
Ayesha membantu Bibi Cristine untuk duduk. Wanita tua tersebut tadi tersadar dari pingsannya dan terkejut melihat wanita asing bercadar di dekatnya.
"Bibi sudah baikan? Syukurlah"
"Anda siapa Nona?"
"Nanti Bibi juga akan tau. Sekarang beristirahatlah. InsyaaAllah Bibi akan segera sembuh"
"Aku...aku harus keluar kamar ini. Mohon tolong aku...aku akan kembali ke kamarku sendiri".
"Baiklah. Apakah ada kursi roda di sini?"
"Jika Nona tidak keberatan, kursi roda ada di ruang kesehatan di bawah Nona. Engkau bisa menekan tombol di nakas itu untuk memanggil Sam".
"Baiklah".
Ayesha kemudian melakukan apa yang dikatakan Bibi Cristine. Ia menekan tombol di atas nakas. Tak lama kemudian, datanglah seseorang mengetuk pintu.
"Cristine? Kau tak apa-apa?"
Seorang lelaki tua sebaya dengan Bibi Cristine tergopoh-gopoh masuk ke kamar dan langsung menghampiri Bibi Cristine dengan cemas. Dia tidak menyadari kehadiran Ayesha di sana sampai kemudian Bibi Cristine menanyakannya.
"Sam, apakah engkau kenal dengan nona ini?"
"Apa?"
"Ah, Nona? Siapakah Anda?"
"Aku...."
"Dia Nyonya mansion ini", tiba-tiba muncul sosok yang membuat mereka berdua sangat terkejut .
"Maxwell...", Bibi Cristine bergumam lirih secara refleks.
"Tu...Tuan Maxwell...", Paman Sam sontak berlutut dan menundukkan kepalanya. Ayesha yang memperhatikan Bibi Cristine mengernyitkan dahi. Sepertinya ada sesuatu yang suamiku tidak tau, pikirnya.
"Bangunlah Paman Sam. Kau masih mengenalku rupanya...", Maxwell kemudian duduk di sofa yang terletak dekat jendela, tidak jauh dari bed. Ayesha lalu mengikutinya. Bibi Cristine terpana dan kini duduk menjuntaikan kakinya hendak turun.
"Jangan turun Bibi. Disitu saja. Paman Sam, tolong ambilkan kursi roda", Ayesha mencegah.
"Baik Nyonya", Paman Sam bergegas turun menuju ruang kesehatan.
"Tuan Maxwell...maaf...saya ke kamar Tuan tanpa ijin..."
"Apa arti semuanya Bibi. Ada apa dengan foto kecilku?", Maxwell menatap tajam ke arah Bibi Cristine yang menunduk.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya merindukan Tuan waktu kecil. Bukankah aku yang mengurus Tuan sejak kecil?"
"Jawablah dengan jujur Bibi. Aku tau ada sesuatu yang engkau sembunyikan bukan?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin mencari tau dimana Anda selama ini Tuan. Aku..berpikir..ada info yang bisa aku dapatkan di kamar ini...namun ketika...aku melihat foto Anda di masa kecil aku jadi merasa...ingin kembali mengenang masa kecil Anda ketika aku mengasuh Anda", Bibi Cristine menjawab dengan lirih dan terdengar gugup. Maxwell hanya menghela nafasnya. Ia tidak percaya dengan perkataan Bibi Cristine tapi ia enggan meneruskan pembicaraan ini.
Ia kemudian menekan tombol di atas nakas.
Selang 10 menit kemudian terdengar suara langkah-langkah kaki mendekat. Muncullah Paman Sam dengan kursi rodanya dan dua wanita di belakangnya.
"Paman, bawalah Bibi Cristine ke ruang perpustakaan. Kalian juga ikut". Maxwell menunjuk ke kedua wanita yang baru datang. Begitu melihat tuannya, kedua wanita tersebut sontak terkejut dan nampak pucat.
Kini semuanya sudah berkumpul di perpustakaan mansion yang letaknya di lantai bawah. Maxwell duduk di samping Ayesha. Bibi Cristine dan yang lainnya duduk di lantai beralas karpet lembut yang tebal dan berbulu di depannya.
"Apakah ada yang ingin kalian katakan Bibi Grey dan Bibi Lorenz?", Maxwell menatap tajam pada dua wanita yang bersimpuh di samping Bibi Cristine.
"Selamat datang kembali Tuan...Mohon maaf kami tidak menyambut Tuan...Kami tidak tau...Ampunkan kami Tuan..", Keduanya seketika bersujud. Ayesha merasa risih.
"Tidak perlu begitu Bibi. Duduklah seperti biasa", ujar Ayesha.
"Jujurlah padaku sebelum aku menghukum kalian tanpa belas kasih", Maxwell berkata dengan dingin. Tatapannya menusuk ke arah para wanita di depannya.
"Apa maksud Tuan? Ampuni kami....Tuan...
Kami tidak menyambut Tuan dengan layak...". Bibi Grey mengiba.
"Jangan berpura-pura. Aku tidak suka pada penghianat".
Kedua wanita itu pun semakin pucat.
Maxwell mengambil ponselnya.
"Kemarilah", ujarnya ditelpon.
Terdengar suara ketukan pintu.
"Masuklah"
Pintu terbuka dan nampaklah tiga orang berbadan tinggi tegap. Para pengawal pribadi Maxwell dari Rusia.
"Bawa kedua wanita ini".
"Ampun Tuan...", Bibi Grey berseru memelas.
"Ampuni saya. Saya memang bersalah. Saya yang memberitau Sir Joeris letak ruangan bawah tanah".
Bibi Cristine nampak terkejut.
"Dari mana kau tau?", tanya Sang Bibi.
"Aku tak sengaja pernah melihat Bibi Cristine keluar dari ruang kerja Tuan dan ketika aku lewat, aku melihat ada pintu rahasia itu. Lalu..."
"Lalu kau yang memberitahukan musuhku untuk mendapatkan setumpuk uang?"
"Ampun Tuan. Tidak. Aku tidak begitu. Sir Joeris mengancamku untuk menunjukkan tempat itu dan jika tidak, dia akan membunuh semua keluargaku"
"Bukankah semua bawahanku tidak punya keluarga lagi?"
"Aku. Aku minta ampun Tuan. Aku masih punya seorang anak dan juga adik. Mereka tinggal di luar kota. Aku selama ini menutupi identitas mereka karena aku sangat membutuhkan pekerjaan ini. Ampuni aku Tuan", Bibi Grey mulai menangis. Ayesha hanya mencoba menelusuri raut muka wanita paruh baya yang nampak masih cantik itu. Ia tidak menemukan kebohongan di sana".
"Bagaimana denganmu Bibi Lorenz?"
"Aku juga minta ampun Tuan. Aku sudah membantu Bibi Grey karena aku juga mendapatkan pekerjaan di sini karena ditolong dia. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini karena aku juga masih mempunyai keluarga. Ampuni aku Tuan".
Tangan Maxwell terkepal. Ia cukup marah. Baginya, penghianatan dari orang yang dekat dengannya lebih menyakitkan dari sekedar kehilangan harta benda. Karena kepercayaan sangat mahal harganya. Dia sudah dibohongi oleh orang kepercayaannya sendiri selama bertahun-tahun bahkan juga dikhianati dengam membocorkan rahasia penting miliknya. Dari awal Maxwell sudah menerapkan aturan bahwa siapapun yang bekerja padanya di mansion ini haruslah orang-orang yang sudah tidak memiliki keluarga dekat lagi karena itu akan menjadi kelemahan untuknya.
"Bibi Cristine?", Maxwell membuang pandangannya yang jengah melihat Bibi Grey.
"Ampuni aku Tuan. Aku tak sadar jika Grey melihatku waktu itu"
"Kau ceroboh"
"Ampuni aku"
"Apa kau bisa ceritakan padaku mengapa musuhku tidak membunuhmu?"
"Aku akan menceritakannya Tuan", Paman Sam menyela lalu mendekati Bibi Cristine. Maxwell mengernyitkan dahi.
"Ini buktinya Tuan", Paman Sam tiba-tiba menyibakkan sedikit baju atas Bibi Cristine dan terlihatlah bekas luka jahitan di perut yang nampak masih baru. Lalu ia juga membalikkan tubuh Bibi Cristine untuk menyingkap baju di punggungnya dan terlihatlah guratan-guratan merah bekas luka seperti bekas cambukan yang memenuhi punggung yang sudah menua tersebut.
Refleks Maxwell berpaling. Ayesha pun terkejut dan menatap nanar ke arah sang Bibi. Bibi Grey dan Lorenz semakin menundukkan kepala. Sementara ketiga pengawal baru Maxwell hanya melirik sekilas dan tetap dengan pandangan datar mereka.
"Maaf Tuan. Sir Joeris memaksa Cristine untuk memberitaukan tempat rahasia itu dan menyiksanya seperti ini. Namun dia lakukan secara sembunyi-sembunyi untuk menutupi kecurigaan publik. Dan karena tidak berhasil dia kemudian mendekati Grey dan Lorenz", jelas Paman Sam.
Maxwell mendengus geram.
"Pengawal, masukkan kedua wanita ini ke penjara mansion. Paman Sam tunjukkan pada mereka tempat itu. Biarkan mereka tetap di sana sampai aku tak mengingatnya lagi".