
Luke salah tingkah sendiri namun ia berusaha menutupi. Maxwell hanya melirik sekilas. Sebisa mungkin ia menahan diri. Setelah makan siang dalam diam, Ayesha pun membuka percakapan.
"Bukankah kalian sudah lama tidak bertemu?"
"Maksud Honey?"
"Mr. Luke yang selama ini Hubby cari sudah kembali, tidakkah Hubby ingin menyapanya?"
"Aku sedang sangat merindukan istriku. Nanti saja"
Ayesha merasakan sesuatu yang aneh di antara suami dan tangan kanannya selama ini Mr. Luke. Namun ia tidak ingin merusak kebersamaan pertemuan mereka. Setelah makan siang bersama yang ternyata trik Maxwell saja yang mengatakan investor dari Arab yang ingin bekerja sama, kini Maxwell dan istrinya kembali menuju mansion. Ayesha meminta sekretarisnya yang perempuan untuk men-cancle semua agenda internal perusahaan yang masih bisa ditunda hari ini. Ia dan Maxwell ingin melepas rindu.
Sesampai di mansion, nampak Bibi Cristine dan Paman Sam sudah menunggu di pintu depan. Sang Bibi nampak berkaca-kaca melihat tuannya telah kembali. Tatapan kerinduan di mata wanita tua itu tidak dapat ditutupi. Maxwell hanya menganggukkan kepalanya tanda hormat lalu bergegas ke dalam diikuti istrinya. Ayesha berhenti sejenak ketika berada di depan Bibi Cristine lalu mendadak memeluk wanita itu dengan erat. Paman Sam yang melihat cukup terharu.
"Alhamdulillaah Bibi. Maxwell kembali karena doa-doa kita dikabulkan Allah. Terima kasih Bibi sudah turut mendoakan selama ini"
"Tentu Nyonya", Bibi Cristine terharu mendapatkan perlakuan hangat majikannya. Maxwell yang sudah naik ke tangga menuju kamarnya hanya melirik sekilas dan melanjutkan masuk ke kamar. Ia yang sudah membersihkan diri sebelumnya kini membuka jasnya dan berbaring di sofa panjang. Matanya terpejam seolah merasakan kenikmatan karena melepas lelah. Di sepanjang perjalanan tadi rindunya sedikit terobati dengan terus menggenggam tangan dan memeluk bahu istrinya hingga tiba di mansion. Saat ini ia ingin membayar sedikit masa survival di pulau tak berpenghuni yang kini membuat kulit putihnya sudah menggelap. Beruntung ia menuruti perkataan Mark dan Patch yang menuntunnya ke salon pria untuk melakukan perawatan tubuh sehingga kondisinya sekarang sudah lumayan lebih segar dan penampilannya kembali rapi. Maxwell berniat hanya untuk merilekskan tubuh tapi malah ketiduran.
Ayesha masuk menyusul suaminya. Ia tersenyum melihat sang tambatan hati tertidur di sofa. Setelah mengunci pintu dengan hati-hati ia berjalan dengan sangat pelan mendekati boss mafia yang baru berhijrah itu. Pandangannya menyapu seluruh wajah suaminya yang nampak damai pada posisinya sekarang. Ingin rasanya ia membelai wajah dan kepalanya untuk meluapkan kerinduannya, namun ia tak ingin menganggu istirahatnya. Bergegas Ayesha ke lemari pakaian untuk menyiapkan pakaian gantinya. Ia ingin mandi dan melakukan perawatan diri agar tampil lebih fresh di hadapan suaminya. Sebuah rencana untuk menyambut kepulangan suaminya sudah ia siapkan karena ia yakin suaminya akan kembali. Namun baru saja ia hendak ke kamar mandi, ponsel yang masih ada di saku bajunya bergetar. Mark memanggil. Ayesha perlahan melangkah ke balkon untuk menerima telponnya.
"Ada apa Tuan Mark?"
"Nyonya, maafkan saya mengganggu"
"Tidak. Engkau tidak mengganggu. Sampaikanlah keperluanmu. Oh ya aku ucapkan terima kasih banyak padamu dan juga tim karena sudah bekerja keras menemukan Tuan Maxwell. Aku harap Tuhan akan membalas kebaikan kalian dengan kebaikan yang lebih besar lagi"
"Oh itu sudah tugas kami Nyonya. Terima kasih doanya. Baiklah, aku hanya ingin memastikan bahwa Anda dan Tuan baik-baik saja di mansion"
"Jangan khawatir. Mansion dalam penjagaan yang sangat ketat. Bukankah kau dan Patch yang menyiapkan semuanya?"
"Well, kalau gitu saya tutup dulu telponnya"
"Tunggu. Aku ingin tau ada apa dengan suamiku dan Mr.Luke. Kau tentu tau bukan? Tolong jangan menutupi sesuatu dariku agar aku tidak salah langkah"
"Tentang itu, nanti Nyonya akan tau sendiri dari Tuan Maxwell. Yang jelas hubungan keduanya sangat buruk, dan Anda harus berhati-hati pada Mr. Luke, Nyonya. Mohon maaf Nyonya, saya ijin tutup telponnya"
"Sama-sama Nyonya"
Ayesha menarik nafasnya sesaat. Ia mulai menduga-duga. Well, aku harus menghibur suamiku. Beban masa lalunya cukup berat. Wanita cantik bercadar itu pun kembali ke kamarnya dan menutup pintu balkon perlahan. Ia melirik Maxwell yang masih tertidur. Suara nafasnya yang lembut teratur menandakan tidurnya cukup pulas. Ayesha pun melangkah masuk ke kamar mandi dan melaksanakan hajatnya. Setengah jam kemudian dia sudah selesai dan keluar dengan penampilan barunya. Sambil melirik suaminya yang masih tidur, Ayesha menyisir rambutnya yang lurus sedikit bergelombang di ujungnya. Rambut indah lebat yang berwarna keemasan dan sepanjang dada. Setelah memoles sedikit wajah putih bersihnya dengan make up natural, dan memastikan semuanya sempurna, kini ia duduk di karpet putih berbulu tebal di dekat suaminya sambil memandangi wajah Maxwell yang tampan. Menyusuri setiap lekuk wajah suaminya hanya dengan sapuan tatapan matanya. Ia tidak berani menyentuh sedikit pun karena takut membangunkannya, hingga entah karena mungkin juga lelah karena aktivitasnya yang padat selama ini, Ayesha malah jatuh tertidur dengan kepalanya yang bersandar di sofa tepat di samping kepala Maxwell.
Tak lama beberapa menit setelah Ayesha jatuh tertidur, Maxwell mengerjapkan matanya. Ia terbangun dan seketika terkejut melihat wanita berambut pirang di dekatnya. I nyaris berteriak karena mengira itu wanita asing, namun setelah kesadarannya pulih, ia pun terbelalak tak percaya.
"Ayesha", gumamnya pelan namun cukup menyadarkan Ayesha. Wanita cantik itu pun tergagap bangun dan menatap suaminya.
"Ayesha, kau kah ini?", Maxwell terkesima. Ia tak percaya memandang sosok istri yang selama ini tak pernah membuka jilbabnya sama sekali. Namun saat ini ia tampil dengan memperlihatkan aurat yang selama ini selalu ia jaga dari siapa pun, termasuk suaminya sendiri. Sosok wanita bercadar yang selama ini tertutup seluruh tubuhnya kecuali mata dan telapak tangan itu kini hadir di hadapannya dengan berpakaian seperti wanita Rusia maupun Ausy pada umumnya. Dress merah selutut lengan pendek yang kontras dengan warna kulit yang putih bersih dilengkapi perhiasan kalung berlian, cincin dan anting yang merupakan mahar yang diberikan Maxwell. Wajah cantik alami dengan sedikit polesan make up yang nyaris tidak ada karena tipisnya. Mata dan hidung serta bibir yang sangat menawan, yang semuanya seperti sudah dipersiapkan untuk menjadi hidangan paling nikmat dari seorang istri untuk pasangan halalnya.
Keduanya untuk sesaat hanya saling memandang. Entah siapa yang memulai, keduanya kini berdiri dan saling menyentuh wajah masing-masing.
"Terima kasih Honey. Terima kasih sudah mempercayaiku untuk melihat bidadari yang sempurna ini"
"Tidak ada yang sempurna Hubby. Hanya Allah yang sempurna. Terima kasih juga karena bersabar menungguku sampai aku membuka hatiku"
"Apakah aku sudah boleh menyentuhmu?"
"Apakah Hubby menginginkannya sekarang?"
"Aku menyerahkannya padamu"
"Aku juga menyerahkannya pada Hubby"
"Terima kasih Honey. Terima kasih. Aku belum layak untukmu. Aku hanya ingin engkau membuka hatimu untukku sampai suatu saat kita sama-sama siap dan akan lahir para Maxwell junior dari sini", Maxwell tersenyum nakal dan menyentuh perut Ayesha. Sang bidadari pun tersenyum. Mata mereka saling beradu dan kini bibir keduanya saling memberi salam.
"Terima kasih Hubby masih bersabar bersamaku selama ini dengan status pernikahan gantung ini. Semoga kita bisa saling mempercayai dan kelak bisa benar-benar mewujudkan harapan setiap pasangan pada umumnya"
"Insyaa Allah. Mohon tuntun aku. Aku masih sangat membutuhkan bimbinganmu. Aku masih terlalu banyak dosa"
"Mari saling menjaga dan berdoa. Itu saja. Oh ya, Hubby lanjutkan saja istirahatnya ya. Aku dan Bibi Cristine akan membuat ramuan untuk Hubby agar bisa kembali fit. Kehidupan survival sangat mengerikan bukan?"
"Engkau benar, Honey. Thanks very much", Maxwell kembali merengkuh hidangan di depannya dan kemudian mencium kening Ayesha dengan penuh kerinduan. Lalu Ayesha membimbingnya ke ranjang dan menuntunnya untuk berbaring. AC yang sudah mendinginkan suhu kamar membuat Ayesha menaikkan selimut ke dada Maxwell dan membalas perlakuan suaminya itu dengan senyuman manis dan kecupan di kening yang cukup lama. Wanita cantik itu kemudian berlalu ke ruang ganti untuk mengganti kembali pakaiannya dengan gamis dan jilbab serta cadarnya. Maxwell terus memperhatikan sang istri dengan tatapan bahagia hingga pintu kamar kembali ditutup Ayesha karena ijin hendak ke dapur.