
Hari-hari pun berlalu dan tanpa diketahui siapapun kecuali penghuni mansion bahwa Christine tinggal di sana untuk menjadi ibu susuan sang bayi tampan Maxwell Powell, yang ternyata adalah anak kandung George Powell dengan sang putri dari musuhnya sendiri, Sofia Alexander. Awalnya George hanya ingin menuntut balas musuh ayahnya yaitu Alexander Al Qudri dengan menculik anak perempuan mereka dan membunuhnya. Namun begitu ia bertemu dengan Sofia yang waktu itu baru beberapa hari diusir dari keluarganya setelah keislamannya, ia mengurungkan niatnya. Takdir berkata lain. George muda yang Casanova yang semula ingin membunuh Sofia urung melakukan niatnya. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Tatkala pertama kali bertemu dengan Sofia yang diculik oleh anak buahnya di jalan, matanya tak berkedip melihat kecantikan alami sang wanita muslimah tersebut. Wajah dan tubuh sempurna seorang Sofia dengan pakaian tertutup yang menjaga seluruh tubuhnya membuat George tak kuasa menahan hasrat penasaran dan ketertarikannya. Dengan berdalih ingin membalas dendam keluarga karena merupakan dua kelompok mafia besar yang sejak kakek moyang mereka selalu berseteru, ia ingin menghancurkan reputasi musuhnya dengan memperkosa anak gadis mereka dan mewartakan pada dunia. Sofia muda waktu itu dengan tangan gemetar memegang pecahan gelas yang sengaja dipecahkannya dan mengarahkan ke lehernya sendiri. Ia berdua dengan sang Casanova di sebuah kamar apartemen elite milik George saat itu.
"Tuan George. Aku tak tau seberapa besar dendam kesumat antar keluarga kita sehingga aku sebagai bagian dari keturunan keluargaku harus merasakan semua ini. Namun yang jelas, kematian lebih aku sukai dibanding kehinaan hidup dinodai oleh orang jahat yang tak berperasaan sepertimu. Syahid bagiku jika aku mati untuk mempertahankan kehormatanku", lantang suara Sofia membuat George yang semula mendekatinya dengan penuh nafsu menjadi terdiam. Kakinya spontan berhenti manakala Sofia membuktikan ucapannya. Pecahan gelas sudah menembus jilbab putihnya dan semburat darah membasahi kain tersebut. Namun sebelum sempat benda tajam itu semakin dalam menghujam ke leher sang muslimah muallaf, George pun sudah mengenyahkan kaca tersebut. Sofia meronta dalam dekapan sang pria kekar. Namun mendadak tubuhnya luruh dan kini ia tak sadarkan diri karena obat bius yang diberikan melalui sapu tangan yang ditempelkan George di hidungnya.
George pun melepas bross kecil di leher Sofia dan terlihatlah darah yang mengalir di leher jenjang tersebut . Untungnya kaca itu tidak menggores dengan dalam karena lebih dulu menembus kain jilbabnya. Entah kenapa, George pun merasa sangat lega. Ia benar-benar cemas melihat kenekatan Sofia barusan. Dengan cekatan ia membersihkan leher Sofia dan mengobati luka kecil tersebut. Setelah selesai ia tertegun ketika matanya menatap raut wajah dan tubuh Sofia yang tak tertutup jilbab lagi. Kulit putih dan halus serta wajah Sofia yang cantik dan alami tanpa polesan itu menggetarkan hati George seketika. Ia menelan ludahnya sendiri. Jiwa casanova-nya yang tak tahan dengan kecantikan wanita langsung bangkit. Dengan mata dipenuhi kabut birahi, tanpa peduli dengan kondisi Sofia yang masih belum sadar dan terluka, pria tampan itu pun menyerang. Dibukanya kain penutup kepala Sofia dengan sempurna hingga terlihat rambut hitam bergelombang yang menawan sebatas bahu. Diciumnya bibir pink alami yang sangat menggoda itu dengan penuh nafsu dan kembali mengulanginya meskipun tentu saja tanpa balasan. Lelaki yang sudah biasa memainkan wanita itu pun dengan bersemangat mulai menggerayangi tubuh Sofia dan mulai melepaskan sebagian pakaiannya dengan brutal. Ketika nafsunya semakin memuncak begitu melihat keindahan di hadapannya, mendadak terdengar rintihan dari wanita yang sedang diserangnya.
"Jangan....jangan...kumohon...jangan....", tetesan air mata membasahi sudut mata Sofia sementara matanya masih terpejam.
George sontak berhenti dan menatap kedua mata Sofia.
"Kau sudah sadar?"
Sofia masih tak membuka matanya.
"Ku mohon.... Aku mohon padamu... Jangan nodai aku dengan sehina ini.... Nikahilah aku... Aku janji..akan menjadi istri yang berbakti padamu.... Aku akan melayanimu dengan baik.... dan tidak akan menuntut apapun padamu...meski engkau menjadikanku sekedar istri simpanan...", Sofia masih menutup matanya dengan air mata mengalir deras di kedua sudut netra berwarna biru itu. Tubuhnya masih terasa lemas dan terkejut dengan peristiwa yang baru saja dialaminya. Ia tersadar ketika ia merasakan dingin karena pakaiannya yang sudah dilepas paksa oleh musuh keluarganya tersebut.
George terpaku mendengarkan. Entah mengapa ia pun kini memikirkan ucapan Sofia dan kini menarik dirinya dari atas tubuh perempuan yang baru setengah hari dikenalnya tersebut. Sofia serta merta menyambar pakaiannya dan kini bangkit duduk dari tidurnya. Ia meraih jilbabnya dan menutup kepalanya asal dengan terburu-buru. Matanya yang masih meneteskan air mata menatap ke arah George dengan nanar.
"Terima kasih. Aku akan tepati janjiku", Sofia menundukkan wajahnya dengan perasaan yang bergemuruh.
"Aku seorang muslim. Bersyahadatlah untuk menghalalkanku", Sofia mendongakkan kepalanya dan mengatupkan kedua tangannya ke depan dada dengan mata penuh harap. Ia tau permintaannya pasti sulit dikabulkan seorang mafia besar yang tak menghargai wanita seperti George Powell. Namun hatinya senantiasa berdoa minta pertolongan Allah. Ya, hanya Allah yang dia punya saat ini. Sangat mudah bagi Allah untuk mengabulkan karena Dia Maha Berkuasa dan Amat Berkuasa membolak balik hati, bukan? Demikian pikirannya.
"Aku berjanji akan menjadi istri yang baik untukmu. Percayalah. Dan Anda tidak akan menyesalinya. Anda tidak akan mendapatiku melainkan seorang istri yang akan memuaskanmu apalagi dengan keperawananku. Kesenangan yang akan Anda peroleh akan melebihi dari apa yang Anda inginkan saat ini", Sofia bergetar. Ia terpaksa melakukan semua ini. Lebih baik menjadi istri simpanan daripada diperkosa bahkan menjadi seorang pelacur. Ya Allah, aku yakin ini semua takdir-Mu. Engkau pasti punya rencana indah untukku, batinnya perih. Ia mencoba menerima kenyataan hidupnya saat ini untuk menghibur dirinya sendiri. George menatapnya kembali sekilas dan berbalik. Menutup pintu dengan keras dan menguncinya dari luar. Walau takut, tapi Sofia kini bernafas dengan lega. Ya Tuhan, aku tak bisa melarikan diri dari sini. Aku terima takdir ini. Kuatkanlah aku, gumamnya pilu. Bergegas ia pun membersihkan dirinya di kamar mandi dan berendam di sana untuk menenangkan diri hingga tertidur.
Ketika malam tiba, seperti yang disampaikan sang Big Boss, lelaki tampan yang kejam itu pun sudah bersiap dengan wajahnya yang segar dan pakaiannya yang mewah duduk di tengah ruangan tamu apartemennya yang sudah dipersiapkan untuk acara ijab kabul. Hanya ada beberapa orang di sana. Dua orang penting dalam agenda pernikahan yaitu sang penghulu dan wali hakim, dan dua orang saksi dari anak buahnya sendiri. Seorang lelaki paruh baya berkopiah putih kini tengah duduk di hadapan George Powell. Entah dari mana anak buah George Powell mendapatkan sang Tuan Kadi tersebut. Yang jelas pria tua itu kini pun menuntun pria dingin di depannya untuk bersyahadat dan selanjutnya mengucapkan ijab kabul pernikahan George Powell dengan Sofia Alexander yang tentu saja diwalikan oleh seorang wali hakim karena wali Sofia sendiri tidak ada yang tau tentang penculikan Sofia apalagi pernikahannya dengan sang musuh. Dan kalau pun mereka tau, mungkin hanya seorang kakak yang peduli padanya, sedangkan daddy dan dua kakak lainnya yang sudah membuangnya tak akan mau tau.
Sepasang mata biru tengah menyaksikan adegan ijab kabul tersebut di balik lemari pembatas. Wanita cantik berhijab itu sudah nampak rapi dengan gamis putih dan sedikit riasan di wajah. Siapa lagi yang melakukannya jika tidak suruhan sang Big Boss yang mendadak mendatangkan seorang ahli rias
dari salah satu salon terkenal di Sydney. Hati Sofia bergemuruh. Ia kini sudah menyandang gelar sebagai istri sah secara agama seorang George Powell, pengusaha besar dan mafia besar, penguasa benua Australia. Dengan mengucapkan Bismillah dan tekad untuk memenuhi janjinya menjadi istri yang baik, ia pun melangkah mendekati George dan melakukan ritual selayaknya seorang pengantin. Diciumnya tangan sang suami dengan takzim dan kini duduk menunduk di depannya. Sang suami terpana memandangnya, takjub dengan kecantikan makhluk di depannya. Jantungnya berdetak lebih cepat dan kemudian perlahan memasangkan cincin emas putih yang menjadi maharnya ketika ijab kabul tadi. Setelah itu, ia pun refleks mencium kening Sofia dan selanjutnya mengucapkan terima kasih pada para tamu pentingnya lalu tanpa basi-basi menggandeng tangan sang istri dan menariknya ke lantai dua, kamarnya. Sang Big Boss Casanova yang sudah tak tahan karena sudah menunggu sejak semalam akhirnya merengsek maju menyalurkan nafsu menggebunya pada wanita cantik yang hampir dinodainya kemarin. Meski merasakan sakit, Sofia bersabar menghadapi semuanya. Ia telah berjanji untuk memuaskan suaminya dan itu benar-benar ia lakukan. Meski tanpa cinta, namun ia berusaha menghadirkannya secara perlahan di setiap detik kebersamaan dengan sang suami. Hingga hari-hari pun terus berlalu dan George Powell sungguh merasa tidak menyesal memenuhi permintaan Sofia untuk menghalalkannya. Ia merasa cukup beruntung mengabulkannya hingga ia pun tak pernah lagi menyalurkan hasrat binatangnya pada wanita-wanita malam di luar sana. Sofia selalu melayaninya dengan baik bahkan pria itu merasa dicintai walau ia sendiri mungkin belum mencintai sang istri. Tapi Allah Maha Penyayang. Sekeras apa pun dan sekejam apapun sifat George selama ini, namun dengan kasih sayang dan perhatian seorang Sofia yang cantik dan lembut akhirnya meluluhkan hatinya. Jadilah George, Sang Casanova yang bertaubat tidak lagi jajan di luar melainkan selalu rindu untuk pulang ke rumah merasakan kasih sayang sang istri yang selalu memberikan pelayanan prima bahkan mampu membuatnya benar-benar menjadikan apartemennya sebagai syurga. Hingga kemudian ketika ayahnya meninggal dunia, George sebagai anak tunggal orang tuanya akhirnya pindah ke mansion orang tuanya dan membawa istrinya yang selama ini dia sembunyikan dari siapapun bahkan orang tuanya sekalipun. Hanya beberapa orang kepercayaannya yang tahu tentang pernikahannya dengan anak musuhnya tersebut. Bahkan untuk meninggalkan
jejak tentang Sofia yang bersamanya ia melibatkan media untuk membuat berita palsu dengan ditemukannya tubuh Sofia yang pingsan diperkosa di pinggir jalan. Ini sekaligus untuk mengelabui orang tuanya yang sudah dendam kesumat pada seluruh keluarga Alexander Al Qudri. Sehingga George pun tak akan dicurigai.
Waktu pun terus berlalu, sang Big Boss yang bucin akhirnya memiliki anak sendiri dari seorang istri tersembunyinya, Sofia Alexander al Qudri, dan anak itulah yang kemudian diberi nama Maxwell Powell. Sayangnya, ketika melahirkan sang baby boy, Sofia tidak memiliki ASI yang cukup dan meminta suaminya untuk mencarikan ibu susuan. Dan bukan George Powell namanya jika tidak menemukan orang tersebut. Dengan segenap kekuasaannya yang mampu membeli apapun dengan uang, tidak sulit baginya mendapat info tentang Christine, pegawainya sendiri, dan kini jadilah wanita malang itu menjadi ibu susu bayinya, Maxwell Powell, tentu dengan perjanjian yang sangat ekstrim. Tidak ada satu pun yang boleh tau tentang George yg menikah dengan Sofia, bahkan Maxwell sendiri tidak boleh tau siapa ayah kandungnya. Jadilah, dengan semua kondisi yang diskenariokan oleh George, semua orang hanya tahu bahwa George tidak memiliki anak kandung, semua anaknya adalah anak angkat, termasuk Maxwell Powell. Ketika ditanya mengapa hanya Maxwell yang tinggal bersamanya, dia menjawab karena hanya dia yang mirip dengannya. Dan tentu orang akan percaya saja karena mereka tidak ada yang tahu tentang pernikahan George dengan Sofia. Maxwell sendiri kemudian diperkenalkan dengan seorang nenek yang diakui sebagai orang tua George, yang sebenarnya adalah ibu tirinya dari istri muda mendiang ayahnya. Namun kasih sayang sang nenek yang betul-betul tulus membuat Maxwell benar-benar merasa sebagai cucu kandungnya.
Awalnya Christine merasa canggung tinggal bersama majikannya, namun karena gaji yang diterimanya cukup besar dan ia pun disuruh resign dari pekerjaannya hanya untuk menjadi ibu susuan Maxwell, ia pun akhirnya terbiasa. Di samping itu, ia juga menyayangi sang baby dan sang Nyonya yang sangat baik padanya. Sang Big Boss pun tak menyulitkannya hingga terjadilah peristiwa naas itu yang mengubah kehidupan George kembali seperti sebelumnya. Sang Nyonya menghembuskan nafas terakhirnya setelah peristiwa kecelakaan yang menimpanya. Dan tak cukup dengan itu, suatu hal yang paling diingat Christine seumur hidupnya adalah, sebelum menghadap Tuhan, di pangkuan sang suami, disaksikan oleh Christine sendiri, sang Nyonya sempat berpesan pada sang suami, jika ia tak selamat maka ia minta George untuk mengambil jantungnya dan diberikan ke Christine. Ia juga berpesan pada Christine dan George untuk menjaga Maxwell dan merawatnya dengan baik hingga menjadi pribadi yang sehat dan kuat. Akhirnya, karena tak sanggup bertahan, Sofia yang cantik dan baik pun meninggal di pangkuan George dan seketika itu pria itu pun mengamuk karena ia tau kematian istrinya adalah konspirasi yang dilakukan oleh para musuhnya. Pria yang sudah sempat menjadi pribadi yang lebih baik pada wanita dan para pembantunya itu seterusnya kembali lagi seperti semula. Kejam, dingin dan tanpa perasaan. Selanjutnya hidupnya hanya penuh dengan dendam dan ambisi meraih kekayaan demi kekayaan. Ia membunuh para musuhnya tanpa perasaan, dan menyuruh Christine untuk melatih Maxwell junior dengan sangat keras sejak kecil agar menjadi pribadi yang sehat dan kuat.