A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 52. Pencarian (Part 2-end)



Mark dan timnya sontak berlari mendekati sumber suara, namun mereka tidak menemukan apapun selain jejak kaki yang menginjak rumput dan tanaman lainnya yang membentuk jalan. Peter pun berlari dengan cepat mengikuti arah jejak tersebut dan diikuti yang lainnya. Tak lama mereka mendengarkan suara teriakan manusia yang kesakitan. Mereka pun semakin mempercepat larinya dengan senjata yang siap ditangannya.


"Arrrghh...", suara rintihan semakin jelas. Akhirnya mereka menemukan sesosok tubuh yang baru saja tumbang dengan kayu runcing yang menancap di tengkuknya.Dengan gemetar Peter membalikkan badan pria tinggi besar yang tergeletak di depannya dan ia kelihatan menarik nafas lega. Mendadak matanya menjadi nanar ketika menangkap sesuatu di ranting kayu di dekatnya.


"Oh God, ini sisa kemeja Tuan Maxwell. Kita tidak salah mencarinya kemari". Peter dan yang lainnya pun kembali berlari mencari Maxwell dengan lebih waspada.


Sementara itu Maxwell yang semula hendak mencari makanan akhirnya harus gagal karena kaki tangan Luke yang lainnya kembali menemukannya. Satu orang sudah dibereskannya, kini dua orang lagi masih mengejarnya dan ia pun mulai kehabisan tenaga karena terus berlari dan menahan lapar. Dengan terus memikirkan cara menghabisi musuhnya, ia pun menyambar ranting-ranting kayu yang dilaluinya dan sesekali batu untuk dilemparkan ke belakang. Hingga tepat di sebuah tempat yang cukup lapang dari semak belukar ia pun berhenti dan menyambar sebuah cabang pohon yang cukup panjang. Matanya tajam menyongsong kedatangan musuhnya. Baiklah, aku tak akan menghindar lagi, dengusnya.


Datanglah dua orang pria yang sudah terengah-engah dengan senjata api siap diletuskan. Dengan gerakan cepat, Maxwell memutarkan kayunya sambil menghindari tembakan demi tembakan musuhnya dan sesekali sembunyi di balik pohon. Ketika ia mendapatkan sebuah batu yang cukup besar ia segera melemparkannya tepat ke tangan salah satu musuhnya dan pistolnya pun terlepas. Tak menyiakan kesempatan, Maxwell dengan cepat menyambar pistol tersebut dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya mengarahkan kayu ke lawan yang satu lagi. Kedua lawannya berhasil dipukul mundur dan tak berkutik. Kepala mereka sudah berdarah-darah dan begitu juga dengan leher dan perutnya yang tak luput dari hajaran kaki dan kayu Maxwell. Setelah melihat musuhnya tak berdaya, Maxwell pun meninggalkan mereka namun sebelumnya menghadiahi kedua kaki mereka dengan tembakan yang ternyata itu adalah peluru yang terakhir. Maxwell pun membuang pistolnya begitu saja dan berlalu. Ampuni aku ya Allah, bukankah aku harus membela diri?, gumamnya dalam hati. Pria yang baru berhijarah itu pun melanjutkan niatnya hendak mencari makanan.


Maxwell terus menyusuri jalan dan matanya awas melihat pepohonan kalau-kalau ia menemukan buah yang bisa dimakan. Setelah cukup lelah berjalan, akhirnya ia menemukan pohon yang lumayan tinggi dan sedang berbuah. Tanpa menunggu lagi, pria tampan yang bertelanjang dada itu pun memanjat pohon tersebut. Ia memang membuang bajunya karena sudah tak layak lagi. Ketika sudah mendapatkan beberapa buah ia langsung memakannya di pohon itu juga hingga puas, lalu mengambil lagi sebagian untuk bekalnya. Saat hendak turun, telinganya menangkap suara manusia yang sedang berbicara di bawah sana. Sontak ia kembali naik dan bersembunyi di balik dedaunan pohon. Ia mencoba mendengarkan dengan lebih seksama.


"Bagaimana ini. Kita tinggal berdua. Sepertinya yang lainnya sudah dihabisi musuh Boss kita itu", kata salah seorang di antara mereka.


"Apa kau yakin kawan-kawan kita yang lain sudah bertemu dengan musuh Boss?"


"Jika mereka selamat, mengapa kita tidak menemukan mereka? Bukankah kita sudah berjanji jika sudah ada yang berhasil menangkap boss mafia itu akan memberi tanda?"


"Kau benar juga. Ayo kita harus berhasil menemukannya. Boss akan menghabisi kita jika gagal".


"Kita duduk dulu di sini sebentar. Aku sangat lelah"


"Baiklah"


Keduanya pun duduk bersandar di pohon tanpa menyadari orang yang dicari tepat di atas kepala keduanya.


Maxwell melirik ke arah senjata kedua musuhnya. Ia pun memikirkan trik untuk menguasainya. Mereka ternyata tinggal berdua. Aku harus membereskannya, jika tidak aku tak akan tenang. Mereka pasti kemari menggunakan kapal kecil atau speed boat. Aku harus segera ke pantai untuk mengambilnya, batinnya.


Maxwell pun mulai turun perlahan dan ketika sudah pada jarak yang cukup memungkinkan ia pun melompat turun dan langsung menyerang dengan pukulan dan tendangan yang membuat kedua orang kaki tangan Luke itu pun terkejut karena tidak menduga sama sekali. Maxwell mencoba merebut senjata api salah seorang lawannya sehingga terjadilah tarik menarik. Salah seorang dari mereka pun menembaki Maxwell namun mudah dihindari dengan menjadikan orang yang satu lagi yang sedang berebut senjata sebagai tameng, sehingga membingungkan si penembak. Di tempat lain yang tidak jauh dari ketiganya, Mark dan timnya terus berlari menuju ke arah suara tembakan yang mereka dengar.


Tak lama Mark dan tim melihat tiga orang yang sedang bergulat memperebutkan senjata api. Mereka hanya menonton untuk sementara waktu hingga Peter menyadari siapa salah seorang yang tidak memakai baju yang berada di antara mereka. Ia terkejut melihat penampilan orang tersebut. Tuan Maxwell, gumamnya yang didengar lainnya.


Dorrrr


Kembali terdengar suara tembakan ke atas dari pistol yang diperebutkan. Sebelum perkelahian berlanjut, kedua orang yang sedang menyerang Maxwell tiba-tiba lemas tak berdaya. Pukulan hebat menyerang tengkuk keduanya.


"Mark? Peter?", Maxwell terkejut dan nampak sangat lega.


"Apakah Tuan baik-baik saja?", Peter menatap cemas.


"Seperti yang kalian lihat. Terima kasih sudah datang tepat waktu", Maxwell melihat ke tiga pengawalnya dengan raut senang.


"Ampunkan kami Tuan, kami tak berguna menjaga Tuan dan terlambat menemukan Tuan"


"Sudahlah. Bangunlah! Yang penting aku selamat dan Ayesha...Bagaimana keadaan Nyonya kalian?"


"Nyonya baik-baik saja tuan. Beliau sangat mencemaskan Anda".


"Apakah dia bisa menghandle perusahaan?"


"Nyonya sangat berbakat memimpin perusahaan, dan Tuan juga tidak perlu cemas. Sir Luke sudah ditemukan dan sekarang beliau membantu Nyonya", Mark menjelaskan.


"Oh My God", Maxwell nampak cemas. Yang lain saling berpandangan.


"Ayo segera ke Sydney".


Mereka pun bergegas menuju pantai. Hari sudah mulai gelap dan ketika sudah tiba di tempat yang dijanjikan dengan Patch dan timnya, mereka pun bernafas lega. Ternyata Patch dan yang lainnya sudah tiba lebih dahulu dan mereka tidak lagi berempat, namun sudah bertambah dua.


"Siapa mereka?", Mark melihat dua orang asing sedang terikat di sebuah pohon.


"Mereka kawanan musuh yang kalian lihat di dalam tadi. Anak buah Luke", Maxwell menatap tajam keduanya. Pria bertelanjang dada itu menahan amarahnya kembali seketika begitu mengingat nama penghianat besar yang sama sekali diluar dugaaannya itu.


"Apa?", semuanya terdiam dengan raut wajah terkejut.


Maxwell langsung menuju speed boat musuhnya.


"Mark, Jack dan Todor ikut aku", seru Maxwell.


"Bagaimana dengan mereka berdua Tuan?", tanya Patch.


"Biarkan saja. Jika masih beruntung mereka akan dijemput kawanannya, namun jika tidak, bukankah mereka cerdas untuk survival?", Maxwell hanya tersenyum sinis.


"Apakah Tuan tidak membutuhkan mereka untuk saksi?"


"Tidak. Luke sangat licik. Percuma saja".


"Apakah tidak lebih baik kita bunuh saja mereka Tuan?", Peter menatap buas kedua lelaki yang mulai nampak pucat itu.


"Tidak perlu. Aku tidak ingin menambah dosa lagi", Maxwell menjawab datar. Patch dan Peter saling menatap. Apakah ini Boss mereka? Itulah yang ada dalam benak mereka.


Mereka pun kini membelah ombak menuju pelabuhan Bundaberg. Bahan bakar ke dua boat tersebut sudah dipersiapkan untuk itu. Sementara itu, kedua tangan kanan Luke bernafas lega dan saling berpandangan. Beberapa jam kemudian, ketika malam sudah tiba, datanglah kawanan mereka yang lain dengan kondisi babak belur dan memprihatinkan.