A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 93. Rahasia Masa Lalu (Part 1)



Maxwell dan Ayesha sudah tiba di Sydney Australia keesokan paginya. Tepat pukul 09.00 waktu setempat sepasang pasutri tersebut memasuki gerbang mansion mewah milik Maxwell tersebut dan disambut oleh segenap pekerja yang ada. Semuanya berbaris rapi di depan pintu utama. Seorang wanita separuh baya yang tak lain adalah Bibi Christine langsung memeluk Ayesha pelan dan keduanya pun saling menatap haru. Ayesha masih nampak lemah duduk di kursi roda, sedangkan Bibi Christine pun nampak belum pulih dari sisa-sisa penyiksaan yang dialaminya sebelumnya. Balutan perban masih nampak di kening, kaki, dan tangannya pasca penculikan bersama Julia Grace yang dilakukan oleh musuh Maxwell.


"Syukurlah Bibi sudah nampak lebih baik sekarang", Ayesha lebih dulu menyapa sang bibi.


"Puji Tuhan", sahut Bibi Christine.


"Nyonya nampak lemah. Mari saya antar ke kamar Nyonya. Nyonya harus segera beristirahat. Ijinkan saya mengurus Nyonya", Bibi Christine hendak mengantar Ayesha.


"Tidak Bi. Bibi sendiri pun belum pulih. Aku Insyaa Allah bisa mengurusi diriku sendiri. Jangan khawatir Bi"


"Benar, dan aku sendiri yang akan merawat istriku", sambung Maxwell.


"Oh baiklah Tuan".


"Mark, dimana wanita itu?", Maxwell beralih ke Mark sambil melirik Bibi Christine.


"Dia masih di resort. Besok aku akan menjemputnya, Boss"


"Good. Ohya bukankah di sana ada Jack dan Thodor? Kau bisa suruh mereka yang mengantarnya kemari jika Kau masih lelah"


"Aku ..aku harus memastikan wanita itu tidak kabur menuju tempat ini Boss", Mark sedikit tergagap. Ia bingung akan berkata apa. Maxwell yang melihatnya mulai memikirkan sesuatu namun nampak cuek saja.


Bibi Christine nampak sedikit terkejut dan hal tersebut tak luput dari perhatian Maxwell. Wanita tua itu menelan ludah. Dia sudah menduga wanita mana yang dimaksud pria dewasa yang diasuhnya tersebut.


Tak lama ketika Maxwell dan Ayesha hendak naik ke lantai dua kamar mereka, suara langkah-langkah kaki terdengar mendekat.


"Kak Ahmed?", Ayesha melihat kedatangan saudaranya dari tangga.


Ahmed dan Patch mendekat. Mereka baru saja sampai setelah berkeliling mencari Ayesha, berbagi tugas ke daerah lainnya.


Ahmed pun segera menghampiri sang adik dan memeluknya pelan karena ia sudah mendapat kabar tentang Ayesha yang kena tembakan di dadanya.


"Alhamdulillaah engkau selamat Ayesha", Ahmed masih memeluk adiknya beberapa saat. Orang-orang hanya memperhatikan dan sebagian mereka pun bertanya-tanya siapa pria selain Tuan mereka yang berani menyentuh sang Nyonya.


Ahmed dan Ayesha saling berpelukan di tangga. Maxwell hanya memperhatikan kedekatan kedua bersaudara itu.


"Kak maafkan aku..."


"Sudahlah...semua qadarullaah", potong Ahmed.


"Yang penting kau selamat sekarang. Jadikan semuanya menjadi pelajaran", Ahmed melepas pelukannya dan berpaling ke Maxwell.


"Maafkan aku Brother...", Maxwell menundukkan kepalanya dan membungkukkan badannya ke arah Ahmed dengan raut wajah menyesal.


"Maafkan aku tidak becus menjaga istriku sendiri"


"Sudahlah. Itu di luar kuasamu. Yang penting sekarang jangan lagi pernah meninggalkan istrimu"


"Tentu saja"


"Oh ya, hutang penjelasan padanya tentang kepergianmu harus segera engkau bayar"


"Of Course. Setelah ini mudah-mudahan semuanya akan terjawab dan Ayesha akan segera tau mengapa aku meninggalkannya di resort"


Ayesha hanya menatap keduanya dengan intens. Dia mulai mendapat jawaban dari semuanya.


"My Hubby pasti akan menjelaskannya nanti, bukan?"


Ahmed dan Maxwell sama-sama tersenyum.


"Istirahatlah sekarang. Aku tak ingin calon keponakanku kenapa-napa"


"Kak sudah tau?"


"Tentu saja. Proyek dari kakek sudah berhasil kalian kerjakan", senyum Ahmed mengembang. Ayesha berpaling malu.


Setelah beberapa menit kemudian, Ayesha dan Maxwell pun bergegas ke kamar mereka. Begitu juga dengan Ahmed. Paman Sam sudah mengantarnya ke kamar tamu yang ada di lantai bawah. Sementara itu Patch sendiri ke ruang cctv dan mulai menyapu rekaman tiap sudut wilayah mansion yang luas. Ia benar-benar ingin memastikan keamanan Bossnya dan tak mau lengah lagi. Sekilas hatinya pedih ketika mengingat kembali momen kebersamaanya bersama sang sahabat yang selama ini menjadi partnernya bekerja sebagai pengawal Maxwell di mansion dalam suka maupun duka.


"Peter, semoga kau tenang di alam sana, Mark sudah membunuh Joeris. Giliranku kelak untuk membunuh Luke untukmu", gumam Patch dengan dendam di hati. Boss mungkin memaafkanmu karena permintaan Nyonya, namun aku tidak, batinnya bergemuruh.


Di tempat lain, Bibi Christine sedang berada di kamarnya. Ia sedang menatap selembar foto wanita berjilbab yang dipegangnya dengan mata berkaca-kaca. "Mungkin sudah saatnya semuanya ku bongkar. Maafkan aku Nyonya, aku yakin Maxwell saat ini lebih kuat dan akan sanggup melindungi dirinya sendiri", gumamnya dalam hati. Ia kembali teringat masa lalunya bersama sosok yang fotonya ada tangannya tersebut, juga segala rahasia yang selama ini ditutupnya dengan sedemikian rapat sehingga orang terdekatnya sekalipun tidak ada yang tau.


Hampir tiga puluh satu tahun yang lalu, seorang wanita cantik yang baru saja keluar dari arah sebuah rumah sakit sedang berjalan terseok-seok menahan sakit di malam gelap dengan air mata di pipinya. Ia baru saja kehilangan bayinya yang meninggal karena lahir prematur, hasil dari sebuah hubungan haramnya dengan sang kekasih yang ternyata cuma menipunya dan hanya ingin memanfaatkannya sebagai pemuas nafsu belaka. Tengah dirundung kesedihan karena bagaimanapun ia adalah ibu dari bayi tak berdosa yang baru beberapa hari dilahirkannya, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di belakangnya dan keluarlah dua sosok pria yang sangat dikenalnya, salah satunya adalah sang Boss Besar tempatnya bekerja selama ini dimana ia menjadi seorang asisten sekretaris di bidang personalia.


"Masuklah", hardik sang Boss menyuruh wanita tersebut masuk dalam mobilnya. Sang wanita terlihat bingung karena selama ini mereka jarang berbicara.


"Masuk atau kau ku pecat", nada sang pria mulai naik dan ia kembali masuk ke mobilnya. Pria satu lagi yang merupakan sang ajudan segera membukakan pintu belakang dan menyuruh sang wanita masuk. Sang wanita pun hanya menurut meski pikirannya masih bingung dipenuhi tanda tanya. Setengah jam kemudian mereka pun tiba di sebuah mansion yang sangat mewah. Sang wanita dibawa ke sebuah ruangan yang cukup luas di lantai bawah. Tak ada siapapun di sana kecuali mereka berdua bersama Sang Boss.


"Christine Margaretta. Kau baru saja melahirkan, bukan?"


"Ya, Tuan. Dari mana Tuan tau?"


"Kau tidak perlu tau. Kau cukup melakukan apa yang ku suruh tanpa penolakan", Sang Boss menatap tajam. Sang wanita yang bernama Christine hanya mengangguk takut.


"Kau pasti punya ASI bukan?"


"Maksud tuan? Air susu untuk bayi?"


"Ya. Kau tidak bodoh bukan? Oh, kau memang bodoh karena mudah tertipu oleh lelaki hidung belang kekasihmu sehingga kini kau ditinggalkan", sang Boss menatap sinis tanpa belas kasih. Christine muda makin terpuruk. Ia jadi teringat kembali nasibnya yang malang. Ia begitu percaya pada kekasihnya dan telah menyerahkan semuanya, namun apa yang kini ia rasakan. Jangankan kasih sayang sang kekasih yang harusnya menemaninya melahirkan, ia malah ditinggalkan begitu lelaki bajingan itu tau ia hamil dan ia pun harus menjalani kesakitannya sendiri. Menjalani kehamilan tanpa suami hingga mendapat banyak gunjingan dari orang-orang sekitar bahkan keluarganya, dan setelah semua terlewati ia kini kehilangan bayinya yang tak sanggup bertahan karena lahir prematur dan ibunya sendiri sekarang sakit parah karena tertekan batin melihat kondisinya yang memprihatinkan. Sang Adik pun tak luput dari kemalangan. Ia hilang seperti ditelan bumi tak tau kabarnya. Sebelum melahirkan, ia sudah mencari Grace, sang adik sekandungan beda ayah itu di mana-mana, tapi tak juga bertemu. Christine mengerjapkan mata tatkala Sang Boss menghardiknya karena melamun. Ia tak heran. Apa pun informasi bisa diketahui oleh seorang Boss Besar Penguasa Ausy dan sebagian Eropa di depannya ini. Tubuhnya makin gemetar. Bukan hanya rasa takut, tapi juga rasa lapar dan sakit di kelenjar susunya yang sudah minta keluar karena tidak disedot.


"Katakan apa yang Tuan inginkan"


"Istriku baru saja melahirkan bayiku tapi dia tidak bisa memberinya ASI. Aku memintamu untuk menyusui bayiku. Tapi sebelum itu aku harus pastikan bahwa kau orang yang sehat dan layak memberikan ASI untuk anakku"


Christine terdiam. Ia tidak menyangka, sang Boss yang terkenal dingin nan kejam itu kini sudah memiliki anak kandung dan sepertinya menyayangi sang anak. Kapan ia menikah pun ia tak tau. Tak ada pesta yang dia dengar tentang pernikahan sang Boss besar tersebut.


"Sebelum Tuan memeriksaku, aku jujur mengakui bahwa aku memiliki penyakit lemah jantung. Namun setauku itu tidak membahayakan bayi yang menerima Asi dari seorang ibu yang berpenyakit demikian"


"Aku sudah tau", Sang Boss menyela. Ia segera memanggil seseorang dari ponselnya dan tak lama datanglah seorang wanita berseragam dokter yang kemudian membawa Christine ke sebuah ruangan yang seperti sebuah klinik berfasilitas lengkap di mansion itu. Setelah diperiksa dengan teliti mereka pun kembali dan sang dokter melaporkan hasilnya di beberapa lembar kertas yang diserahkan ke Sang Boss.


George Powell, sang Big Boss pun menelusuri semuanya dan bertanya.


"Artinya dia bisa memberikan ASI untuk anakku bukan?"


"Benar, Tuan. Masih aman"


"Good job"


"Permisi Tuan", sang dokter pun undur diri.


"Juke. Antar wanita ini ke kamarnya", Sang Boss menyuruh anak buahnya lalu melangkah ke lantai dua mansion. Christine masih terpaku berdiri di tempatnya.


"Ikut denganku", seru Juke, seorang pria yang berusia sekitar 30 tahun, ajudan sang Big Boss. Christine pun mengikuti hingga sampai di depan pintu sebuah kamar yang cukup luas.


"Dengarkan aku. Ini kamar tamu untukmu. Perlengkapan mu termasuk pakaian dan yang lainnya sudah ada di dalam. Segera bersihkan dirimu dan kemudian datanglah ke ruang makan. Bibi sudah menyiapkan makanan bergizi untukmu. Lalu Istirahatlah yang cukup. Sebelum tidur, jangan lupa minum obatmu yang sudah ada di kamar. Besok pagi-pagi sekali aku akan menjemputmu untuk menemui Nyonya. Kau paham?", jelas Juke panjang lebar dengan muka datar. Christine hanya mengangguk seperti robot. Ia pun masuk ke kamar dan kemudian melakukan semua instruksi yang diberikan. Hingga keesokan paginya ia pun bertemu dengan Sang Nyonya, istri sang Boss yang baru saja melahirkan bayinya beberapa hari lalu. Christine awalnya terperanjat kaget karena tak menyangka bahwa sang Nyonya ternyata bukanlah seperti sosok yang dibayangkannya. Seorang wanita cantik bermata biru dan berkulit putih dengan pakaian tertutup disertai penutup kepala menatapnya dengan pandangan penuh persahabatan. Senyum terukir indah meskipun lemah di wajahnya dan suara serta bahasanya pun lembut dan berkelas.


"Kau pasti Christine, bukan?", sang Nyonya berjilbab yang sedang berbaring lemah di tempat tidur itu tersenyum ramah.


"Ia, Nyonya. Saya Christine"


"Kemarilah. Suamiku sudah menceritakan padamu bukan?"


"Ya, Nyonya", Christine terlihat takut-takut mendekat. Ia merasa canggung berada di kamar yang sangat mewah dan luas itu. Ia melirik sekilas ke sekeliling dan mendapati sesosok bayi mungil tidur dengan tenang di box bayi yang tak jauh dari jangkauan tangan Sang Nyonya di sampingnya.


"Chistine, lihatlah bayi kami. Kau pasti akan jatuh cinta melihatnya yang begitu tampan. Aku baru saja melahirkannya dua hari yang lalu, aku sangat bahagia....namun sayang, di tengah kebahagiaanku, aku tak bisa memberikan yang terbaik yang harusnya diberikan seorang ibu pada bayinya. Aku tak bisa memberinya ASI yang cukup. Sementara, bayiku alergi susu formula dan hanya bisa ASI saja. Sekarang ia sedang kelelahan karena menangis hingga tertidur....", sejenak Sang Nyonya berhenti dengan tatapan mendadak sedih dan kini beralih memandangi baby boy di sisinya. Christine hanya terpana menatap ke depan.


"Christine, bisakah kau menolongku untuk membagi ASI-mu sebagaimana seorang Halimahtusa'diyah menyusui Muhammad Saw dan menjadi ibu susunya? Untuk turut membuat baby boy kami ini kelak menjadi seorang pemuda tampan yang sehat dan kuat dengan ASI mu?", Sang Nyonya kini berpaling menatap Christine dengan pandangan berharap dan penuh kesedihan.


"Bukankah aku memang hanya bisa menerima tanpa menolak? Untuk apa ditanyakan kembali", batin Christine bermonolog. Sang Nyonya berkata lagi.


"Aku tau, mungkin suamiku memaksamu, namun...ku mohon lihatlah aku...tak peduli bagaimana hatimu saat ini menerima perintah suamiku, kini...lihatlah aku sebagai seorang ibu. Kita sama-sama wanita, yang bahkan sama-sama pernah hamil dan melahirkan seorang anak. Maafkan aku, tak bermaksud mengingatkanmu dengan musibah anakmu, namun saat ini aku betul-betul membutuhkan bantuanmu. Aku yakin Engkau adalah seorang ibu yang baik, yang sangat menyayangi anakmu. Jika boleh waktu berputar, tentulah Engkau ingin memegang bayimu saat ini, bukan?", Sang Nyonya berkata panjang lebar dan makin mendalam menatap Cristine. Yang ditatap hanya terdiam dan malah meneteskan air mata. Ia teringat kembali dengan bayi cantiknya yang telah tiada.


"Christine, susuilah bayi kami seperti Engkau menyusui bayimu sendiri. Engkau akan menjadi ibu dari anakku juga. Apakah Engkau bersedia?".


Christine kini memandangi bayi di dekatnya dan mulai menyentuhnya. Ia terkesima melihat ketampanan sang baby boy yang masih tidur dengan gelisah. Sesekali mulut mungilnya bergerak-gerak seperti mencari sesuatu. Sang Nyonya yang melihat baby nya kini berusaha bangkit dari tidurnya dan kini mulai menyandarkan kepalanya di head bed, lalu menjulurkan tangannya ke sang bayi mungil dan menggendongnya. Mendadak sang pria tampan yang mungil itu membuka mulutnya mencari-cari dan merintih. Christine membulatkan matanya dan refleks mengulurkan tangan meminta sang bayi untuk digendongnya. Sang Nyonya pun memberikannya dan nampak terharu tatkala Christine kini dengan tenang duduk di pinggir ranjang dan mulai memberikan ASI pada sang bayi yang melahapnya dengan penuh nikmat.


"Terima kasih Christine. Terima kasih", ujar Sang Nyonya dengan mata berkaca-kaca. Christine hanya tersenyum dan memandangi sang bayi dengan tetesan air mata yang masih mengalir. Ia terharu melihat baby boy yang menyedot ASI-nya dengan lincah dan seakan-akan sangat kehausan selama ini.


Terima kasih juga Nyonya, aku seperti menyusui bayiku sendiri, batinnya. Ia kembali teringat bayi perempuannya yang ukurannya jauh lebih kecil dari baby boy Sang Tuan yang saat ini disusuinya. Matanya makin memanas mengenang kembali semuanya. Sang Nyonya hanya bisa menatap prihatin. Ia telah mengetahui semua cerita menyedihkan tentang Christine dari Juke, sang ajudan suaminya.