
Ayesha tergagap dari tidurnya. Merasa baru saja bermimpi yang aneh, ia pun duduk di sisi pembaringannya yang terasa asing, menatap ke sisi kanannya sesaat dan ia pun merasa terkejut karena mendapati pemandangan awan di balik jendela kotak di sana. Terasa ada goncangan pelan di tempatnya berada, ia pun segera sadar dimana ia sedang berada pada saat ini. Ia menatap ke langit-langit dan mendapati kabin pesawat di sana. Terbayang kembali momen terakhir ketika ia sedang beristirahat di kamarnya. Ia merasa sangat mengantuk setelah menghabiskan semangkuk soup daging hangat buatan sang khadimat di mansion. Merasakan sesuatu yang janggal, ia pun spontan menatap ke sisi kirinya dan hampir saja menjerit manakala mendapati seseorang yang juga sedang berbaring tepat di sisinya. Ayesha menutup mulutnya sendiri yang masih tertutup cadar agar tidak berteriak karena instingnya mengatakan bahwa ia harus berhati-hati. Berbagai peristiwa mengancam nyawa sudah sering dialaminya maka ia harus selalu waspada. Setelah menguasai dirinya, Ia pun perlahan memfokuskan pandangannya ke arah sosok pria yang sedang memejamkan mata dengan tenang di sampingnya tersebut dan alangkah terkejutnya Ia ketika telah sempurna menatap kearah wajah dan tubuh pria tersebut.
"Hubby.....", lirih Ayesha, tercengang dengan pemandangan yang seperti mukjizat di alam nyata.
Dengan tangan gemetar tak percaya, Ia pun menyentuh wajah pria tersebut. Matanya seketika basah dan hatinya seketika dipenuhi oleh perasaan bahagia tiada tara. Terwujud sudah semua harapannya selama ini. Segala doa yang dipanjatkan setelah kepergian sang suami hari ini telah dikabulkan oleh Allah sang Maha Pencipta. Dengan berlinang air mata, wanita cantik bercadar yang telah yakin dengan apa yang dilihatnya itu pun menelusuri wajah tampan di sisinya dengan jari jemarinya yang lembut dan gemetaran itu. Dan tak dapat menahan diri lagi, setelah membuka cadarnya, ia pun menciumi wajah rupawan yang sangat dirindukannya itu. Walaupun tak ada respon, ia tak peduli. Kini kedua tangannya pun menghambur memeluk tubuh tersebut dan sesekali menciumi kembali wajah suaminya itu dengan segenap perasaan.
"Hubby...bangunlah...engkau baik-baik saja kan? Engkau cuma tidur kan?", gumam Ayesha disela isak dan pelukannya. Ia sama sekali tak peduli jika pun suaminya tak mendengar. Ia tak peduli jika pun suaminya sedang pingsan atau pun mungkin tak bernyawa karena yang ia tau, ia tak ingin melepasnya lagi dan berpisah darinya. Ia merasa jasad yang dirindukannya ini sedang tidur dan akan bangun dan kembali padanya.
Sesaat lamanya adegan mengharukan itu terus berlanjut. Ayesha masih terisak memeluk sang suami yang sedang tidur, yang benar-benar masih pulas dalam mimpi indahnya. Hingga sepuluh menit kemudian, adegan pun berbalik. Sepasang mata biru menawan milik penguasa Powell Group itu perlahan terbuka dan mengerjap-ngerjap. Ia merasakan tubuhnya berat dan dadanya agak sesak. Setelah menyadari situasi dan kosndisi di sekitarnya ia pun terkejut melihat seseorang yang sedang berada di atas tubuhnya itu. Tepatnya, sebuah wajah yang menyandar di atas dadanya dengan kedua tangan memeluk kedua bahunya. Terdengar sesekali isakan di sana dan sebuah aroma tak terlupakan menguar dari tubuh wanita tersebut.
Sekali lagi, Maxwell mengerjapkan kedua matanya. Ia ingin sadar sepenuhnya dari mimpi indahnya. Ia ingin bangkit dan mengangkat wajah seseorang yang sudah begitu berani mengganggu tidurnya tersebut, namun ia urung begitu mendengar suara tarikan nafas yang teratur di atas dadanya tersebut dan diiringi sela sesenggukan tangis yang terdengar cukup menyedihkan. Ia terus mengumpulkan kesadarannya hingga ia kini benar-benar loading dengan semuanya.
"Tuan akan segera membuktikan ucapan saya", Maxwell teringat kembali dengan ucapan para pengawal barunya sebelum ia tertidur.
"Apakah engkau Ayesha, istriku?", lirihnya.
"Engkau Ayesha...my sweet heart...aroma tubuhmu ini tak mungkin aku lupa...", Maxwell pun seketika basah dalam kebahagiaan. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya tersenyum bahagia.
"Sayang...aku sudah datang...jangan menangis lagi...", tangannya membelai lembut pipi wanita cantik yang sedang menempel di dadanya.
"Hubby....hubby....", lirih Ayesha mengigau menyebut suaminya.
Maxwell kembali terenyuh basah. Air matanya tak urung menetes lebih deras. Ia merasa sangat bahagia. hingga tergugu. Ia akan menunggu sampai kapan sang wanita cantik pujaan hatinya itu terbangun dari tidurnya dan mengangkat wajahnya dari pelukannya.
Maxwell pun membalas pelukan sang istri dengan sama eratnya. Kedua tangannya pun menyambut pelukan hangat di atas tubuhnya itu. Sesekali ia bangkit dan mencium kening Ayesha meski sulit karena posisinya tersebut.
Perlahan Ayesha yang tak sengaja tertidur di atas tubuh suaminya itu pun merasakan pelukan di atas punggungnya. Cairan hangat yang menetes membasahi wajahnya menyadarkan ia bahwa itu bukan berasal dari air matanya sendiri. Refleks matanya terbuka dan mengerjap seketika manakala mendapati sebuah wajah yang sudah menempel di keningnya dengan mata terpejam dan lelehan air mata.
"Sayang...kau sudah bangun?"
"Hubby....", Ayesha seketika bangkit dan menghadapkan wajahnya ke arah suaminya. Kedua pasang mata biru itu pun saling menatap tak percaya.
"Hubby...", hanya sebuah kata yang terlontar di bibir tipis itu, dan selanjutnya wanita bidadari Moskwa itu kembali memeluk suaminya.
Maxwell pun tersenyum di sela air mata bahagianya. Ia kembali membalas pelukan sang kekasih halalnya itu.
Beberapa saat kemudian, dengan susah payah, tangan kekar itu pun mengajak tubuh lembut di atasnya untuk sama-sama bangkit dan kini keduanya pun duduk bersisian dengan saling menatap di atas bed mewah presiden suit di dalam jet super mewah milik sang Boss Besar yang tak lama lagi akan ditemui oleh mereka berdua.
"Hubby...jangan pergi lagi..."
"Tidak Sayang...aku tidak akan pernah pergi lagi...", kedua tangan kekar itu membelai lembut wajah sang istri yang basah.
"Aku tak mampu hidup tanpamu..."
"Tapi kau buktinya juga bisa hidup tanpaku selama ini bukan?", Maxwell tersenyum menggoda.
"Orang hanya bisa melihat aku kuat di luar, tapi sesungguhnya aku tak sekuat yang mereka sangkakan...aku...aku rapuh Hubby..."
"Sssttt....sudahlah...aku paham...jangan katakan apapun lagi...maafkan aku Sayang...", Maxwell kembali menarik Ayesha dalam pelukannya. Sesaat mereka pun berdua tidak berbicara apapun lagi. Hanya tenggelam dalam kerinduan yang membuncah. Saling memeluk dan menangis. Apapun ungkapan dalam kalbu tak mampu keluar melalui lisan mereka yang kelu. Mereka hanya ingin saling merasakan sentuhan yang menenangkan jiwa mereka yang telah lama kering. Seolah, beberapa hari tak bertemu seperti bertahun-tahun lamanya karena adegan drama kematian yang cukup menghancurkan hati mereka berdua.
"Sayang...", perlahan Maxwell melepaskan pelukannya di tubuh ramping Ayesha. Ia menatap perut sang wanita yang dicintainya itu dengan nanar. Tangannya pun menyentuhnya dengan gemetar.
"Bagaimana kabar anak kita? Apakah ia baik-baik saja?"
"Ia. Alhamdulillaah, mereka baik-baik saja, Hubby. Kuat seperti Daddy-nya", Ayesha tersenyum dan menempelkan dengan erat tangan sang suami ke perut datarnya.
"Syukurlah...aku tak tau...apakah aku akan memaafkan diriku jika saja baby-ku terganggu karena peristiwa yang menimpa diriku...mereka...maksudmu?", Maxwell mengernyitkan dahi.
"Semua sudah takdir-Nya. Anak-anak kita juga ditakdirkan Allah menjadi anak-anak yang kuat insyaa Allah, bahkan selagi masih dalam rahim ibundanya".
"Anak-anak kita?", Maxwell mencerna kata-kata Ayesha dengan penuh tanda tanya.
"Maksud Honey...engkau mengandung bayi kembar?"
Ayesha mengangguk dengan mata berbinar.
"Oh God. Oh God. Thanks Allah...thank You...thank You very much...I cant say anything except happyness...oh God...", Maxwell berseru tertahan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya takjub. Inikah kebahagiaan di balik setiap rencana pilu dari Tuhan? Bahwa ada hikmah di setiap kejadian? Bahwa pasti ada ganjaran untuk tiap ujian yang diberikan?
Maxwell menciumi perut Ayesha dan bergumam lirih memuji Tuhan-nya.
"Oh dears...tumbuhlah sehat di sana..oh God, jagalah anak-anak kami...hanya engkau yang bisa menjaganya...aamiin", doa Maxwell lirih di dekat perut sang istri.
"Sayang...bagaimana engkau tau ada twins di sana...maafkan aku...tidak menemanimu ke dokter..."
"Jangan katakan itu lagi...jika saja peristiwa itu tidak terjadi...pasti Hubby yang menemaniku ke rumah sakit bukan?", Ayesha kembali teringat ketika kemarin ia melakukan check-up kehamilan untuk pertama kalinya seorang diri. Ia tidak mengijinkan siapa pun menemaninya kecuali para pengawal yang berjaga di di luar ruangan dokter kandungan. Dan setelah check up itulah ia pulang dan meminum soup hangat yang diberikan oleh pembantu di mansionnya dan yang kemungkinan telah membuatnya tidur dengan pulas dan mengalami drama pertemuan yang sepertinya memang sudah diatur dengan manis saat ini. Seketika ia teringat sesuatu dan menatap suaminya.
"Hubby...siapa yang telah menyiapkan semua ini?"
"Aku juga tidak tau, Sayang..."
"Maksud Hubby?"
"Sampai saat ini, aku juga tidak tau siapa yang telah menolongku Sayang...".
"Bagaimana bisa..."
"Tapi sepertinya penasaran kita akan segera terjawab tak lama lagi Ayesha-ku...", Maxwell menatap ke dalam manik mata istrinya.
"Dan itu tidak penting untuk saat ini...karena aku...lebih merasa bersamamu adalah yang terpenting dalam hidupku...", mata biru itu pun meredup. Perlahan pandangannya semakin sayu dan menuntut. Ayesha yang sangat paham gesture suaminya tersebut hanya tersenyum. Ia sudah siap. Ia bahkan sangat siap. Dengan gairah manusiawinya, bibir wanita cantik itu pun terbuka siap menanti kedatangan serangan yang dirindukannya. Dan benar saja, Maxwell pun tak menyia-nyiakan kesempatan emas di depan matanya. Ia pun segera menyambar bibir manis menggoda di hadapannya itu dengan penuh gairah yang memabukkan. Diciumnya dengan penuh perasaan. Namun sebelum aksi mendalam berlanjut, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu.
"Apakah pintu itu tidak dikunci? Oh God, hampir saja", gumam Ayesha. Ia merasa ngeri seandainya ia dan suaminya tidak mampu menahan diri. Baru kali ini mereka begitu ceroboh hendak bermesraan sedangkan mereka sendiri tidak tau dimana mereka saat ini dan bagaimana situasi di luar saat ini. Maxwell pun mempunyai pikiran yang sama. Ia merasa beruntung mereka belum kebablasan. Ternyata luapan rasa rindu bisa melupakan kewaspadaan, batinnya.
"Masuklah", seru Maxwell ke arah pintu.
Beberapa detik berikutnya, pintu rest room jet pribadi yang sedang flying itu pun terbuka. Sesosok wajah yang sangat dikenal Maxwell dan Ayesha pun muncul di sana.
"Mark?", keduanya pun saling berpandangan, tak menyangka akan apa yang mereka lihat saat ini. Belum hilang keterkejutan mereka, sesosok tubuh tinggi tegap juga muncul di belakangnya dan sontak Maxwell pun berseru kembali.
"Pavlo?", gumam Maxwell.
"Anda..bukankah Anda yang pernah menolongku waktu itu? Jadi...", Ayesha pun memanggil ingatannya ketika Pavlo menyelamatkannya dari lima orang kaki tangan Joeris yang sedang mengejarnya di Moskwa, pasca tindakannya menyelamatkan Maxwell dari pembunuhan di hutan dekat kediaman Yovanna, sahabatnya. Ayesha seketika menghubungkan semua puzzle di kepalanya dan wanita cerdas itu pun memandangi suaminya.
"Jadi...tuan James yang terhormat inikah yang waktu itu mengutus orang yang dipanggil Pavlo ini untuk mengikutiku dan mengawalku dari kejaran anak buah Joeris waktu itu? Sedang Tuan James itu duduk manis karena sedang terluka seperti orang polos di kediaman kami di pinggiran Moskwa waktu itu?".
"Benar, Sayang...maafkan aku...jangan lagi memanggilku dengan nama samaran itu lagi, hmm...?", Maxwell tersenyum kaku menatap mata Ayesha.
"Dan Mark?", Ayesha masih penasaran.
"Ia anggota Pavlo yang diberikannya pada kita untuk mengawal pulang ke Ausy karena waktu itu Pavlo sudah terikat kontrak dengan klien yang lain. Dan kau sudah mengenalnya berikut dengan kedua oang yang lainnya bukan?", dan Maxwell pun seketika teringat dengan gugurnya kedua rekan Mark yang telah tewas dalam bertugas ketika mengawalnya. Ayesha juga mengingatnya dan berpaling menatap Mark. Pria itu sendiri sedang melamunkan hal yang sama.
"Maafkan aku Mark", lirih Ayesha.
"Itu sudah menjadi resiko seorang Body Guard, Nyonya", sahut Mark menunduk hormat.
"Apakah kami boleh masuk Tuan Maxwell?", suara Pavlo membuyarkan ingatan ketiga orang yang sedang mengenang kematian kedua rekan Mark yang tewas dalam serangan yang dilancarkan oleh sekelompok orang di mansion waktu itu.
"Masuklah", seru Maxwell.
Pavlo dan Mark pun melangkah masuk dan duduk di sofa putih di dekat jendela di seberang bed.
"Terima kasih sudah memberiku kejutan ini, Mark", ujar Ayesha.
"Maaf Nyonya, mungkin tak seperti yang Nyonya pikirkan. Akuu bahkan baru tau tentang semua fakta ini tadi siang Nyonya", Mark menunduk.
"Maksudmu? Ini bukan rencanamu dan Tuan Pavlo?", Ayesha semakin penasaran.
"Tepatnya, ini rencana Tuan Besar yang telah memerintahkanku, Nyonya Muda", sahut Pavlo hati-hati. Ia melirik Maxwell.
"Bukalah semua rahasia ini. Sudah waktunya bukan?", Maxwell sudah merasa tak sabar menunggu.
"Besok Tuan Muda akan bertemu dengannya. Kami hanya ingin menyampaikan, bahwa apapun rencana Tuan Besar nantinya semoga Tuan Muda dan Nyonya Muda akan bersedia menerimanya dengan pikiran terbuka. Dan percayalah, ini semua untuk kebaikan kehidupan Anda berdua di masa yang akan datang".
"Jangan memberikan puzzle yang rumit ini. Katakan saja sekarang dengan jelas apa yang kau maksud dengan rencana tersebut... dan siapa sebenarnya sosok tuan besar yang selalu kalian sebutkan itu...", Maxwell semakin dilanda penasaran tingkat tinggi.
"Maaf Tuan Muda, jawabannya akan Anda dapatkan besok. Sekarang beristirahatlah dengan tenang bersama Nyonya Muda. Anda berdua bisa menghabiskan waktu sepuasnya saat ini agar besok bisa mendengarkan semua rencana besar dari Tuan Besar. Maaf sekali lagi membuat Anda penasaran, tapi aku hanya melaksanakan perintah saja", jelas Pavlo.
"Mengapa engkau datang hanya untuk membuat kami semakin bertanya-tanya.... mengganggu saja...", ucapn Maxwell dengan kesal.
"Maafkan aku Tuan Muda, aku permisi dulu".
"Pergilah dan jangan kembali lagi jika tidak diminta...", ucap Maxwell dengan perasaan dongkol.
"Hubby... sabarlah... pasti ada sesuatu di balik semua ini...", Ayesha mencoba menenangkan suaminya. Ia merasa tidak enak pada kedua ajudan yang pasti sudah bekerja keras untuk mereka berdua selama ini.
"Oh ya Mark, engkau saat ini disini....lalu...bagaimana dengan istrimu yang sedang terluka...di mansion?"
Mark hanya bisa menunduk semakin dalam. Ia kembali ingat pada janjinya dan merutuki diri sendiri. Grace pasti cukup kecewa karena Ia sudah mengingkari janjinya.
"Ku harap Grace akan memaafkanmu karena Engkau telah meninggalkannya di saat ia sedang sangat membutuhkanmu saat ini", sambung Ayesha bermaksud menggoda pengawalnya tersebut.
"Baiknya aku juga permisi, Tuan, Nyonya. Selamat bersenang-senang", sahut Mark menghindar. Ia tergopoh-gopoh menyusul Pavlo yang sudah lebih dulu melangkah hendak keluar.
"Pergilah kalian berdua dan jangan muncul lagi di sini. Sampai jumpa besok", seru Maxwell. Kedua orang di depannya pun saling memandang dan menahan senyum. Keduanya pun keluar dari ruangan tersebut. Maxwell kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah menuju pintu dengan cepat. Ia pun menguncinya dari dalam dan kini berbalik ke arah sang istri yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diterjemahkan. Sejak tadi Maxwell yang sudah menahan dirinya dari gejolak perasaan yang menggebu itu pun segera menghampiri sang istri dan dengan penuh gairah merengkuh tubuh wanita berbadan ramping itu ke dalam pelukannya. Dengan tidak sabar, ia pun membuka cadar wanitanya dan merebahkan tubuh menawan yang sangat dirindukannya itu ke atas tempat tidur. Tangannya sudah bergerilya kemana-mana untuk melepaskan apa yang melekat di sana dan kini tangan nakal itu pun mampir di atas perut Ayesha yang sudah polos.
"Sayang...boleh ya...Daddy menjengukmu sekarang...Daddy sangat..sangat merindukanmu di sana...kalian mengijinkan Daddy datang bukan?", Maxwell mengecup perut datar istrinya itu lalu mengerling nakal ke wajah Ayesha yang menatapnya geli.
Perlahan Maxwell pun menaikkan kecupannya ke atas dan makin ke atas dan kini mendarat di benda kenyal berwarna pink alami yang terbuka dan bersiap menyambutnya. Dengan debaran jantung yang berdetak semakin cepat seperti di awal pernikahan, sosok the perfect man itu pun mulai menyalurkan hasratnya. Diciumnya bibir manis di hadapannya dengan segenap perasaannya. Menyesap dan bermain di sana dengan penuh cinta. Meluapkan segala gairah tertahan yang dibubuhi kerinduan tak terkatakan. Menjalankan serangan demi serangan yang memabukkan ke titik- titik sensitif seorang wanita sehingga membuat sang pemilik tubuh pun menggelinjang dipenuhi kenikmatan, hingga akhirnya membawa mereka terbang ke nirwana bersama-sama dan mencapai puncaknya. Bergumul di balik selimut tipis dengan hati-hati, tanpa lupa dengan segenap aturan melakukan jimak suami istri dalam rangka ibadah kepada Rabb-Nya.
Meski dalam kondisi tidak prima, tetapi Maxwell bukanlah seorang lelaki lemah yang cukup puas menyalurkan fitrah lelakinya pada makhluk wanita yang paling dikaguminya itu hanya dengan sekali penyatuan, melainkan ingin terus berkali-kali. Apalagi kerinduan telah menguasai nafsunya saat ini. Dan saat ini mereka pun berbaring bersisian di atas bed dengan saling tersenyum setelah peraduan pertama yang telah menguras tenaga itu.
"Sayang...terima kasih...I love you...", Maxwell menyentuh wajah mulus istrinya dengan jemarinya, mengecup singkat bibirnya dengan buncahan kebahagiaan.
"I love you too....", Ayesha menyembunyikan wajahnya yang memerah malu di dada suaminya. Kulit polos mereka pun bergesekan dan menimbulkan sensasi getaran ingin bercinta kembali.
"Kau ingin menggodaku kembali, hm?", Maxwell berbisik sambil menggigit telinga istrinya.
"Hubby...ah tidak...bukan begitu.."
"Tapi hangat kulitmu ini membangkitkan kembali sesuatu di sana..."
"Ah tidak Hubby...anak-anak butuh istirahat dulu..mereka masih sangat muda, bukan?" Ayesha masih tak mau mengangkat wajahnya.
"Kedua anak-ku sangat kuat, seperti Daddy dan Bundanya. Mereka tidak akan apa-apa bukan?"
"Siapa bilang mereka hanya ada dua?"
"Apa?", sontak Maxwell meraih wajah istrinya dan menatap dalam manik mata biru menawan di depannya itu dengan sorot mata diliputi pertanyaan yang semakin hebat. Ayesha pun tersenyum dan bersiap memberikan kabar langka itu.