A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 6. Melihat Kedua Kali



Ayesha terkejut ketika mendapat telpon dari Ahmed, kakaknya, di ke-esokan paginya.


“Assalamualaikum Ayesha manisss”


“Wa alaikumussalaam kak Ahmed”


“Sebentar lagi aku tiba. Jangan lupa masakan kesukaanku ok? Emmuah… bye.. assalamualaikum”


“Kak…”,


Seperti biasa Ayesha selalu dibuat terperangah oleh kejutan kakaknya kalau akan datang. Belum sempat dia bertanya apapun tetiba Ahmed sudah menodongnya dengan menu kesukaannya. Ok baiklah kakakku yang luar biasa, aku akan memasak untukmu. Ayesha segera menuju ke dapur yang posisinya di tengah rumah, tidak jauh dari kamarnya. Dia sangat paham kakaknya. Jika dikatakan sebentar lagi maka itu artinya tak sampai satu jam ia akan tiba. Kalang kabut Ayesha pun segera menjelajah isi dapur untuk menemukan bahan-bahan masakan yang diinginkan. Otaknya segera berpikir cepat untuk menyelesaikan masakannya dalam waktu 45 menit. Oh Tuhan, Ahmed selalu sukses membuatnya kelabakan seperti ini, namun entah mengapa, Ayesha tak akan bisa marah. Ia bahkan mulai menikmati situasi dadakan yang sering diciptakan kakak kandung satu-satunya ini. Ia ingat bahwa Ahmed harusnya datang paling cepat besok. Ya, besok. Bukan hari ini. Hmmm. Kak Ahmed...


Sibuk di dapur menyiapkan menu favorit kakaknya dengan limit waktu terbatas seperti ikut program lomba Master Chef, membuat Ayesha lupa sesaat bahwa di rumahnya saat ini ada penghuni baru yang tidak biasa dengan segala aktivitas di rumah ini.


Ketika aroma masakan dari dapur mulai menyeruak dan menggugah selera, Maxwell yang saat itu sedang membaca Koran berbahasa Inggris di teras depan merasa heran. Sepagi ini, jam 5 pagi waktu Rusia, ada aroma masakan yang menggelitik hidungnya. Sangat menggugah selera siapa pun yang menciumnya. Maxwell ingat bahwa selama ia tinggal di sini paling cepat jam 6 pagi pembantu wanita di rumah ini mulai beraktivitas memasak. Dan jam 7 pagi semua hidangan sederhana akan sudah tersedia di ruang makan untuk sarapan pagi dan di siang hari ia akan mendengar aktivitas memasak kembali pada jam 11 dan jam 12.30 hidangan pun sudah disediakan. Jam 4 sore dia akan mendengar kembali suara aktivitas di dapur dan jam 5.30 sore tentu sudah tersedia menu makan malam.


Kata Ali Tidak ada penghuni rumah yang makan di malam hari. Kakek Ayesha, Uncle John, Ali dan pembantu wanitanya akan makan bersama di meja makan dan menyelesaikan waktu makannya paling cepat selama 20 menit. Jadi jika sepagi ini sudah ada yang memasak tentu itu bukan kebiasaan pembantu di rumah ini. Apakah akan ada perayaan atau acara di rumah ini? pikirnya penasaran. Tapi ah mungkin majikan di rumah ini meminta Bibi Leida, sang maid, memasak lebih cepat hari ini karena tuannya hendak pergi lebih cepat. Pikirannya menduga sendiri.


Ditemani rasa penasarannya sendiri, Maxwell kemudian mendengar suara mobil memasuki halaman samping. Sepagi ini siapakah yang datang bertamu? Maxwell bertanya-tanya dalam hati. Mobil sport keluaran terbaru mulai parkir di halaman dan keluarlah sesosok pria bertubuh tinggi tegap dengan janggut dan jambang tipis di wajahnya. Wajahnya sepertinya mirip dengan seseorang yang Maxwell kenal tapi dia lupa siapa. Meski dia nampak dewasa jika dipandang sekilas tapi Maxwell bisa mengira bahwa lelaki tampan ini masih berusia tidak sampai kepala tiga. Maxwell mulai curiga namun semuanya hilang saat ia mendengar samar-samar percakapan dua orang di ruang tengah yang saat ini dipantaunya karena penasaran. Ia mengajak kursi rodanya bergerak menuju ruang belakang tatkala melihat tamu yang dilihatnya baru memarkirkan mobilnya tadi. Dan kini di hadapannya ia menyaksikan sebuah pemandangan hangat antar dua orang bersaudara.


Ayesha dan Ahmed sedang berpelukan di pintu samping rumah yang baru saja dibuka oleh Ayesha ketika ia mendengar salam dari kakaknya yang baru saja tiba.


“Kak Ahmed kenapa selalu mendadak begini… Gak lucu tau…”


“Tapi kamu suka kan? Gimana sup kacang merah dan sambal salmon ala Indonesia kesukaanku... ? sudah siap bukan? Atau jangan kau bilang kali ini kau gagal menyelesaikan misi”


Ahmed membelai kepala adiknya dengan sayang. Ayesha cuma tersenyum.


“Ayo kita makan. Kakak pasti hampir pingsan karena kelaparan bukan?”


“Ayo… aku mau lihat apakah adikku masih bisa memasak seperti dulu? Ku dengar dia sangat sibuk akhir-akhir ini sehingga tidak sempat lagi menyentuh dapurnya”


“Hmmm…aku tau kakak sengaja kan membuat aku repot heh?” Ayesha menunjukkan raut muka kesal. Ia tanpa cadar saat ini. Ada yang terpana di sebuah sudut menyaksikan pemandangan langka ini. Tapi entah kenapa sorot sepasang mata yang sedang terperangah tersebut merasa bersalah dan seketika memalingkan wajahnya. Ia memutar badannya kembali. Namun mendadak ia dikejutkan dengan sebuah suara.


“Siapa di situ?” teriak Ahmed.


Ayesha spontan berlari ke dapur dan meraih kembali cadarnya. Ia kembali lagi dan melihat Ahmed sedang berbicara dengan Maxwell.


“Maafkan aku tuan. Aku tidak sengaja melihat anda berdua”, kata Maxwell merasa bersalah karena sudah melihat wajah Ayesha barusan.


Ia menunduk ketika Ayesha datang. Entahlah, seperti ada perintah dalam hatinya untuk melakukan itu. Sumpah, baru kali ini ia merasakan hal seperti ini. Berhadapan dengan seseorang yang ia merasa bersalah terhadapnya meski ia tahu ia tidak sengaja melakukan kesalahan tersebut. Ia datang mendekati mereka karena rasa penasarannya saja terhadap tamu yang datang. Dan ternyata ia akan melihat wajah Ayesha untuk yang ke dua kalinya. Dan apakah kali keduanya tersebut dia yang telah melakukan kesalahan? Pikirnya galau. Ia merasa sangat tidak nyaman.


“Oh kak, dia tuan James yang pernah aku ceritakan ditelpon. Ia pasti sedang berlatih dengan kursi rodanya. Dia memang terbiasa bangun sangat awal untuk menikmati udara pagi di luar. Ia pasti melihatmu datang dan penasaran sehingga sekarang di sini.”, Ayesha menjelaskan.


Maxwell terpana, kok bisa Ayesha mengetahuinya? Berarti selama ini dia sudah tahu kebiasaannya sejak bisa menggunakan kursi roda ini? Atau barangkali ada CCTV di sini. Ah, aku tidak melihatnya. Pikirnya. Hati Maxwell makin mencair.


“Oh begitu. Ya, aku baru saja ingat, tentu ia yang sudah membuat dr Anne berkenan terbang kemari bukan? Ia memang hanya bisa keluar kota jika ada emergency.” Ahmed mencoba tersenyum dan berusaha ramah di depan orang yang baru dikenalnya, yang diam-diam sudah coba ditelusurinya dengan berselancar di dunia maya sebelum datang pagi ini dan itulah sebenarnya alasan utamanya untuk segera pulang menjenguk adik dan kakeknya. Ia merasa khawatir.


“Oh mari tuan James, adikku yang tersayang ini sudah menyiapkan menu special pagi ini untuk kita santap. Ayo kita kita habiskan. Kau pasti suka dengan masakannya yang paling lezat se Rusia ini.


“Ah kak Ahmed. Jangan percaya tuan James, dia hanya bercanda” Ayesha sangat malu mendengar pujian kakaknya yang menurutnya berlebihan. Ia bahkan tidak percaya diri jika harus menghidangkan masakan sederhananya pada orang lain kecuali keluarga intinya.


“Oh tidak usah tuan Ahmed. Saya hanya akan membuyarkan suasana kekeluargaan Anda berdua. Kalian tentu sudah sangat rindu. Saya juga belum merasa lapar. Ijinkan saya kembali ke kamar tuan. Saya merasa harus ke kamar mandi saat ini”, Maxwell menolak halus. Ia segera minta ijin untuk pergi.


“Hm, masakanmu masih seperti dulu. Ku kira aku akan makan sup kacang merah rasa lemon atau sambal salmon rasa stroberi.” Ahmed tertawa.


“Walaupun aku sudah jarang masak sekarang karena ulahmu, jangan pernah sepelekan ingatanku. Aku masih ingat bagaimana caranya memasak berikut bahan-bahannya. Dan masih bisa cepat menyelesaikannya seperti yang kau lihat saat ini, dan by the way, tentang ingatan, bukankah sampai saat ini kakak masih kalah denganku untuk ujian tahfidz 5 juz. Ya kan?”


“Ya lah…tapi itu ujian sudah tiga bulan yang lalu. Belum tentu hari ini engkau yang menang. Bukankah engkau pun tidak sempat lagi murojaah (mengulang hafalan Al Qur’an)? Masak yang menjadi hobbymu sejak kecil pun tak lagi sempat kau lakukan”


“Siapa bilang? Aku masih tahu mana yang prioritas mana yang tidak. Tidak seperti dirimu. Sampai saat ini aku masih kesepian karena tidak punya kakak ipar. Bilangan umurmu tidak akan terus berkurang kakakku sayang… tapi terus bertambah dan makin tua…”


“Iya lah…yang sudah dapat calon…” Ahmed tersenyum menggoda. Saat ini Ayesha sudah membuka cadarnya kembali karena makan dan ia melihat pipi adiknya bersemu merah. Apa? Dia tersipu? Ahmed terkejut sendiri.


“Kau bicara apa? Aku belum lagi taaruf dengan siapapun. Kalau ya, kakak pasti yang duluan ku kabari. Jangan menggodaku.”


“Tuan James yang tampan dan gagah, tidakkah engkau suka padanya? Walau saat ini dia sedang sakit, dari tampangnya aku bisa melihat dia punya kriteria yang cocok untukmu”, Ahmed sedang berusaha menggali komitmen adiknya. Apakah dia masih seperti yang dulu? Standard tentang kriteria pasangan hidup sesuai tuntunan agamanya?


“Bicara apa kakak ini. Aku bahkan tidak tau apapun tentang backgroundnya. Siapa dia sebenarnya. Apakah dia sudah berkeluarga atau belum. Dari negara mana dia dan apa agamanya. Apa pekerjaannya. Jangan-jangan dia seorang…ah entahlah, kita tidak boleh berburuk sangka bukan?”


“Wah wah…ternyata adikku masih komit dengan prinsipnya. Alhamdulillaah, aku tidak takut lagi sekarang. Karena aku merasa walau kau tak tau apapun tentang dia, tapi pesona lelaki itu bisa saja meruntuhkan iman wanita manapun, meski dia dalam kondisi sakratul maut sekalipun”


“Hei, jangan bilang bahwa kak Ahmed sudah menyelidikinya sehingga sudah tahu identitasnya yang sebenarnya. Itukah yang membuatmu terbirit-birit datang kemari sekarang?”


“Tepat sekali. Dan sepertinya adikku yang cantik ini juga tidak sepolos yang ku kira”


Ayesha hanya tersenyum santai sambil menikmati makanannya pelan-pelan.


“Tidak. Aku sama sekali tak hendak mencari tahu identitas dia yang sebenarnya. Kakak tahu bagaimana sifatku kan? Selama itu tidak bermanfaat untukku aku tidak akan melakukannya”


“Tapi Allah menyuruh kita selalu berhati-hati Ayesha sayang”


“Ya, dalam situasi perang. Aku merasa tidak sedang berperang saat ini. Tapi jika itu terjadi, kita tidak boleh lari bukan? Saat ini James tidak berbahaya. Jika suatu hari dia membalas air susu dengan air tuba maka aku tetap berdoa semoga Allah memberikan dia nikmat hidayah sebagaimana Allah sudah berikan pada Uncle John, Ali dan orang-orang sebelumnya. Dan aku yakin, mengapa Allah menghidupkannya lagi melalui keluarga kita, pastilah Allah punya rencana indah untuknya. Ah sudahlah kak, biarlah semua berjalan apa adanya. Yang penting kita tetap melakukan kebaikan kepada siapapun. Allah Maha Menjaga dan Adil. Ia pasti akan menolong kita selama kita menolong agama-Nya. Benar begitu?”


Ahmed mengangguk. Ia sangat paham dengan prinsip adik perempuannya ini. Sejak dulu, Ayesha memang punya pandangan menakjubkan tentang kehidupan. Ia tak pernah takut sama sekali berhadapan dengan orang jahat, dengan prinsip, selama ia tak melakukan pelanggaran terhadap perintah Allah, maka ia yakin Allah akan selalu menjaganya. Dan ini memang sudah sering dibuktikannya. Ketika tiga tahun yang lalu ia hampir saja dibunuh karena melawan hendak diperkosa oleh seorang preman dan pemabok terkenal di Moscow, datanglah seorang kepala polisi yang waktu itu tak sengaja lewat di tempat Ayesha dan preman itu berada. Seketika kepala preaman itu pecah karena dihantam peluru dan batu besar yang sempat dihantamkan Ayesha bersamaan dengan tembakan yang dilepaskan oleh sang polisi. Belakangan diketahui preman itu memang buronan dan si polisi sendiri kenal dengan Kakek Ayesha dan Ahmed.


Sejak peristiwa yang mengerikan itulah kemudian kakek menyuruh Ayesha berlatih beragam ilmu bela diri, mulai dari taekwondo, gulat, memanah, menembak dan berkuda, juga balap mobil. Kakek menggembleng Ayesha menjadi pribadi yang kuat seperti lelaki dan karena kecantikan Ayesha yang sering membawa petaka pada dirinya sendiri, maka kakek akhirnya menyuruh Ayesha untuk menutup wajahnya dengan cadar.


Awalnya Ayesha menolak karena dia ingin melakukan itu karena keinginannya sendiri, tapi karena kejadian berikutnya sama persis dengan peristiwa dia yang hendak diperkosa oleh para lelaki hidung belang padahal ia sudah menutup tubuhnya dengan hijab, maka Ayesha mau tak mau juga harus menuruti saran kakek. Dan akhirnya sekarang Ayesha merasakan kedamaian dengan keputusannya itu. Sejak ia memakai busana muslimah sekaligus menutup wajahnya dengan niqab (cadar), maka tak ada lagi yang mau menggodanya, dan sebagai gantinya adalah tatapan aneh orang-orang asing yang tak biasa melihatnya sebelumnya.


“Kok malah melamun?” Ayesha melotot ke arah kakaknya membuyarkan lamunan Ahmed.


“No. Aku hanya sedang memikirkan, kemungkinan kelak James atau Maxwell itu bertaubat dan kemudian menikah denganmu, kalian tentunya pasangan yang serasi”


“Kak, jangan main-main dengan perkataanmu. Kata-kata adalah doa”


Ayesha melotot ke arah Ahmed. Yang ditatap hanya tersenyum santai.


“Bukankah tidak ada yang mustahil bagi Allah? Bukankah sebaiknya kita memang mendoakan orang lain untuk bisa mendapatkan kebahagiaan yang hakiki?”


“Untuk doa mendapatkan hidayah aku setuju. Masalah jodoh, biarlah Allah yang memberikannya padaku. Semoga aku mendapatkan pasangan yang terbaik untukku, dunia dan akhirat”


“Begitu juga aku. Aamiin ya Rabb”, sambung Ahmed.


Ayesha tersenyum. Dan tanpa disadari oleh keduanya yang asyik bercengkrama di meja makan itu, sepasang mata turut mengawasi dan mendengarkan semuanya dari balik dinding lemari besar yang memisahkan ruang tamu dengan ruang makan itu. Sepasang mata biru yang tajam itu milik Maxwell. Ia tertegun dan ada perasaan aneh menjalar di hatinya mengingat kalimat-kalimat terakhir yang disampaikan Ahmed dan Ayesha. Ia kali ini memang sengaja menguping pembicaraan mereka berdua. Ia hendak memastikan apakah mereka tahu tentang dia yang sebenarnya. Dan kini ia sadar, bahwa Ahmed bukanlah orang bodoh. Dan Ayesha memang bukan wanita biasa. Ia punya prinsip. Maxwell semakin mengaguminya. Maxwell perlahan mengajak kursinya menjauh dan memilih keluar rumah lewat teras depan. Ia ingin memutari halaman rumah yang sangat luas ini keseluruhannya dan sekaligus ingin berlatih lagi. Pagi ini ia harus bisa berdiri lebih lama dari yang kemarin.