A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 106. Haruskah Resepsi?



Maxwell dan Ayesha baru saja mengantar Abraham dan Ahmed ke bandara. Meski mereka menolak diantar karena memahami kesibukan Maxwell yang sangat padat sebagai seorang Boss Besar perusahaan nomor satu di Australia, tapi kedua tuan rumah tetap bersikukuh menemani. Sebelum melepas keduanya, sebuah drama mengharukan sempat terjadi antara Abraham dan Maxwell. Di depan pintu pesawat jet pribadi Abraham, Boss Mafia kelas kakap itu sempat berlutut di depan Maxwell meminta padanya untuk memaafkan sang kakek dan bersedia menjenguknya suatu saat ke New York. Maxwell hanya diam terpaku menyaksikan sang paman yang nampak lemah dengan mata berkaca-kaca. Suami Ayesha itu hanya bisa mengatakan bahwa ia akan memikirkannya.


"Jika waktu itu tiba, aku akan datang mencari kakek dan tiba-tiba sudah ada di depannya untuk menyapanya", demikian jawab Maxwell pelan pada sang paman.


Sementara itu di sisi lainnya, Ahmed dan Ayesha nampak saling memeluk dan saling memberikan nasehat.


"Kabari saja kapan tepatnya perhelatan kalian. Aku akan datang membawa semua orang yang adikku ini rindukan agar ia tidak melahirkan baby yang suka ngences", gurau Ahmed.


Ayesha dan Ahmed pun saling bercengkrama hingga kemudian mereka berpisah. Ahmed menaiki pesawat komersil biasa sedangkan Abraham Alexander pun terbang bersama jetnya menembus angkasa kembali ke kehidupan aslinya nun jauh di benua seberang.


Setelah puas membersamai dua orang saudara, kini Maxwell dan Ayesha melakukan perjalanan keluar dari bandara menuju perusahaan Powell Group. Seperti biasa, para pengawal pilihan pun senantiasa mendampingi. Sejak kematian Jack dan Thodor pengawal tangguh dari Rusia, juga luka kritis yang dialami Patch dan Mark, dua body guard andalan Maxwell, maka pengawalan diambil alih oleh Diego, seorang mantan perwira tinggi Rusia pensiunan muda yang juga dikirim oleh Pavlo yang masih dengan setia membantu Maxwell untuk menyalurkan tenaga pengawal bayaran tingkat tinggi. Rencananya besok Zeny pun akan kembali datang setelah sebelumnya sempat ditarik kembali ke Moscow setelah Maxwell kembali dari penculikan Luke waktu itu.


Diego dengan tenang menyupiri sang boss yang duduk di belakang kemudi bersama sang istri tercinta. Dua mobil pengawal siap siaga di depan dan belakang. Mobil anti peluru itu pun melesat dengan gesit membelah jalan raya yang sudah mulai diisi para manusia pekerja ataupun para pelajar di pagi yang sejuk itu.


"Apakah masih perlu untuk melaksanakan resepsi pernikahan kita Hubby?", tanya Ayesha pada sang suami yang sedang membaca indeks saham di ponselnya.


Resepsi pernikahan Maxwell dan Ayesha seyogyanya sudah dilaksanakan beberapa waktu lalu. Namun dikarenakan berbagai peristiwa tak terduga yang terjadi menimpa Ayesha dan Maxwell, mulai dari kasus penyanderaan sang bibi dan Grace, penculikan Ayesha oleh Luke dan juga kasus penyerangan di mansion yang mengerikan, maka semua persiapan pun ditunda. Untungnya, sebagai Penguasa multi bisnis, sama sekali tak masalah bagi Maxwell untuk men-delay semuanya. Karena mulai dari gedung, jasa catering, wedding organizer, boutique, dan percetakan semuanya adalah usaha miliknya sendiri. Jadi no problem dengan semua penundaan yang terjadi. Ayesha tak bisa bayangkan jika semua itu bukan milik suaminya, ada berapa total kerugian yang harus diderita mereka dan itu semua terbuang percuma. Ayesha pun beristighfar dalam hati. Ah, tak ada yang sia-sia bukan? Sebagai milyarder, bisa berbagi pada sesama itu bukan kesia-siaan. Pikirnya menepis lamunannya sendiri.


Maxwell yang mendapatkan pertanyaan sang istri meletakkan ponselnya di saku.


"Kenapa Sayang? Apakah engkau merasa tidak sanggup meneruskan resepsi ini? Kita bisa menundanya kembali sampai engkau merasa kuat", Maxwell memikirkan kandungan istrinya.


"Insyaa Allah aku kuat Hubby. Yang penting tidak melelahkan saja"


"Tentu saja. Ratuku nantinya lebih banyak duduk manis. Aku yang akan lebih banyak menyambut tamu. Jangan khawatir. Jika nantinya calon ibu dari anakku ini merasa lelah, ia bisa istirahat di kamar dan menunggu kegiatan lainnya denganku"


"Apa?"


"Sebuah kegiatan yang paling menyenangkan, hm?"


Ayesha langsung paham dan mencubit pelan pinggang suaminya.


"Dasar suami mesum"


"Boleh kan?"


"Asal hanya denganku tak masalah"


"Tentu saja Sayang...dengan siapa lagi?"


"Semoga Hubby akan menjadi suami yang setia selama aku hidup....", ucap Ayesha manja. Maxwell yang mendengarnya merasa gemas. Sejak hamil Ayesha terkadang nampak sedikit manja dari biasanya. Terbersit rasa ingin menggoda.


"Tapi...bukankah dalam Islam dibolehkan poligami?", Maxwell menahan tawa dalam hati.


"Ya. Benar. Tapi Sayyidina ummul mukminin, Khadijah Ra juga adalah sosok istri yang tak pernah dimadu suaminya selama ia hidup. Bolehkah engkau suamiku, mencontoh Rasulullaah idola kita, untuk menjadikanku seperti Sayyidina Khadijah yang mulia itu?", Ayesha mengedipkan matanya ke wajah suaminya penuh makna. Maxwell tercengang. Jawaban sang istri di luar prediksinya. Ia masih buta sejarah agamanya. Shirah Nabi belum tamat dibacanya. Maxwell pun tersenyum. Istrinya sungguh cerdas. Dalam hati, ia bertekad akan membaca shirah Idola dunia itu hingga tamat sehingga tak kalah berdebat dengan istrinya. Ah, bukan untuk berdebat, tapi aku sebagai seorang kepala keluarga, tak layak mempunyai pengetahuan Islam yang terlampau jauh dari istri yang harusnya ku bimbing. Aku tak mau terus-terusan yang dibimbing. Ayesha harus bangga pada suaminya. Monolog Maxwell dalam hati.


"Percayalah... Hatiku hanya untukmu sweety...aku hanya menggodamu saja...tak akan ada Ayesha lainnya dalam hatiku...selama engkau masih hidup di sisiku Sayang....terima kasih sudah setia dan bersabar selama ini berada bersamaku dan menerimaku apa adanya....aku akan membuatmu menjadi seorang Sayyidina Khadijah itu...", Maxwell berbisik pelan ke telinga Ayesha sambil menggigit telinganya.


"Hubby....", Ayesha menggeliat geli. Awalnya Ayesha terharu mendengar ucapan sang suami, namun begitu digigit telinganya ia pun sontak merasa dicandai.


Maxwell kemudian menjauhkan wajahnya.


"Terima kasih Hubby", bisik Ayesha.


"Untuk?"


"Untuk cintamu"


"Tentu saja, Sayang", Maxwell meraih tangan Ayesha dan menciumnya dengan lembut.


"Resepsi ini penting bagiku, Sayang...agar dunia tau aku pria beristri. Dan aku adalah orang paling beruntung di dunia ini karena memperistri seorang bidadari sepertimu...", Maxwell menarik tangan Ayesha dan merengkuh bahu wanita cantik itu dengan tangan kirinya. Dilingkarinya pundak sang istri dengan cinta dan mengecup keningnya. Perlahan tangan kanannya mengelus perut rata Ayesha.


Dieogo yang mendengar semua perkataan sang Boss di belakang berusaha fokus menyetir. Ia mulai mengerti bagaimana kehidupan sang majikan barunya. Bibirnya tersenyum membayangkan kebahagiaan sang Boss. Diliriknya sekilas wajah wanita bercadar di belakangnya dari kaca spion. Mata yang indah, pikirnya. Jika matanya saja indah, apalagi yang lainnya. Pantas saja Boss nampak tergila-gila pada istrinya, gumam sang ajudan baru dalam hati.


"Hai Son, kamu baik-baik saja di sana bukan?", sapa Maxwell pada calon anaknya.


"Kita belum lagi tau jenis kelaminnya Hubby. Mengapa Hubby memanggilnya begitu?"


"Anggap saja dia anak lelaki, penerus Powell Group"


"Jika tidak laki-laki bagaimana?"


"Dia tetap penerus-ku"


"Alhamdulillah jika Hubby bersikap adil"


"Tentu saja. Laki-laki dan perempuan sama saja. Sama-sama anak kita, Sayang. Keduanya tetap akan menjadi anak kebanggaan keluarga kita bukan?"


"Benar. Karena bukan kehendak mereka lahir di bumi ini, melainkan taqdir Allah. Dan apapun yang Allah berikan kita hanya cukup bersyukur dan pandai bersyukur"


"Barangsiapa yang pandai bersyukur maka Allah akan makin menambah nikmatnya", sambung Maxwell. Ayesha terkesima mendengarnya.


"Dan barangsiapa yang mengingkari nikmat-Nya, maka azab Allah sangat pedih", Maxwell menutup kalimatnya.


"Wah sudah pandai ya. Darimana Hubby mendapatkan kalimat ini?" Ayesha langsung teringat isi QS Ibrahim ayat 7.


"Dari terjemahan Quran yang pernah ku baca", jawab Maxwell


"Aku ingin menjadi orang yang pandai bersyukur karena Tuhan sudah mengirimkan seorang wanita yang baik sepertimu. Entah apa jadinya jika kau tidak bertemu denganmu", Maxwell mengelus wajah sang istri dari balik cadarnya.


"Semua sudah taqdir Allah, Hubby. Aku juga sungguh beruntung mempunyai suami sepertimu", Ayesha balas mencium tangan yang menyapa wajahnya.


Keduanya pun untuk beberapa waktu larut dalam pikiran masing-masing. Ketika perjalanan hampir sampai, Ayesha kembali mengutarakan sesuatu yang mengganjal hatinya sejak tadi.


"Hubby...tentang resepsi...haruskah?", tanya Ayesha hati-hati. Ia sungguh tak suka keramaian pesta.


Maxwell kembali menoleh ke arahnya.


"Tidakkah cukup konferensi pers saja yang sudah Hubby lakukan waktu itu untuk mengumumkan pernikahan kita?", sambung Ayesha.


"Tidak. Karena aku sudah mengumumkan akan melaksanakan resepsi, pantang untuk membatalkannya, Honey", ucap Maxwell pelan.


"Aku lupa Hubby. Pantang untuk seorang Big Boss seperti suamiku ini mencabut kata-katanya bukan?"


"Terima kasih Honey sudah memahamiku. Aku tau, engkau tidak suka pesta. Tapi sebagai seorang pebisnis yang sudah terlanjur mengumumkan sesuatu, pantang untuk menariknya kembali"


"I see. Kepercayaan publik harus dijaga bukan?", ujar Ayesha. Ia memang tidak suka pesta. Walau suaminya tentu sanggup mengadakan pesta sebesar apapun karena baginya uang bukanlah masalah, namun kesederhanaan dengan cukup mematuhi syariat dalam pernikahan secara Islami baginya sudah cukup. Jika pun ingin mengadakan walimatul 'ursy, ia sebenarnya ingin yang sederhana saja namun berkesan. Namun untuk seorang penguasa seperti suaminya itu tidaklah mungkin. Banyak hal harus dijaga terkait image sang suami dan keluarganya di mata masyarakat kelas atas.


"Hubby, bolehkah aku meminta sesuatu?"


"Tentu saja Sayang. Apapun itu. Aku akan berusaha mengabulkannya jika mampu", Maxwell menatap sang istri dengan rasa penasaran di hati. Ayesha pun bersiap menyampaikan ide resepsi yang berkesan yang sudah terbayang dalam benaknya sejak kemarin. Ia memang sudah mempersiapkan ide ini jika memang resepsi besar jadi dilaksanakan. Ayesha pun menatap suaminya dan berkata.


"Nanti saja di kantor Hubby. Aku akan mengatakan semuanya dengan rinci"


"Baiklah. Apapun itu. Asal bukan minta jauh dariku, aku akan memberikannya untukmu, termasuk nyawaku Sayang", Maxwell mencium lagi tangan Ayesha.


"Hubby pintar menggombal sekarang ya..."


"Belajar darimu...", senyum Maxwell.


"Aku tak pernah berniat menggombal padamu Hubby"


"Aku juga..."


Keduanya pun tertawa. Diego lagi-lagi tersenyum dan merasa iri dengan kehidupan pernikahan sang Boss. Jiwa jomblonya pun meronta. Pria gagah yang tak kalah ilmu bela dirinya dengan Mark dan Patch itu pun kembali fokus ke depan.