
Sudah lebih dari dua puluh menit lamanya mobil-mobil mewah itu melaju membelah keramaian jalan sore di pusat kota Sydney. Mobil di urutan ketiga terdiri dari Maxwell, Ayesha dan Ahmed serta Kakek Vladimir, dimana Mark sebagai driver-nya. Di belakangnya, Diego bersama Ali di tempat kemudi membawa noni-noni Rusia yang bercengkrama dengan canda tawa di belakang. Ada dr Anne, Yovanna, Linores dan Elena. Turut pula Jane, pengawal pribadi Ayesha yang sudah kembali sebelum perhelatan. Ayesha sengaja menempatkannya untuk mengawal para sahabatnya meski terpisah mobil dengan selalu mengawal di belakang mereka. Bagaimanapun ia dan suaminya harus tetap waspada karena para musuh akan terus mengawasi dan mengincar mereka. Kedua mobil mewah anti peluru berwarna putih yang berjalan menuju mansion Maxwell itu pun dijaga ketat di depan dan belakang oleh enam buah mobil lainnya berisi para pengawal berkemampuan khusus.
Ayesha melirik sang suami di belakangnya yang duduk bersama kakaknya, Ahmed. Pria itu nampak sibuk dengan gadget kecilnya. Wanita Moscow itu menarik nafas sesaat dan melihat kembali sang kakek yang nampak tertidur di sampingnya. Sambil tersenyum, ia pun meraih kepala orang tua terkasihnya itu dan menyandarkannya di bahunya. Sang kakek menggeliat sesaat namun kemudian kembali tertidur. Bibirnya tersenyum. Sang cucu yang melihat turut pula tersenyum dan berbisik pelan.
“Tidurlah kakek ku sayang. Nanti jika sudah tiba di mansion aku akan membangunkanmu”, ujar Ayesha. Sir Vladimir tidak menjawab. Ia tetap memejamkan mata dan tersenyum tipis. Ayesha meraih tangan keriput itu dan menciumnya pelan. Sesekali tangan berkulit halus itu memijit pelan tangan sang kakek beragantian, kanan dan kiri.
Mark yang bertugas sebagai driver sang Big Boss mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Ia sesekali melirik kaca spion di kanannya dan setelah beberapa kali mendapati sesuatu yang mengundang perhatiannya ia pun merasakan sesuatu yang mencurigakan. Sambil terus memperhatikan ia pun mengaktifkan ear phone nya.
“Ada mobil sport hitam di sisi kanan. Jauhkan dia dari kami”, ujarnya kepada anak buahnya di seberang.
Ayesha yang tak sengaja memperhatikan ke depan dan mendengarkan pembicaraan Mark pun mulai bersikap waspada. Ia melihat keluar dan mendapati mobil sport hitam yang dimaksud. Wanita cantik bercadar itu memejamkan mata sejenak untuk berdoa. Ada firasat tidak enak menyelinap di hatinya. Ia buru-buru beristighfar dan fokus dalam zikirnya. Ia kembali menoleh ke arah kedua pria di belakangnya yang bersamaan juga tengah memperhatikannya. Karena tak ingin mengganggu sang kakek yang tidur, wanita cantik yang sedang mengandung buah hati sang The Emperor itu pun meraih ponselnya dan memberi pesan pada suami dan kakaknya sekaligus.
Ahmed dan Maxwell yang mendapat pesan bersamaan pun langsung memeriksa ponsel mereka dan kini saling menatap. Maxwell meraih ear phone di sakunya dan menggunakannya. Berbisik pelan, ia pun memberi instruksi pada Mark dan Diego.
“Hentikan mobil yang mencurigakan itu segera. Buat kamuflase setelah aman”, perintah Maxwell yang hanya dimengerti oleh kedua orang yang diajaknya berbicara. Mendadak terdengar decitan suara mobil yang berhenti mendadak dan suara benturan. Ayesha dan Ahmed menyaksikan sebuah mobil sport hitam yang kini berputar dan menabrak badan jalan di sisi kanannya. Sontak para pengendara lainnya pun merem mendadak dan ada sebuah mobil yang tak siap dengan kondisi di depannya akhirnya turut menabrak mobil sport tersebut meski kemudian mampu menahan laju kendaraannya. Kemacetan langsung terjadi di belakang mobil-mobil rombongan sang Big Boss itu. Sementara sang Big Boss kembali melaju dengan tenang seperti tidak pernah terjadi sesuatu. Tiba-tiba Ayesha dan Ahmed merasakan suatu pergerakan pada mobil yang mereka naiki. Mereka merasakan posisi duduk mereka semakin tinggi dan kini mobil sudah berubah bentuk menjadi memanjang dan membesar seperti mobil box. Kedua kakak adik itu pun menarik nafas mereka menahan kekagetan. Mereka baru menyadari bahwa mereka sedang menaiki mobil langka yg mirip power rangers, bisa berubah bentuk melakukan kamuflase. Mobil yang limited produksi di dunia, hanya bisa dimiliki orang-orang dengan jumlah uang unlimited pula di mata manusia.
“Mark, putar jalan sesuai plan B”, lanjut Maxwell meneruskan perintahnya. Sang driver pun mengikuti perintahnya dan terjadilah formasi baru. Mobil mereka membelok ke kiri menuju arah rumah sakit sedangkan mobil di belakangnya terus lurus bersama tiga mobil pengawal lainnya di bawah komando Patch dan Jane. Tiba di rumah sakit, Maxwell dan rombangannya pun keluar. Pengawalan ketat terasa menegangkan. Ayesha berbisik ke suaminya. Maxwell mengangguk dan memberikan perintah ke Mark. Sang tangan kanan pun berbisik lewat ear phonenya. Tak lama datanglah dua orang pengawal khusus yang menjemput Sir Vladimir dan Ahmed.
“Kakek, teruslah bersama kak Ahmed menuju mansion suamiku. Kami akan menyusul setelah menjenguk Grace”, ucap Ayesha ke sang kakek yang lekat menatapnya.
“Aku bisa ikut dengan kalian. Tidak mengapa. Aku sudah tidak lelah lagi. Jangan khawatirkan kakek, Sayang”, sahut Sir Vladimir. Lelaki tua itu pun berbalik ke arah rumah sakit, dengan santai meninggalkan Maxwell dan Ayesha yang terpana menatap punggungnya.
“Kalian boleh kembali”, Maxwell menyuruh kedua anak buahnya kembali. Ahmed yang sejak tadi hanya memperhatikan kini turut menyusul di belakang sang kakek.
“Tenanglah honey, pengawalan sudah maksimal”
“ I see. Semoga Allah selalu melindungi. Aamiin”
“Aamiin”
Ayesha pun menyusul bersama suaminya di belakang sang kakek dan kakak menuju ruangan VVIP di lantai tiga paling atas, tempat dimana Grace dirawat. Mereka mendapat kabar bahwa sang dosen mendapatkan musibah kecelakaan ketika menuju gedung resepsi. Belum jelas penyebab kecelakaan namun Maxwell merasa ini bukan kecelakaan biasa mengingat sang bibi muda sudah beberapa kali mendapat percobaan pembunuhan.
Setelah sampai di ruangan dengan menggunakan lift, Ayesha pun masuk lebih dulu setelah mendapat kode dari sang perawat wanita yang baru saja keluar dari ruang rawatan. Yang lain menunggu di luar sampai mendapat info dari Ayesha jika adik Bibi Christine sang pengasuh Maxwell itu sudah bisa dijenguk.
“Assalaamualaikum Miss Grace, bagaimana keadaanmu sekarang?”
“Wa alaikumussalaam. Alhamdulillah, aku tidak apa-apa Nyonya”
Ayesha yang terlihat cemas mendekati sesosok tubuh yang sedang berbaring dengan kepala berbalut perban. Kaki kanannya yang patah kini sudah digips. Wanita cantik yang nampak pucat itu pun tersenyum. Ayesha membantu menggunakan jilbab segi empat yang coba dipakai Grace dengan susah payah dengan sebelah tangannya yang bebas dari selang infus. Tak lama ia pun selesai dan Grace berusaha untuk duduk. Ayesha pun kembali membantunya menaikkan sandaran dengan system otomatis.
“Bagaimana bisa terjadi kecelakaan ini? Bukankah ada para pengawal yang menjemput dan melindungi?”, batin Ayesha, tapi ia hanya memendamnya, ia tak ingin menambah beban ketakutan di hati Bibi suaminya itu mengingat berbagai peristiwa pembunuhan sudah sering terjadi padanya.
“Bagaimana mungkin tidak apa-apa jika kepala dan kaki luka luka seperti ini”, gumam Ayesha. Lagi-lagi Grace hanya tersenyum menyaksikan kecemasan sang Nyonya yang nampak tulus mengkhawatirkan keadaannya.
“Syafakillaah syifaa an ‘ajiilan. Semoga Allah segera menyembuhkan semua cedera ini dengan paripurna. Aamiin”, doa Ayesha di depan Grace. Sang dosen cantik pun mengaminkan.
“Ada suamiku dan juga keluargaku yang ingin menjenguk. Juga ada seorang pengawal yang pastinya sangat mengkhawatirkanmu”, Ayesha berhenti dan mengulum senyum. Grace merona, ia sudah paham siapa yang dimaksud sang Nyonya besar.
“Bolehkah mereka masuk?”, tanya Ayesha yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Grace. Wanita bercadar itu pun memberi kode pada sang perawat untuk memberikan info pada keluarganya yang di luar untuk masuk. Kini masuklah Sir Vladimir, Ahmed, Maxwell dan Mark ke ruangan rawat VVIP yang cukup luas itu. Mereka berjalan mendekati bed yang berada di ujung. Sir Vladimir yang baru kali ini bertemu dengan Grace turut mendoakannya dan menyemangatinya. Yang lain hanya berdiri di sekitar bed menyaksikan keadaan sang pasien.
“Sabar ya Miss Grace. Semoga Allah menggugurkan dosa-dosamu yang lalu dengan musibah kecelakaan ini. Tetaplah semangat, Insyaa Allah kamu masih muda, akan cepat sembuh, karena sel-sel yang rusak akan segera pulih dengan cepat. Tidak seperti orang tua bangka sepertiku, yang sel-sel tubuhku tentu lebih tua dan akan sangat lama pulih jika mengalami hal seperti ini”, nasehat sang kakek menyejukkan hati, diselingi canda yang membuat mereka yang ada di ruangan yang awalnya ta’zim mendengarkan namun seketika tersenyum.
“Terima kasih kakek. Kakek sungguh baik. Pantas saja Nonya juga cantik dan baik karena berasal dari keturunan yang baik pula seperti kakek ini”, sahut Grace tulus.
“Kakek bukan orang baik, hanya mau belajar menjadi orang baik saja. Alhamdulillah jika kalian melihat Ayesha cucuku ini sebagai orang baik. Semoga Allah memberikan kekuatan padanya untuk istiqamah dalam kebaikan, begitu juga dengan kita semua yang ada di ruangan ini”, sang kakek melihat ke sekitar.
“Aamiin”, sahut semua orang bahkan termasuk Mark dan sang perawat yang mempunyai keyakinan yang berbeda. Mereka saling memandang satu sama lain dengan hati sejuk. Entahlah, baru saja sang kakek mereka kenal sejak resepsi dimulai, tapi seakan sudah lama kenal dan menjadi dekat.
“Oh ya kubilang anak-anakku karena aku mungkin tak akan sanggup membantumu, kecuali mungkin jadi tuan kadi. Ohya, itu pun jika Miss Grace memang ingin menikah sekarang dan sudah punya calon”, sang kakek bertutur dengan senyum dikulum. Semua pun menahan senyum. Sepasang mata spontan menatap sang pasien dengan pandangan penuh binar cinta. Sementara yang ditatap semakin menundukkan wajahnya, merasa salah tingkah.
“Miss Grace, kakek hanya bercanda. Jangan merasa malu, ok?”, Ayesha memecahkan kekakuan di antara Grace dengan keluarganya. Wanita bercadar itu sekilas melirik ke arah sang
“Oh ya, jadi apa yang sangat engkau inginkan saat ini Miss Grace? Katakanlah! Benar kata kakek, kami akan berusaha membantu memenuhinya. Yang penting Miss Grace bisa bahagia dan cepat sembuh. Ayesha serius merespon ucapan sang kakek.
“Ah, aku sudah bahagia Nyonya dan keluarga sudah datang dan menjenguk orang biasa sepertiku. Ini merupakan suatu kehormatan bagiku dan ini sudah cukup. Aku merasa mempunyai sebuah keluarga”, ucap sang pasien terbata dengan masih menunduk.
“Aku tau apa yang kau inginkan anak gadis…..sebuah keluarga bukan?”, tiba-tiba Sir Vladimir beralih ke Maxwell dan mengucapkan sesuatu yang mengagetkan semuanya.
“Aku tau mungkin Miss Grace sudah dianggap keluarga oleh Keluarga Powell, namun alangkah lebih baiknya status itu diresmikan mulai hari ini, bukan begitu?”
Maxwell dan Ayesha saling berpandangan dan tersenyum.
“Tentu saja kakek. Mulai hari ini, Miss Julia Grace adalah bibiku, sekaligus sepupuku. Dia adalah keluargaku yang juga akan mendapatkan penghormatan yang sama di dalam Powell Group.
“Alhamdulillaah”, sontak yang muslim berseru. Meski pada hakikatnya Grace memanglah bibi Maxwell karena hubungan sang kakak, Bibi Christine yang merupakan ibu susu Maxwell, dan juga sepupu kandungnya melalui sang paman dari pihak ibu yaitu Abraham Alexander Al Qudri, namun rahasia ini belum ada yang mengetahui kecuali beberapa orang saja. Bahkan sang ayah kandung sendiri, Abraham belum mengetahui bahwa Grace adalah putrinya, karena Maxwell tak ingin sang bibi semakin berada dalam bahaya. Pria pewaris dua keluarga milyarder itu merasakan bahaya yang mengintai dirinya dan sang bibi erat kaitannya dengan keluarga Al qudri yang tidak senang pada mereka.
“Ini terlalu besar untuk orang kecil seperti saya Tuan Powell. Saya tak layak mendapatkannya”
“Engkau saat ini adalah saudara kami. Jangan berkata begitu”, Ayesha mendekati Grace dan meraih tangannya. Pelan dipeluknya bahu sang wanita muda tersebut. Grace sangat terharu dan lirih mengucapkn terima kasih dalam pelukan sang Nyonya. Semuanya hanya bisa menatap haru.
“Dimana Bibi Christine?”, sela Maxwell.
“Bibi baru saja keluar ketika Tuan dan keluarga datang. Katanya hendak menemui dokter”, jawab Grace. Tak lama, orang yang dibicarakan pun muncul di pintu.
“Tuan dan Nyonya datang?”
“Ya Bibi. Bagaimana keadaan Miss Grace? Apa yang dikatakan dokter Bi?”, cecar Ayesha.
“Puji Tuhan. Kata dokter, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jika menurut perkiraan, asalkan Grace patuh pada aturan medis, dia akan segera bisa keluar dari ruangan ini dan bisa melanjutkan rawatan di rumah”
“Oh syukurlah”
“Berapa lama aku harus di sini Kak?”, tanya Grace pada kakaknya yang kini berjalan mendekatinya.
“Engkau baru saja mengalami ini semua tadi pagi sayang. Bagaimana mungkin besok langsung bisa keluar dengan kondisi penuh perban seperti ini?”
“Aku merasa sudah lebih baik daripada tadi pagi kak”
“Paling cepat seminggu harus dirawat dulu di sini Grace”
“Tapi aku tidak suka bau rumah sakit, kak”
“Tapi aku ingin melihat kondisimu benar-benar sudah tidak mengkhawatirkan lagi, barulah keluar dari sini dan pemulihan di rumah, Grace”
Maxwell yang sejak tadi pun angkat bicara. Ia melirik ke arah Mark.
“Bukankah kau juga dulu pernah mengalami patah kaki di Moscow, Mark?”
“Benar Tuan. Besok Miss Grace sudah bisa saya jemput untuk melanjutkan rawatan di klinik mansion”
“Apakah aku akan menyuruhmu untuk menjemput saudaraku, Miss Grace? Masih banyak pasukan lainnya yang bisa melakukannya ”, sela Maxwell bermaksud menggoda.
“Maksudku…hm.. aku… hanya melaksanakan perintah saja jika Tuan menyuruhku melakukannya”, Mark gugup seketika. Yang lain pun menahan senyum. Tatkala suasana sedikit canggung karena sikap Maxwell yang serius tersebut, mendadak terdengar rintihan Sir Vladimir yang kini memegangi perutnya.