A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 48. I Miss You



Seminggu Kemudian


Ayesha memandangi foto pernikahannya.


I miss you, hubby, lirihnya. Hatinya sangat merindukan senyum dan godaan pria tampan di balik foto itu. Sudah seminggu lamanya ia belum mendapat kabar yang pasti tentang suaminya. Semua usaha sudah dicobanya. Para hacker dikerahkan untuk melacak kemana musuh Maxwell membawa pria Ausy tersebut pergi. Setelah penculikan menggunakan helly waktu itu, ia masih bisa melacak melalui GPS ponsel juga signal jam tangan canggih suaminya. Namun begitu helly membawa Maxwell pergi 10 menit kemudian, posisinya sudah tak terlacak. Betapa banyak tim yang diturunkan untuk mencari belum juga mendapatkan hasil yang memuaskan. Kini wanita cantik Rusia itu hanya bisa bertawakkal, hanya pertolongan Allah yang ia harapkan.


Ayesha kembali bersujud panjang dalam tahajjudnya di sepertiga malam terakhir. Air matanya mengalir tanpa bisa dibendung. Lirih ia meminta pada Rabb-nya untuk melindungi Maxwell suaminya dan mempertemukan mereka kembali di dunia jika itu memang yang terbaik menurut Allah. "Ya Allah, Engkaulah sebaik-baik Penolong dan hanya padaMu-lah kami serahkan kehidupan kami. Aamiin", doa nya. Selanjutnya sambil menunggu Subuh, wanita sholihah itu pun menuangkan segala perih hatinya dalam lantunan ayat-ayat suci Al Quran yang pasti akan menyentuh hati siapa pun yang mendengarkannya. Siapapun akan tau bahwa ada curahan hati yang memilukan di dalam suara yang lembut berbarengan dengan isak tangis itu. Dan di sana, di balik pintu kamar sang Nyonya, sepasang mata tua turut meneteskan air mata merasakan kepedihan yang sama karena kehilangan orang yang amat dicintai.


Ayesha membereskan semua filenya dan bergegas akan ke kantor seperti biasa. Bibi Cristine sudah membaik dan ia selalu menyemangatinya bahwa Maxwell pasti akan baik-baik saja karena suaminya itu bukan lelaki biasa. Selama ini ia selalu lolos dari maut, itu artinya Tuhan terus melindunginya. Bibi Cristine adalah seorang penganut Kristen yang taat. Kadang Ayesha berpikir, jika pengasuhnya orang yang taat mengapa dulu Maxwell sempat menjadi atheis dan sangat membenci Bibi Cristine.


Supir perempuan sekaligus body guard baru Ayesha sudah tiba tiga hari lalu. Wanita tangguh yang bernama Zeny itu khusus dikirim Pavlo untuk mengawal Ayesha kemana pun dia pergi selama 24 jam. Mark yang menghubungi Pavlo dan kini Ayesha terkadang langsung berkomunikasi dengan Pavlo tentang pencarian Maxwell. Zeny kini mengantarkan Ayesha dan sekarang mereka sedang menuju ruang rapat.


Sejak menjadi Presdir menggantikan suaminya, Ayesha selalu disibukkan dengan berbagai meeting dalam rangka pemulihan perusahaan karena mulai banyak goncangan setelah kepergian sang suami. Dia merasa beruntung karena kedua pengacara Maxwell bisa diandalkan dan merekalah yang selama ini bekerja keras membantunya dan meneguhkan kedudukannya. Ditambah lagi saat ini Luke sudah ditemukan dan ia kembali membantu sang presdir yakni saat ini Ayesha untuk membereskan perusahaan. Ia adalah tangan kanan Maxwell selama ini yang juga dikabarkan hilang tak lama setelah hilangnya Maxwell yang diculik Joeris. Rupanya ia juga turut menjadi korban Joeris dan akhirnya ia bisa selamat karena ditolong pacarnya yang mengerahkan orang-orang suruhannya untuk mencarinya hingga ke Bali, Indonesia.


Saat ini dengan surat wasiat terbaru Maxwell atas pelimpahan kekuasaan perusahaan ke Ayesha sebagai istri sahnya, posisi Ayesha sebagai Presdir menjadi tak terbantahkan. Bukti-bukti surat pernikahan yang valid dan juga bukti-bukti penghianatan Joeris yang terekam dalam file rekaman jam tangan Maxwell yang sempat di hack oleh Ayesha sebelum hilang kontak dengan Maxwell, semuanya menjadi saksi di pengadilan dan membuat Ayesha bernafas lega. Mark dan timnya, Patch, Peter dan yang lainnya yang masih setia pada suaminya masih terus berusaha mencari keberadaan suaminya sampai saat ini. Kabar terbaru sedikit memberikan Ayesha harapan, bahwa kemungkinan Maxwell dibawa ke arah Bundaberg dan saat ini Mark dan timnya sedang menuju ke sana.


"Pagi Nyonya"


"Pagi"


"Semua staf yang Anda panggil sudah bersiap. Silakan".


"Well. Thank You Sir. Luke"


"Panggil saja saya Luke Nyonya"


"Oh tidak. It's impolite. Aku akan terus memanggilmu Mr. Luke"


"Baiklah Nyonya. Terima kasih juga", Luke tersenyum dan menundukkan punggungnya lalu mempersilakan Ayesha memulai meetingnya.


Hari sudah sore dan sebentar lagi masuk waktu magrib. Ayesha bergegas pulang dan seperti biasa Zeny mengawalnya. Mr Luke yang bertemu di depan lift khusus segera memundurkan dirinya dan mempersilakan Tuannya masuk lebih dulu. Kini mereka bertiga berada di dalam lift.


"Anda sangat bekerja keras hari ini Nyonya. Sebaiknya istirahat saja dulu. Besok saya bisa handle perusahaan", ujar Luke dengan kepala menunduk.


"Tidak begitu Mr. Luke. Berkat Anda dan semua tim lah maka kita bisa menyelesaikan masalah perusahaan yang ada. Saya sangat berterima kasih pada Anda sekalian", Ayesha menyahut dengan bahasa yang datar tanpa ekspresi. Matanya tetap pada posisi ke arah pintu. Zeny berdiri setia di sampingnya. Sementara Luke nampak menjaga jarak lebih ke sudut. Ia merasa sungkan pada majikan perempuannya ini karena selama mereka berkenalan ia melihat sikap nyonya-nya memang unik tak seperti wanita boss pada umumnya. Kesederhanaan dalam penampilan. Ketertutupan tubuh seutuhnya dengan hanya terlihat sepasang mata dan sedikit batang hidung yang tinggi dan putih bersih. Belum lagi suara yang tegas dan datar pada pria yang mengajaknya bicara. Namun ketika bertemu pegawai wanita suaranya akan terlihat sedikit lembut. Luke mulai penasaran dan ingin tahu lebih banyak lagi.


Tiba-tiba lift macet. Zeny segera mengeluarkan ponselnya. Namun mendadak jaringan hilang. Ayesha juga melihat ke ponselnya dan sama. Luke sudah lebih dulu melakukannya dan ia menggelengkan kepalanya. Pria itu kini menghadap ke kamera di sudut atas lift dan menginfokan bahwa mereka sedang terjebak, namun sudah ditunggu 5 menit belum ada tanda-tanda respon dari pihak manajerial maupun teknisi.


Udara semakin gerah. Sesekali Zeny mengeringkan keringat di dahinya dengan tisyu dari kantongnya. Ayesha sendiri nampak tenang meski di balik pakaiannya keringat mengucur deras. Ia teringat dengan sabotase sebelumnya. Ia semakin meningkatkan kewaspadaannya. Zeny mengulurkan minuman mineral yang masih bersegel ke arah tuannya.


"Minumlah Nyonya. Ini bisa membantu sedikit"


"Thanks a lot Zeny", Ayesha menerima minumannya dan dengan cepat berbalik dan menenggak sedikit minuman tersebut tanpa menyentuh ujung botol dengan bibirnya. Kemudian ia mengembalikannya pada Zeny. Luke hanya memperhatikan semuanya.


"Anda juga minum. Jangan khawatir, bibirku tidak menyentuhnya"


"Terima kasih Nyonya. Ini untuk Anda saja. Aku bisa minum setelah kita keluar"


"Minumlah sekarang Zeny"


"Baiklah. Thanks Madame"


Zeny pun akhirnya meminum air mineral yang diberikannya tadi. Hatinya merasa hangat mendapat perlakuan sang majikan barunya.


"Semuanya waspada. Ini mungkin sabotase lagi", Ayesha memperingatkan. Dan benar saja, begitu pintu terbuka serentetan serangan tendangan dan senjata tajam dari gerombolan orang-orang bertopeng menyambut mereka dengan gencar.