
Mark sedang menunggu anak buahnya datang untuk membelikan pakaian dan jilbab untuk Grace. Tak lama berselang, yang ditunggu pun tiba memberikan yang diminta. Grace pun memakai jilbab barunya ketika Mark sudah membalikkan badan menghadap ke pintu yang sudah ditutup. Pria itu tidak mau keluar karena tidak mau menunggu lama. Grace sebenarnya ingin mengganti pakaian juga tapi karena tidak mungkin membuka bajunya dengan adanya Mark dan dia pun belum sanggup banyak bergerak untuk ke kamar mandi sendirian ia pun urung.
"Sudah", ujar Grace.
Mark berbalik dan mengernyitkan dahi.
"Kau tidak berganti pakaian?"
"Bagaimana mungkin?"
"Aku sudah menunggumu lama dan hanya berganti kain kepala?"
"Jilbab. Ini namanya jilbab"
"Terserah saja. Hai, nanti dipikir orang aku menculikmu dari rumah sakit"
"Ah, kau ini cerewet sekali."
"Pakaianmu ini ciri khas pakaian pasien di sini. Jika kau tidak berganti pakaian itu artinya kau belum diperbolehkan dokter untuk keluar"
"Tapi aku..."
"Jangan membantahku lagi. Sekarang atau tidak sama sekali", Mark berbalik dan menuju pintu.
"Baiklah. Baiklah. Jangan pergi! Aku akan mengganti pakaian ini sekarang. Beri aku waktu 5 menit lagi"
"Dasar perempuan merepotkan", gerutu Mark.
"Kau, bisakah engkau bersabar sedikit saja", Grace yang sudah tidak menggunakan infus lagi kini bergerak perlahan menuju kamar mandi. Dengan tertatih-tatih menahan sakit yang luar biasa pada bahu dan kakinya yang baru 36 jam dirawat pasca operasi, ia berusaha berjalan dengan bantuan tongkat infus. Mark hanya meliriknya sekilas. Sebenarnya ia tidak tega tapi kepalanya yang penuh rencana membuatnya tegak dengan semua sikap kerasnya, hingga secara spontan tubuh tegap itu sudah berlari cepat menangkap tubuh wanita berjilbab yang berada sekitar 5 meter darinya. Nyaris terbanting ke lantai karena tak sanggup menahan sakitnya, kini posisi kedua insan beda jenis itu sudah seperti adegan romantis sepasang kekasih. Grace sudah telentang di atas tubuh Mark yang menjadi bantalan tubuhnya karena terlambat menangkapnya. Tangan Mark sendiri secara refleks memeluk perut Grace karena takut ia terguling.
"Kau benar-benar...", Mark mendengus.
"Jangan memarahiku", Grace tidak terima. Ia kini tidur di lantai dengan tubuh miring menghadap ke arah Mark. Matanya terpejam menahan semuanya. Air matanya menetes. Ia segera mengubah posisi wajahnya ke atas. Entah kenapa hatinya semakin sensitif sejak kepergian Bibi Christine. Ia sebenarnya tak mengambil hati semua sikap dingin lelaki yang sejak hari ini menghiasi harinya di rumah sakit. Bagaimana pun perkataan dan sikap tak bersahabat pria itu, tapi ia bisa merasakan bahwa Mark tidak benar-benar ingin mencelakainya, terbukti dari pertolongan yang ia berikan ketika hidupnya terancam bom dan barusan nyaris terbanting ke lantai. Mark yang menatapnya menjadi iba. Benteng kekerasan sikapnya perlahan melemah. Ia bisa merasakan kepedihan lahir dan batin si empunya tubuh yang baru saja disentuhnya. Perlahan pria Rusia itu pun bangkit dan tanpa berkata apa-apa langsung mengangkat tubuh Grace ke kamar mandi.
Grace terkejut mendapat perlakuan dari Mark namun hanya bisa pasrah. Bibirnya terasa kelu untuk berucap apapun. Ia hanya diam sampai kemudian tubuhnya diturunkan di atas keramik dekat wastafel di dalam kamar mandi. Ia sandarkan tubuhnya ke dinding dengan masih terus memejamkan matanya seolah tak mau melihat ke arah Mark. Lelaki itu semula tak ingin menggubris sikap Grace yang aneh menurutnya, namun tatkala ia kembali untuk memberikan baju yang terjatuh tadi, ia pun menatap ke wajah wanita yang sudah sering disentuhnya itu hanya dalam dua hari ini. Ia sudah menyusun kata untuk meneriaki Grace namun seketika tercekat melihat butiran air mata kembali jatuh di pipi putih bersih itu. Dalam posisi dekat dan tatapan intens, Mark baru menyadari kecantikan alami sang gadis yang selalu membuatnya kesal sejak pertemuan pertama mereka. Cantik, batinnya.
"Apakah kau perlu bantuanku untuk memakai pakaian ini?", ucap Mark tanpa melepaskan tatapannya. Sontak mata yang terpejam itu membuka dan langsung melotot ke arah Mark. Lelaki tampan itu menarik sudut bibirnya dan bergegas keluar. Sementara Grace yang terus memperhatikan kepergian Mark hingga pintu ditutup, nampak menarik nafas lega dan perlahan melepaskan pakaiannya untuk segera menggantinya dengan pakaian yang diberikan Mark. Setelah 15 menit berlalu, ia pun sudah nampak rapi dan perlahan membuka pintu menemui Mark yang sedang duduk di sofa kamar dan sibuk dengan gadget-nya.
"Maaf aku harus membuatmu menunggu lama"
"Sudahlah...aku...", Mark menoleh ke arah Grace dan terpana melihat penampilan baru pasien rumah sakit Maxwell itu. Hatinya dengan jujur mengakui bahwa gadis yang ditolongnya itu cukup cantik dan unik. Sebentuk wajah dan body rupawan seorang wanita dilengkapi pakaian panjang dan penutup kepala adalah sebuah pemandangan langka baginya. Jika ia biasa melihat para wanita di luar sana memamerkan keindahan tubuhnya dengan pakaian terbuka, tapi ini dia melihat sosok cantik nan seksi malah ditutupi dengan pakaian yang tak populer sama sekali.
"Aku sudah siap Tuan, mari kita pergi"
"Sure", Mark menghapus lamunannya.
"Pakai ini", Mark menunjuk sebuah kursi roda yang sudah disiapkannya.
Grace tersenyum.
"Terima kasih", wanita itu dengan patuh mendekati kursi roda dan duduk di sana. Ia melihat-lihat sisi kanan dan kiri kursi tersebut tapi tidak menemukan sesuatu yang bisa dipakai untuk mendorongnya sendiri. Mendadak ia merasa bergerak. Ternyata Mark yang mendorongnya dari belakang. Persis seorang perawat yang mendorong pasiennya.
Grace diam saja. Ia tak tau harus berkata apa. Tubuh Mark cukup dekat di belakangnya. Wangi tubuh pria itu pun sampai ke hidungnya. Lidah dan hatinya sontak beristighfar. Ya Allah, ampuni aku, gumamnya pelan. Sekelebat peristiwa dirinya dipeluk pria itu dengan posisi intim dan ketika digendong ke kamar mandi membuat wajahnya pias menahan malu. Ya Allah, setelah hijrah menutup auratku, aku sudah berjanji untuk menjaga diriku sendiri dari sentuhan pria manapun kecuali suamiku. Namun kini aku sudah ternoda dengan sentuhan pria asing yang bahkan baru dua hari ku kenal. Ya Allah, jagalah diriku dan kemuliaanku. Halalkan aku karena dosa ini, lirihnya dalam hati. Matanya sejenak terpejam dan kembali menatap ke depan. Ke koridor rumah sakit yang saat ini mereka lalui menuju parkiran untuk kemudian berangkat menuju pemakaman Bibi Christine sebagaimana yang diceritakan Mark sebelumnya.
Sementara itu Mark yang berada dekat di belakang Grace, mendorong kursi pasien tersebut dengan wajah tanpa ekspresi. Sesekali ia melirik ke arah sang gadis dan tersenyum tipis. Beberapa orang anak buahnya nampak bersiaga di belakang mereka mengawal sang Boss, tangan kanan Boss besar Maxwell Powell itu.