
Semuanya sudah keluar dari kamar perawatan kecuali Ayesha. Setelah memberikan beberapa arahan yang penting, dr Anne pun permisi pamit pulang karena sudah harus kembali bekerja. Uncle John seperti biasa mengantarkannya dengan helly karena ia juga harus terbang ke arah yang sama untuk kembali mengurus perusahaan keluarga Vladimir. Barusan ada telpon dari tangan kanannya bahwa ada masalah serius yang perlu penanganannya langsung. Ahmed juga diminta Sir Vladimir untuk menemani pamannya agar Ahmed juga terbiasa mengatasi segala permasalahan perusahaan. Jadilah mereka bertiga di dalam helly berangkat bersama untuk menghemat waktu tempuh.
Kini Ayesha hanya berdua bersama suaminya di kamar perawatan. Ia sudah cukup lega karena suhu tubuh suaminya sudah normal seperti biasa. Ia hanya cukup menunggu reaksi lanjutan berupa detoksifikasi melalui kelenjar keringat, buang air seni ataupun feses. Dilihatnya suami tampannya masih tidur dengan tenang.
Sambil menunggui sang suami, setelah berwudhu' sebentar Ayesha pun mengambil mushab kecilnya dan dengan suara yang cukup terdengar di telinga Maxwell ia pun membacanya perlahan tepat di sisi kanan suaminya. Suaranya begitu merdu menelusuri ayat demi ayat Firman Tuhan yang menjadi pedoman hidup umat muslim sedunia tersebut. Bacaan murottal yang syahdu dan penuh penghayatan, jika didengar oleh siapapun pasti akan menyentuh hati yang gersang nan gelap sekali pun dan bacaan tersebut akan menjadi setitik cahaya di sana dan bahkan akan menjadi hidayah karena itu adalah firman Tuhan yang Maha Berkehendak.
Suara firman Tuhan akan mampu mengetuk pintu hati siapapun manusia yang pada dasarnya fitrah mereka adalah taat pada Tuhannya dan mengakui diri bahwa mereka ada makhluk ciptaanNya. Inilah yang mungkin membuat sosok pria di pembaringan ini yang awalnya laksana sebuah sosok iblis perlahan-lahan berubah dan hatinya diselimuti kasih sayang karena cahaya Ilahi tadi sudah menyusup ke alam kalbunya tanpa ia sadari. Mungkin sejak ia ditemani murottal quran melalui tape mini ketika terbaring koma selama 3 hari di awal pertemuan dengan Ayesha atau bisa juga ketika masih bayi atau bahkan sejak dalam kandungan. Kehidupan Maxwell sebelumnya siapa yang tahu?
Ketika 10 menit berlalu Ayesha masih terus asyik tenggelam dengan tilawah qurannya, Maxwell pun mulai terbangun dari pingsan atau mungkin tidur nyenyaknya. Perlahan ia membuka matanya dan mulai sadar dengan kondisinya. Ia tersenyum melihat wanitanya yang duduk khusyuk di samping ranjangnya dengan tilawah qurannya yang merdu. Ia terus menikmati wajah istrinya yang kini tanpa cadar dan terus terkagum dengan bacaannya yang begitu menenangkan hatinya. Ia sebenarnya merasa sangat haus
namun ditahan agar bisa lebih lama menikmati suguhan audio dan visual luar biasa di dekatnya.
Ayesha yang merasakan sebuah tatapan ke arahnya mulai sadar bahwa suaminya sudah bangun. Ia pun menutup bacaannya dan meletakkan kembali mushab kecilnya di tempat semula. Ia kemudian mendekati suaminya kembali.
"Hubby, apakah ada yang sakit?"
"Aku sudah tidak apa-apa. Terima kasih untuk yang ke sekian kalinya my wife..."
"Jangan ucapkan terima kasih untuk sebuah kewajiban", Ayesha tersenyum tulus.
"Aku dulunya juga berpikir demikian. Lidahku dulu sangat kelu untuk mengucapkan itu karena kupikir semua orang yang sudah kuberi upah yang besar tentu wajib melakukan semua suruhanku, dan jika berhasil aku tak pernah mengucapkan kata terima kasih", tatapan Maxwell mulai nampak menerawang mengenang masa lalunya.
"Hubby bukan maksudku...."
"It's ok honey...I see...Maksudku, walau itu adalah kewajibanmu sebagai seorang istri, tapi aku ingin mulai belajar mengobral kata-kata terima kasih", Maxwell tersenyum menggoda.
"Oh...jadi hanya obralan toh...tidak tulus...", Ayesha pura-pura marah.
"Oh No. Aku tulus mengatakannya. Karena tidak semua orang yang sudah jelas mempunyai kewajiban kemudian mau melakukan kewajiban tersebut. Namun istri bidadariku ini mau melakukannya dengan baik. Terima kasih honey...", Maxwell kembali tersenyum dan menatap intens istrinya. Posisinya sudah duduk menyandar.
"Hubby perlu dibantu?"
"Sepertinya aku sudah cukup kuat"
Maxwell pun menerima gelas air minum dari Ayesha dan ketika baru saja gelas itu berpindah tangan serta merta kembali terlepas dan nyaris terhempas ke lantai jika saja Ayesha tidak segera menangkapnya. Air di dalamnya pun tumpah kemana-mana dan sebagian membasahi baju dan celana yang Maxwell kenakan dan juga seprai tempat tidurnya.
"Hubby...hubby tidak apa-apa...? Hubby masih lemas ya...?"
"Maafkan aku sayang...aku...tak tahu ternyata aku sangat lemah..maafkan aku makin membuat kamu repot..."
"Tidak apa apa hubby, yang penting hubby tidak kenapa-napa, bentar ya..."
Ayesha segera mengambil kembali air minum dan dengan telaten meminumkannya ke mulut Maxwell dengan perlahan. Setelah itu ia kembali mengatur bednya dan Maxwell pun kembali merebahkan tubuhnya. Ia mendadak merasa pusing dan sangat lemah. Ketika bangun tadi dia masih merasa biasa saja walau sedikit ada rasa lemas, namun mungkin karena tersugesti dengan melihat istrinya tadi maka ia seperti merasa kuat. Ia kini hanya menyaksikan kesibukan istrinya yang perlahan menarik seprai yang basah dan kini berusaha membuka bajunya. Meski sangat canggung dan malu, tapi apa boleh buat, Ayesha sadar bahwa dia memang harus melakukannya. Ketika hendak membuka ikat pinggang suaminya, ia refleks memalingkan wajahnya dengan rona wajah yang sudah tak menentu. Maxwell yang mengamati seluruh gestur tubuh sang istri pun tertawa dalam hati. Ah wanitaku sangat pemalu. Ini bahkan hanya ikatan yang di luar, bagaimana jika nanti dengan ikatan yang di dalam, batinnya geli.
"Hubby...maaf ya..."
"Tidak perlu minta maaf untuk sebuah kewajiban dan juga hak", Maxwell masih sempat menggoda istrinya mesti dengan suara lemah.
"Hubby...aku tidak bermaksud..."
"Tidak mengapa honey, anggap saja ini sebuah pembelajaran. Sebelum sepenuhnya kita terikat mendalam, bukankah memang harus diawali dengan membuka ikatan yang di luar?", Maxwell tersenyum smirk. Meski suaranya sangat pelan, tapi masih bisa didengar sang istri.
"Aku...aku akan minta tolong brother Ali. Boleh ya?", Ayesha segera menemukan ide cemerlang.
Maxwell tercenung. Ia menarik nafas pelan. Ia baru sadar, bahwa sosok wanita di hadapannya bukanlah sosok wanita kebanyakan. Selama hidupnya bahkan sejak usia primary school sekalipun, sudah tak terhitung berduyun-duyun wanita yang ingin menjadi pacarnya bahkan ketika dewasa tak sedikit di antaranya yang ingin menjual diri dan bahkan suka rela ingin berada dalam pelukannya. Dan tentu saja mengapa mereka mau melakukannya? Tak lain karena sosok Maxwell Powell yang tampan, borjuis dan mempesona. Ternyata sifatnya yang arogan dan super cool pada wanita malah menjadikannya idola kaum hawa di dunia bisnis maupun pejabat. Jangan lupakan kekuasaan mega power yang dimilikinya bahkan setelah kematian ayah adopsinya yang luar biasa kekayaan dan kekuasaannya, Maxwell tetap tak tergantikan. Namun kini, di depan sosok istrinya yang tertutup seluruh fisiknya kecuali wajah, itu pun di depan sosok suami dan saudara kandungnya, Maxwell sama sekali tak dianggap menarik apalagi digilai seperti yang dilakukan semua wanita itu. Apakah karena aku sedang sakit sehingga aku tidak menarik lagi? desahnya pilu dalam hati.