A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 117. Siapa Boss Kalian?



Mark dan Grace baru saja selesai sarapan pagi ketika kemudian panggilan di ponsel Mark berdering. Pria gagah yang barusan berbunga-bunga hatinya karena mendapatkan sikap lembut dari istrinya itu kemudian mengambil ponselnya dan menerima panggilan tersebut. Suara di seberang yang sudah lama sekali tidak pernah didengarnya sejak beberapa waktu ini membuatnya sangat penasaran.


"Ada apa Bos?"


"Apa?"


"Baiklah. Aku akan segera kesana", ujar Mark mengakhiri panggilan di ponselnya. Setelah meletakkan kembali ponselnya, Mark pun menoleh ke arah sang istri.


"Sayang, ada hal yang harus aku lakukan, aku tinggal dulu ya...", ujarnya dengan perasaan tak enak pada sang istri yang masih bersandar di tempat tidur.


"Apakah engkau perlu seseorang untuk menemanimu saat ini?"


"Apa yang akan suamiku lakukan?", sorot mata Grace menyiratkan keengganannya untuk ditinggalkan oleh sang suami.


"Nanti engkau akan tahu juga. Yang jelas ini sangat penting. Maafkan aku tidak bisa mengatakannya sekarang", Mark sangat tidak enak hati. Baru saja mereka merasa dekat namun ia harus meninggalkan sang istri.


"Ya sudahlah. Mungkin aku memang belum mempunyai hak atasmu sebagai seorang istri", Grace berpaling menatap jendela kamar di sisi kanannya. Dia terlihat begitu sensitif. Tanpa disadari Mark, ada senyum di sudut bibirnya.


"Maaf sayang, bukan itu maksudku....", Mark sangat bingung. Di satu sisi ia tidak ingin membuat Grace salah paham, tapi di sisi lain Ia sadar bahwa pekerjaannya sebagai seorang bodyguard kepercayaan seorang Big Bos seperti Maxwell Powell adalah suatu hal yang menuntutnya untuk senantiasa menjaga segala sesuatu yang berhubungan dengan bosnya tersebut, dan kali ini ia harus benar-benar menjamin bahwa hanya dia dan orang yang menelponnya barusan lah yang tahu berita ini.


"Aku tidak bermaksud merahasiakan sesuatu kepadamu tapi ini sungguh tidak bisa aku katakan padamu saat ini. Percayalah!"


Grace masih tidak bergeming. Mark nyaris putus asa.


"Aku janji, setelah ini, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu di sisimu hingga engkau sembuh, dear. Aku akan minta Boss untuk cuti...", Mark bicara hati-hati. Ia menatap sang istri dengan pandangan memelas. Ia memutari tempat tidur dan kini meraih wajah lembut di depannya untuk menghadap ke matanya.


"Boss?", Grace berpaling menatap Mark. Ia heran.


"Maksudku...Boss, Nyonya Boss. Nyonya Ayesha, ya...Nyonya...", oh hampir saja....batin Mark.


"Sayang....aku...janji...", Mark mengangkat ke dua jari tangan kanannya dan menatap ke dalam manik mata wanita berjilbab di depannya. Jarak wajah mereka hanya sekitar tiga jengkal saja. Grace terkesiap diperlakukan seperti itu. Ia ingin berpaling karena malu tapi Mark tidak mengijinkannya. Tanpa permisi, secara tiba-tiba sebuah ciuman lembut di bibir pink yang pucat itu mendarat. Mencoba menembus namun tidak berhasil. Grace nampak sangat kaku. Ia masih menutup mulutnya rapat-rapat.


"Sayang...buka mulutmu...", Mark menahan diri. Grace refleks membuka mulutnya. Pria yang baru beberapa waktu lalu sah menjadi suaminya itu pun mulai melanjutkan aksinya. Semula lelaki gagah yang berasal dari Moska itu hanya berniat untuk meredakan kemarahan sang istri, berniat merayunya dengan sekecup ciuman, namun entah kenapa sekarang ia malah berharap lebih. Ada nafsu di sana yang tak sanggup ditahannya melihat sifat kaku dan polos sang wanita yang bahkan sebelum dinikahinya tersebut terlihat cukup menggemaskannya.


"Ahhhh....", lirih Grace tatkala berusaha mengikuti permainan lidah sang suami di dalam rongga mulutnya.


Setelah beberapa saat, keduanya pun melepaskan adegan dewasa itu dan saling mengatur nafas.


"Please...maafkan aku...", Mark terus manatap wajah cantik di depannya. Akhirnya Grace pun tak tahan.


"Aku tidak bermaksud begitu suamiku. Aku tau", tiba-tiba ada senyum di sudut bibir Grace.


"Engkau tidak perlu khawatir. Aku hanya bercanda saja. Pergilah dan jangan khawatirkan aku disini. Aku baik-baik saja. Jika ada perlu apa-apa, aku cukup menekan tombol itu bukan? Maka pelayan akan datang kemari", ujar Grace parau. Mark merasa sangat lega.


"Ah aku sudah takut tadi. Sayang, engkau sangat memahami diriku. Terima kasih. Maafkan aku meninggalkanmu lagi pagi ini".


" Tidak mengapa, Suamiku. Pergilah".


Mark pun beranjak menuju pintu kamarnya namun tiba-tiba ia berbalik dan kembali mendekati sang istri. Tanpa aba-aba, pria tampan itu kemudian kembali mendaratkan kecupan di kening dan di bibir Grace secara singkat. Grace pun merona untuk kesekian kalinya pagi ini.


"Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik. Percayalah aku tidak akan lama. Sampai nanti", Mark pun pergi.


Grace hanya menatapnya dengan tatapan tak percaya. Pintu pun tertutup sehingga suaranya menyadarkan Grace akan apa yang barusan terjadi padanya. Dia mengecup kening dan bibirku, gumamnya. Wajah wanita muda itu makin memerah. Dia merasakan sesuatu yang hangat dalam hatinya. Bibirnya pun menyunggingkan senyuman. Beginikah rasanya setelah menikah? Batin Grace. Wanita cantik itu memang cukup polos di usianya yang bukan remaja lagi saat ini. Kehidupan yang selama ini keras menempanya sepertinya memang tidak pernah memberikan waktu kepadanya untuk memikirkan hal-hal yang berbau romantis. Semua karena hampir seluruh hidupnya dipenuhi oleh rasa ketakutan akan ancaman terhadap nyawanya sehingga ia tidak pernah berpikir untuk menyukai lawan jenis, dan Mark adalah kesan pertamanya terhadap pria, kesan dalam hatinya yang mampu menggetarkan jiwanya dan menimbulkan rasa bahagia terhadap seseorang. Ah, aku sangat senang dengan sikap manisnya. Apakah ini cinta? Ia mulai mengingat pertama kali bertemu dengan Mark ketika pria yang sekarang jadi suaminya itu menolongnya dalam penculikan bersama Bibi Christine. Selanjutnya bagaimana ia beberapa kali bersentuhan dengan cukup memalukan dengan pria yang bukan mahramnya tersebut hingga ia pernah beberapa kali mengangkat tangan berdoa pada Rabb-nya, agar ia dihalalkan dari dosa yang sudah diperbuatnya karena sentuhan-sentuhan tersebut. Dan ternyata Tuhan telah mengabulkan doanya. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Rabb-nya kini mengabulkan doanya, benar-benar mengabulkannya. Ia kembali disentuh oleh orang yang sebelum halal pernah menyentuhnya meski bukan sengaja. Menyentuh dengan menggendongnya ketika terluka dan pingsan ketika diculik. Menyentuh dengan menangkapnya ketika jatuh di ruang rawat inap rumah sakit. Dan menyentuh ketika tenggelam di kolam renang. Ah, mengingat semua sentuhan yang tidak halal ketika itu membuat Grace cukup merasa malu karena ia sungguh merasa telah melakukan dosa dan berpikir bahwa ia tidak layak disebut seorang muslimah. Bukankah seorang wanita muslim hanya boleh disentuh oleh mahramnya atau suaminya?


Sementara itu, di sebuah ruangan yang cukup luas, terlihat seorang pria yang baru saja selesai makan siang kini sedang berdiri menghadap ke luar jendela. Di bangunan pencakar langit berlantai 50 itu ia sudah beberapa hari terperangkap dan kini sangat gelisah. Ia melirik luka-luka kecil di tubuhnya yang sudah kering dan memegang kepalanya yang sudah tidak berbalut perban lagi. Ia masih merasa sedikit pusing. Pria tampan yang tak lain adalah Boss Besar Powell Group yang baru saja pulih ingatannya itu berbalik dan menatap tajam ke arah dua orang pria yang selama ini setia menjaganya.


"Kapan aku bisa keluar dari ruangan yang membosankan ini?"


"Secepatnya Tuan Muda. Jika Tuan sudah dinyatakan aman maka Tuan akan segera keluar dari sini", jawab salah seorang yang berbaju putih.


"Aku sudah merasa lebih baik sekarang. Aku harus segera keluar", Maxwell merasa kesal. Ia sangat ingin bertemu Ayesha. Pikirannya sudah dipenuhi bayang-bayang wajah sang istri yang pasti sangat mencemaskannya.


"Sabarlah Tuan Muda. Mungkin sebentar lagi Tuan akan segera keluar. Maafkan kami karena kami tidak bisa membawa Tuan keluar sebelum mendapat perintah", respon seorang lainnya yang berbaju biru.


"Siapa sebenarnya Boss kalian?", Maxwell belum juga mengetahui Boss Besar yang dimaksud para penjaganya selama ini. Hatinya diliputi tanda tanya. Selama ini ia merasa sangat diperhatikan oleh seseorang yang sangat berkuasa tapi ia tak tau siapa.


"Tuan akan tau segera".


Maxwell menarik nafas pelan. Jawaban sang pengawal selalu sama. Baiklah, pikirnya. Aku tak akan bertanya lagi hal yang sama. Percuma. Hanya sabar, itu kuncinya. Batin sang pria yang dipanggil Tuan Muda oleh para pengawal barunya tersebut. Ketika melirik jam dinding, ia pun perlahan berjalan ke kamar mandi. Ia bermaksud hendak mengambil wudhuk untuk sholat Ashar ketika bunyi suara deringan ponsel memecahkan kesunyian. Sang pengawal terlihat mengangkat panggilan di seberang. Ia menjauh dan menerima telpon tersebut. Tak lama kemudian pengawal berbaju putih itu kembali mendekati sang Tuan Muda.


"Anda harus bergembira Tuan Muda. Hari ini juga semua keinginan Anda akan segera terwujud".


"Maksudmu?"


"Tuan akan segera tau siapa Tuan Besar dan beliau yang akan mengantarkan Anda keluar".


"Good. Terima kasih", Maxwell tersenyum. Hatinya seketika bahagia. Tak sabar ia pun bergegas melanjutkan niatnya untuk sholat dan menunggu kedatangan sang Tuan Besar yang selama ini membuatnya penasaran tersebut.


Maxwell pun membaca sekilas headline di news paper tersebut dan seketika terkejut ketika mendapati berita tentang kematiannya.


"Apa maksud semua ini?", matanya menajam. Ia meneluri semua baris tulisan tentang berita mangkatnya tersebut yang menjadi topik utama.


"Nanti Tuan akan segera mengetahui semuanya untuk lebih jelasnya.


Maxwell memegang kepalanya. Bukan tentang berita kematiannya tersebut yang membuatnya terkejut dan kembali sakit kepala, tapi yang ada dalam pikirannya adalah sang istri yang sedang mengandung anaknya.


"Bagaimana dengan istriku?", tanyanya dengan bibir gemetar. Ia melemparkan koran di tangannya dan kembali duduk di sofa.


"Nyonya baik-baik saja Tuan Muda. Jangan khawatir".


"Kau tidak berbohong kan?"


"Saya pastikan itu tidak salah Tuan Muda. Nyonya wanita yang sangat kuat. Hari ini juga Tuan Muda akan segera keluar bukan? Tuan akan segera membuktikan ucapan saya"


"Baiklah. Aku percaya padamu".


"Sekarang Tuan Muda harus segera beristirahat kembali. Tidak lama lagi orang yang Tuan nantikan akan datang dan kami diperintahkan Anda harus sudah minum obat yang terakhir ini dan kembali tidur".


Sang pengawal memberikan sebuah piring kecil berisikan beberapa butir obat, sebotol cairan seperti syrup dan segelas air putih. Dengan patuh tanpa pertanyaan, Maxwell pun mengambilnya dan menghabiskannya. Setelah lima belas menit kemudian, ketika ia sedang tenggelam dalam bacaan zikir yang selama ini diamalkannya selama tak berdaya dalam perawatan para penjaganya, ia pun terlihat sangat mengantuk dan jatuh tertidur di sofa.


Kedua pengawal yang melihat reaksi obat sudah bekerja, kini serentak meraih tubuh sang Boss Muda dan mendudukkannya ke sebuah kursi roda yang sudah tersedia. Dalam posisi mata terpejam, keduanya pun menjaga posisi Maxwell agar tetap nyaman. Tak lama menunggu, terdengar ketukan di pintu dengan sandi khusus. Salah seorang pun membuka pintu setelah mengintip dari lubang intai di pintu.


"Dia sudah tidur?", muncul seseorang berbadan tinggi tegap dengan tato menyembul di kerah bajunya. Ia datang sendirian dan kemudian menutup pintu kembali.


"Sudah Boss".


"Good".


Sang pria yang dipanggil Boss yang tak lain adalah Pavlo itu kemudian duduk di dekat Maxwell. Selang sesaat kemudian terdengar getaran panggilan di ponselnya. Ia pun mengangkatnya.


"Kau sudah berada pada posisi yang benar. Ketuklah pintu dengan sandi dua satu dua", Pavlo mengakhiri panggilannya.


Tak lama pintu kamar pun diketuk dengan sandi dua ketikan berhenti dan satu ketukan kemudian dua ketukan lagi. Sang pengawal pun mengintip lagi dari lubang intaian dan membuka pintunya. Sebuah wajah seorang pria pun muncul di pintu dan seketika masuk menghambur ke arah Pavlo. Setelah terjeda sesaat dengan pandangan heran, keduanya pun kini saling berjabat tangan dan merangkul bahu masing-masing.


"Wah Anda memang selalu memberikan aku kejutan Boss", ujar sang pria yang barusan datang.


"Dalam dunia Bodyguard kita, tidak perlu terkejut untuk sering berjumpa di manapun dan kapanpun bukan?".


"Anda benar Boss. Lalu dimana Boss....", belum saja sang pria menyelesaikan kalimatnya Ia pun mendapatkan kejutan sekali lagi manakala melirik seseorang yang sedang duduk tertidur di kursi roda di dekat seseorang yang dipanggilnya Boss tersebut.


"Apa artinya semua ini Boss? Anda yang sedang menyelamatkan Bos Besar Powell Group?"


"Seperti yang kau lihat sekarang".


"Karena itu Anda memanggilku kemari?"


"Tentu saja. Apakah ada hal lainnya yang lebih penting dari ini..."


"Oh syukurlah Anda ternyata selamat Tuan. Aku memang sangat yakin tidak semudah itu Tuan Maxwel mati tragis seperti itu bukan?". Sang pria pun berlutut di dekat kursi roda. Ia meraba sang Bos Besar yang selama ini dijaga nya dan mengantarkannya kepada jodoh yang tak disangka-sangka.


"Nyonya pasti akan sangat bahagia mengetahui ini semua... oh God, terima kasih", gumamnya lirih. Ia mengusap wajahnya dengan penuh rasa syukur.


"Terima kasih Bos Pavlo".


"Tak usah mengatakan itu. Ini merupakan kewajiban ku. Sama juga dengan dirimu".


"Maksud Anda Apakah Anda juga mengawal seseorang yang memerintahkan anda untuk menyelamatkan Tuan Maxwell?"


"Engkau pikir bagaimana? Tentu saja. Hidup seorang Bodyguard hanya melakukan semua perintah para Bos yang dikawalnya bukan?"


"Benar Tuan. Dan bukankah aku sampai di benua Australia ini juga karena mengikuti perintahmu sebagai bosku yang pertama?"


"Aku tidak menganggapmu sebagai anak buahku. Engkau adalah partnerku"


Pavlo pun tersenyum. Ia menepuk pundak sang pria yang sudah dianggapnya seperti anaknya tersebut. Sejak remaja ia telah bersama pria di depannya ini dan selama ini sang pria tersebut menganggapnya juga seperti orang tua dan Mark pun menjadi anak yang patuh. Semua yang dikatakan Pavlo selalu diturutinya termasuk perintah ketika menjadi pengawal sehingga meninggalkan Moskwa untuk pindah ke Sidney ini.


"Bolehkah aku tau siapa Bos Tuan saat ini?"


"Nanti engkau juga akan tau, bersiaplah! Kita tidak punya waktu yang banyak. Kita harus membawa Tuan ini dan mewujudkan keinginannya sebelum ia terbangun dan mengamuk".


"Baiklah Tuan. Walaupun hatiku masih penuh dengan pertanyaan, tapi aku akan segera melaksanakan perintah".


"Good, Anak Muda. Engkau memang anak yang patuh", Pavlo pun tersenyum. Mereka kemudian bergegas membawa sang Bos Muda yang masih tertidur dengan tenang dan perlahan mendorong kursinya keluar dari ruangan presiden suit mewah di lantai teratas tersebut menuju bandara internasional.