A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 116. Kita Harus Kuat



Ini adalah hari ketiga setelah pemakaman keluarga Ayesha dan Bibi Christine. Ayesha baru saja selesai sholat subuh dan tilawah Alquran selama satu jam lamanya dengan segenap perasaannya yang nelangsa ketika terdengar ketukan di pintu kamarnya. Seorang maid, pembantu mansion yang biasa mengurusi urusan pekerjaan rumah tangga kini berdiri di hadapan wanita bercadar tersebut. Wajahnya nampak diliputi kegusaran.


"Ada apa Bibi?"


"Maaf Nyonya, sudah mengganggu istirahatnya", sang maid menjawab dengan pandangan takut.


"Tidak apa Bi, katakan saja"


"Saya khawatir dengan keadaan Nyonya Muda Grace, Nyonya"


"Apakah dia sakit Bi?"


"Badannya hangat dan tadi ketika saya ajak bicara Nyonya hanya menatap kosong. Saya tidak pernah melihat Nyonya Muda seperti itu sebelum musibah kemarin ini Nyonya...dan..saya khawatir...semalam Nyonya juga tidak mau makan...dan barusan...ketika Tuan sudah pergi, saya bujuk makan tapi Nyonya masih tidak mau... ", ujar sang maid.


Sejak terluka ketika percobaan pembunuhan dalam penculikan sebelumnya, Grace memang sudah tinggal di mansion bersama sang kakak, sehingga seluruh maid yang ada di mansion sudah mengenalnya.


Ayesha menarik nafas berat. Ia teringat kembali dengan kesedihan Grace yang terus menangisi kepergian Bibi Christine.


"Apakah sekarang dia sendirian?"


"Ya, Nyonya. Tuan Mark baru saja pergi. Tuan nampak buru-buru sekali".


"Apakah Tuan Mark mengatakan sesuatu kepada Bibi?"


" Tuan Mark hanya berpesan agar saya menjaga Nyonya Muda dan akan segera kembali. Dan ia...nampak sangat cemas...lalu meminta tolong pada saya untuk melaporkan pada Nyonya tentang keadaan istrinya"


"Baiklah. Aku akan segera ke kamarnya untuk menemaninya. Bibi tidak usah khawatir".


"Terima kasih Nyonya. Saya permisi"


"Baik".


Ayesha kemudian bergegas menuju kamar Grace yang yang berada di lantai bawah. Tak lama Ia pun sampai di depan pintu kamarnya. Setelah memberikan ketukan, sang Nyonya muda yang sedang hamil itu pun masuk karena pintu tidak dikunci. Ia tercekat begitu melihat ke dalam kamar. Seorang wanita berjilbab mungil sedang duduk bersandar di tempat tidurnya dengan mata menerawang kosong kedepan. Wanita cantik berwajah pucat itu nampak seperti melamun. Ayesha berjalan mendekatinya dengan pandangan prihatin.


"Assalaamualaikum Grace..... ". Tidak ada jawaban. Grace seperti tidak mendengar apapun.


"Apakah engkau baik-baik saja?"


Masih tidak ada respon. Wanita yang kakinya masih berbalut perban putih itu tidak memberikan respon sedikitpun. Ia seperti tidak mendengar apapun atau tidak merasakan keberadaan siapapun.


"Miss Grace...."


Aisyah pun melangkah mendekati dan kemudian duduk di pinggir ranjang. Ia meraih tangan kiri wanita berkulit putih bersih disampingnya tersebut dan menggenggamnya. Kemudian menyentuh dahinya. Hangat.


"Engkau demam Grace", Ayesha mulai khawatir.


"Apakah engkau sudah minum obat?" Masih tetap sama, wanita yang baru menikah dua hari lalu itu masih belum merespon sama sekali. Ayesha kemudian melirik nakas dan melihat segelas air minum dan sepiring makanan serta sekotak buah sudah terhidang di sana. Selain itu ia juga melihat beberapa kapsul obat sudah nampak dipersiapkan. Makanan dan minuman ini sama sekali tak tersentuh.


"Engkau belum makan sejak tadi malam Grace....sekarang makanlah..."


Aisyah memandangi saudaranya tersebut dengan perasaan sedih ia bisa melihat bahwa wanita cantik yang baru menikah itu sekarang dalam kondisi kejiwaan yang tidak baik-baik saja. Fisik yang lemah karena kecelakaan yang dialaminya juga kematian kakak satu-satunya yang selama ini menjadi tempatnya bergantung dan memberikan spirit hidup sekarang telah meninggalkannya bahkan dengan cara yang tragis.


Ayesha menarik nafas sejenak. Ia kemudian mengambil minuman dan mendekatkannya ke bibir Grace. Tapi bibir itu tetap tak mau terbuka. Ayesha pun meletakkannya kembali di atas nakas. Ia kini mengambil makanan dan mencoba menyuapkannya. Namun, lagi-lagi Grace tak meliriknya sedikitpun. Tatatapannya masih kosong. Ayesha pun mengembalikan makanannya dan kini menatap lekat ke wajah Grace. Ditariknya kedua tangan pucat itu ke depan dadanya. Satu tangannya menggapai pipi mulus di depannya dan mulai mengarahkan matanya untuk menatap Ayesha.


"Grace....lihat aku. Kau masih mengenalku?"


Ayesha berusaha mengambil perhatian Grace. Kini kedua bola mata yang sembab itu menatapnya datar.


"Grace...bicaralah...engkau masih ingat aku bukan?", Ayesha tersenyum dari balik cadarnya. Tatatapannya teduh menembak sepasang mata biru di hadapannya. Sejenak Grace seperti mengerjap dan mulai sadar.


"Grace....alhamdulillaah...aku tau kau pasti masih Grace yang sebelumnya...."


Grace kemudian menunduk. Sebutir air mata tiba-tiba jatuh di pipinya. Ayesha mengusapnya lembut. Hatinya ikut teriris merasakan kesedihan yang dialami saudara suaminya itu. Ia bisa membayangkan kepedihan hidup Grace selama ini. Tanpa kasih sayang orang tua. Mencari ayah yang tak kunjung tau siapa dan dimana rimbanya. Hidup dipenuhi kejaran mara bahaya. Diburu hendak dibunuh. Bahkan akhirnya harus kehilangan satu-satunya orang yang selama ini tulus menyayanginya. Ia tentu merasa menjadi orang yang sebatang kara di bumi ini jika saja ia tidak secepatnya menikah dengan Mark.


"Grace.... Kamu harus kuat. Jangan berbuat seperti ini. Bersikaplah yang kuat". Ayesha menurunkan tangannya dari pipi Grace dan kini menggenggam kedua tangan pucat itu seolah ingin memberi kekuatan.


"Grace! Jangan terus bersikap seperti ini. Kau adalah wanita yang kuat sebelum ini. Dan seterusnya juga akan menjadi wanita yang lebih kuat lagi. Aku sudah mengetahui bagaimana kuatnya dirimu. Begitu banyak ujian yang Allah berikan kepadamu dan engkau sanggup melaluinya dengan baik. Dan saat ini aku yakin kau juga bisa melalui semua ini. Ingat Allah, Allah tidak akan menguji hambaNya diluar kemampuannya. Karena Engkau dan aku dinilai mampu menghadapi semua ini maka Allah memberikan ujian yang sangat berat ini", Ayesha berhenti sejenak. Ia memandang ke dalam bola mata wanita yang saat ini menangis semakin banyak.


"Grace.... sadarlah! Engkau pasti kuat. Kita pasti kuat. Aku yakin kita pasti bisa kuat. Dan kau....kau tidak sendirian sekarang. Engkau saat ini sudah mempunyai suami. Ingat itu! Ada Mark di sisimu yang terus setia bersamamu. Ada aku saudaramu. Kita bisa melalui semua ini bersama. Engkau kehilangan Bibi. Engkau kehilangan kakak yang sangat engkau cintai dan mencintaimu. Dan aku....aku kehilangan kakek dan kakak yang sangat aku cintai dan juga mencintaiku. Begitu juga Mark, suamimu. Ia bahkan sudah kehilangan orang tua dan saudara-saudaranya jauh sebelum ia mengenal kita, bahkan sejak ia remaja. Kita kehilangan orang-orang yang kita cintai tapi kita tidak boleh kehilangan cinta di hati kita"


Grace semakin tergugu. Mulutnya masih terkunci. Ia masih meresapi tiap kalimat yang diucapkan wanita bercadar di depannya.


"Grace... engkau tahu bukan...? Bahwa mereka yang telah pergi tidak mungkin akan kembali... tapi cinta yang mereka bawa dari kita akan mungkin kita kembalikan. Bagaimana caranya? Kita kembalikan kepada orang-orang yang masih mencintai kita... yang masih hidup bersama.... jadi jangan sia-siakan cinta mereka kepada kita Grace.... Lihatlah...ada suami yang mencintaimu....ada saudara dan teman yang mencintai kita... mereka menanti kita....kita harus bangkit dan tidak boleh seperti ini Grace... Ayolah.... Ayolah saudaraku.... Sadarkan dirimu...Jangan biarkan kesedihan ini menghancurkan hidupmu. Jangan kau sakiti hati orang-orang yang masih berharap kepadamu..Lihatlah Mark...dia sangat cemas melihat dirimu seperti ini....apakah engkau tidak kasihan padanya...? Ia sudah kehilangan orang tua dan saudara-saudaranya sejak lama...ia tak mau kehilangan pula wanita cantik yang dicintainya yang sudah menjadi istrinya.."


Ayesha terus berbicara untuk menyadarkan wanita cantik di depannya yang sepertinya mulai membuka hatinya.


"Aku tahu engkau pasti kuat...engkau pasti bisa... ayo Grace..kamu harus segera makan dan meminum obat ini.... kamu harus segera sembuh... kasihan suamimu dan sekarang ia sangat cemas memikirkanmu.... dan kamu harus bersyukur punya suami seperti Mark..dia benar-benar sangat menyayangimu.... Ayo aku bantu...."


Ayesha pun kembali mengambil air minum dan memberikannya kepada Grace. Tak disangka, wanita yang masih menangis itu pun menerimanya dan meminumnya sendiri. Wajah pucat itu kemudian tersenyum menoleh ke arah Ayesha. Wajah berbalut jilbab kecil berwarna putih itu mulai tampak normal kembali.


"Terima kasih Nyonya... Terima kasih...", ucap Grace terbata.


"Jangan panggil aku Nyonya... panggil saja Ayesha..."


"Tidak... itu tidak sopan Nyonya .."


"Tidak mengapa...aku merasa ada jarak jika engkau memanggilku Nyonya, Grace...Panggil saja Ayesha, ok?"


Grace menggeleng pelan. Ayesha menarik nafas sejenak. Sebuah ide melintas di kepalanya untuk membangkitkan kembali sosok Grace yang dulu.


"Tahukah engkau Grace...bahagia itu..bisa hadir membuncah secara tiba-tiba dan terkadang ia menjadi rahasia Tuhan yang selama ini kita cari..."


"Maksud Nyonya?", Grace mulai nampak berpikir. Ayesha tersenyum.


Grace terdiam. Ia mulai memahami.


"Ada, Nyonya".


"Ah, panggil aku Ayesha. A-ye-sha...."


"Emmm...maaf aku tidak bisa Nyonya..."


"Baiklah...aku tidak akan bicara lagi padamu..."


"Ah Nyonya...jangan begitu..."


Ayesha pura-pura marah.


"Kita ini bersaudara Grace....Bersaudara..."


Ayesha membuang wajah ke samping.


"Kita bukan hanya bersaudara karena satu akidah...tetapi engkau memang saudaraku dari suamiku...jadi..panggil aku Ayesha... atau kau bisa memanggilku 'kakak'...kau masih ingat ketika suamiku mengatakan pada keluarga kita bahwa mulai saat itu engkau adalah sepupunya bukan? Dan suamiku juga bahkan mengatakan bahwa kau adalah bagian dari Powell Group"


"Ya. Aku ingat Nonya... Bukankah itu...untuk menghiburku saja..."


"Tidak. Itu bukan seperti yang engkau pikirkan gadis cantik...eh engkau masih gadis bukan?"


Seketika Grace mendongakkan wajahnya. Kini ada semu merah di sana. Ayesha mengerti dan menahan senyum. Ia sangat tau bahwa wanita di depannya belum sepenuhnya menjadi seorang istri bagi Mark. Mungkin karena faktor luka yang dialaminya karena kecelakaan itu.


"Sesungguhnya apa yang dikatakan Suamiku itu adalah yang sebenarnya...sebentar lagi... dan sebentar lagi.... engkau akan mengetahui kebenarannya... tapi aku tidak akan mengatakannya sekarang...biarlah orang yang berhak mengatakannya yang akan menyampaikannya kepadamu..."


"Maksud Nyonya...", Grace kebingungan.


"Engkau ingin tahu segera?"


"Iya, tentu saja", Grace nampak penasaran dan mulai bersemangat.


"Aku akan menjawabnya setelah engkau sembuh, Oke?"


"Nyonya..."


"Dan satu lagi...jika engkau ingin tau segera, stop memanggilku Nyonya. Panggil aku Ayesha. Bisa?"


"Emmm....baiklah...Kak Ayesha...", Grace menunduk malu. Ayesha tersenyum senang. Ia gembira melihat Grace sudah nampak sadar seperti biasa.


"Good....aku senang sekali mendengar panggilanmu...terima kasih saudaraku...", Ayesha memeluk makhluk lemah di depannya dengan lembut.


Ia merasakan pelukannya dibalas dengan lembut pula. Sesaat mereka terus berpelukan tanpa menyadari ada yang baru saja hadir dan kini sedang menyaksikan mereka dari pintu yang sejak tadi terbuka sedikit.


"Sekarang...aku harus memastikan bahwa kau benar tidak apa-apa. Aku harus memastikan bahwa kau memang baik-baik saja. Kau harus segera sadar dan mulai menjadi wanita yang dulu penuh semangat", Ayesha kemudian mengambil makanan di nakas.


"Makanlah ini....",.Ayesha menyerahkan sepiring makanan dan diterima Grace.


"Terima kasih Kak..."


Ayesha tersenyum menyaksikan wajah cantik di depannya yang sudah kembali bercahaya. Wanita itu kini mulai menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri dengan perlahan. Setelah beberapa suap, Ayesha yang mulai menyadari kehadiran seseorang di balik pintu kamar Grace kemudian berkata.


"Habiskan ya...apakah aku perlu menungguimu?"


"Kak...aku..."


"Aku bisa saja menungguimu saudaraku...tapi ada yang lebih berhak dariku...", Ayesha mengedipkan sebelah matanya ke arah pintu. Grace pun termangu dan mendapati sepasang mata di sana sedang menatapnya dengan penuh binar kebahagiaan. Wajah gadis itu pun bersemu.


"Habiskan makanan ini sister...setelah itu kamu harus minum obat, oke?", ujar Ayesha seraya bangkit dari duduknya dan melangkah keluar. Sosok di pintu memberinya jalan dan membungkuk hormat.


"Terima kasih banyak, Nyonya. Aku sangat berhutang banyak pada Nyonya"


"Bayarlah dengan terus setia menjadi yang terbaik untuk istrimu"


"Sure"


"Aku permisi dulu"


"Sekali lagi terima kasih banyak Nyonya"


"Dont mention it", Ayesha hendak melangkah namun kemudian urung. Dia berbalik dan mengeraskan sedikit suaranya.


"By the way. Ku lihat seprai tempat tidur belum pernah diganti sejak malam itu. Apakah kalian tidak ingin yang baru?", kemudian wanita bercadar itu pun pergi, meninggalkan dua orang yang saling berpandangan dan bersemu malu.


Ayesha pun pergi kembali ke kamarnya. Di sepanjang langkahnya, ia teringat kembali dengan suaminya. Air matanya tiba-tiba meleleh tanpa mampu di rem. Kasih sayang Maxwell dan perhatiannya padanya kembali berkelebat di memorinya. Senyumnya, sikap mesumnya dan kemesraannya jika sedang di dalam kamar melintas begitu saja tanpa permisi. Ayesha tergugu dalam diam. Refleks ia memegangi perutnya. Sebisanya ia tahan suara tangisnya agar tidak pecah sebelum sampai ke kamar.


"Hubby....aku rindu padamu...engkau masih hidup bukan? Anakmu membutuhkanmu...", batinnya pilu. Ia bukan sosok tegar seperti yang orang kira. Ia hanya manusia biasa.


"Ya Allah, kuatkan aku. Aku berlindung padaMu dari sifat orang munafik. Ku katakan pada orang lain untuk kuat, tapi aku sendiri sesungguhnya amat lemah....", Ayesha menggigit bibirnya. Rasa sesak di dada muncul lagi. Ia segera meraih gagang pintu dan berlari masuk ke dalam kamarnya setelah menguncinya. Tangisnya seketika pecah. Ia membuka cadarnya dan kini menelungkup di atas tempat tidur. Diraihnya bantal dan pecahlah kembali tangisnya.


"Ya Allah...ampuni aku...ampuni jika aku masih berharap...bahwa suamiku masih hidup...Hubby...aku sungguh merasa engkau masih ada...aku merasakan bahwa engkau memang masih ada...ya Allah...kuatkan aku....astaghfirullaah....astaghfirullaahal'adziim....", lirih Ayesha dengan perasaan sedih tak terkira.


Sementara itu, di tempat yang baru saja ditinggalkan Ayesha, dua orang insan sedang saling memandang dengan perasaan bercampur aduk. Sang pria merasa senang melihat sang wanita yang sudah mulai ceria, namun sang wanita merasakan kesedihan yang tak kunjung berkurang, hanya saja diliputi rasa penasaran dengan ucapan Ayesha barusan, dicampur juga dengan sedikit perasaan bersyukur karena melihat cinta sang suami yang terlihat untuknya. Sang wanita sesaat menarik nafasnya. Ia teringat kembali dengan kata-kata sang kakak barusan. Dia harus kuat dan bangkit. Ada suami yang harus dijaga cintanya. Yang mengharapkan hidupnya dan cintanya. Yang juga pernah merasakan kehilangan sebelumnya hingga menjadi seperti dirinya, sebatang kara di bumi. Grace terhenyak. Ayesha bahkan lebih tau tentang Mark suaminya, sedangkan ia minim informasi tentang sosok pria yang baru menikahinya tersebut.


"Suamiku, ceritakanlah tentang keluargamu padaku", ujarnya yang langsung direspon dengan perasaan terkejut oleh pria di depannya.


"Sejak kapan ia memanggilku 'suamiku?' ", gumam sang suami dalam hati. Sudut bibirnya pun terangkat. Senyum tersungging menatap wanita cantik yang masih pucat itu, wanita yang fokus pada keinginan mendapat informasi tentang sosok kehidupan suaminya sebelumnya tanpa fokus pada panggilan yang spontan ia sebutkan barusan.