A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 85. Ikatan Batin



Ayesha baru saja terbangun dari tidurnya dan kini berusaha memulihkan energinya dengan memakan bubur yang diberikan pelayan. Kepalanya sudah tidak terlalu pusing. Samar diingatnya perkataan sang dokter dan Luke ketika ia sedang setengah sadar karena kondisinya yang demam tinggi. Dia teringat bahwa sudah lebih dari satu bulan ini dia memang tidak lagi datang bulan. Hamil? Ya Allah, Alhamdulillah jika engkau berkenan menitipkan janin di rahimku. Aku harus menjaganya dengan baik. Hubby, engkau pasti akan sangat bahagia mengetahui berita ini. Batin Ayesha berdialog sendiri. Ayesha seketika mengelus perutnya dan ini dilihat oleh sang pelayan yang sejak tadi berdiri memperhatikan Ayesha.


"Nyonya. Apakah perut Anda sakit?", tanya sang pelayan khawatir.


"Tidak Bibi. Aku hanya ingin ke kamar mandi", Ayesha tersenyum melihat ke arah sang pelayan. Ia bisa merasakan ketulusan akan perhatian wanita paruh baya yang menjaganya tersebut.


"Oh kalau begitu mari saya antar Nyonya ke kamar mandi"


"Tidak usah Bi. Aku bisa sendiri"


Ayesha pun bangkit dan berjalan perlahan menuju kamar mandi. Sebelum ia masuk, ia melirik sang Bibi yang ternyata mengikutinya. Ia pun menoleh ke belakang.


"Tidak apa Bibi. Aku bisa sendiri"


"Hm...Nyonya..."


"Ada apa Bibi?", Ayesha mengernyit heran melihat sang Bibi yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Kemudian ia melihat wanita tersebut merogoh sesuatu dari saku bajunya.


"Nyonya, bisakah Anda mencoba ini?"


Ayesha terperangah.


"Bukankah ini testpack?"


"Ya, Nyonya. Untuk memastikan kondisi tubuh Anda saat ini", sang Bibi mengulurkan benda kecil tersebut yang sudah dikeluarkan dari kotaknya.


"Baiklah. Terima kasih Bibi"


"Sama-sama Nyonya".


Ayesha pun masuk dan tak lama kemudian ia pun menyelesaikan keperluannya. Setelah menunggu beberapa menit, bibir pink yang masih nampak pucat itu pun menyunggingkan senyum kebahagiaan.


"Apakah positif Nyonya?", sang pelayan bertanya pada Ayesha begitu wanita bercadar itu keluar dari kamar mandi. Ayesha hanya diam beberapa saat. Namun kemudian ia mendekati sang pelayan.


"Bi, bolehkah aku memelukmu?"


Sang Bibi pelayan pun terheran dan mengangguk. Serta merta Ayesha pun memeluknya dengan hangat dan berkata lirih dengan penuh kebahagiaan.


"Alhamdulillah Bi, aku akan menjadi seorang ibu", bisik Ayesha dengan suara bergetar. Bibirnya dipenuhi senyuman. Sang pelayan yang semula bingung dan risih karena dipeluk oleh wanita yang sudah dianggap majikannya karena merupakan wanita yang dicintai tuannya itu pun kini ikut tersenyum. Ia merasakan kebahagiaan yang dialami sang tawanan tuannya tersebut.


Perlahan Ayesha melepas pelukannya dan menatap ke wajah sang pelayan.


"Bi, aku ingin bertanya banyak padamu. Bukankah Engkau juga seorang ibu?"


Sang pelayan mengangguk kembali. Kini mereka pun duduk bersama di pinggir ranjang dan Ayesha dengan antusias bertanya pada sang pelayan tentang kehamilan dan bagaimana menjaga janinnya dengan baik. Mereka pun kini terlihat serius berbincang. Waktu pun berlalu dengan perasaan bahagia Ayesha menyambut calon bayinya. Sesaat ia lupa akan kesedihannya berada dalam tawanan Luke dan kembali sedih begitu teringat sang suami yang harusnya menjadi orang pertama yang mendapatkan kabar gembira ini. My Hubby, dimanakah Engkau saat ini? Apakah misi yang sedang engkau jalankan saat itu berhasil? Pasti Hubby sudah tau tentang kondisiku yang diculik saat ini bukan? Tentu engkau saat ini kebingungan mencariku karena aku sendiri tidak tau berada dimana saat ini. Semuanya begitu tertutup, tak ada celah informasi sama sekali. Ah, Kak Ahmed maafkan aku. Mungkin karena sifat keras kepalaku yang tidak mendengarkan perkataanmu sehingga kini harus terjebak di sini.


Ayesha kembali mengelus perutnya dan membayangkan sang suami juga sang kakak. Beruntung di tengah kesedihannya, ia tidak merasakan morning sickness ataupun keluhan yang berarti sebagaimana biasanya seorang wanita hamil mengalaminya. Hatinya dipenuhi kerinduan meski baru beberapa hari berada dalam penculikan. Sudah beberapa kali ia mencoba mencari jalan untuk bisa melarikan diri dari penyekapan Luke namun belum juga membuahkan hasil. Kunci kamar dan jendela sama sekali tak menyisakan harapan untuknya bisa lepas. Bahkan plafon dan ventilasi kamar pun sama sekali tak dapat ditembusnya. Belum lagi orang-orang Luke yang terus nampak berjaga di sekitar villa. Ia bisa menyaksikan melalui jendela kamar yang bisa dibukanya dengan lebar. Jeruji dari baja tak mampu dibukanya sama sekali. Tak ada satu pun alat di dalam kamar yang bisa ia manfaatkan untuk dapat keluar dari kamar.


"Nyonya", suara sang pelayan membuyarkan lamunan Ayesha. Ini adalah hari ke tiga setelah ia menyadari kehamilannya.


"Ada apa Bibi?"


"Malam ini Tuan akan mengajak Nyonya untuk makan malam. Saya diminta memberikan ini untuk dipakai Nyonya"


"Makan malam dimana Bi?"


"Maaf Nyonya. Saya juga tidak tau. Yang penting Nyonya bersiap saja"


"Baiklah. Terima kasih Bi"


"Ya Nyonya. Saya permisi dulu"


"Oh ya Bi. Tunggu sebentar"


"Ada apa Nyonya?"


"Tolong Bibi jawab dengan jujur ya"


"Apa yang ingin Nyonya tanyakan?"


"Selama aku di sini... maksudku... ketika aku baru tiba di sini..., siapakah yang membawaku ke dalam kamar ini?"


"Oh itu...setau saya...Tuan Luke yang langsung menggendong Nyonya dari hellycopter ke sini Nyonya"


"Dimana helly nya Bi?"


"Di bawah sana Nyonya"


"Apakah ada lapangan di bawah sana? Jauh kah?"


"Ada Nyonya. Dari teras lantai dasar, sejauh 70 meter"


"Lalu..apakah Mr Luke hanya sendirian?"


"Ya"


"Bibi...apakah benar Tuan kalian tidak berbuat lebih padaku waktu itu? Maksudku...."


"Sepertinya tidak Nyonya"


"Bibi yakin?"


"Yakin Nyonya. Karena tidak lama Tuan membawa Nyonya ke kamar, sekitar 5 menit kemudian saya melihat Tuan sudah keluar sambil menelpon dan kemudian menyuruh saya untuk mengganti kain seprai dan menyusun pakaian ke dalam lemari. Setelah saya merapikan kamar, Tuan juga pergi bersama anak buahnya keluar dan kembali ketika Nyonya sudah sadar"


Ayesha menghela nafas lega. Ia khawatir Luke berbohong dan sudah melakukan hal yang tidak pantas padanya.


"Nyonya. Jangan khawatir. Meskipun Tuan orang yang kejam namun saya bisa melihat bahwa Tuan benar-benar sangat mencintai Nyonya. Dia tidak akan menyakiti Nyonya. Dia akan menjaga kehormatan orang yang dicintainya"


"Semoga Bibi benar. Terima kasih Bi"


"Permisi Nyonya"


"Silakan"


Ayesha mengambil paper bag yang diberikan sang pelayan. Ia kemudian mengeluarkan semua isinya di atas tempat tidur. Matanya terpaku melihat satu set pakaian mahal berupa gamis polos berwarna ungu muda lengkap dengan jilbab dan cadar berwarna senada yang lebih gelap dan bercorak bunga sakura. Di bawah pakaian, ia terperangah ketika menemukan satu kotak perhiasan berisi gelang dan bross emas putih. Ayesha membuka kotak tersebut. Gelang dan bross nampak berkilauan terkena cahaya matahari sore yang menembus kamar melalui jendela yang terbuka. Ayesha menggelengkan kepalanya pelan sambil menatap ke luar jendela. Ia mengabaikan semua barang yang diberikan Luke dan kini berdiri di sisi jendela. Matanya terpejam dan sesekali terbuka untuk membuang perasaan galau di hatinya. Ia menatap ke sembarang arah tanpa fokus.


"Bagaimana mungkin aku memakai ini semua untuk orang yang ingin menjauhkan ku dari suamiku sendiri? Luke! Sadarlah! Cinta tak harus memiliki. Terimalah kenyataan bahwa aku tak mungkin bersamamu. Masih ada banyak wanita di luar sana yang baik untukmu. Oh my Hubby. Aku merindukanmu. Segeralah datang dan keluarkan aku dari sini", gumam Ayesha. Ia kembali memejamkan matanya seolah tak ingin melihat apapun. Ia ingin menenangkan diri dengan merasakan semilir angin senja pegunungan yang menerpa wajahnya, yang memberikan kesejukan hingga terasa menembus relung-relung hatinya yang dipenuhi kerinduan.


Sementara itu, di tempat lain, nun jauh di sebuah wilayah berbeda negara, di dalam pesawat pribadinya, orang yang sedang dirindukan oleh Ayesha nampak sedang memegangi perutnya dan berlari ke wastafel. Ia memuntahkan semua isi perutnya. Mark yang berada disisinya hanya bisa menarik nafas bingung. Ini sudah kesekian kalinya sejak tiga hari belakangan ini ia melihat gejala aneh dari seorang Maxwell yang terus mual dan muntah ketika hendak makan ataupun kadang selesai makan. Maxwell nampak pucat dan kini duduk tak berdaya di kursi pesawat.


"Tuan, apakah saya panggilkan dokter?"


"Tidak perlu"


"Kau sendiri tau apa obatnya bukan?"


"Buah?"


"Ya. Ambilkan segera"


Mark menurut dan menuju tempat logistik. Tak lama ia sudah kembali dengan sekotak buah yang sudah dipotong kecil di dalamnya. Dibukanya tempat buah tersebut dan diberikannya pada Maxwell. Sang Tuan pun dengan pandangan nanar mengambilnya dan memakannya dengan lahap. Energinya seolah kembali setelah makan buah meski hanya beberapa potong saja.


"Apakah hanya ada apel?"


"Masih banyak yang lain sesuai pesanan Anda, Tuan"


"Aku ingin engkau mencampur semua buah pesananku dan menambahnya dengan madu"


"Baiklah"


Mark pun segera mengerjakan apa yang diperintahkan Maxwell. Ia menyuruh anak buah Maxwell yang bekerja di bagian dapur untuk membantunya.


"Mengapa lama sekali?"


Maxwell langsung bersuara begitu Mark kembali dengan pesanannya. Ia sudah nampak tak sabar dan kini langsung menyantap makanannya dengan semangat.


"Maaf Tuan. Tadi sedikit lama mencari madunya"


Maxwell masih terus menikmati makanannya dengan sikap seakan sudah lama tidak makan. Dan memang, sudah beberapa hari ini sejak ia berpisah dengan Ayesha nafsu makannya hilang. Apalagi ketika makan ia pun langsung mual dan memuntahkan isi perutnya.


"Kau mau?"


"Tidak Tuan. Saya sudah makan"


"Ini sangat enak"


Mark menggeleng pelan. Hatinya masih terus diliputi tanda tanya. Ia kini duduk di seberang kanan kursi Maxwell. Sang tuan nampak sudah menyelesaikan makannya.


"Tuan. Tidakkah Tuan merasa aneh dengan kondisi Tuan ini?", Mark mencoba menyampaikan rasa penasarannya dengan suara pelan.


"Maksudmu?", Maxwell menoleh ke arah Mark.


"Apa yang Tuan alami...maaf...seperti..."


"Bukankah biasa kalau seseorang yang menderita magh mengalami hal ini? Aku dulunya pernah menderita magh dan mungkin sekarang kambuh lagi"


"Maaf Tuan....bukankah sakit magh sebaiknya tidak banyak makan buah dibanding gandum? Dan maaf, Tuan juga banyak makan buah yang asam"


Maxwell tercenung. Ia seperti lupa akan kondisinya saat ini yang tidak normal.


"Maksudmu?"


"Apakah Tuan tidak melihat...kalau...suka mual dan muntah melihat makanan biasa...tapi tidak untuk makan buah yang banyak asamnya...itu adalah...", Mark tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Maxwell melotot begitu menyadari sesuatu.


"Bicaralah yang jelas..."


"Tuan...mungkin ini hanya perkiraan saya saja..."


"Bukan hal aneh jika seseorang muntah dan ingin makan buah bukan? Begitu banyak jenis penyakit seperti ini dialami manusia di bumi apalagi wanita yang....", seketika Maxwell berhenti dan teringat sesuatu.


"Ayesha?", gumamnya lirih.


Maxwell tersentak kaget. Ia seperti baru bangun dari mimpinya.


"Apakah ini ada hubungannya dengan istriku? Bahwa Ayesha mungkin sedang...."


"Tuan....pasti tau tentang...", Mark menyambung.


"Ya...aku tau..."


Maxwell memotong perkataan Mark. Ia baru ingat bahwa sejak ia dan Ayesha berhubungan suami istri ia bahkan tidak pernah absen setiap malamnya melakukan ibadah memabukkan itu. Oh God, apakah ini yang dinamakan nyidam? Lalu benarkah seorang lelaki juga bisa mengalaminya? Bukankah biasanya wanita yang hamil yang mengalaminya? Ada banyak pertanyaan dalam hati Maxwell.


"Mark. Panggilkan dokter sekarang juga"


"Baik Tuan"


Tak lama seorang pria berpakaian putih muncul di belakang Mark.


"Ada apa Tuan?"


"Mungkinkah seorang pria juga merasakan mual dan muntah dan dan lebih menyukai makan buah seperti seorang wanita hamil?"


"Bisa jadi Tuan, jika pria tersebut sudah menikah dan istrinya sedang hamil. Kondisi seperti itu disebut syndrome cauvade dan biasanya terjadi di trimester pertama. Yang jelas ketika sang istri hamil, sang suami juga bisa mengalami hal yang biasanya di alami seorang istri yang hamil karena berbagai faktor"


"Jadi jika suami mengalami gejala itu artinya ...istrinya..."


"Ya Tuan....Hamil"


"Alhamdulillaah"


Maxwell mengusap wajahnya dan terus mengucapkan hamdalah. Bayangan wajah Ayesha seperti menari-nari di pelupuk mata dan ia seolah bisa melihat wanitanya tersebut sedang memandang ke arahnya dengan tatapan bahagia. Namun itu tidak lama. Mendadak tatapan itu berubah sendu.


"Ayesha...", lirih Maxwell. Ia mengerjapkan matanya. Bayangan Ayesha menghilang. Ia kembali sadar akan kondisinya saat ini. Sudah berhari-hari ia menelusuri beberapa tempat yang menjadi petunjuk keberadaan Ayesha namun masih nihil. Musuh yang menculik Ayesha sangat lihai mengecoh nya dan ia merasa heran karena sampai saat ini tidak ada yang menghubunginya untuk meminta tebusan ataupun ancaman. Para informan sebelumnya yang mendapatkan petunjuk keberadaan Ayesha ternyata dikelabui. Semua petunjuk itu palsu dan Maxwell semakin panik karena belum juga menemukan wanita yang sangat dicintainya tersebut.


"Tuan...", suara sang dokter membuyarkan lamunan Maxwell.


"Pergilah. Terima kasih"


"Baik, Tuan. Oh ya Tuan....Jika Anda memang mengalami syndrome cauvade ini maka ini adalah kabar gembira untuk Tuan. Selamat Tuan. Tuan akan segera menjadi seorang ayah"


"Terima kasih. Semoga benar seperti itu"


Sang dokter pun bergegas pergi. Mark hanya berdiri memperhatikan.


"Mark. Apakah ada kabar terbaru?"


"Belum ada Tuan. Tapi saya mendapatkan kabar bahwa ada seseorang yang hendak menghubungi Tuan. Mungkin nanti jika kita sudah mendarat, Tuan akan segera tau"


"Ku harap ini akan membawa berita baik untukku"


"I hope so", sahut Mark.


Mark hanya tersenyum tipis. Hatinya cukup prihatin melihat kondisi tuannya saat ini. Jika saja ada musuh yang datang, ia akan mengkhawatirkan tuannya karena kondisi tubuh dan jiwanya yang sedang labil. Ia benar-benar seperti seorang wanita hamil saat ini. Lemah fisik dan berpemikiran labil. Ah, trimester pertama. Bukannya itu sampai 3 bulan lamanya? Mark menggeleng pelan mengingat lamanya waktu untuk sang majikan akan bersikap lemah dan sering marah tidak jelas seperti belakangan ini terjadi. Jika saja tidak ada Tuan Ahmed yang sering menasehatinya melalui panggilan telepon, mungkin sikapnya akan lebih parah. Ah, Tuan Ahmed. Semoga Tuan dan Patch segera menemukan Nyonya Ayesha lebih dulu dan memberikan kabar ke kami. Mark menarik nafas panjang. Ia memejamkan mata mengikut tuannya yang sudah lebih dulu terlelap.