
Luke berjalan di sisi Ayesha dan Zeny. Ia sesekali melirik ke arah Ayesha dan mulai membayangkan sesuatu di balik pakaian tertutup itu. Tubuh yang tinggi semampai namun nampak proporsional. Pakaian yang menutup seluruh tubuh dengan mata lentik dan hidung mancung serta kulit tangan yang putih bersih. Luke yakin, wanita boss nya itu sangat cantik sehingga harus ditutupi karena suatu sebab. Tiba-tiba Zeny berdehem membuyarkan lamunannya. Luke seketika melihatnya dan mendapati tatapan menusuk. Ia pun berpaling dan kembali menatap lurus ke depan ke arah ruang meeting. Pagi ini mereka akan bertemu beberapa investor asing dari China terkait pembangunan tambang dan pabrik pengolahan batu bara terbesar di Australia. Usaha milik negara ini pada dasarnya milik pemerintah, namun di balik layar mereka mempercayakan perusahaan raksasa seperti Powell Group untuk menjadi sponsor utama.
Meeting kemudian dibuka oleh Luke setelah beberapa menit terjadi pembicaraan basa-basi di antara para investor dengan Ayesha dan para asistennya yang menemani. Sejak awal Ayesha menggantikan suaminya, dia memang menunjukkan sikap tidak suka membuang banyak waktu untuk hal-hal yang tidak perlu. Jika ada hal yang bisa diwakilkan maka ia meminta bawahannya yang memang sesuai tupoksi mereka untuk terjun langsung. Dia hanya mempercayakan dan menerima laporannya. Lalu diam-diam menyuruh orang lain untuk memeriksa kebenaran laporan tersebut. Dan hasilnya sebagian ada yang jujur dan sebagian tidak. Yang jujur masuk daftar rekomendasi untuk dinaikkan jabatannya, yang tidak jujur Ayesha langsung memanggil mereka dan memberi peringatan. Awalnya Luke tidak setuju melihat kebijakan presdirnya tersebut dan mengusulkan langsung memecatnya karena seperti itulah selama ini Maxwell mendisiplinkan pegawainya sehingga tidak ada yang berani melakukan pelanggaran. Namun Ayesha mengatakan bahwa setiap manusia bisa melakukan kesalahan, sepanjang tidak fatal maka ia akan memberikan kesempatan kedua, namun jika masih mengulangi maka ia mengancam akan mem-black list nama mereka sehingga tidak akan ada perusahaan manapun yang akan menerima mereka bekerja karena ketidakjujuran.
Chen Mien, salah seorang investor yang dikenal konglomerat di wilayahnya menyampaikan keinginannya bahwa dia menanamkan investasinya dengan angka yang besar jika ada barter berupa tenaga profesional dari China ke perusahaan Powell Group. Namun setelah ditanya bidang profesionalitas apa, dengan tegas sang presdir menolak.
"Maafkan kami Tuan Mien, karena Powell Group mempunyai cukup tenaga ahli untuk semua bidang termasuk yang Anda tawarkan, apalagi cuma tenaga buruh. Dengan terpaksa kami menolaknya"
"Anda bisa memikirkannya kembali Madame. Anda tidak akan rugi menerima tawaran kami. Anda akan mendapatkan investasi dari kami sebesar $400 juta dan tambang juga pabrik pengolahan batu bara yang akan dibangun terbesar di Australia ini akan segera bisa beroperasi, dan tentu saja keuntungan Anda akan sangat besar"
"Mohon maaf atas penolakan kami. Kami punya prinsip. Pembangunan ini bukan untuk kepentingan pribadi dan perusahaan saja. Ia dibangun dengan mengorbankan puluhan rumah rakyat yang terpaksa dipindahkan ke tempat lain. Tentunya pengorbanan mereka juga harus dibayar dengan impas. Salah satunya memberikan mereka pekerjaan yang kelak lebih layak di pabrik baru ini, sehingga apa yang mereka korbankan tidak sia-sia"
"Anda akan menyesal Nyonya"
"Jika tidak ada tawaran lain, saya rasa Anda bisa beristirahat dulu Tuan Mien"
"Ok. Baiklah. Begini saja. Mungkin saat ini Anda memang belum punya banyak pengalaman tentang bisnis. Ya, kami tau Anda masih sebentar di sini karena suami Anda...ya, kami tidak tau. Tapi Anda bisa pikirkan kembali. Kami masih menunggu keputusan Anda".
"Sekali lagi maafkan kami Tuan Mien. Kami tetap pada keputusan kami. Dan saya ingatkan, saya mungkin tidak sama dengan mereka yang Anda kenal, yang cuma memikirkan kekayaan pribadi tanpa memikirkan orang lain apalagi rakyat miskin yang kurang beruntung. Kami tidak akan menjual bangsa kami demi menggendutkan rekening kami sendiri"
"Bukankah Anda orang Rusia? Jangan berbicara seolah-olah nasionalisme Anda sangat tinggi"
"Anda benar. Saya memang orang Rusia. Dan sampai kapan pun saya mencintai tanah air saya. Tapi agama saya juga mengajarkan pada saya untuk pandai berterima kasih pada bumi yang sudah memberi saya nafas kehidupan. Saat ini saya di sini. Saya sudah menjadi orang Sydney, apalagi ini juga tanah air suami saya, tanah yang dicintainya. Apa yang dicintai oleh suami saya maka akan menjadi kecintaan saya. Dan apa yang menjadi kebencian suami saya maka saya juga membencinya"
"Baiklah, saya permisi dulu"
Chen Mien dan asistennya dengan wajah pias pun bergegas pergi. Ada rona emosi di wajah para kaum borjuis itu ketika meninggalkan ruangan. Ayesha hanya menarik nafas lalu melirik kedua investor lainnya. Mereka saling berpandangan dan tersenyum kemudian mulai mengajukan lobby bisnis mereka.
"Jika Anda berdua mempunyai niat yang sama dengan teman Anda tadi, maka jawaban kami sama", Ayesah menatap tegas lawan bicaranya.
"Jika Anda berpikir kami sama dengan orang yang tadi maka Anda salah Nyonya. Kami menawarkan kerja sama yang saling menghargai"
"Coba jelaskan"
"Anda tidak perlu khawatir dengan para pekerja nantinya, namun kami inginkan proyek infrastruktur dari kota ini ke lokasi menjadi milik kami".
"Tentang itu bisa saja diatur Tuan. Yang penting hasilnya berkualitas. Kami tidak ingin baru beberapa bulan infrastruktur dibangun sudah menimbulkan korban jiwa atau baru satu tahun sudah harus memerlukan perawatan intensif karena tidak sesuai antara isi kertas dengan yang di lapangan. Dan satu lagi, Anda hanya boleh membawa tenaga profesional, bukan kuli"
"Anda tidak perlu khawatir. Kami pastikan kami juga berbeda dari apa yang Anda pikirkan. Kami juga mempunyai tanah air Nyonya. Kami akan bersikap yang sama jika kami ada pada posisi Anda"
"Terima kasih banyak Tuan berdua. Kami sangat merasa terhormat bisa mengenal Anda berdua. Kita akan lanjutkan kerja sama ini"
"Kami juga mengucapkan terima kasih. Sampai jumpa pada pertemuan berikutnya"
"Baiklah"
Ayesha mulai tersenyum. Alhamdulillaah, gumamnya pelan.
Luke dan Zein hanya memperhatikan saja. Begitu juga kedua asisten Ayesha di bidang investasi dan human resource. Ada banyak kata tertulis dalam benak mereka tentang presdir barunya. Sungguh berkharisma.
Ayesha dan Zeny kini berada di sebuah restoran halal untuk bertemu investor dari Arab. Luke juga setia mengikuti. Awalnya Ayesha menolak meeting ini karena sang investor meminta bertemu di Sofitel Sydney Darling Harbour dengan alasan dia sedang ada agenda di sana, namun karena berbagai alasan Ayesha yang tetap tidak ingin bertemu di hotel, kemudian sang investor pun mengalah mengubah lokasi pertemuan, maka jadilah saat ini di sini sekalian jadwal makan siang.
Ayesha dan tim nya kini duduk di meja reservasi yang sudah dipesan sejak pagi tadi. Ruang privasi untuk pertemuan bisnis VIP. Makanan dan minuman halal sudah dipesan dan seperti dikabarkan oleh pihak restaurant, orang Arab tersebut sudah tiba namun sedang di toilet. Setelah beberapa menit berlalu, orang yang dinanti pun tiba. Seorang pria tampan, berpostur tinggi tegap dengan kulit sedikit coklat dan bermata biru dengan rambut hitam bak model iklan shampoo muncul dari arah samping Ayesha. Dia berdehem dan kemudian merentangkan tangannya dengan tatapan kerinduan yang tak terlukiskan.
"Hubby....", Ayesha tercengang tak percaya melihat sosok di depannya.
"Alhamdulillaah ya Allah...", bukannya langsung memeluk suaminya, Ayesha malah bersujud sejenak mengekspresikan rasa syukurnya pada Sang Khaliq dan barulah menghambur ke pelukan suaminya. Mereka hanya diam tanpa berkata apapun. Cukuplah bahasa tubuh keduanya mewakili isi hati masing-masing. Sementara itu Luke yang melihat Maxwell telah kembali hanya bisa terpaku di tempat duduknya. Zeny yang memperhatikan kedua tuannya hanya tersenyum dan tetap bersiaga sesuai tugasnya. Dia menatap sekeliling dan menemukan beberapa orang di tiap sudut restoran sedang berjaga sesuai instruksi Mark yang sudah memberitahukan semuanya tadi malam. Termasuk siapa sebenarnya Luke.