A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 103. I Love You



Maxwell meninggalkan pamannya dan kini menuju lantai dua kamarnya. Begitu sampai dan membuka pintu kamarnya, ia tercenung melihat sang istri sedang membaringkan tubuhnya di sana. Pria tampan itu pun berjalan mendekat untuk memeriksa keadaan Ayesha, karena ia tau sejak kehamilannya, Ayesha memang lebih cepat lelah dari biasanya.


"Sayang, kau baik-baik saja?"


"Hubby ...aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah", Ayesha tersenyum. Ia masih memakai pakaiannya yang tadi dan juga masih bercadar. Maxwell mengernyit heran. Ia pun membuka cadar Ayesha dan memeriksa kening istrinya. Suhu badannya biasa saja, cuma sedikit hangat.


"Sayang, kau tidak sedang baik-baik saja. Aku harus panggilkan dokter kemari"


"Tidak usah Hubby. Aku cukup istirahat saja dan semua akan baik-baik saja. Percayalah. Aku sehat, Sayang"


"Aku ingin pastikan istriku ini benar-benar baik-baik saja", ujar Maxwell dengan tatapan cemas.


"Hubby...aku sudah minum air hangat tadi dan juga madu. Itu sudah cukup"


"Dokter harus memastikannya Sayang. Setelah itu aku baru bisa tenang"


"Dokter tidak akan berbuat lebih selain memberikan obat, bukan?"


"Dan obat akan membantumu menjadi lebih baik. Aku tidak mau engkau menderita karena lama menahankan sakit dan anak kita juga sakit di sana"


"Aku tak mau anak kita banyak mengkonsumsi obat, Sayang. Itu tidak baik. Biarlah aku tahankan semuanya yang penting ini tidak berbahaya. Dan ini memang sudah biasa terjadi pada ibu hamil, Sayang. Sudah kodratnya seorang calon ibu..."


"Tapi aku khawatir karena...."


"Hubby ....percayalah, hm?", Ayesha berkata perlahan sembari menatap ke dalam bola mata Maxwell dengan pandangan meyakinkan.


"Hmmm....ah, apakah benar demikian?", Maxwell malah gagal fokus mengartikan kata 'hm' Ayesha. Refleks sesuatu berdesir dalam hatinya. Kata keramat Ayesha menggetarkan jiwanya kembali, meski di terik mentari. Tubuh hangat Ayesha tanda ia sedang tidak terlalu sehat ia lupakan begitu saja.


"Hubby tidak percaya padaku?"


"Bukan begitu, aku hanya tidak ingin melihat istriku lama menahan rasa sakit"


"Hubby, aku tau Hubby sangat mengkhawatirkan aku. Itu karena Hubby sayang padaku. Terima kasih", Ayesha mengulurkan tangan kanannya ke wajah sang suami dan mengelusnya dengan lembut. Maxwell pun menciumi tangannya dengan penuh cinta. Ia pun membaringkan tubuhnya di sebelah Ayesha. Tangannya mulai mendarat di atas perut rata istrinya dan mengelusnya dengan lembut. Ia berusaha menahan nafsunya. Matanya mulai sayu.


"Sayang ...sudah berapa usia kandunganmu sekarang?"


"Hampir tujuh minggu Hubby"


"Mungkin masih sebesar biji kacang, Sayang..."


"Dia belum bisa mendengar suaraku ya?", Maxwell terus menekan gejolak hatinya.


"Dia belum bernyawa Sayang... Tapi kita tetap bisa menstimulusnya dengan bahasa yang indah untuk memberinya semangat kehidupan", Ayesha tersenyum.


"Sayang... aku heran padamu"


"Kenapa?"


"Ku baca dari artikel-artikel yang ada, biasanya wanita hamil manja dan banyak maunya. Selain itu mereka juga morning sickness dan banyak keluhan-keluhan kesehatan lainnya. Namun aku tidak melihatmu demikian"


"Oh...tak semua wanita mengalami itu Hubby. Jika pun aku saat ini tidak mengalaminya namun bisa jadi beberapa minggu kemudian aku akan mengalaminya. Aku berharap aku tidak akan mengalaminya"


"Jika engkau mengalaminya, aku siap menjagamu... Jangan ditahan sendiri. Dan aku juga siap menggantikannya jika Tuhan menghendaki"


"Hubby bahkan sudah menggantikannya bukan?"


"Couvade syndrom? Itu tidak seberapa dibanding perubahan hormon yang menyebabkan berbagai ketidaknyamanan ibu hamil yang ku baca dari artikel-artikel itu. Aku hanya merasakan mual ketika hendak makan saja, itu pun tidak selalu"


"Terima kasih Sayang. Terima kasih sudah memperdulikanku", ucap Ayesha lembut. Jika pun aku mengalaminya, aku gak ingin menjadi wanita yang lemah. Aku ingin anakku menjadi orang yang kuat, maka ibundanya juga harus kuat, batin Ayesha.


"Sayang...",


Mata Maxwell semakin sayu dan tangannya yang masih mengelus perut rata istrinya kini mulai beralih ke atas dan memainkan sesuatu yang kenyal. Entahlah, jika sudah berdekatan dengan sang istri, hasratnya tak pernah dapat ditahan. Meski hari menjelang siang, ia tak punya waktu khusus jika sudah berkaitan dengan kebutuhan biologis. Maxwell yang nafsunya sudah bangkit sejak tadi hanya dengan menatap wajah cantik istrinya perlahan mulai menjalankan aksinya. Tubuhnya mendekat dan merapat ke tubuh sang istri. Matanya tak berkedip melahap pemandangan indah wajah sang bidadari. Kulit putih, mata jelita, hidung mancung dengan bibir pink alami, alis lebat dengan rambut emas yang memukau, semuanya adalah keindahan tiada tara yang sangat disukai setiap kaum adam.


"Sayang...bolehkah?", tatapan mata Maxwell sudah sangat sayu. Ayesha menganggukkan kepalanya pelan. Begitu mendapat ijin sang istri, dikecupnya lembut kening Ayesha, dan dengan nakal membuka jilbabnya. Sang muslimah Rusia yang selalu mempesona itu pun hanya tersenyum dan diam saja menerima apapun yang dilakukan suaminya. Meski sejujurnya ia sedang tidak ingin 'itu' karena kepalanya sedikit pusing, namun ia tidak ingin mengecewakan sang suami yang sedang di puncak syahwat. Sekilas kalbunya berdoa, sekiranya Tuhan menjadikan amalannya yang stand by melayani suami ini menjadi salah satu pintu baginya meraih syurga-Nya.


Perlahan namun pasti, setelah tak lupa berdoa, kini Maxwell dan Ayesha pun mulai saling bercumbu mesra menyalurkan birahi cinta masing-masing. Maxwell yang sudah di puncak keinginan menyalurkan kebutuhan sex-nya itu pun dengan lahap menyusuri setiap inci wajah sang istri. Menciuminya, memagut bibirnya dan terus menjelajahi setiap lekuk tubuh yang menawan itu dengan penuh gairah. Awalnya Ayesha tidak terlalu bergairah karena kondisi tubuhnya saat ini, namun cumbuan demi cumbuan eksotis Maxwell yang semakin memanas pada setiap inci tubuhnya yang sudah polos berhasil membangkitkan libidonya. Sang bidadari bermata biru itu pun terlena dan mengikuti setiap sentuhan sang kekasih dengan kabut gairah yang sama. Tubuhnya menggelinjang. Akhirnya, kedua insan pasutri itu pun lagi-lagi melakukan ibadah suami istri sebagaimana biasanya setelah memastikan pintu kamar terkunci rapat dan AC menyala dingin. Pakaian sudah berserakan di tempat tidur. Desahan-desahan kenikmatan dalam ibadah senggama di siang hari pun berjalan dengan penuh perasaan. Maxwell senantiasa dimabuk cinta akan kehangatan yang selalu disediakan oleh sang bidadari yang setia melayaninya dalam kondisi apapun. Entah berapa kali ronde. Pria tampan itu terus melakukannya dengan perkasa. Ayesha hanya menerima dan sang suami yang agresif pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Setelah merasa puas, wajah rupawan itu pun berbisik lirih di telinga sang istri. "I love you, Sayang....I do love you...", kecupnya dengan penuh rasa cinta menutup senggama siang itu sambil memeluk tubuh polos sang bidadari di balik selimut tipis.


********


Grace baru saja keluar dari kamar Bibi Christine di lantai bawah untuk memastikan bibinya tersebut baik-baik saja, karena pagi tadi, bersamaan dengan Abraham yang pingsan, bibinya tersebut mengeluh sakit kepala dan tidak enak badan. Siang ini, setelah melaksanakan ibadah sholat juhur di kamarnya, gadis cantik berjilbab dengan setelan celana panjang dan kaus lengan panjang yang ringan itu kini berjalan menyusuri taman hendak ke kolam renang. Ia sudah lama tidak berenang karena aktivitasnya yang menguras waktu dan energinya selama ini. Belum lagi berbagai peristiwa yang terjadi padanya yang mempertaruhkan nyawanya. Tak terhitung rasanya ia dikejar kematian oleh orang-orang tak dikenal yang terus menjadi misteri sampai saat ini. Awalnya ia menduga bahwa semua teror padanya adalah perbuatan George Powell sang Boss Mafia majikan sang kakak, Christine, karena hanya dia yang pernah mengancamnya untuk jangan lagi menghubungi sang kakak ketika ia pernah menelpon sang kakak sewaktu masih tinggal di Rusia. Bahkan sang ayah angkat Maxwell itu pernah mengirimnya uang untuk menjauh dari kehidupan sang kakak. Pergi kemana saja asalkan jangan pernah muncul di Australia. Namun Grace bukanlah gadis manis yang penakut. Dengan mental baja, ia pun menyamarkan identitasnya sehingga bisa masuk ke Ausy kembali dengan menjadi seorang dosen. Itu semua dilakukannya dengan berani setelah mendengar kabar kematian sang Mafia dalam sebuah kecelakaan. Namun ternyata dugaannya salah. Hingga kini pun, pasca kematian George, ia masih sering dihantui teror orang-orang yang terus berusaha membunuhnya.


Grace kini sudah tiba di tepi kolam renang. Sekilas ia melihat sebuah kursi roda berada di dekat kolam sebelah. Namun ia tidak ingin banyak berpikir. Siang yang cukup panas membuatnya segera bersemangat untuk mendinginkan tubuhnya ke dalam air jernih kolam di depannya. Setelah melakukan pemanasan sejenak di tepi kolam, gadis cantik bermata biru itu pun terjun ke kolam. Dengan gerakan lincah, tubuh berbalut pakaian panjang berjilbab mungil itu pun meliuk-liuk di permukaan air. Berenang gaya bebas dengan kecepatan sedang dari pangkal ke ujung kolam dengan gesitnya. Sesekali tubuh itu berhenti dan melakukan gerakan mengapung. Memejamkan mata dengan pasrah. Menikmati sentuhan air yang dingin juga sinar matahari langsung yang menyapa wajahnya. Ketika ia sudah cukup bosan mengapung maka ia pun kembali berenang dan demikian seterusnya hingga setengah jam kemudian. Setelah dirasa cukup, Grace pun menepi dan duduk di sisi kolam yang berpayung. Menjuntaikan kaki ke kolam dan mulai menatap ke sekeliling mengusir jenuh. Seketika matanya terpaku ketika bersirobot dengan sepasang mata dari jauh yang juga menatapnya. Ternyata ada sosok lain yang sejak tadi memperhatikannya di kolam sebelah. Dan uniknya, sosok tersebut juga melakukan hal yang sama dengannya. Duduk dengan posisi yang sama dan kini sama-sama menatap satu sama lain dan juga sama-sama segera membuang pandangan. Ah Tuan Mark. Jadi dia sudah di situ sejak tadi?, gumam Grace di dalam hati. Terbayang kata-kata dr Jhonson yang sering menggodanya sejak ada dua pasien dirawat di klinik mansion. Seketika Grace memalingkan wajah ke arah yang berlawanan dengan posisi duduk Mark dan berpura-pura melakukan gerakan pendinginan sambil duduk. Pria yang pernah membuatnya menangis karena usil mengatakan sang kakak sudah meninggal itu pun hanya tersenyum. Semula ia juga membuang pandangan ke arah lain, namun karena rasa penasarannya yang jauh lebih besar, ia pun menoleh kembali dan mendapati Grace yang sudah membelakanginya. Sebuah ide jahil bersarang di kepalanya. Ah kapan lagi. Belum tentu aku selamanya ada di sini. Dia juga. Aku ingin memastikan apakah dia peduli padaku, batinnya. Sebuah senyuman tipis tersungging di sudut bibir pria Rusia berparas manly itu.