A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 62. AKHIRNYA



Ayesha bergegas ke kamar mandi setelah lebih dulu memberikan pakaian ganti untuk Maxwell yang katanya akan mandi di kamar kosong sebelah agar lebih cepat. Gadis cantik itu kini sudah berendam di bathtub berisi taburan kelopak mawar merah yang entah oleh siapa ternyata sudah disiapkan. Setelah menyelesaikan berbagai ritual mandi spesial yang lebih dari biasanya, masih di kamar mandi juga, Ayesha pun segera memakai pakaian yang spesial pula yang jauh hari sudah dipersiapkannya untuk mengisi malam zafaf yang mungkin akan terjadi sebentar lagi. Setelah selesai dengan berbagai pernak pernik sunnah perempuan yang tak lama lagi akan menghadapi hari bersejarah paling mendebarkan dalam hidup, maka wanita yang nyaris sempurna kecantikannya itu pun mengenakan mukena barunya. Ia sudah menyiapkan semua perlengkapannya di kamar mandi yang luas itu sehingga ketika kemudian keluar ia sudah dalam kondisi yang lengkap.


Maxwell menatap sang istri yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan mata tak berkedip. Ia rupanya baru saja masuk dan dengan penampilan yang baru pula. Wajah manly-nya nampak lebih bersih tanpa kumis dan jambang. Hanya ada sedikit rambut di bawah dagunya. Sementara itu rambut kepalanya nampak hitam lebat tersisir rapi. Kemeja putih pendek bergaris biru dengan celana jeans lembut berwarna biru langit nampak pas melekat di tubuh gagahnya yang beraroma parfum khas pria yang menggoda dan menyegarkan. Keduanya kini saling menatap dan sama-sama salah tingkah. Maxwell menyadari perubahan penampilan istrinya walau dalam balutan mukena. Mukena baru berwarna putih berbalut aksesoris putih bercahaya seperti mutiara di kepalanya. Aroma wewangian baru yang tercium menyegarkan dari tubuh Ayesha. Mata biru yang bercelak hitam sedikit disekitar matanya. Pemerah pipi yang sangat tipis nyaris tidak terlihat namun memperlihatkan wajah yang seperti merona atau mungkin memang merona. Bibir pink yang nampak sangat segar tanpa polesan apapun. Sungguh semuanya adalah pemandangan dari ciptaan Sang Maha Indah yang alami dan sangat mengesankan siapapun makhluk yang menatap.


"Assalamuaalaikum My Honey", Maxwell menyapa dengan canggung. Suaranya pelan nyaris berbisik. Ayesha menjawab salamnya dengan pelan pula. Di tangannya sudah bergantung sajadah dan kopiah putih untuk Maxwell. Ia tersenyum gugup menyambut sang suami.


"Mari kita sholat berjamaah dulu Hubby", Ayesha pun memberikan kopiahnya pada suaminya dan kemudian berjalan mendahului ke sudut kamar yang cukup luas tempat biasanya mereka sholat berjamaah. Mansion Maxwell memang terletak di pusat kota namun Masjid cukup jauh dari tempat mereka tinggal. Sehari-hari mereka hanya sholat berdua berjamaah di dalam kamar. Kelak Ayesha dan Maxwell berencana akan membangun mushollah di dekat mansion yang ada warga muslimnya. Namun semuanya belum sempat mereka wujudkan.


Ayesha lalu membentangkan sajadah untuk mereka berdua dan kini dengan khusyuk keduanya pun tenggelam dalam nikmatnya sholat Magrib berjamaah berdua. Setelah salam dan berdoa dengan sedikit doa dalam Bahasa Arab yang Maxwell hafal juga doa dalam Bahasa Inggris, mereka pun melanjutkan rutinitas sehari-hari dengan belajar membaca Al Quran. Tepatnya Ayesha menyimak bacaan Maxwell yang sudah lumayan lancar dan Maxwell pun menyimak murojaah Al Quran Ayesha yang seminggu ini mulai secara rutin disetorkannya pada Maxwell untuk disimak setiap malam. Selesai sudah agenda ruhiyah mereka dan Ayesha mengambilkan dua gelas susu untuknya dan suaminya yang sudah dipersiapkan di atas nakas. Beberapa butir kurma pun disuguhkannya dalam toples kaca mini dan mereka pun makan berdua dalam diam, duduk bersisian di atas karpet putih tebal berbulu di tempat sholat. Sore sebelum pulang ke mansion mereka sudah dinner di restoran muslim dan kini mereka hanya duduk diam menanti masuknya waktu sholat Isya. Entah kenapa, keduanya malah terlihat canggung seperti baru berkenalan dan ini membuat detak jantung keduanya tidak lagi normal. Jika selama ini Maxwell dan Ayesha kadang berani saling genit menggoda namun sekarang ketika sudah ada rencana eksekusi proyek besar dari Kakek keduanya malah terlihat kaku dan gugup.


Maxwell melirik Ayesha yang menunduk diam sambil mengunyah kurmanya dengan sangat lambat. Yang dilirik ternyata melakukan hal yang sama. Keduanya merasa lucu dan sama-sama tersenyum malu.


"Hubby..."


"Honey..."


Serentak keduanya memanggil dan kini keduanya pun serentak saling memandang dan saling melempar senyum.


"Honey...apa yang engkau rasakan saat ini?", Maxwell memberanikan diri bersuara lebih dulu.


"Aku...aku tidak tau By. Aku merasa takut. Ya, takut", Ayesha gugup.


"Honey belum siap melakukannya malam ini?"


"Aku...Insyaa Allah siap Hubby....Hanya saja aku takut..."


"Takut kenapa?"


"Katanya...itu akan..."


"Akan...?"


"Benarkah?"


"Aku tak tau...itu kan penjelasan orang lain yang sudah mengalaminya..."


"Lalu?"


"Aku...hm..."


"Aku akan melakukannya pelan-pelan sayang...", tiba-tiba Maxwell sudah meraih tangan putih istrinya dan menciumnya lembut. Sorot matanya yang menatap Ayesha menyiratkan kelembutan dan binar cinta.


Ayesha tersipu malu. Ia sebenarnya tak ingin mengatakannya dan merasa sangat vulgar untuk membahasnya sekarang. Biarlah nanti saja ia langsung mengalaminya. Namun karena tak tau harus berkata apa agar mereka tidak terjebak terus dalam suasana kaku dan sepi akhirnya malah ucapan itu yang ia sampaikan.


"Honey... jika malam ini adalah malam zafaf kita, artinya...engkau sudah mulai mencintaiku bukan?"


"Hubby...sejak kita menikah, aku sudah memberikan seluruh rasa cintaku hanya padamu, suamiku. Tidak akan berpaling ke yang lain selama kita masih sah dalam hubungan perkawinan. Hanya saja, masih ada keraguan di hatiku karena kita baru saja berkenalan. Sehingga aku minta padamu untuk nikah gantung karena aku ingin memastikan bahwa hubungan kita ini kelak akan berlanjut dan aku tidak salah menerimamu. Dan ketika aku melihat kesungguhan Hubby dalam belajar Islam dan beramal juga beribadah, maka sejak itulah benih cinta yang sudah ada dalam hatiku makin bersemi. Kini aku sudah menyadari bahwa Hubby memang adalah jodohku. Hubby adalah sosok pria yang bisa ku ajak melangkah bersamaku meraih jannah-Nya, Insyaa Allah", Ayesha berbicara masih dengan menunduk.


Maxwell tersenyum melihat sang istri. Perlahan ia raih dagu wanita cantik itu lalu menatap wajah yang mempesona itu dengan intens. Kedua netra mereka saling menatap dan entah siapa memulai kini mereka pun larut dalam ciuman yang menghangatkan hingga lagi-lagi suara azan Isya dari masing-masih HP mereka membuyarkan suasana romantis itu.


"Mari kita bersiap sholat, dan setelah itu....", Maxwell pun mengedipkan matanya. Ayesha seketika menunduk kembali dengan wajah semakin bersemu merah.


Wajah keduanya sudah basah dengan air wudhuk dan kini mereka pun larut dalam kesyahduan ibadah menghadap Sang Khaliq yang berkuasa atas segala sesuatu. Yang telah berkuasa menyatukan kehidupan dua orang berbeda yang awalnya berkebalikan seperti bumi dan langit. Yang berkuasa bukan hanya menyatukan dua fisik yang berbeda jauh tapi juga menyatukan dua hati yang dulunya bak putih dan hitam, bagaikan siang dan malam. Namun siapa sangka saat ini kehidupan berbeda jauh itu kini dipersatukan dalam sebuah mahligai rumah tangga yang pelan-pelan dibangun berlandaskan pondasi keimanan dan ketaqwaan pada Allah, Rabb yang pada-Nya saja seharusnya setiap manusia harus tunduk dan patuh melaksanakan segala hukum-Nya, bukan hukum manusia yang sering salah kaprah.


Waktu pun berlalu. Sudah saatnya malam zafaf dimulai. Maxwell menyentuh ubun-ubun Ayesha dan menciumnya dengan lembut seraya berdoa “Allahumma inni asaluka min khoiriha wa khoiri maa jabaltaha alaihi wa aa u dzu bika min syaari ha wa syaari ma jabaltaha alaihi,” (Artinya : "Ya Allah sesungguhnya aku mohon kepadaMu kebaikannya dan kebaikan wataknya. Dan aku berlindung kapadaMu dari kejahatannya dan kejahatan wataknya"). Ayesha memejamkan matanya turut meresapi doa khusyuk yang dibacakan sang suami. Ia kemudian mencium punggung tangan suaminya dengan takzim dan masih terus menunduk. Maxwell memegang kembali dagu sang istri dan mengajaknya saling memandang.


"Honey sungguh sudah siap?"


Ayesha mengangguk pelan. Maxwell pun membimbing Ayesha membaca Basmallah dengan suara pelan, diikuti Quran Surat Al Ikhlas lalu takbir dan tahlil serta ditutup dengan doa memulai jimak. "Bismillâhil ‘aliyyil ‘azhîm. Allâhummaj‘alhu dzurriyyatan thayyibah in qaddarta an takhruja min shulbî. Allâhumma jannibnis syaithâna wa jannibis syaithâna mâ razaqtanî". (Artinya, “Dengan nama Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Tuhanku, jadikanlah ia keturunan yang baik bila Kau takdirkan ia keluar dari tulang punggungku. Tuhanku, jauhkan aku dari setan, dan jauhkan setan dari benih janin yang Kauanugerahkan padaku.")


Maxwell tertegun melihat Ayesha yang saat ini berdiri di hadapannya yang sedang duduk di sisi ranjang tanpa ragu membuka mukenanya dan kini tersenyum ke arahnya dengan tubuh berbalut kardigan tipis selutut bewarna pink dan rambut panjang keemasan yang lebat terurai sepanjang dada. Rambut itu lurus halus namun bergelombang di ujungnya. Amat manis dilihat. Seperti gaya fashion para selebritis wanita. Perlahan bibir tipis menggoda itu pun menyunggingkan senyum sensual dan kini mendekat ke arah pria tampan yang terpaku menatap dan semakin terpaku tak berkedip manakala sehelai kain pink itu terlepas. Sesosok tubuh menggiurkan yang hanya berbalut lingerie pink siap mempersembahkan sesuatu paling berharga yang dimilikinya. Maxwell menelan ludah terkesima. Jiwanya langsung disergap gairah yang bergelora. Mengikuti fitrahnya sebagai lelaki normal, ia pun bangkit dan meraih tubuh sempurna di hadapannya dengan gemuruh rasa yang tak terbendung lagi. Perjalanan malam zafaf pun berlangsung dengan sebagaimana mestinya. Dalam ruangan kamar harum yang ber-AC dengan suhu rendah, kedua tubuh pasangan halal itu pun menyatu di bawah selimut, diiringi oleh desahan-desahan yang penuh kenikmatan. Kenikmatan syurgawi dunia yang hanya dimiliki oleh mereka yang selama hidup sebelum malam ini terjadi selalu menjaga kesucian. Akhirnya, hak batin pun tersalurkan dan semakin indahlah kebersamaan kedua insan yang selama ini masih menjaga diri dari aktivitas suami istri akibat pernikahan gantung yang disyaratkan di awal. Ayesha dan Maxwell akhirnya memilih untuk hidup bersama sebagai pasangan suami istri yang seutuhnya dengan harapan kelak bisa membangun rumah tangga Islami. Rumah tangga sepasang suami istri yang saling mencintai karena Allah dan kelak mendapatkan dzurriyat-dzurriyat (keturunan-keturunan) yang diharapkan turut memakmurkan bumi dengan kalam-Nya dan amalan-amalan spesial mereka.