarkah?", Maxwell berpikir sejenak.


"Jika saat itu Hubby berpikir telah menjadi orang yang lebih baik dari orang lain, maka berarti saat itu di hati Hubby sudah ada perasaan ujub, bangga, sombong. Dan bukankah Allah tidak suka itu?"


"Aku tak berpikir ke situ. Aku hanya berpikir bahwa saat ini aku bukan seorang muslim yang pantas bersanding dengan seorang bidadari sepertimu."


"Hubby, sekali lagi ku katakan. Aku cuma manusia biasa. Banyak kelemahan dan kekurangan. Mari saling mengisi. Aku tidak pernah berpikir merupakan orang yang lebih baik dari orang lain, termasuk Hubby. Aku tidak pernah berpikir Hubby lebih buruk dariku. Aku hanya berpikir Hubby belum ke posisi itu karena Hubby belum tau saja, jika Hubby sudah tau aku yakin Hubby jauh akan menjadi orang yang lebih baik dari Honey, Ayesha-mu."


Ayesha memegang tangan suaminya dan menciumnya dengan takzim. Ia menatap ke dalam mata suaminya yang terpaku melihat sang istri yang nampak sangat menawan dengan balutan baju tidur putih yang tipis dan pendek. Sejenak Maxwell bergairah untuk menjamah istrinya yang sepertinya sudah siap melayani dirinya, namun mendadak bayangan darah dan kekejaman yang dilakukannya sebelum mengenal Islam membuatnya menggeleng-gelengkan kepala dan memegang kepalanya sendiri. Ia merasa ada bisikan-bisikan di telinganya yang meneriakinya sebagai iblis. Mereka mengatakan ia adalah iblis yang mengerikan di dunia ini.


"Argghhhh", Maxwell berteriak dan menjambak rambutnya sendiri.


"Hubby...", Ayesha bingung dan meraih tangan suaminya...namun cengkeraman tangan Maxwell ke kepalanya sendiri begitu kencang. Ayesha pun memeluk suaminya dengan erat.


"Ada apa Hubby? Jelaskan padaku...percayalah padaku...apa yang bisa ku bantu untukmu Sayang...jangan dipendam sendiri..."


Beberapa waktu kemudian Maxwell akhirnya melemah. Tangannya sudah turun ke sisi tubuhnya. Sambil terus memeluk suaminya, Ayesha terus menuntunnya untuk beristighfar.


"Astaghfirullaah...Astaghfirullaah...Astaghfirullaah...", Ayesha terus menggumamkan istighfar untuk Maxwell.


Keringat bercucuran di dahi Maxwell, padahal ruangan kamar mereka ber-AC. Ayesha melepas pelukannya dan kini meraih tangan Maxwell dan mendekapnya ke dadanya. Maxwell memejamkan matanya. Ia masih menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir bayangan mengerikan ketika ia melakukan berbagai kekejaman ketika membunuh dan menyiksa musuh-musuhnya. Detak jantungnya masih bergemuruh namun perlahan semakin reda.


"Istighfar Hubby...Istighfarlah...Allah bersamamu...Allah mengampunimu....ikuti Honey...Astaghfirullaahal'adziim....Astaghfirullaahal'adziim....", Ayesha berusaha menuntun suaminya untuk mengikutinya yang terus mengucapkan istighfar dengan suara pelan dan lembut. Maxwell yang sudah mulai tenang kini ikut beristighfar juga.


"Astaghfirullaahal'adziim.....Astaghfirullaahal'adziim....Astaghfirullaahal'adziim...", Maxwell terus mengucapkannya berkali-kali, dan setelah lumayan tenang ia pun membuka matanya dan memandangi wajah sang istri yang sedang menatapnya dengan lembut. Ayesha tersenyum dan meraih wajah sang suami, lalu mengecup dahi, pipi kanan dan kirinya dengan sangat lembut.


"Hubby...Alhamdulillaah Hubby sudah tenang. Ayo kita berwudhu'. Kita tunaikan sholat witir sebelum tidur. Ok?"


Maxwell mengangguk lemah. Mereka kini melangkah bersama ke kamar mandi. Setelah wudhu' dan sholat witir, keduanya pun naik ke ranjang dan Maxwell pun tertidur tak lama setelah Ayesha selesai membacakan QS Al Mulk yang sudah dihafalnya. Ayesha tersenyum melihat suaminya sudah tidur dengan damai seperti seorang bayi. Pria tampan itu tidur sambil memeluknya. Besok, aku harus menemukan jawabannya. Hubby, engkau akan sembuh dari masa lalumu, Insyaa Allah, gumam Ayesha dalam hati. Sebelum beranjak tidur menyusul suaminya, Ayesha menghidupkan murottal Quran Surat Albaqarah melalui MP3 di ponselnya. Ia letakkan ponsel di atas nakas. Suara merdu menyejukkan itu pun terus berkumandang pelan menemani tidur mereka hingga menjelang subuh.