
Mendadak Ayesha melemparkan sesuatu ke depan dan asap putih pun memenuhi ruangan. Maxwell menembak ke depan dan begitu juga Ayesha. Keduanya dengan cepat melarikan diri dan menghilang. Kawanan musuh mereka pun tak tinggal diam. Mereka pun mengejar dengan cepat walau pun kehilangan jejak. Namun tak lama terdengar rentetan tembakan laras panjang memberangus gerombolan manusia bertopeng tersebut dan dengan mudahnya melumpuhkan mereka.
"Tuan, mereka sudah saya habiskan"
Maxwell dan Ayesha kembali muncul.
"Kau membuat kami mandi keringat", sahut Maxwell.
"Anda membunuh mereka semua?", Ayesha terbelalak.
"Tidak. Mungkin hanya perlu ke rumah sakit beberapa bulan", sahut si pria. Dia memang masih ingat janjinya pada wanita di depannya ini, bahwa ia tidak akan membunuh sebisa mungkin. Ayesha nampak lega.
"Maafkan saya terlambat Tuan. Pemanasan itu perlu bukan?". Mark, salah seorang tangan kanan Pavlo itu nyengir kuda ke arah majikannya.
"Kau benar. Bagaimana rencana berikutnya?"
"Sudah beres Tuan. Patch dan Peter sudah bekerja dengan baik"
"Good"
Kini mereka bertiga menyusuri koridor lantai tiga menuju lift umum pegawai.
"Awas jika masih ada sabotase lagi"
"Kali ini Anda berdua aman. Silakan Tuan"
Maxwell dan Ayesha pun masuk tanpa Mark. Pria itu berbalik pergi entah kemana. Maxwell menekan tombol 20. Lift pun bergerak naik.
"Seluruh sistem CCTV sudah diretas namun musuh masih bisa menyadari keberadaan kita"
"Joeris bukan orang bodoh. Kami sudah bermitra lima tahun. Tak sulit baginya melakukan apapun di sini, apalagi dengan menjadi presdir selama aku tidak ada"
"Dia sudah memiliki banyak orang dari para bawahan Hubby sendiri?"
"Begitulah"
"Segera lakukan pembersihan setelah ini. Para penghianat internal sangat berbahaya", Ayesha nampak gemas.
"Tentu"
Ayesha menarik nafas. Ia teringat dengan penghianatan Paman Alex beberapa waktu lalu dan yang pernah dilakukan oleh Paman Viktor sebelumnya di rumah sakit. Ia menggelapkan uang operasional rumah sakit yang notabene hanyalah rumah sakit amal dan menjual nama rumah sakit untuk mendapatkan donasi orang kaya di Rusia untuk masuk ke kantong pribadinya. Ini benar-benar sangat merugikan dan sekaligus menghancurkan reputasi rumah sakit yang Vladimir Family miliki. Mereka waktu itu langsung memproses Paman Viktor dan terpaksa memenjarakannya karena tidak ada i'tikad baik dari pria itu untuk memperbaiki kesalahannya. Harta dunia dan wanita cantik memang sudah menutup mata hatinya yang semula merupakan orang baik namun menjadi gelap mata dan khilaf.
Lift berjalan lancar dan kini mereka sudah sampai di lantai paling tinggi. Ruang Presdir terlihat paling ujung dan mereka pun dengan waspada menuju tempat di mana Maxwell sebelumnya bertahta di sana.
"Selamat datang Tuan Powell yang terhormat
Masuklah dan biarkan kami menyambut kedatangan Anda dengan upacara penghormatan", terdengar suara yang menggema disertai tawa khas seorang Joeris yang seketika terbukalah pintu ruang presdir secara otomatis. Sesosok tubuh yang sangat dikenal Maxwell muncul di pintu. Maxwell sudah menduga. Ia dan Ayesha waspada.
"Senang bertemu denganmu kembali, penghianat!"
"Wow...Jangan terburu-terburu marah padaku. Aku hanya meminta sedikit uangmu yang kebanyakan itu. Dan sebentar lagi aku akan mengembalikannya. Tenanglah sobat", Joeris tergelak. Ia merentangkan tangannya meminta Maxwell masuk ke ruangannya.
"Mari masuklah, dan duduklah kembali di kursi kebesaranmu, sobat. Aku mengembalikannya sekarang. Kau senang bukan?", Joeris duduk begitu saja di sofa krem di dekat dinding. Ia terlihat santai. Nampak beberapa botol minuman beralkohol yang masih disegel tersedia di atas meja.
"Minumlah dulu. Ini awal yang baik untuk pertemuan kita bukan?"
Maxwell dan Ayesha hanya berdiri. Hanya ada mereka bertiga di dalam ruangan yang cukup luas itu. Ayesha menyapukan pandangannya ke sekeliling. Di belakang kursi presdir yang terletak di sudut ruangan, nampak ada sebuah pintu. Itu pastilah ruangan yang dimaksud suamiku, kamar pribadinya untuk beristirahat, pikirnya.
"Heh, kita masih bersahabat bukan?"
"Mungkin. Setelah aku memastikan bahwa kau mempertanggungjawabkan perbuatanmu dan bertaubat"
"Hah? Bertaubat? Bukankah seharusnya Anda yang harus bertaubat Tuan Maxwell yang terhormat? Seorang Boss Mafia yang sudah berenang dalam lautan dosa, kini menceramahi aku untuk melakukan sesuatu yang mustahil ku lakukan? Sedangkan kau adalah guruku selama ini? Haha hahaha...."
Maxwell cuma tersenyum tipis.
"Tertawalah sebelum nanti aku yang menertawakanmu".
"Hahaha...
"Well, ohya siapa wanita aneh yang kau bawa ini sobat... Apakah sekarang kau sudah menjadi lelaki yang normal? Atau memang seperti inilah seleramu...sehingga anumu selama ini tidak pernah bekerja jika melihat wanita lain"
"Tidak perlu membahas yang lainnya. Sekarang menyerahlah. Minta maaf padaku dan aku mungkin akan berbaik hati meminta Hakim mengurangi sedikit hukumanmu"
"Apa yang kau bicarakan sobat. Sudah lama menghilang kenapa sekarang malah menuduhku yang tidak-tidak"
"Orang munafik memang punya banyak trik untuk berpura-pura. Penghianat menyiapkan 1001 cara untuk menyangkal mesti itu seterang mentari"
"Sepertinya kau sedang tidak sehat. Berimajinasi seolah-olah aku sudah berbuat buruk padamu. Lihatlah perusahaanmu. Aku hanya pinjam sebentar karena aku sayang padamu. Kau menghilang dua bulan dan tak mungkin perusahaan sebesar ini kosong presdir bukan? Jadi sebagai sahabat bukankah wajar aku membantu menggantikanmu agar semuanya masih bisa berjalan dengan lancar?"
"Wow...
"Amazing. Kau memang sahabat dan mitraku yang baik. Aku sangat berterima kasih padamu kalau begitu. Ok, baiklah, sekarang berikan kembali semua dokumenku karena aku sudah kembali bukan?"
"Tentu saja. Tunggulah sebentar. Aku ingin kita minum sejenak untuk melupakan semuanya"
Ayesha yang sedari tadi hanya diam spontan berpaling tak suka. Namun sudut matanya masih terus mengawasi tiap gerakan musuh yang pernah ditembaknya tepat di punggung tangan kanannya tersebut. Dengan refleks secepat kilat ia menjatuhkan diri menghindar ketika sebuah pisau dilayangkan Joeris dari balik lengan bajunya saat ia mengangkat botol minumannya ke arah mulutnya. Namun serangan mematikan teknik yakuza itu tidak cukup sampai di situ. Ayesha yang kini membidikkan pistolnya ke arah Joeris membelalakkan matanya ketika sang suami sudah dalam posisi penyanderaan sang penghianat. Pelipis Maxwell sudah berdarah dan kini benda dingin pembunuh itu sudah menempel di sana.
"Haha haha...
"Cuma ini kemampuan kalian? Susah payah kemari hanya untuk mengantarkan nyawa? Tembaklah Nona Liar. Tembaklah! Pria busuk ini sangat layak mendapatkan tembakan jitumu itu. Setelah itu aku akan menuntut balas perbuatanmu dulu padaku. Hahaha..."
"Dasar licik. Lepaskan Aku", Maxwell berteriak marah dan sesekali menyentuh jam tangannya sambil seolah merasakan sakit pada kedua tangannya yang sempat terbentur meja ketika hendak menolong Ayesha.
"Ku kira Maxwell Powell masih setangguh yang dulu, tapi rupanya sejak di Rusia kau sudah menjadi seekor cecunguk bodoh. Haha haha..."
"Darimana kau tau aku selama ini di Rusia?"
"Tentu saja. Karena akulah yang mengatur semuanya. Akulah yang terakhir kali menembakmu ketika kau sudah sekarat dan aku telah berhasil merekayasa semuanya. Para pengacara bodohmu itu sudah memberikan dokumen berhargamu demi beberapa batang emas. Sebentar lagi kau pasti benar-benar mati di sini, dan tentu saja bersama wanita liar itu"
"Pecundang. Kau hanya berani bermain di belakang dan baru muncul karena sudah menguasai perusahaanku dan menipu para pegawai kepercayaanku"
Seketika Joeris tergelak. Kini pria berusia serupa dengan Maxwell itu menggeser berdirinya dan berjalan memutar sambil terus mengarahkan pistolnya tepat di kepala Maxwell. Ia sekarang di belakang Maxwell dalam jarak yang hanya beberapa jengkal saja dan mulai menarik pelatuknya.
"Sebelum mati, supaya tidak penasaran, ku katakan padamu Tuan Maxwell yang menyedihkan. Mereka tidak perlu ku tipu. Aku hanya perlu memberikan sedikit emasmu dan berakhirlah kesetiaan mereka terhadapmu"
"Sebelum aku mati, aku ingin tau keberadaan Luke"
"Untuk apa hah? Kau tak perlu mengetahuinya. Karena semuanya menjadi percuma". Joeris menarik pelatuk senjatanya.
Kini saatnya, gumam Ayesha dalam hati. Sesaat ia bersitatap dengan Maxwell.