A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 18. Dua Syarat



Mobil sport itu meluncur membelah keramaian jalan utama Moscow. Tak berapa jauh membelok ke kanan, sampailah pengendaranya ke sebuah outlet ATM dan nampak salah seorang penghuni mobil tersebut yang masih belia pun keluar dari mobil dan masuk ke outlet ATM tersebut. Selang beberapa menit kemudian dia sudah keluar dari mobil dan kembali melaju menuju ke sebuah toko buku yang cukup besar. Dua orang lelaki beda usia dengan perbedaan fisik mencolok itu pun keluar dari mobil tersebut dan berjalan memasuki toko.


Tak berapa lama mereka sudah bergerak kembali ke kasir dengan beberapa buku dan kepingan CD. Maxwell membeli buku-buku Islam dan CD tentang cara sholat dan membaca Al Quran dan juga ceramah agama tentang muallaf dan pernikahan atau rumah tangga dalam Islam.


“Sekarang kita mau ke mana lagi tuan?”


“Aku ingin ke toko perhiasan dan pakaian wanita juga pria”


“Tuan ingin membeli mahar untuk Nona Ayesha?”


“Hm, ya…setidaknya walaupun Kakek dan Brother Ahmed menolakku, aku bisa memberikan kenang-kenangan pada orang yang ku kasihi.”, Maxwell tersenyum. Entah kenapa dia merasa seolah malam ini ia akan benar-benar menikahi Ayesha meski dia belum tahu jawaban dari kedua walinya.


Ali hanya mengangguk dan ikut tersenyum. Tenanglah tuan, aku yakin malam ini akan ada sejarah besar dalam kehidupanmu bersama Non Ayesha, batinnya.


Bergegas Maxwell dan Ali pun bergerak menuju toko perhiasan dan toko pakaian yang tidak jauh dari toko buku yang mereka masuki tadi. Tidak terlalu lama sekitar 40 menit mereka pun sudah selesai dari keperluan mereka dan kini menuju sebuah bangunan yang lumayan besar dan nampak sejuk dengan dihiasi aneka tanaman hias di halaman depannya yang lumayan tinggi dan rindang. Tertulis ‘Islamic Center’ di plang kecil di dinding depan bangunan tersebut.


Sholat Ashar baru saja usai di Masjid besar Moscow, tempat Maxwell dan Ali sholat berjamaah. Setelah pamit dengan seorang tua yang sangat teduh wajahnya tersebut, maka Maxwell dan Ali pun menuju mobilnya dan bergerak kembali menuju rumah Ayesha. Sepanjang jalan, jantung Maxwell berdebar-debar mereka-reka jawaban apa yang akan diberikan oleh keluarga Ayesha. Dalam hati ia terus berdoa kepada Sang Rabb, memohon diberi ketenangan dan takdir terbaik untuknya yang harus terus melangkah memperbaiki kehidupannya yang kelam di masa lalu. Ya, jika Ayesha yang terbaik untuk menjadi istrinya maka ia yakin bahwa Rabb-nya pasti akan memudahkannya menikahi wanita sholihah itu malam ini, namun jika tidak maka ia harus terus melangkah menjalani hidupnya dan memperbaiki dirinya. Begitulah nasehat Syekh Hasan, Tuan Imam Masjid Moscow yang berasal dari Yaman tadi dalam obrolan mereka sebelum sholat. Darinya ia mendapat banyak nasehat bagaimana memulai hidupnya menjadi seorang muallaf. Bahkan ia mendapatkan kenang-kenangan Quran dan terjemahannya dalam bahasa Inggris yang lupa dibelinya dari toko buku sebelumnya. Hmmm…ia merasa mempunyai kekuatan baru saat ini dan semangat baru. Sekilas wajah cantik Ayesha di balik cadarnya menari-nari di pelupuk mata. Ia beristighfar. Ya, ia mendapatkan ilmu istighfar itu baru saja dari Tuan Hasan.


Maxwell memejamkan matanya. Banyak sekali hal dalam agama ini yang aku buta tentangnya dan walau sedikit saja aku tahu dan aku lakukan tapi sudah membuat hatiku jauh lebih tenang dan sangat nyaman.


Bagaimana jika aku sungguh-sungguh mendapatkan Ayesha? Oh, aku pasti akan tinggal di syurga dunia. Wanita itu mampu merubah jalan hidupku. Maxwell tersenyum indah. Matanya masih terpejam. Supir muda di sampingnya turut tersenyum meliriknya.


Mobil sport itu pun berhenti dan memarkirkan tubuhnya di halaman samping rumah keluarga Ayesha. Pengendaranya segera keluar dengan tentengan paper bag yang cukup banyak dan beberapa kotak makanan dan buah. Sebelum meninggalkan Moscow tadi Maxwell sempat melihat toko roti dan buah dan mereka pun singgah untuk membelinya.


“Assalamualaikum”, seru Ali sebelum masuk.


Pintu terbuka.


“Wa alaaikumussalaam”, muncul Bibi Leida membuka pintunya.


“Di manakah keluarga tuan kita Bibi Leida?”, Tanya Ali sambil melangkah masuk, diikuti Maxwell.


“Masih di mushollah. Ohya Tuan Maxwell, tadi ada pesan dari Sir Vladimir jika tuan sudah kembali agar segera menemui mereka di mushollah”


Maxwell mengangguk.


“Ini Bibi, ada sedikit roti dan buah”, Maxwell menyerahkan 4 kotak ukuran cukup besar pada Bibi Leida.


“Wah, banyak sekali tuan Maxwell. Sepertinya ada pesta kecil malam ini ya”, Bibi Leida tersenyum.


“Hehe, Bibi ada-ada saja. Aku tidak tahu apa yang harus aku bawa dari kota, semoga penghuni rumah ini menyukainya.


“Tentu saja Tuan Maxwell. Ini sangat enak. Non Ayesha sangat suka jenis cake yang tuan bawa ini. Kalau begitu ijinkan saya menyusunnya dulu di belakang”


“Silakan Bibi. Apa perlu aku bantu?”


“Oh tidak perlu Ali. Aku sudah memanggil Shelly untuk membantu”


“Apa? Shelly? Kapan ia tiba?”


“Baru saja. Kita butuh tenaga baru sore ini”


“Ya, aku mengerti. Kita ada sedikit tugas besar sore ini bukan?”


Bibi Leida menyipitkan matanya pada Ali. Ali mengerti dan mereka pun pamit meninggalkan Maxwell sendirian yang bingung. Ia pun bergegas ke kamarnya dan menyimpan barang-barang yang dibelinya tadi. Karena merasa gerah ia pun membersihkan diri ke kamar mandi dan setelah selesai ia pun keluar dari kamarnya memakai pakaian baru yang dibelinya tadi. Maxwell mengenakan celana jeans navy yang lembut dan pas di kulit dan kemeja warna krem yang digulung selengan dan dimasukkan ke dalam celananya dengan ikat pinggang bermerk. Kancing atas kemejanya ia buka dan menampakkan sedikit bulu-bulu halus dadanya yang bidang. Ia mematut diri sebentar di cermin dan segera menyisir rambut hitam lebatnya dengan rapi menyamping. Kini ia nampak sangat maskulin dan terkesan elegant. Maxwell, ia kembali ke selera aslinya. Pakaian mahal yang dikenakannya memang tak pernah berubah. Ah, ia harus tampil tampan di depan calon keluarga barunya, batinnya. Ah semoga saja ya Rabb, gumamnya. Ia melangkah dengan hati berdebar menuju mushollah.


Sir Vladimir, Ahmed, Uncle John dan Ayesha duduk berdekatan di ruang mushollah rumahnya. Uncle John baru saja tiba sebelum sholat ashar tadi dari pabrik arang sambil mencari Ayesha yang sempat menghilang sebelumnya dan ia mendapat kabar tentang kepulangan Ayesha tadi pagi dan langsung bertolak ke rumah keponakannya yang disayangi tersebut tadi. Mereka khusyuk dalam tilawah dan tadabur Qur’an masing-masing. Sebelumnya mereka sudah selesai mendiskusikan sesuatu.


“Assalamualaikum”


Terdengar salam dari Maxwell


“Wa alaikumussalaam”


Jawab Uncle John. Ayesha mendongakkan kepalanya melihat siapa yang datang dan hatinya berdecak melihat penampilan baru lelaki yang seharian ini menghiasi doa-doanya. Tampan sekali dia, bisik hatinya. Astaghfirullah, halaunya malu. Ia segera menundukkan pandangannya.


Suara salam dari Maxwell membuat semua aktivitas keluarga Ayesha terhenti. Setelah menutup bacaannya masing-masing mereka pun menyambut Maxwell dan Sir Vladimir menyuruh Maxwell untuk menyalami semua pria yang ada di situ yang duduk meyender di dinding dengan posisi berkeliling dan mempersilakannya duduk di depannya. Ketika tiba bersalaman dengan Uncle John ia berhenti sesaat dan tersenyum kaku. Maxwell tidak mengenalnya, siapakah dia? Pikirnya.


“Ini Paman Ayesha, adik dari ayahnya sekaligus anak saya yang paling bungsu dari tiga bersaudara. Ia baru tiba dari pabrik sambil mencari Ayesha yang kemarin sempat hilang”, kata Sir Vladimir seakan tahu isi hati Maxwell.


“John Vladimir. Panggil saja Uncle John seperti Ayesha memanggilku nak Maxwell.”


Keduanya bersalaman sambil tersenyum hangat.


“Nah sekarang kita sudah berkumpul, saya rasa sudah saatnya kami menyampaikan jawaban atas permintaan nak Maxwell tadi siang”


Maxwell hanya menunduk mendengarkan dengan khusyuk. Sebelumnya ia sempat melirik Ayesha yang juga menunduk.


“Nak Maxwell kami merasa berterimakasih atas lamaran nak Maxwell terhadap putri tercinta kami Ayesha. Kami merasa bahagia karena ada orang selevel nak Maxwell yang sangat tekenal di benua Australia bahkan juga di berbagai negara lainnya tertarik dengan putri kami yang sederhana ini. Kami sebagai wali dari Ayesha yang beragama Islam mempunyai tanggung jawab besar untuk membesarkan dan menjaga Ayesha sekaligus membimbingnya dalam mencari pendamping hidup dan juga bertanggung jawab dalam mengurusi pernikahannya. Namun walaupun tanggung jawab kami untuk urusan rumah tangganya amatlah besar namun kami juga akan menyerahkan kembali keputusannya kepada yang menjalani. Karena memutuskan menikah dengan siapa adalah sebuah keputusan yang sangat besar dan semua wanita berharap untuk menikah hanya sekali seumur hidupnya. Untuk itu biarlah nak Ayesha sendiri yang menjawab lamaran nak Maxwell sekarang. Silakan Ayesha, cucuku”, tutup Sir Vladimir.


Sekarang semua orang menatap ke Ayesha, termasuk Maxwell. Ia menarik nafasnya perlahan. Ayesha menatapnya sekilas dan memejamkan matanya sesaat dan mengambil nafas. Wanita itu pun mulai berbicara dengan perlahan.


“Baiklah kek….


“Dengan mengucapkan Bismillaahirrahmaanirrahiim… saya Ayesha Vladimir bersedia menerima lamaran Maxwell Powell untuk menjadi istrinya…dengan dua syarat…”


“Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin”


Serentak semuanya berseru, kecuali Maxwell. Ia terlihat bingung seperti tak percaya. Jantungnya berdebar lebih kencang namun matanya seketika berbinar-binar dan tersenyum bahagia.


“Apakah saya tak salah dengar bahwa Ayesha menerima saya..Oh God…”


Teriak Maxwell tertahan. Ayesha mengangguk malu.


“Terimakasih Ayesha.. apapun syaratnya saya akan berusaha…katakanlah..”


Maxwell tergagap. Hatinya membuncah penuh rasa bahagia. Ia seakan bermimpi.


“Syarat yang pertama adalah kita melakukan pernikahan gantung… artinya selama kita menikah Tuan belum boleh meminta hak batin Tuan terhadap saya dengan kata lain Tuan belum boleh menggauli saya sebagai seorang istri sampai saatnya saya siap menyerahkan diri saya seutuhnya untuk tuan. Hal ini dikarenakan kita masih seumur jagung dalam proses perkenalan, dan ini tentu saja baik untuk kita berdua karena kita memang belum saling mengenal dengan baik satu sama lain. Biarlah pernikahan gantung ini menjadi jalan bagi kita untuk berpacaran yang halal. Bagaimana Tuan Maxwell? Apakah Tuan tidak keberatan?”


“Apakah ini memang ada diatur dalam agama kita?”


“Ya, Tuan Maxwell. Ada. Rasulullah Muhammad saw menikahi ibunda Ummul mukminin Aisah ra ketika beliau masih belia, dan mereka melakukan nikah gantung dimana selama menikah ibunda Ayesha belum digauli sampai akhirnya tiba saatnya tepat untuk beliau digauli setelah cukup usianya dan matang hatinya. Aku ingin juga seperti itu, karena kita belum begitu memahami karakter dan seluk beluk masing-masing dan ku harap sampai masanya tiba nanti marilah kita saling mengenal dulu dan rasa cinta itu bisa tumbuh di antara kita sebagai suami istri”


“Ya. Saya paham. Saya tidak keberatan. Itu sangat masuk akal dan kita akan belajar untuk saling mencintai dulu. Lalu syarat yang ke dua?”


“Syarat yang ke dua adalah, tuan Maxwell harus menjaga sifat jujur dan jangan pernah membohongi saya. Dan sebaliknya, saya juga akan melakukan hal yang sama. Bagaimana?”


“Apakah semua hal harus dibuka dan artinya tidak ada sedikitpun hal yang kita tutupi satu sama lain? Artinya saya tidak punya prifasi lagi…”, Maxwell nampak mengerutkan keningnya berpikir.


Ayesha melirik sekilas sosok yang akan menjadi suaminya itu. Ia menghela nafas sejenak.


“Jujur bukan berarti harus membuka diri sepenuhnya tanpa ada prifasi lagi, tapi jujur yang saya maksud adalah berusaha untuk tidak pernah berkata bohong dan menutupi suatu kebenaran yang apabila tidak diketahui kebenaran yang disembunyikan itu akan berdampak buruk dan merugikan orang lain bahkan merusak hubungan baik yang ada”. Ayesha berhenti sejenak.


“Saya tidak mau kelak ketika kita sudah menikah, Anda sebagai suami saya berbohong misal dengan menyembunyikan pertemuan dengan seorang wanita teman bisnis. Dan ketika saya melihat Anda bertemu dengannya maka kemungkinan saya akan cemburu karena saya tidak tau bahwa dia rekan bisnis anda, akhirnya hubungan kita sebagai suami istri menjadi tidak baik karena kesalahpahaman dan ketidak jujuran di antara kita. Contoh lain adalah ketika Anda pergi ke suatu tempat tapi mengatakan pada saya tidak pergi kemana-mana ketika saya Tanya maka kemudian ketika saya mengetahui kebenarannya maka saya akan sangat kecewa dan berburuk sangka pada suami saya sendiri dan akhirnya kita akan bertengkar dan tidak harmonis. Saya hanya ingin dengan kejujuran di antara kita maka akan meminimalisir masalah hidup berumah tangga karena itu akan mencegah kerusakan hubungan yang lebih parah. Saya yakin jika kita berusaha untuk saling jujur maka kita akan mencegah diri kita sendiri dari perbuatan yang bisa menjerumuskan kita pada hal yang buruk dan akan berusaha menjaga kepercayaan pasangan. Bukankah hal itu akan semakin mengokohkan hubungan suami istri Tuan Maxwell? Bagaimana? Tuan setuju?”. Ayesha tersenyum menyudahi penjelasannya.


Maxwell terkesima. Ia tak menyangka sosok wanita di depannya amat berpandangan jauh ke depan dan sungguh-sungguh berusaha untuk menjaga kehidupan rumah tangga mereka kelak.


“Saya setuju. Itu suatu hal yang baik. Saya akan berusaha. Lalu bagaimana dengan mahar? Apakah mahar yang engkau minta padaku Ayesha?”


“Aku hanya minta Tuan menghafalkan QS al Fatihah dan QS Al Ikhlash beserta terjemahannya. Jika sudah hafal, malam ini juga kita menikah dan hafalan itu menjadi maharnya”


Semuanya terkesima dan menatap Maxwell. Pria tampan itu hanya menelan ludah. Ini tantangan, batinnya. Dengan mata berbinar iya menjawab dengan mantap.


“Saya tidak tahu bacaanya namun saya pasti bisa. Saya minta tolong ada yang bisa membimbing saya. Saya akan berusaha keras Ayesha. Kita akan menikah malam ini”, jawab Maxwell mantap.


Semua yang hadir di situ tersenyum. Ayesha juga tersenyum. Ia sudah menduganya. Maxwell memang bukan lelaki biasa, gumamnya dalam hati. Insyaa Allah, dengan ijin Allah kita akan menikah. Lanjutnya dalam hati, menyambung perkataan Maxwell yang sangat yakin itu.


Kemudian setelah berbincang sejenak mendiskusikan hal-hal yang perlu disiapkan malam nanti maka Ayesha minta undur diri dan kembali ke kamarnya. Sementara Maxwell segera dibimbing oleh Ahmed yang membantunya untuk menghafalkan surat yang diminta Ayesha. Dia merekam suaranya di HP dan mengirimkannya ke Maxwell melalui pesan whatsapp. Pria Australia itu dengan semangat mulai berlatih mengikuti bacaan Ahmed dan setelah dirasa bacaannya mulai pas maka ia undur diri untuk kembali ke kamarnya. Ia ingin berkonsentrasi menghafalnya.


Sementara Ayesha di kamarnya sedang asyik melakukan facial sendiri. Ia membersihkan wajahnya dengan beragam peralatan facial yang tadi baru dibelinya online. Setelah selesai ia mengambil sesuatu dari paper bag-nya dan mengeluarkan sejumlah bahan luluran. Sore ini ia akan luluran untuk memanjakan kulitnya walaupun memang sudah halus mulus sekaligus menyambut hari paling bersejarah dalam hidupnya malam ini, hari yang paling mendebarkan meski statusnya masih belum pasti untuk menikah dan nantinya masih nikah gantung. Ya, entah kenapa dia merasa sangat yakin bahwa malam ini ia akan melepaskan status lajangnya menjadi Nyonya Maxwell Powell. Gadis cantik itu tersenyum dan terus berzikir dalam hatinya. Sekilas wajah Maxwell berkelebat dalam benaknya. Ayesha buru-buru beristighfar dan memejamkan matanya.


Sedangkan Maxwell, apa yang sedang dikerjakannya? Ia sedang bekerja keras berlatih membaca dan menghafalkan maharnya. Dengan semangat yang membuncah ia tak bosan untuk mengulang-ulang ayat demi ayat hingga akhirnya membuahkan hasil yang lumayan. Ia kemudian merekam hafalnnya dan mengirimkannya kepada Ahmed untuk dievaluasi. Ahmed yang menerimanya merasa takjub dan memberikan sedikit bimbingan. Ia tersentuh dengan keseriusan Maxwell dan merasa beruntung bahwa adiknya tidak salah memilih lelaki asing itu.


Maxwell tersenyum puas.


Setelah mendapat bimbingan dari Ahmed melalui chat di whatsapp, kini ia mengambil beberapa paper bag yang sudah disiapkannya dan melangkah menuju dapur. Ia menemukan Bibi Leida yang sedang sibuk memasak ditemani beberapa orang di sana. Melihat persiapan makanan yang tidak biasa Maxwell sudah bisa menduga sesuatu. Oh God, ternyata bahkan mereka semua sudah mempersiapkan jamuan untuk malam ini walau keputusan menerimaku belum lagi diutarakan keluarga Ayesha tadi sore, batinnya gembira.