
Malam telah datang, tapi Maxwell tidak melihat maupun mendengar tanda-tanda apapun tentang pesta rusa panggang yang diharapkannya. Dan tentu saja ia berharap berjumpa lagi dengan Ayesha malam ini. Ia mulai merasakan perasaan tidak enak. Ia mencari Ali yang biasa hilir mudik di rumah ini atau Bibi Leida. Ketika melihat Ali, ia langsung memanggilnya. Hatinya berdesir ketika melihat kecemasan di wajah pria muda itu.
“Ali, bolehkah aku tahu di mana Non Ayesha?”
“Oh tuan James, sejak pagi tadi Non Ayesha berburu dan sampai sekarang belum kembali. Tuan Ahmed mencoba menghubunginya tapi rupanya Non Ayesha meninggalkan ponselnya di kamar. Kami sekarang sedang cemas menunggu kabarnya. Dia tidak punya banyak teman dan semuanya sudah ditanya tapi tidak ada yang tahu. Anggota pabrik dekat hutan tempatnya berburu sudah dikerahkan mencari tapi tidak ada yang berhasil menemukannya. Mereka hanya menemukan seekor rusa yang sudah terkena panah dan seorang pekerja pabrik yang tewas tertembak. Kami hanya bisa berdoa semoga Nona baik-baik saja. Allah pasti menjaganya. Ya, Allah pasti menjaga bidadari kami”
Ali berkata panjang lebar dengan ekspresi kekalutan yang tidak bisa ditutupi.
“Apakah dia sudah pernah bertingkah demikian? Maksudku memanah hewan dan meninggalkannya begitu saja?”
“Tidak pernah tuan. Sudah 10 tahun aku mengenal Non Ayesha, tidak pernah sekalipun ia membuat cemas keluarganya. Sir Vladimir bahkan langsung pulang dari distriknya karena cemas dengan berita ini. Uncle John hendak menghubungi polisi tapi kita tahu kan bahwa laporan orang hilang berlaku 1x24 jam”
“Di mana tuan Ahmed”
“Dia sedang berputar di udara dengan helikopternya mencari Ayesha di tempat-tempat yang mungkin dikunjungi Nona ketika selesai berburu. Uncle John juga berkeliling di udara dengan heli yang satu lagi”.
Maxwell berpikir keras. Kemana Ayesha? Apakah… Oh no, apakah Joeris dan anak buahnya mencarinya? Bedebah! Kalau benar mereka masih memburunya berarti saat ini Ayesha sedang dalam bahaya. Aku harus segera keluar dari rumah ini. Aku tak mau orang-orang yang tak bersalah ini menjadi sasaran kebiadaban Joeris dan anak buahnya. Maxwell menggeram. Dadanya berdesir panas. Dia baru tiga minggu cedera. Walaupun masih terasa sakit dia tidak bisa menunggu terlalu lama di sini. Dia harus menghentikan sepak terjang Joeris sebelum mereka berbuat lebih jauh. Tiba-tiba Maxwell yang selama ini tidak pernah takut pada apapun bergidik ngeri. Bukan, bukan takut kalau dia harus mati. Tapi ia takut kalau Ayesha yang akan mati karenanya. Oh tidak. Ia spontan menggeleng keras.
“Ada apa tuan James?”
Ali heran melihat Maxwell menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ali, bisakah kau membantuku?”
“Apa yang bisa ku lakukan tuan?”
“Ini berkaitan dengan Non Ayesha. Aku hanya ingin memastikan apakah dia aman”
Ali terkejut.
“Maksud tuan?”
Ali menurut. Tak lama kemudian ia sudah kembali dengan HP Maxwell yang baru saja dibelikannya beberapa hari lalu.
“Thanks brother. Maaf sudah merepotkan”
“Tak apa”
“Engkau punya Net Banking bro Ali?”
“Ya”
“Tolong kirim nomor rekeningmu”
Ali hanya menuruti. Sebelumnya mereka memang sudah pernah bertukar no HP.
“Jika ada notofikasi banking di nomormu jangan terkejut ya Bro. Setelah semua jelas aku akan ceritakan. Dan jika aku memintamu untuk mentransfer ke nomor rekening seseorang tolong kerjakan saja. Sekarang percayalah padaku. Itu saja. Aku sangat mengkhawatirkan Non Ayesha”. Maxwell kemudian berlalu dan pergi ke kamarnya. Ali hanya menatap bingung.
Sesampai di kamar, Maxwell dengan cepat membuka emailnya dan mengirim sebuah pesan ke seseorang. Kalian pasti akan memberikan informasi berharga ini karena uangku akan sanggup menghidupkan dan mematikan kalian. Pikirnya.
Sejak peristiwa penghianatan Joeris, Maxwell tidak pernah mengunjungi websitenya. Karena itu sangat riskan, tapi saat ini ia tidak ada pilihan lain. Setidaknya ia masih ada harapan ada orang-orang yang bisa dibeli dengan uang. Ia ingin tahu perkembangan yang terjadi dengan semua perusahaannya. Dan yang paling penting apakah Joeris dan para penghianat lainnya sedang ada di Rusia untuk mencarinya atau tidak. Karena jika benar, kemungkinan Ayesha memang sedang dalam intaian mereka saat ini. Maxwell kembali menggelengkan kepalanya. Semoga mereka tidak ada di Rusia. Tiba-tiba masuk email balasan. Begitu membacanya Maxwell langsung pucat. Joeris memang masih ada di negeri kelahirannya, tapi ke lima anak buahnya sudah terbang ke Rusia tadi pagi.
Sambil merasakan kegalauan yang luar biasa ia segera mengirim email ke orang lain. Entahlah apa yang dilakukannya. Ia nampak sangat serius dan di kepalanya hanyalah bagaimana caranya menjamin keselamatan Ayesha saat ini. Ia kemudian menyuruh pengacaranya mentransfer sejumlah uang ke rekening Ali dan seseorang seraya mengetikkan beberapa pesan dan kemudian ia segera menghapus semua jejak digital di HP nya, segera mematikan dayanya dan mengeluarkan kartunya. Maxwell terlihat cukup lega. Ia tersenyum ketika sempat mengirim foto Ayesha ke seseorang. Untunglah ia sempat mencuri gambar gadis bercadar itu dengan ponsel barunya sehari sebelum gadis itu pergi berburu. Ayesha. Semoga Tuhanmu melindungimu. Batinnya aneh. Kini ia berharap pada Tuhan?
Ah, setidaknya kini ia sadar, sudah banyak campur tangan Tuhan padanya. Ia sadar, ia masih hidup saat ini tentu karena perbuatan Tuhan yang sudah mengirim Ayesha menemukannya di hutan waktu itu.
Maxwell menghela nafas sejenak. Aku harus pastikan gadis itu selamat. Pavlo tentu bisa dipercaya. Ia teringat profil orang bayaran yang disuruhnya tersebut. Dengan track record mantan Pasukan Khusus negara Rusia itu ia yakin Ayesha bisa diselamatkan, pikirnya.
Sementara di ruang lainnya, Ali nampak shock membaca notifikasi bank di nomor HP nya. Sejumlah besar uang yang fantastis nominalnya dalam bentuk dollar Amerika masuk ke rekeningnya yang jumlahnya bisa membeli sebuah hotel bintang lima di kotanya saat ini. Selanjutnya ia diminta Maxwell untuk mengirimkan setengahnya ke no rekening seseorang bernama Plavo dan setengahnya untuk kebutuhan Ali dan keluarga Ayesha. Ali hanya menurut. Entahlah, saat ini hanya kepercayaan pada Maxwell yang membuatnya mengikuti saja apa yang diminta Maxwell padanya. Jika sampai suatu saat ia dituduh terlibat sebuah kasus seperti korupsi seorang pejabat ia hanya akan pasrah saja. Ia tak peduli. Ia percaya saat ini bahwa Maxwell orang baik. Dan bukankah Allah ada pada prasangka hambaNya? Ia berpikir Maxwell baik maka Maxwell akan menjadi baik jika sekiranya pun ia tidak baik pada awalnya. Begitu pikiran Ali saat ini. Mengapa ia punya begitu banyak uang ia tidak perlu bertanya. Maxwell sudah janji akan menceritakan semuanya nanti. Ali hanya bisa terus menengadahkan tangannya pada Rabb pencipta untuk melindungi Ayesha.