
Maxwell melirik ke samping kanannya. Sang istri sedang memejamkan matanya seraya menyandarkan tubuh di sandaran mobil. Maxwell tersenyum. Ia tahu Ayesha cukup lelah dengan seluruh kegiatan mereka berdua belakangan ini. Seharian ini mereka meninjau pembangunan lab dan kantor untuk Elena dan bertemu para investor yang sudah direkomkan Alex. Selain itu, mereka juga ke pabrik melihat geliat kerja para pegawai yang sudah kembali normal dan juga menerima para pemburu berita yang bertanya tentang kasus yang terjadi sebelumnya. Begitulah indra penciuman para jurnalis yang sangat tajam, selalu cepat mendapatkan berita dari sumber mana saja yang tak bisa diprediksi. Untunglah, kepiawaian Maxwell yang sudah terbiasa dengan hal-hal semacam itu mampu meredam keingintahuan para wartawan yang haus warta itu. Maxwell menghentikan laju mobilnya. Kini mereka sudah sampai di rumah besar keluarga Vladimir. Hari sudah menjelang magrib. Ia melihat sang istri yang ternyata sudah tertidur di tengah perjalanan dari pabrik tadi.
"Ayesha, kita sudah sampai sayang", Maxwell memanggil Ayesha lembut. Namun sang istri tak bergeming.
"Ayesha, kamu masih tidur?"
No reaksi.
Maxwell kemudian turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu mobil Ayesha dan membukanya. Ia perlahan menyentuh bahu wanita cantik pujaan hatinya itu dan menepuknya dengan sangat pelan.
"Ayesha...."
Seketika Ayesha menggeliat dan membuka matanya.
"Hubby...kita sudah sampaikah? Maaf aku ketiduran ya?", ia merasa tidak enak.
"Hm. Apa aku boleh membantumu masuk? Sepertinya honey sangat lelah dan masih mengantuk ya?"
"No. Aku bisa sendiri, hubby. Terima kasih", Ayesha tersenyum. Ia jadi salah tingkah.
"Aku bisa menggendongmu jika tidak keberatan", Maxwell tersenyum nakal.
"Tidak. Hubby nanti yang akan merasa berat, aku bukan anak kecil hubby", Ayesha segera bangkit dan ingin mendorong Maxwell pelan agar ia bisa keluar dari mobil. Namun Maxwell malah meraih tangannya dan tanpa diduga langsung menggendongnya ala bridal style dan dengan kakinya menutup kembali pintu mobilnya.
"Hubby...apa yang kau lakukan?", Ayesha kaget dan hampir menjerit tapi langsung menahan suaranya sendiri dan refleks memegang erat leher Maxwell dengan kedua tangannya. Maxwell menatapnya intens dengan senyum di bibir. Hangat nafas pria tampan itu terasa menyapu wajah Ayesha dan tentu saja menimbulkan debaran hebat di dalam hati Ayesha. Jantung keduanya berdetak lebih cepat.
"Ijinkan aku menggendongmu sampai ke kamar. Aku ingin memanjakanmu di sini sebelum kita ke Ausy, hm?"
"Aku malu hubby, nanti yang lainnya melihat kita seperti ini...Ini tidak..."
Ketika sudah tiba di dalam dan Maxwell sengaja dengan suara pelan mengucap salam, terdengar suara jawaban salam dari Bibi Leida yang kebetulan sedang akan berjalan ke luar rumah. Melihat yang dilakukan sang Tuan Muda, nampak raut kecemasan di wajah sang bibi.
"Tuan, apa yang terjadi pada Non Ayesha?"
Maxwell tidak menjawab. Ia hanya memberi kode "ssstttt" lewat mulutnya yang artinya bibi tidak boleh bersuara keras dan membangunkan Ayesha yang memejamkan matanya. Bibi Leida akhirnya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia berpikir pastilah Nona Mudanya sedang tertidur dan tuan mudanya menggendongnya agar tidak membangunkannya.
"Jangan lupa bangunkan Nona untuk sholat magrib ya Tuan", Bibi Leida berkata dengan suara bisikan ketika Maxwell melewatinya hendak masuk ke kamar. Maxwell hanya mengangguk dan tersenyum. Sementara Ayesha yang mendengarkan semuanya semakin pias.
Sampai di dalam kamar dan menutup pintu dengan bantuan kakinya, Maxwell pun merebahkan tubuh Ayesha di ranjang. Ia menatap kembali mata Ayesha dengan intens dan perlahan membuka cadarnya. Jarak wajah mereka kini hanya sejengkal. Hembusan nafas keduanya saling beradu. Ayesha sudah menebak apa yang akan terjadi, namun ia tak sanggup menolak karena takut menyakiti hati suaminya. Bagaimanapun suaminya halal menyentuhnya dan ia tidak boleh egois merusak momen kedekatan ini karena status nikah gantung di antara mereka yang ia minta sejak awal.
Jari Maxwell menyentuh bibir sang istri dengan sangat hati-hati dan menatap ke bola mata wanita di depannya dengan pandangan seakan meminta ijin. Ayesha diam tanpa reaksi, ia hanya balas menatap mata suaminya dan tak sadar membuka sedikit bibirnya. Maxwell terlihat sangat menginginkan kelembutan benda kenyal yang menggoda itu. Tak bisa menahan hasratnya, karena merasa mendapat persetujuan ia pun mengecup bibir itu dan ********** dengan perlahan dengan penuh perasaan. Maxwell memejamkan matanya menikmati momen membahagiakan ini. Ayesha hanya bisa pasrah dan mengikuti keinginan suaminya sampai kemudian suara azan magrib dari HP Ayesha membuyarkan kemesraan singkat mereka.
"Hubby....", Ayesha mencoba menyadarkan suaminya setelah refleks Maxwell melepaskannya.
"Sorry, aku selalu khilaf jika di dekatmu honey..., hanya jika di dekatmu...", Maxwell tersenyum bahagia. Ayesha tersipu malu.
"Sudah azan ya, ayo kita bersiap sholat", Maxwell segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ayesha terpaku. Ia merasa bahagia, kini suaminya yang lebih dulu mengajaknya sholat.
"Hubby...ku harap engkau bisa tetap istiqamah dalam kebenaran, denganku atau tanpaku sekalipun. Cintailah Allah sampai akhir hidupmu, niscaya engkau akan selalu dalam kasih sayang Allah. Hidupmu kelak mungkin akan sangat sulit, namun aku akan setia mendampingimu hingga takdir Allah yang menentukan. Cuma Allah yang mampu melindungi kita dari apapun yang membahayakan hidup kita", gumam Ayesha lirih dalam hati. Ia pun beranjak mempersiapkan pakaian suaminya dan pakaiannya sendiri.
Maxwell dan Ayesha sudah selesai melaksanakn sholat berjamaah dengan penghuni rumah lainnya di mushollah rumah seperti biasa. Rutinitas tilawah para penghuni rumah dan belajar mengaji Maxwell berjalan seperti biasa. Alhamdulillaah, Maxwell kini sudah bisa melaksanakan sholat dengan sempurna dalam gerakan dan bacaannya. Belajar membaca Al Quran juga sudah pada tahap akhir. Ayesha dan semua penghuni rumah sangat kagum dengan pesatnya kemampuan Maxwell dalam mempelajari bacaan Quran yang tidak mudah itu. Mereka melihat kesungguhan dari pria asing itu dan menyaksikan kecerdasan pendamping Ayesha tersebut memang di atas rata-rata. Mereka menyadari pastilah lelaki tampan itu mempunyai IQ tinggi dan bukan orang sembarangan. Tanpa diketahui Ayesha sekalipun, selama sebulan pasca menjadi muallaf, selain belajar dari Ayesha dan Ahmed ataupun Sir Vladimir, Maxwell memang sering belajar sendiri secara otodidak cara membaca Al Quran dengan bantuan Youtube. Itu dilakukannnya ketika Ayesha sudah tidur di malam hari.
"Kek, ada yang ingin kami sampaikan", Maxwell beringsut mendekati Sir Vladimir setelah selesai belajar membaca Al Quran yang dibimbing istrinya.
"Ada apa nak Maxwell?", Sir Vladimir nampak penasaran. Hatinya sedikit bergetar. Apakah waktunya sudah tiba?, batinnya sedih.