
Maxwell ingin menguji sejauh mana kesetiaan para pembantunya yang selama ini tinggal di rumahnya. Dia sengaja datang mendadak untuk melihat bagaimana sebenarnya sikap para pembantunya di tengah pemberitaan yang santer dihembuskan oleh para musuhnya bahwa ia diduga sudah hilang dan mati dibunuh musuh bisnisnya di luar negeri.
Mengenai penghuni mansionnya ini, ada enam orang yang tinggal di mansionnya sebagai pembantu. Dua orang bernama Patch dan Peter sebagai security yang tadi mereka temui di pos depan dekat pintu gerbang. Mereka ini adalah para eks tentara yang bertubuh atletis yang memilih pensiun dini untuk kemudian bergabung bersama Maxwell dengan jaminan gaji besar dan kesejahteraan di hari tua dengan besaran asuransi yang besarnya tiga kali lipat upah untuk seorang tentara nasional di negerinya. Mereka berdua bertugas menjadi bodyguard-nya yang khusus menjaga di mansionnya saja dan sudah 5 tahun bekerja untuknya.
Yang berikutnya adalah Paman Sam yang bekerja sebagai tukang kebun. Ia adalah orang tua berusia 55 tahun namun masih nampak gagah dan kuat. Sudah bekerja di rumah Maxwell sejak Maxwell berusia 10 tahun. Jadi, hampir 20 tahun sudah ia mengabdi untuk keluarga Maxwell. Keempat adalah Bibi Cristine. Ia bekerja sebagai juru masak dan masa kerjanya sama dengan Paman Sam. Ia juga sudah tua dan usianya adalah yang paling tua di antara semuanya. Usianya sudah 60 tahun tapi masih terlihat seperti 50 tahun saja. Ini mungkin dikarenakan pola makan dan olahraga yang terjaga. Percaya atau tidak, meski ia seorang wanita, tapi darinya lah Maxwell senantiasa diingatkan untuk memakan makanan yang sehat yang dia masakkan khusus untuknya dan juga jogging di pagi hari sebelum matahari naik. Bibi Cristine adalah satu-satunya orang dari kalangan pembantu yang berani memarahi Maxwell dan tak pernah sekalipun ayah angkat Maxwell terlihat tidak suka pada tindakannya itu, bahkan termasuk yang mendukungnya jika suatu saat Bibi Cristine memarahi Maxwell maupun menghukumnya ketika kecil. Dan yang terakhir adalah Bibi Grey. Wanita yang masih berusia 45 tahun ini nampak selalu rapi dan bersih sesuai dengan tanggung jawab pekerjaannya yaitu menjamin kebersihan dan kerapian seisi rumah tuannya. Ia tentu saja tidak sendirian untuk mengurus rumah yang seluas dua kali lapangan bola tersebut melainkan dibantu oleh seorang wanita juga yang bernama Bibi Lorenz yang lebih muda usianya lima tahun darinya. Mereka berdua ini sudah 10 tahun lamanya bekerja untuk Maxwell dan keluarganya.
Maxwell kembali melangkahkan kakinya bersama Ayesha. Tak lama ia mendengar dering ponselnya berbunyi. Setelah menjawab sebentar ia kemudian menoleh ke belakang dan melihat dari jauh tiga pria berbadan tinggi tegap berjalan ke arahnya. Ternyata mereka adalah orang Rusia yang berprofesi sebagai body guard bayaran yang khusus dimintanya pada seorang pejabat Rusia yang direkomendasikan oleh Pavlo. Mereka sebenarnya berangkat bersama dari Rusia namun ketika menuju ke mansion mereka sengaja menjaga di belakang taxi dan kini menyusul. Patch menelpon Maxwell karena ketiganya menunjukkan identitas pengawal.
Pavlo, lelaki yang sudah sukses menjalankan misinya menjaga Ayesha itu tidak bisa menemani Maxwell pulang ke negerinya ini karena sudah terikat kontrak dengan milyarder lainnya di Rusia beberapa saat setelah ia selesai menjalankan tugasnya dari Maxwell ketika itu. Ketiga orang di belakangnya inilah yang terus mengawalnya dari Rusia hingga ke rumahnya di Australia ini.
Maxwell dan Ayesha terus melangkah mengitari ruang tamu rumahnya. Tidak ada perubahan dan sepertinya masih terrawat dengan baik. Semua benda pajangan maupun hiasan dinding dan lemari masih bagus, tertata dan tanpa debu. Lantai juga bersih seperti selalu dibersihkan. Maxwell mulai heran. Bergegas ia mengajak Ayesha untuk menuju kamarnya di lantai dua. Dibukanya pintu kamar dengan tidak sabar dan alangkah terkejutnya melihat yang terjadi.
Sesosok tubuh separuh baya yang sangat dikenalnya sedang terbaring memeluk sebuah bingkai foto di atas ranjangnya. Matanya terpejam. Tubuh itu nampak lebih kurus dari biasanya. Rambutnya terurai memutih menutup sebagian pipinya yang mulai menua. Terpancar raut kesedihan yang dalam di wajahnya meski sedang tidur.
Maxwell terpana. Bibi Cristine. Bisiknya. Mengapa dia di sini. Perlahan didekatinya tubuh perempuan yang sangat dekat dengannya di masa kecilnya ini. Namun ketika ia sudah beranjak dewasa semua wanita yang dikenalnya, kecuali neneknya adalah makhluk yang paling dibencinya. Dan kini selain neneknya, tentunya Ayesha yang sudah mulai merubah pandangannya terhadap lawan jenis.
Maxwell menyentuh tangan Bibi Cristine untuk memastikan keadaannya dan ia sangat terkejut. Dia merasakan tangannya cukup hangat. Dia lalu memeriksa keningnya dan sadarlah Maxwell bahwa wanita tua itu sedang demam. Suhu badannya terasa panas dan nampak sangat lemah.
"Apakah ini Bibi Cristine yang sering hubby ceritakan?"
"Ya. Dia demam"
"Sebentar", Ayesha bergegas ke lemari pakaian yang ada di kamar itu dan mengambil sebuah handuk kecil yang ia lihat lalu membasahinya dengan air di wastafel kamar mandi. Kemudian dia tempelkan ke kepala Bibi Cristine. Ayesha hanya tersenyum melihat perlakuan Maxwell yang nampak cemas. Hatinya menghangat melihat perhatian suaminya.
Maxwell menepuk-nepuk pipi Bibi Cristine sambil memanggil namanya dengan gusar.
“Bibi Cristine…Bibi…ada apa denganmu Bibi?”
Setelah dua menit berbicara di telpon dan memastikan si dokter tidak akan memberitahukan pada siapapun keberadaannya kini Maxwell pun beralih duduk di samping Ayesha yang sudah duduk lebih dahulu di dekat kepala sang bibi sambil memeriksa suhu badan sang bibi.
Sejak Maxwell masuk Islam dan khususnya setelah mengenal Ayesha dan keluarganya, sekarang rasa benci pada wanita di hatinya mulai pudar perlahan-lahan, termasuk terhadap Bibi Catrine. Sosok wanita yang pernah membuat hidupnya makin membenci sesosok wanita. Lamunannya mengenang masa lalunya yang pahit seketika buyar ketika dia menyadari bingkai foto siapa yang dipeluk oleh sang bibi dalam sakitnya.
Maxwell tertegun. Itu fotonya sendiri ketika masih berusia 10 tahun. Foto yang biasa di letakkannya di dalam lemari ruang tengah bersama foto mendiang ayah angkat dan neneknya. Perlahan dipindahkannya foto tersebut ke atas meja di sisi ranjangnya dan ia duduk mengamati wanita yang sekarang sedang tak sadarkan diri di atas tempat tidurnya.
Tak lama kemudian datanglah dokter pribadi Maxwell. Sosok lelaki paruh baya dengan kaca mata tersebut nampak terkejut melihat boss nya yang sudah lama menghilang itu dan juga Bibi Cristine yang sedang dalam kamar Boss nya. Sekilas ia melirik wanita bercadar di samping tuannya. Bergegas diperiksanya Bibi Cristine dan tak lama ia mulai memasangkan infus di tangannya.
“Bagaimana keadaannya dokter?”
“Dia hanya demam tinggi tuan. Saya sudah memberinya obat melalui infus ini. Sebentar lagi dia akan sadar. Untunglah tuan segera menemukannya, kalau tidak dia bisa mati dehidrasi karena kekurangan cairan”.
“Syukurlah kalau begitu. Ku harap kau lakukan yang terbaik untuknya”.
“Tentu saja tuan”.
Sang dokter nampak heran. Ia merasa ada perubahan dari cara tuannya berbicara. Ya, dia merasakan nada suara Maxwell tidak seperti biasanya. Tidak ada nada tinggi dan memerintah ataupun marah seperti biasanya. Ia cenderung merasakan bahasa dari tuannya lebih halus dan mengandung pengharapan bukan kemarahan seperti yang biasa ia terima jika berbicara dengan tuannya ini, orang yang sudah mempekerjakannya bertahun-tahun menjadi dokter keluarga sejak Maxwell berusia 10 tahun hingga sampai sekarang ini.
Setelah memastikan keadaan Bibi Cristine akan baik-baik saja Maxwell minta ijin pada instrinya dan keluar dari kamarnya dan diikuti oleh para bodyguard dan dokternya. Sementara Ayesha masih tetap menjaga sang Bibi. Sang dokter kemudian permisi pamit.
Maxwell menuju ruangan lainnya di samping kamarnya sendiri. Ruangan ini adalah ruangan kerjanya yang juga dilengkapi seperangkat tempat tidur dan lemari tempat pakaian kerjanya. Selama ini sebenarnya Maxwell lebih sering tidur di ruang kerjanya ini karena sering begadang mengurus bisnisnya. Meski ia juga berkantor di 100 perusahaan yang dimilikinya namun di rumah juga ia mempunyai ruangan kerja khusus untuk melakukan aktivitas seputaran pekerjaan dengan tumpukan dokumen-dokumen penting yang sifatnya tidak mendesak untuk ditandatangani.
Maxwell tercenung begitu membuka ruang kerjanya tersebut. Ada sedikit perubahan yang cuma ia yang bisa mengetahuinya. Dengan memberi sedikit kode, orang-orang yang berada di belakangnya segera keluar untuk berjaga. Maxwell bergegas mengunci pintu dengan sidik jarinya dan menuju lemari yang berisi dokumen-dokumen penting perusahaan besar yang dimilikinya. Dan ia menyadari sesuatu. Mereka sudah menggeledah isi ruangan ini dan berusaha mendapatkan propertiku dengan mencari dokumen-dokumen penting perusahaanku. Hm, dasar rakus. Tak semudah itu Joeris. Kau memang licik tapi aku lebih pintar darimu. Tunggulah saatnya. Kau akan mendapatkan balasan dari semua penghianatan ini. Gumamnya dalam hati. Maxwell tersenyum dan bergerak ke lemari dokumen yang terbuat dari kayu jati yang berat. Ia menyentuh sesuatu dari bagian kaki lemari di bagian sudut dan bergeserlah lemari tersebut sehingga terlihat sebuah tanda segi empat yang besar. Maxwell menekan jari jempolnya dan terpindailah sidik jarinya. Perlahan pintu bawah tanah pun terbuka. Sebuah lubang yang besar dengan tangga di dalamnya yang menuju ke ruang bawah tanah.
Maxwell masuk menuruni tangga dan menghidupkan saklar lampunya. Ia segera turun dan sampai ke dasar. Ia menarik nafasnya sesaat dan matanya nanar menyapu seluruh ruangan seluas 8 x 4 meter itu. Hm, sudah kuduga, ada penghianat di mansion ini, batinnya. Ia tersenyum sinis. Joeris, aku sudah tau sejak dulu, tak ada seorang pun yang bisa dipercaya di bumi ini untuk urusan uang dan harta. Aku sudah mengantisipasi semuanya dengan baik, gumamnya dalam hati. Ia hanya mengedarkan pandangannya melihat lemari-lemari brankas yang rusak dan brankas yang sudah terbuka dan berserak isinya. Kertas-kertas tak berharga nampak hancur diremas oleh si pelaku. Sekali lagi Maxwell tersenyum sinis dan bergerak kembali ke atas. Aku akan menemukan siapa penghianat itu, geramnya.