
Maxwell duduk di kursi di samping bed istrinya yang kini sudah dipindahkan ke ruang ICU. Pria tampan itu terus memegangi tangan kanan wanita lemah tersebut yang masih tak sadarkan diri. Operasi mengeluarkan peluru baru saja selesai dan beruntungnya Ayesha masih bisa diselamatkan. Ia kembali terbayang dengan pembicaraan sang dokter begitu selesai melakukan tindakan operasi terhadap Ayesha setengah jam yang lalu.
"Beruntung istri Anda menggunakan benda ini di dadanya. Sehingga peluru tidak langsung menembus jantungnya namun hanya menggores bagian dalam dadanya yang nyaris dekat ke jantung", ucap sang dokter sambil menyerahkan sebuah bross jilbab berwarna putih yang dimasukkan ke dalam sebuah kantong plastik kecil transparan.
"Alhamdulillaah...Terima kasih Dok!", lirih Maxwell sambil menerima benda yang diberikan sang dokter.
"Lalu bagaimana keadaan istri saya Dok"
"Bersyukurlah, dia sudah mulai stabil saat ini. Tinggal menunggu obat anastesinya berhenti bekerja. Dan Anda harus stand by disisinya karena ini akan sangat sakit. Kami tidak banyak memberikannya obat, agar tidak berakibat buruk pada janin yang dikandungnya. Seterusnya Anda akan kami rekomendasikan membeli obat di pusat kota yang lebih bagus. Lebih aman untuk calon anak Anda"
"Apa? Istri saya..."
"Apakah Anda juga tidak tau istri Anda saat ini sedang hamil? Suami macam apa Anda ini?", sang dokter pun segera berlalu dengan wajah datarnya.
Maxwell mengusap wajahnya mengakhiri lamunannya dan kembali menciumi tangan Ayesha.
"Terima kasih Sayang. Terima kasih karena sudah mengandung anakku. Kita akan menjaganya bersama. Terima kasih juga sudah menunjukkan cintamu yang begitu tinggi padaku.. bagaimana bisa kau mengorbankan diri melindungi suamimu ini. Seharusnya aku yang berbaring di sini.....", lirih Maxwell. Air matanya kembali menetes. Ia mengecup kening sang istri sepenuh perasaan. Tanpa disadarinya, Ayesha sudah bangun dan mendengarkan apa yang dikatakan suaminya. Perlahan matanya terbuka dan menatap suaminya yang kini memejamkan mata seraya menciumi tangannya.
"Hubby...."
Maxwell terkejut dan menatap istrinya.
"Honey...kau sudah sadar?", Maxwell spontan mengulurkan tangannya menyentuh wajah sang istri yang tanpa cadar saat ini.
Ayesha tersenyum lemah.
"Sayang...pasti sangat sakit ya?", Maxwell membelai kepala Ayesha yang terbalut jilbab kecil dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan kanan Ayesha yang tidak diinfus.
"Tidak Hubby...aku sudah tidak merasakan sakit lagi...", senyum kecil Ayesha sambil menatap wajah sang suami dengan pandangan penuh kerinduan.
"Honey berbohong...bagaimana mungkin tidak sakit...dokter bilang..."
"Jika aku sudah bertemu dengan suami yang ku cintai dan sangat kurindukan, bukankah kebahagiaan bertemu ini cukup menutupi semua rasa sakit ini?"
"Sayang...aku sungguh merindukanmu....I love you...", Maxwell mencium kening istrinya kembali dan menciumi kedua mata dan pipinya. Sepertinya semua hal yang dilakukannya saat ini tidak cukup untuk melampiaskan segala perasaannya saat ini. Ayesha hanya tersenyum dan memejamkan matanya. Air matanya pun turut mengalir merasakan keharuan akan cinta suaminya.
"Tidak seharusnya Honey lakukan ini...Aku tak akan mampu memaafkan diriku sendiri jika saja..."
Tangan kanan Ayesha mengulur menutup mulut Maxwell. Ia menggeleng pelan.
"Alhamdulillaah. Ini qadarullah. Yang penting aku selamat. Hubby juga selamat. Dan anak kita..."
"Dia juga selamat Sayang....", Maxwell menyentuh perut rata istrinya. Kini ia menciumi bagian tubuh sang istri yang terbalut gamis hijau itu dengan penuh rasa haru.
"Terima kasih Sayang. Terima kasih sudah mengandung anakku"
"Jangan ucapkan terima kasih padaku. Katakanlah pada Rabb kita Sayang....Dia telah mempercayakan amanah ini pada kita. Semoga ia kelak lahir dengan sehat dan menjadi anak yang dirindukan umat"
"Aamiin"
Maxwell memandangi wajah sang istri dengan penuh kerinduan. Ayesha balas menatapnya dengan sorot mata yang sama. Perlahan ia menarik nafasnya dan teringat dengan sesuatu. Tangannya refleks menyentuh dada kirinya dan mengernyitkan dahi.
"Apakah sakit Sayang? Anastesinya sudah habis?"
Maxwell terlihat cemas. Ayesha menggeleng.
"Sakitnya sudah hilang begitu melihat wajah suamiku yang sangat tampan ini...", Ayesha tersenyum nakal sambil meraih wajah Maxwell.
"Sayang...kau ini....", Maxwell menciumi tangan yang menyentuh wajahnya.
"Hubby...ada yang ingin aku katakan...semoga Hubby bisa memaafkanku..", Ayesha menarik nafasnya sesaat.
"Apapun yang akan Honey katakan tidak akan mengubah apapun. Perasaan dan cinta dalam hatiku untukmu tetaplah sama Sayang...bahkan makin bertambah...", Maxwell mencium tangan Ayesha lagi dan memandanginya dengan penuh cinta.
"Terima kasih Hubby...", Ayesha berhenti sejenak.
"Hubby..aku diculik oleh Luke, yang menganggapmu musuh namun menganggapku wanitanya. Dia mencintaiku dan ingin merebutku darimu walau aku tak mungkin beralih padanya. Karena cintanya, ia memberiku dua buah perhiasan mahal. Sebuah gelang emas putih dan sebuah bross jilbab emas putih", Ayesha menatap Maxwell. Yang ditatap bersikap biasa saja. Tak nampak perubahan ekspresi dalam wajah dan tatapannya.
"Hubby tidak marah?"
"Begitu juga dengan Luke yang telah mengenalmu.. dia tak bisa lari dari pesonamu Sayang...dan aku memakluminya...karena yang paling penting adalah...hatimu...hatimu tetap untukku..walau ia memenjarakan fisikmu...tapi hatimu tidak bisa dipenjara...karena aku percaya...cintamu tetap untukku..."
"Terima kasih Sayang...terima kasih...kepercayaan adalah yang paling penting dalam sebuah hubungan..dan engkau telah memberikannya padaku..aku sangat bahagia...", Ayesha membalas menarik tangan Maxwell dan menciumnya.
"Sayang...aku masih ingin melanjutkan ceritaku padamu...", lanjut Ayesha.
"Katakanlah...", sahut Maxwell.
"Mungkin Hubby sudah mengetahui bahwa aku menggunakan sebuah bross jilbab di dada kiriku, dan itu adalah pemberian Luke. Awalnya aku tidak ingin menerimanya namun karena aku berpikir akan melarikan diri darinya dan butuh bekal, maka aku terima dua perhiasan yang diberikannya. Ketika berhasil melarikan diri darinya dengan Helly miliknya, aku berniat menjual keduanya namun ternyata hanya gelang yang bisa ku jual karena pemilik toko tidak sanggup membeli keduanya karena memang harganya yang mahal. Dan uang hasil menjual gelang tersebut ku gunakan membeli pakaian, ponsel dan biaya transport juga menyuap sang supir agar tidak memberitahukan keberadaanku yang turun di tengah jalan untuk mengecoh Luke. Tapi ternyata imbalan dari Luke mungkin lebih besar sehingga ia membocorkan keberadaanku sebelum Hubby sampai", Ayesha berhenti sejenak dan memperhatikan suaminya.
Maxwell masih setia mendengarkan dan menatap wajahnya dengan penuh cinta.
"Akhirnya aku masih menyimpan bross emas yang diberikan Luke dan terpaksa memakainya karena aku lupa membeli peralatan jilbabku. Dan seperti yang Hubby lihat, qadarullah, bross itu menjadi wasilah menyelamatkanku dari tembakan peluru Joeris", Ayesha berhenti lagi.
"Dan karena itu...aku ingin...Hubby menjadikan ini sebagai sesuatu untuk membalas budi Luke..karena dia juga yang menyadarkan Hubby agar segera melarikanku ke rumah sakit begitu aku tertembak....", Ayesha melirik suaminya yang masih menyimak dalam diam.
"Membalas budi Luke? Orang yang akan memisahkanku dari wanita yang ku cintai?", sahut Maxwell.
"Cintamu akan menjadi apa jika aku tidak ada lagi di dunia ini?"
"Aku..."
"Dan Hubby juga perlu tau...selama dia memenjarakanku...dia juga masih menghormatiku dan menjaga kandunganku dengan baik melalui pelayannya....Dia tidak menyentuhku dan memenuhi perkataanku untuk tidak memaksaku menerimanya..."
Maxwell terdiam.
"Hubby...aku hanya ingin...Hubby membalas budi Luke...dengan memaafkannya dan menolongnya..."
"Apa?", Maxwell menelan ludahnya.
"Bukankah dia saat ini juga terluka? Aku rasa saat ini dia pasti juga di sini mengobati lukanya...dia banyak kehilangan darah bukan?"
"Sayang...apakah kau mulai peduli padanya?"
"Bukankah kita harus membalas budi orang yang sudah berbuat baik pada kita? Meski apapun alasan dia berbuat baik pada kita?"
"Tapi dia..."
"Lupakan rasa cemburu Hubby...bukankah Hubby tau bahwa hanya Hubby yang ada dalam hatiku?"
"Baiklah..aku mengerti...aku pasti akan memperhatikan apa yang Honey katakan..."
Maxwell mengambil ponselnya dan akan menelpon Mark, tapi baru saja ia akan mencari kontak Mark, ponselnya berdering dan nama Mark tertera di sana.
"Aku baru saja akan menghubungimu"
"Apa? Baiklah. Aku ke sana sekarang. Tapi kemarilah. Jaga istriku di pintu rawat"
"Ok"
Maxwell menutup ponselnya dan kembali meraih tangan Ayesha dan menciumnya.
"Sepertinya kalian sudah mulai ada ikatan batin, hm?"
"Maksud Hubby?"
"Mark barusan memberitahuku. Luke pingsan di ruang UGD dan membutuhkan darah. Aku punya golongan darah yang sama dengannya. Honey ku tinggal sebentar ya. Mark menjagamu di luar pintu"
"Pergilah Hubby...aku tidak apa sendiri di sini...aku akan baik-baik saja"
Maxwell mencium kening kekasihnya dan bergegas pergi.
"Terima kasih Rabb. Semoga Luke menyadari kesalahannya dan mengurangi rasa irinya pada suamiku melalui peristiwa ini. Aamiin", gumam Ayesha dalam hati. Matanya menatap pintu yang sudah tertutup. Ada dinding kaca transparan di pintu yang berguna untuk mengawasi pasien dari luar. Ayesha sontak meraih ujung jilbabnya dan menutupkannya sebagian ke wajahnya. Ia ingat bahwa Mark bisa jadi sudah ada di sana dan sudah melihatnya. Wanita yang nyaris sempurna itu beristighfar. Ia amat takut dengan fitnah kecantikan yang selama ini sering dialaminya. Dulu di Rusia ia sering mendapatkan surat cinta dan pesan-pesan cinta yang misterius dari banyak nomor, dan lebih parahnya, beberapa kali hendak dilecehkan oleh para lelaki hidung belang. Dan saat ini, di Ausy pun, yang notabene wilayah yang sama sekali tak dikenalnya, dan tak seorang pun mengenalnya, tetap saja ada seorang seperti Luke yang bahkan tergila-gila padanya setelah mengenalnya dan melihat wajahnya.
Ayesha mendesah. Matanya ia pejamkan dengan susah payah. Tanpa sadar ia menggigit bibirnya. Anastesinya benar-benar sudah habis. Rasa nyeri yang teramat sangat mulai mendera. Ia tak kuasa menahan air matanya yang lolos begitu saja karena menahan rasa sakit di bekas lukanya. Ayesha kembali beristighfar. Tangan kanannya refleks mencengkeram seprai tempat tidurnya. Ya Rabb, aku ikhlas menerima semua rasa sakit ini. Jadikanlah ini penggugur dosa-dosa kecilku selama ini, Aamiin. pintanya dalam hati. Sementara itu, sepasang mata elang sedang mengamatinya dari balik pintu melalui kaca pintu transparan. Sepasang mata milik sang body guard yang selama ini diam-diam sudah menaruh rasa kagum selayaknya seorang pria terhadap wanita, meski itu majikannya sendiri. Tapi itu hanya sebatas kagum karena karakter sang majikan yang luar biasa. Bukankah tidak dosa jika aku sekedar mengagumi istri Boss-ku sendiri? Begitulah pemikirannya saat ini.