
Flash Back Off
Bibi Christine mengusap foto sang Nyonya dengan mata berkaca-kaca. Ia mencium foto tersebut dengan penuh perasaan. Nyonya, aku merasa ini waktunya Tuan Muda mengetahui semua rahasia hidupnya. Ijinkan aku Nyonya. Semoga Tuhan Nyonya dan Tuan Muda selalu melindungi Tuan Muda dan Nyonya Muda. Amin, doa Bibi Christine tulus.
Christine kini mengambil hand phone-nya dan menelpon seseorang. Sejenak mereka berbicara dan Bibi Christine nampak lega dan menutup telponnya. Ia bergegas beranjak dari duduknya di tepi ranjang, menyimpan dengan hati-hati kotak berisi foto ibunda Maxwell dan sebuah dokumen rahasia di bawahnya di balik lemari kayu kamarnya yang ternyata memiliki dinding rahasia yang siapapun tak akan menyadarinya jika tidak memperhatikan dengan seksama.
Sementara itu, di kamar atas yang luas dan nyaman, sang Nyonya muda sedang duduk bersandar di tempat tidurnya setelah sebelumnya membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Dengan dress rumah berwarna biru elektrik selutut tanpa lengan, disertai rambut keemasan yang tergerai indah, sosok wanita cantik natural itu semakin mempesona karena terlihat seksi dan menggoda. Meski ada luka yang diperban di dadanya dan juga kondisi hamil muda, namun tak mengurangi aura kecantikan sang wanita Rusia tersebut. Sang Tuan yang baru saja keluar dari kamar mandi kini datang mendekat dengan hanya memakai celana pendek tanpa baju. Tubuh yang sempurna, tinggi tegap dengan perut six pack, disertai rambut yang hitam basah terlihat sangat memukau siapapun yang memandang. Tanpa menunggu lama, lelaki tampan itu pun naik dan langsung berbaring di samping sang istri. Wajahnya menghadap ke arah sang pujaan hati yang juga menoleh padanya dan tangan kanannya pun sibuk membelai wajah cantik di dekatnya. Seperti meminta ijin, Maxwell yang sudah didera kerinduan selama ini memandangi wajah Ayesha dan menatap matanya dengan pandangan sayu. Sang istri pun tersenyum manis.
Mendadak Ayesha meraih wajah Maxwell dan menariknya mendekat. Kedua pasang mata biru itu saling menatap dan mulai dipenuhi kabut gairah. Berbisik lirih di telinga sang istri, Maxwell membisikkan doa jima'. Ayesha tersenyum dan turut melakukan hal yang sama. Rasa cinta yang mendalam kini bukan hanya melalui perkataan dan perhatian atau pun kepedulian, namun disampaikan melalui penyaluran hasrat kebutuhan biologis pasutri. Entah siapa yang memulai lebih dulu, kedua bibir pasangan halal itu pun saling memberikan salam dengan penuh kerinduan. Kedua tangan sang suami sudah memegangi wajah sang istri dan semakin membenamkannya dalam ciuman yang dalam seakan tak ingin terlepas. Maxwell begitu menikmati momen indahnya yang sempat hilang seminggu selama Ayesha berada dalam penculikan Luke, dan kini ia seolah tak ingin melepas sang istri dari sisinya walau sekejab. Ciuman keduanya pun terus berlanjut hingga Maxwell tak sanggup lagi mengendalikan dirinya. Tangannya sudah menjelajah kemana-mana dan mulai nakal melepaskan kain yang ,menempel di tubuh indah istrinya. Ia yang semula berniat hanya ingin bercumbu sesaat karena mengingat kondisi sang istri yang masih sakit, namun akhirnya terbawa suasana romantis itu dan meminta sang istri untuk melayaninya. Ayesha hanya tersenyum cantik. Sejujurnya, sebagai wanita normal ia juga menahan kerinduan selama ini dan ingin memadu kasih bersama sang suami, namun ia menyadari bahwa kondisi tubuhnya masih lemah dan janinnya sendiri masih sangat muda. Ia ingin menolak namun demi melihat kebutuhan sang suami yang nampaknya sangat besar dan tak terbendung, dengan mengucapkan doa di dalam hati untuk kesehatan janinnya, Ayesha pun membiarkan Maxwell melakukan tugasnya sebagai seorang suami.
Kedua tubuh pasutri itu kini sudah diliputi bara kenikmatan di balik selimut putih. Desahan asmara memenuhi dinding ruangan yang kedap suara. Maxwell dengan perlahan melakukan penyatuan bersama kekasih hatinya. Meski dipenuhi hasrat menggebu namun ia masih ingat keadaan sang istri saat ini. Dengan amat hati-hati ia melakukannya dan itu membuat Ayesha semakin terharu. Dengan niat berbakti pada suaminya, ia pun berusaha melayani suaminya semampunya meski dengan segala keterbatasannya akibat luka tembakan di dada kirinya dan juga janin dalam rahimnya. Akhirnya, setelah beberapa saat lamanya melaksanakan ibadah senggama yang memabukkan itu, kedua sosok pasutri tersebut pun berbaring kembali dengan lemas namun dipenuhi dengan perasaan yang bahagia.
"Terima kasih Sayang. Terima kasih", Maxwell mencium kening sang istri dan memeluknya pelan dengan meraih kepala Ayesha ke atas bahunya untuk dijadikan sandaran. Ayesha hanya tersenyum. Maxwell terus menciumi kening dan rambut wangi kekasihnya tersebut dengan penuh rasa sayang.
"Gimana kabar my baby di sana? Tidak terganggu bukan?", Maxwell kini mengelus perut rata istrinya.
"Tidak Daddy. Aku bahkan senang Daddy menjengukku di sini", jawab Ayesha dengan suara kecil menyerupai anak kecil, membuat Maxwell sangat gemas mendengarnya.
"Bukan hanya Mom, Dad juga orang tuaku yang baik, sangat... baik...sehingga Mom juga sayang sama Daddy", balas Ayesha.
"Tapi your Mom lebih baik dari pada Daddy, tidak seperti Daddy yang..."
"Daddy, jangan bicara begitu...karena tidak ada orang yang sempurna di dunia ini, kecuali Rasulullah. saw. Daddy juga orang baik. Aku bangga jadi anak Daddy..."
"Ah kau ini...",
Maxwell tak tahan lagi melanjutkan aktingnya. Ia segera melahap kembali bibir indah di dekatnya dengan gemas.
"Hubby...ampun Hubby...ampun...", seru Ayesha di sela-sela serangan Maxwell ketika ia berhenti sesekali. Kedua insan itu pun larut dalam kemesraan yang berulang namun tidak sampai tingkat penyatuan, hingga akhirnya memutuskan untuk tidur beristirahat setelah membersihkan diri kembali di kamar mandi.
Maxwell memandangi wajah cantik istrinya di sampingnya dengan penuh rasa kagum. Jika mengingat kembali masa lalunya ia tak akan menyangka hidupnya kini menjadi sebahagia ini. Beristrikan wanita sempurna seperti Ayesha. Wanita cantik yang baik, berprinsip teguh dalam kebaikan, cerdas, lembut namun tegas dan juga jagoan, tak kalah jauh dari kemampuan bela diri seorang Boss Mafia sekalipun. Selain itu, Ayesha juga berasal dari keluarga terpandang dan sangat komitmen dalam melaksanakan ajaran agama. Sungguh, lengkap sudah karakter seorang wanita impian setiap pria pada diri seorang Ayesha. Maxwell merasa sebagai orang yang paling beruntung di dunia. Syukurnya Ayesha menutupi kecantikannya dari siapapun kecuali dari suaminya. Maxwell tidak bisa membayangkan, jika saja Ayesha tidak bercadar, entah akan ada berapa Luke di dunia ini yang mengenalnya akan tergila-gila padanya dan berusaha memilikinya meski ia sudah bersuami dan mempunyai anak sekalipun. Maxwell kembali mengingat semua perjalanan hidupnya selama ini hingga bertemu dengan Ayesha di Rusia. Ia teringat dengan pertolongan Ayesha padanya, pertolongan Ali yang tulus merawatnya, juga sikap bijak dan kasih sayang sang Kakek Vladimir yang rela melepaskan cucu wanita kesayangannya jauh darinya untuk seorang lelaki sepertinya yang jelas-jelas seorang mafia yang baru saja belajar beragama. Maxwell menggeleng tak percaya akan hidupnya sekarang ini. Ia mengucapkan hamdalah berkali-kali. Mensyukuri berbagai nikmat yang Allah berikan padanya. Allah yang sudi membimbingnya lewat tangan Ayesha sang istri tercintanya. Allah yang berkenan menyelamatkan nyawanya dari beragam tragedi kematian juga bahkan nyawa istrinya. Ia tak akan sanggup menghadapi hidupnya andaikan Ayesha tak tertolong sewaktu ditembak Joeris. Maxwell beristighfar berulang kali dan setelah membacakan doa tidur, ia pun menyusul sang istri ke alam mimpi di pagi menjelang siang tersebut.