
"Aku Alexander Al Qudri, ayah dari Abraham dan Sofia Alexander Al Qudri".
Sang pria tua yang yang duduk di atas kursi roda kemudian mengulurkan tangannya ke arah Maxwell.
Sang suami Ayesha Vladimir itu pun terkesiap dan langsung menatap ke arah tangan sang kakek. Dengan perasaan ragu, ia pun menyambut tangan yang sudah mengeriput itu. Nama yang baru saja diperkenalkan oleh sang empunya tentu saja mengingatkan Maxwell pada mereka yang telah menorehkan luka yang dalam pada kehidupannya, tepatnya kehidupan ibunya.
Terlihat sang pria tua menjabat dengan erat dengan tatapan penuh kerinduan. Serta merta ditariknya tangan kokoh pria yang merupakan darah daging putrinya tersebut hingga tubuh Maxwell pun bergerak mengikuti arah tarikan tersebut. Keduanya pun kini saling bertatapan. Maxwell yang masih berdiri menjulang menatap ke manik mata Sang Pria tua di bawahnya yang duduk di kursi roda yang mendongak kearah matanya.
"Ada sorot mata Sofia di matamu.... dan ada kehidupan Sofia...darah daging Sofia di tubuhmu...", ucap sang kakek dengan terbata-bata dan gemetar.
"Aku adalah kakekmu.... tolong panggil aku Grandpha...", tatap sang kakek penuh harap.
Maxwell seolah terhipnotis oleh kata-kata sang pria tua di depannya. Ia hanya terdiam, namun kedua matanya lekat menatap wajah keriput di depannya. Ia mencoba mencari sandiwara di wajah tua tersebut namun yang ia temukan adalah kejujuran. Ada kerinduan dan rasa bersalah yang tersorot di sepasang mata biru itu.
Maxwell hanya mematung. Sementara, kedua tangannya digenggam erat oleh pria tua yang saat ini terlihat gemetar.
"Tolong panggil aku Grandpha....", lirih Alexander Al Qudri mengulang kata.
"Aku adalah kakekmu....engkau adalah cucuku....Maxwell Powell.... engkau adalah cucu Alexander al-Qudri... darah daging Alexander Al Qudri..."
Sang kakek berkata dengan gemetar. Kedua tangannya masih menggenggam kedua tangan Maxwell dan sorot matanya menatap lekat ke sepasang mata biru di depannya seolah berharap menemukan rasa rindu yang sama.
Untuk sekian detik, Maxwell hanya diam. Dia masih pada posisinya semula. Berdiri menjulang di depan sang kakek yang duduk di kursi menanti respon dari mulutnya.
"Maxwell... cucuku....", kedua tangan keriput kian gemetar. Ia masih terus berharap akan respon positif dari sang cucu. Hingga detik berikutnya, akhirnya respon yang diharapkan lelaki tua itu pun datang juga. Maxwell kemudian secara perlahan menurunkan tubuhnya dan kini duduk berlutut di depan sang kakek. Kepalanya menunduk. Entah mengapa hatinya yang semula keras mendadak lembut. Seketika ia terkenang dengan wajah sang ibu yang diingatnya dari album foto yang pernah diperlihatkan Bibi Christine. Ia bisa melihat mata sang ibu yang melekat pada mata sang kakek yang saat ini ini sedang gemetar memegang kedua tangannya. Ia bisa melihat garis wajah yang mirip di sana.
Tiba-tiba bahu Maxwell nampak berguncang. Air mata turun tanpa bisa ditahan dari kedua matanya yang terpejam. Bagaimanapun keras hatinya menolak pertemuan dengan keluarga sang ibu yang telah melukainya, tapi Maxwell tetaplah seorang muslim yang sudah bermetamorfosis menjadi seorang lelaki yang berhati lembut. Kekerasan hatinya sudah lama berlalu. Tinggallah hati yang lembut yang mudah menerima kebenaran dan memberi kemaafan. Semua rasa benci dan kecewa yang hinggap di hatinya ketika mengetahui kenyataan bahwa ibunya sudah mendapatkan perlakuan tidak manusiawi selama ini oleh kakeknya hilang entah kemana. Rasa sakit di hati mengenang kematian sang ibu dan jalan hidupnya selama ini bersama sang ayah George Powell sekarang telah pergi begitu saja. Rasa kekecewaan dan sakit hati terhadap perilaku sang kakek dan para paman terhadap sang ibu Sofia telah pergi. Yang tinggal sekarang adalah rasa bahagia karena bisa bertemu dengan keluarga sang ibu. Walau bagaimanapun, Maxwell menyadari bahwa ikatan persaudaraan itu, ikatan nasab itu selamanya tidak akan mungkin bisa ditampiknya. Dan bukankah akan lebih bahagia jika hidup ini berjalan dengan bertambah nya keluarga? Apalagi keluarga kandung?
Alexander Al Qudri sangat merindukan dan berharap dipanggil Grandpha. Maxwell mengangkat kepalanya dan menatap manik mata pria tua yang juga sekarang nampak basah dengan buliran air mata membasahi kedua pipinya yang keriput.
"Grandpha.....", lirih Maxwell memanggil sang kakek.
Seketika pecahlah tangis keduanya, meski dengan suara tertahan. Tanpa menutupi perasaan lagi, Maxwell pun memeluk Grandphanya dan keduanya pun saling berpelukan dengan erat. Sang kakek terus memeluk sang cucu sambil mengusap-ngusap punggungnya dan keduanya pun larut dalam isakan.
Semua orang yang berada rumah yang baru saja diinjak lantainya tersebut oleh Maxwell dan rombongannya hanya bisa memandang haru momen pertemuan kedua orang di depan mereka. Pertemuan dua keluarga besar yang selama ini selalu terlihat sebagai musuh namun tidak disangka ternyata adalah keluarga.
Ayesha sendiri turut menangis haru. Hatinya dipenuhi rasa bahagia melihat kebahagiaan sang suami bertemu dengan sang kakek. Kepenatannya setelah menempuh perjalanan panjang dalam kondisi hamil muda berisi tiga janin terbayar sudah. Ia bisa merasakan kebahagiaan penuh yang menguar di ruangan tersebut. Sementara Mark, sang khadimat, dan para pengawal yang menyaksikan turut terpaku dengan perasaan masing-masing. Saling bertatapan dan menyembunyikan ekspresi mereka yang artinya hanya mereka yang tahu.
"Terima kasih untuk masih menerimaku", ujar Sir Alexander Al Qudri lirih. Mereka sudah melepaskan pelukan. Maxwell berdiri di depan sang kakek dengan menundukkan kepala menatap wajah tua yang basah di depannya.
"Aku membencimu", ucap Maxwell tiba-tiba. Semua yang berada di ruangan pun terkesiap.
"Tapi aku sadar, rasa kehilangan itu sangat menyakitkan...", Maxwell diam sejenak. Ia membuang pandangan ke luar jendela.
"So...aku tidak ingin kehilangan lagi...", sambungnya.
"Jadi...maukah kau memaafkanku?", tanya sang kakek parau.
"Demi ibu", Maxwell pun berpaling ke arah istrinya.
"Aku paham. Aku memang salah. Aku sangat menyesali semua yang ku lakukan pada ibumu. Aku memang sangat picik waktu itu. Maafkan aku", suara lelaki tua itu terdengar getir.
"Juga demi agamaku yang mengajarkan padaku untuk tidak boleh memutus nasab, tali silaturahim", sambung Maxwell seraya mengusap wajah sang istri di hadapan sang kakek. Entah apa maksud Maxwell melakukan itu, yang jelas Ayesha tersenyum dari balik cadarnya.
"Agama yang diperkenalkan istriku padaku bagaikan mata air yang terus menyejukkan jiwaku yang sebelumnya kering dan hampa akan kebaikan. Sehingga aku percaya, dendam dan marah hanya akan menggerogoti jiwaku dan menghacurkan diriku. Dosa yang telah begitu banyak ku lakukan selama ini, membunuh dan menyakiti orang lain harus ku tebus dengan berbuat kebaikan yang lebih banyak, dan jika kebaikan itu ku lakukan pada saudara bahkan sedarahku sendiri, mengapa tidak?".
Alexander Al Qudri seolah tertampar akan kata-kata sang cucu. Ia merasakan makna yang begitu dalam di sana.
"Terima kasih, Kau memang cucuku yang hebat, Maxwell Powell", Alexander kemudian bergerak ke ruang tamu. Pavlo, sang ajudan di belakangnya setia mendorongnya.
Semua sekarang terkonsentrasi di ruang tamu untuk mendengarkan hal selanjutnya yang akan disampaikan Sang Boss Besar.
"Maxwell, cucuku, tinggallah di sini untuk sementara waktu, karena....".
"Mengapa tiba-tiba Anda mengatur hidupku?".
"Jangan salah paham..."
"Aku kemari mengikutimu hanya karena ingin berterima kasih sudah menolongku juga istriku dan keluarganya..."
"Kau belum tau jika...."
Maxwell menatap curiga ke sang kakek. Ayesha dan yang lainnya saling berpandangan. Maxwell belum tau hal yang menimpa keluarga Ayesha dan bibi Christine.
"Kehidupan kalian selama ini tidak mudah bukan?", Alexander berusaha mengalihkan.
"Benar"
"Menjadi seorang generasi Al Qudri dan Powell tak semudah seperti menjadi keturunan orang kebanyakan. Tak bisa dipungkiri, kekayaan yang kita miliki sering menjadi bumerang. Banyak orang yang tidak suka dan ingin menghancurkan dengan berbagai cara. Dan itu adalah hal yang biasa. Apalagi menjadi bagian dari mafia dunia. Maka bukan hanya kompetitor di dunia bisnis, tapi juga di dunia mafia", Sir Alexander menarik nafas sejenak dan memandang ke arah sang cucu dan cucu menantunya.
"Apakah kalian masih ingin menghadapi semua tantangan itu lebih lama?"
"Aku ingin tau siapa dalang di balik semua yang menimpa kami selama ini, barulah hati menjadi tenang", Maxwell menatap tegas. Ia hampir kehilangan nyawa dan keluarga istri juga bibinya turut menjadi sasaran.
"Aku sudah membereskannya. Setelah ini hanya ada satu musuh besar yang tak terlihat namun sulit untuk mengalahkan mereka, kecuali...."
"Mossad bukan?"
"Kau sudah tau?"
"Bukankah mereka yang telah membunuh ayahku"
"Kau benar, cucuku. Kau ingin menuntut balas?"
"Tergantung"
"Aku akan membantumu"
"Agen rahasia itu tidak mudah ditaklukkan bukan?"
"Jika kita bersatu, bagaimana menurutmu?"
"Anda benar-benar akan membantuku?"
"Aku kakekmu. Anggaplah aku membayar rasa sakitmu selama ini. Apalagi, ayahmu sudah melindungi putriku selama ini"
"Dan putrimu juga ayahku sama-sama mati di tangan mereka"
"Apa?"
"Aku yakin kecelakaan yang menimpa ibuku kemudian ayahku, semuanya didalangi oleh mereka yang amat lihai menyembunyikan identitas dan mahir merekayasa. Adakah yang lebih hebat dari mereka di dunia ini dalam hal kejahatan terrencana?"
"Kau benar, cucuku. Kita akan membalasnya"
"Aku tidak akan berbuat yang sama lagi. Tapi jika mereka mulai menyentuh orang banyak, maka aku tidak akan tinggal diam", Maxwell melirik Ayesha istrinya yang balik menatapnya lekat dengan sorot kagum.
"Kau sungguh punya prinsip. Aku mendukungmu", sang kakek tersenyum, meski di hatinya tak akan pernah memaafkan mereka yang telah merenggut nyawa anak dan menantunya, meski menantu yang tak diharapkan namun telah memberikannya seorang cucu lelaki yang sangat dinantikan.
"Oh ya, Anda belum mengatakan padaku siapa dalang yang telah hampir mengambil nyawaku dan juga keluarga istriku dan bibiku"
"Dia...bibimu sendiri...istri pamanmu, Abraham Alexander.."
Maxwell tercekat.
"Mengapa...dia begitu tega padaku.."
"Sudah kukatakan bukan..? Kekayaan bisa menjadi bumerang....setiap orang ingin memilikinya tak terkecuali orang yang terdekat dengan kita yang mempunyai ambisi memiliki kekayaan... tanpa peduli untuk mengorbankan apa saja... termasuk keponakan suaminya sendiri..."
"Di mana dia sekarang?"
"Kau tidak bisa menemuinya lagi..."
"Apa maksud Grandfa?"
Alexander tiba-tiba merasa bahagia akan panggilan sang cucu padanya.
"Karena aku sudah membalaskan semua rasa sakit hati semua orang..."
Maxwell pun terperangah.
"Grandfa membunuhnya?"
"Bukankah nyawa harus dibalas dengan nyawa? Bahkan itu tidak sebanding dengan apa yang sudah dilakukan wanita ular itu padamu dan semuanya. Dia hanya memiliki satu nyawa sedangkan...mereka yang sudah dibunuhnya....", Alexander tidak melanjutkan kata-katanya.
"Apa maksudnya?", Maxwell sudah merasa tidak enak hati. Kemudian ia memandang Ayesha. Pikirannya seketika teringat dengan ledakan mobil yang nyaris turut menghancurkan tubuhnya.
"Sayang....dimana Sir Vladimir..."
Ayesha memalingkan wajahnya.
"Ayeshaku...dimana Brother Ahmed...Bibi Christine...", suara Maxwell bergetar. Dia menelan ludahnya yang tiba-tiba pahit.
"Mereka sudah aman"
"Jangan sembunyikan apapun dariku, Sayang..."
"Aku tidak berbohong. Mereka sudah tidak apa-apa...sekarang...Hubby..."
"Dimana mereka? Aku ingin bertemu dengan mereka"
"Mereka sudah tenang"
"Bagaimana mereka bisa tenang... sementara aku saja saat ini belum merasa tenang karena lukaku yang belum sembuh...."
"Ya, sudah tidak apa-apa lagi".
"Sudahlah Sayang... tolong katakan yang sebenarnya..."
"Mereka sudah tenang berada di alamnya... alam yang tidak bisa kita jangkau saat ini kecuali suatu saat nanti ...", lirih Ayesha sambil menundukkan wajahnya karena sedih.
"Maksudnya?", gemetar, Maxwell terduduk di sofa di sisi sang istri. Air mata tak sanggup ditahan sang pria gagah yang sebelumnya terkenal dengan kebengisannya sebagai seorang Boss Mafia itu.
Maxwell refleks menarik rambutnya sendiri menyesali semua yang terjadi. Bayangan Sir Vladimir, Brother Ahmed dan Sang Bibi memenuhi memorinya. Kebaikan mereka terbayang jelas dan menimbulkan rasa sesal yang amat besar dalam benak Maxwell.
"Maafkan aku, Sayang... aku telah membuatmu kehilangan kakek dan kakak yang sangat engkau cintai....tidak seharusnya kau mengalami ini semua... ini semua karena aku.... tidak seharusnya aku membawamu ke dalam duniaku seperti ini... maafkan aku....maafkan aku....Bibi Christine.... maafkan aku...."
Maxwell terlihat sangat terpukul. Ayesha menggelengkan kepalanya. Kemudian mendekati sang suami yang duduk di sisinya dan meraih kedua tangannya.
"Jangan minta maaf...ini sudah takdir...aku sudah ikhlas Hubby...."
"Ini terjadi karena aku.... aku yang telah membuatmu masuk ke dalam duniaku yang penuh dengan musuh.... engkau dan keluargamu tidak seharusnya mengalami ini semua....tidak seharusnya kakek Vladimir dan Brother Ahmed meninggalkanmu begitu cepat jika engkau tidak...."
"No. Istighfar Hubby.....jangan katakan itu lagi...ini semua sudah takdir Allah...kita tidak boleh menyesali kecuali untuk mengambil hikmahnya....bahkan jika bukan karena aku menjadi istrimu... kakek dan kakakku pasti juga akan menghadap yang Maha Kuasa....karena kematian semua orang sudah tertulis dengan jelas detik dan tanggalnya di kitab Lauful Mahfudz...kita hanya bersiap menjalaninya saja...dan tak seorang pun yang bisa menghindarinya...", Ayesha meraih wajah sang suami dan memaksanya untuk menatap ke arah matanya.
"Dengarkan aku....seorang muslim juga wajib beriman pada taqdir yang sudah Allah tetapkan, dan saat ini....musibah ini menguji kita sampai dimana iman tersebut...apakah kita layak disebut seorang muslim yang beriman atau tidak....Hubby paham bukan?"
"Ayesha....aku selalu membuatmu dalam penderitaan sejak awal bersamaku...", Maxwell masih berlinang air mata menatap sang istri. Hatinya sungguh terpukul.
"Tidak...engkau selalu membuat aku bahagia..."
"Aku tidak layak berada di sisimu...menjadi pendamping hidupmu...."
"Tidak....jangan katakan itu... tidak ada manusia yang sempurna... setiap orang punya masa lalu...."
"Tapi masa laluku... begitu buruk....dan akibatnya...sampai kapan pun...akan terus menyiksamu selagi engkau berada di sisiku...."
"Tidak...kita akan lalui bersama apapun yang terjadi....jangan bicara apapun lagi...."
"Tapi aku...tidak mau membuat orang yang paling ku cintai menderita lebih banyak...", tiba-tiba Maxwell berdiri dan menjauhkan tubuhnya dari sang istri. Ayesha dan seluruh orang terkesiap.
"Sudah cukup engkau menderita kehilangan orang-orang yang engkau cintai Ayesha...aku sangat mencintaimu....namun aku tidak boleh egois...aku tidak ingin membuatmu kehilangan lebih banyak lagi...maka sebaiknya...."
"Hubby...apa maksudmu?", Ayesha merasakan sesuatu yang tidak ia harapkan akan terjadi. Sebelum Maxwell berbicara lebih lanjut, ia menghambur memeluk suaminya dan kemudian menutup mulut pria yang sedang terguncang itu dengan sebelah tangannya.
"Jangan katakan apapun lagi....istighfarlah...mohon ampun pada Rabb kita...aku mencintaimu...aku mencintaimu...I love you...I love you...cinta itu membutuhkan pengorbanan...dan aku sudah berkorban sejauh ini....tidakkah akan sia-sia jika Hubby masih terus merasa bersalah seperti ini...", Ayesha menatap dengan tajam sepasang mata biru di depannya. Dengan gemetar ia meraih kedua tangan kekar itu dan membimbingnya untuk menyentuh perutnya.
"Ada ini...ada buah hati kita...ingatlah...tidakkah kita akan membesarkannya bersama....? Bahkan Allah sudah memberikan kita tiga nyawa di sini...tidakkah ini pertanda Allah sayang kita dengan mengganti tiga orang yang amat berharga dalam hidup kita dengan tiga calon penerus Al Qudri dan Powell family?", Ayesha merasakan lemas pada tubuhnya. Namun ia harus kuat.
"Bersyukurlah selalu dan jangan pernah lupa bersyukur...karena Allah itu Maha Adil...ia akan semakin menambah nikmat-Nya jika hamba-Nya pandai bersyukur...bukan dengan menolak takdir dan bertindak semakin salah dan malah semakin banyak menambah kesalahan....", Ayesha masih bergetar mengucapkan kalimatnya dengan terbata-bata. Hatinya penuh dengan zikir berharap Allah membimbing dan membalikkan hati suaminya agar tidak salah jalan mengambil keputusan.
Sementara itu, semua yang berkumpul di ruangan cukup terkejut mendengar jumlah calon bayi yang dikandung sang Nyonya. Alexander Al Qudri sungguh sangat terkejut, shock diliputi kebahagiaan karena tak lama lagi akan mendapatkan cicit yang langsung banyak.
Maxwell tertegun mendengarkan semua perkataan istrinya. Ia meresapinya dalam diam. Setelah sekian detik terguncang oleh perasaan bersalah yang hampir membuatnya gelap mengambil keputusan, tubuhnya pun meluruh dan kini tergugu sambil menempelkan wajahnya yang basah ke perut sang istri.
"I'm sorry....I'm sorry....maafkan Daddy....yang hampir melupakanmu Sayang....dan hampir lupa bersyukur pada Tuhan...", Maxwell menciumi perut Ayesha dengan hati diliputi sesal bertambah-tambah. Ia hampir saja melakukan sebuah kesalahan fatal.
"Jika ingin dimaafkan oleh anak-anakmu dan istrimu....berjanjilah untuk selalu menemani kami dalam segala kondisi...baik suka maupun duka...dan jangan pernah berpikir sendiri...menanggung beban hati sendirian...karena terkadang...berbagi dengan pendampingmu itu sangat indah dan membuatmu semakin kuat....", lirih Ayesha.
Maxwell memandangi istrinya dan ia pun mengangguk. Hingga kemudian ia mengerjap karena tiba-tiba merasakan sesuatu yang berat luruh menimpa tubuhnya. Ayesha tidak sadarkan diri.