
"Kami tidak perlu alasan untuk menolak bukan? Ini rumah dan tanah kami. Bagaimana pun ini hak kami dan Anda tidak bisa memaksakan kehendak pada orang lain. Seorang presiden sekali pun harus tunduk pada aturan hukum ini", sang pemilik rumah masih tetap bertahan.
"Siapa bilang? Mungkin itu benar, namun hukum lain juga berbicara. Siapa yang tidak kooperatif bekerja sama untuk memajukan negara maka ia juga justru melanggar hukum itu sendiri. Perluasan IC di depan Anda ini untuk kemajuan negara kita khususnya warga negara yang beragama Islam, namun bukan hanya umat Islam saja yang mendapatkan manfaat darinya namun juga semua umat di negeri ini. Mengapa? Kalian bisa bayangkan bukan jika IC ini maju? Semua fasilitas lengkap ada di dalamnya. Bukan hanya tempat ibadah, namun ada fasilitas umum seperti sekolah dari level rendah hingga perguruan tinggi. Ada pusat perbelanjaan dan sarana hiburan. Anda pikir ini tidak membuka lowongan pekerjaan dan memajukan pendidikan dan ekonomi orang banyak? Belum lagi imbasnya. Jika proyek ini berhasil, akan banyak pengunjung luar yang datang dan ini menambah pemasukan warga di sini yang membuka ladang bisnis. Selain itu, tidak kah negeri ini akan terkenal dengan toleransinya dalam kehidupan beragama sehingga semakin membuat warga dunia merasa tertarik dan aman jika berada di negeri ini dan menanamkan investasinya?", terang Maxwell panjang lebar.
"Apapun yang Anda katakan itu tak akan mengubah pemikiran kami. Kami tetap ingin di sini. Tanah dan rumah ini milik kami. Kami tidak akan pindah dari sini. Titik", sang pria tua tak tergoyahkan.
Maxwell semakin merasa jengkel dengan pribadi lelaki tua di depannya. Ia nyaris kehilangan kendali emosinya jika Ayesha tidak segera menyentuh tangan kirinya dengan lembut. Wanita bercadar itu menggenggam tangan suaminya dengan menautkan jari-jari mereka dan menatap ke wajah Maxwell seakan memberi tanda untuk bersabar. Dalam hati perempuan muda itu terus beristighfar memohon ampunan Allah dan berdoa untuk diberi kemudahan dalam menyelesaikan masalah ini. Ya Allah, Engkaulah sebaik-baik pemberi petunjuk, batinnya. Dengan diiringi basmallah pelan di bibirnya, Ayesha pun mulai buka suara seraya memandang kedua orang di hadapannya dengan tatapan lembut.
"Sir and Madame. Maafkan kami jika seperti memaksa Anda berdua. Maafkanlah suami saya dan anak buahnya yang sudah melakukan kesalahan dengan mengajukan penawaran yang sama sekali tidak menarik bagi Anda. Baiklah, kami sudah tau prinsip Anda berdua dan kami menyerah. Kami permisi. Sekali lagi kami mohon maaf. Permisi", Ayesha membungkukkan badannya sedikit tanda permintaan maaf dan hormat kemudian perlahan menarik tangan Maxwell untuk pergi. Maxwell terperangah seakan tak percaya dengan sikap Ayesha yang ia pikir akan membantu membujuk sang pemilik rumah namun malah sebaliknya, menyerah dan malah meminta maaf. Sementara kedua pasang mata milik pasangan suami istri di hadapan mereka tak kalah terkejutnya. Mereka sama sekali tak menduga respon sang wanita bercadar yang baru mereka ketahui sebagai istri sang penguasa. Keduanya hanya terpaku sampai akhirnya...
"Tunggu!", si wanita tua berteriak menghentikan langkah Ayesha. Ayesha pun berbalik dan menatap heran.
"Apa maksud Anda, Nyonya? Apa yang kalian rencanakan sebenarnya?"
"Maksud Nyonya?", Ayesha balik bertanya.
"Anda katakan menyerah tidak meminta kami pindah dari sini?", si wanita tua menatap menyelidik.
"Benar. So? Bukankah itu yang kalian inginkan? Kami tidak akan memaksa Anda berdua karena itu bukan cara yang baik bukan? Dan suami Anda memang benar bahwa kami egois jika menginginkan perluasan IC ini namun mengorbankan kepentingan dan mengabaikan hak orang lain".
"Jadi apakah kalian akan tetap memperluas kompleks itu?"
"Ya."
"Bagaimana mungkin? Lalu rumah dan tanah kami ini...?"
"Kami tidak akan mengganggunya. Kalian punya hak atas milik kalian sendiri bukan? Jadi kami akan melewatkan tanah ini dan hanya akan memperluas kompleks IC di atas tanah yang sudah direlakan pemiliknya. Dan jangan khawatir, akses jalan Anda ke luar juga tidak akan kami halangi. Anda tenang saja. Kami pastikan tidak akan mengurangi hak keluarga Anda sedikitpun", Ayesha tersenyum di balik cadarnya. Matanya menyipit dengan tatapan ramah.
"Tapi bukankah itu akan terlihat aneh nantinya? Dan itu tentu buruk karena letak tanah kami berada di tengah".
"Tidak mengapa aneh dan buruk design-nya di hadapan manusia yang penting tidak di hadapan Allah, Rabb kami, Nyonya"
"Bukankah Tuhan kalian yang menyuruh kalian melebarkan tempat peribadatan-Nya?"
"Oh tidak! Rabb kami tidak membutuhkan itu, tapi kami lah yang membutuhkan Rabb kami. Kami butuh tempat yang luas dan lengkap agar kami bisa lebih nyaman melaksanakan perintah Rabb kami dan menjauhi larangan-Nya. Dengan kompleks Islamic Center dengan fasilitas lengkap di dalamnya nanti kami berharap bisa lebih mudah menjaga diri kami dari hal-hal yang haram dalam agama kami dan lebih mudah mengerjakan semua tugas kami sebagai seorang muslim yang baik. Kami ingin nantinya bisa beribadah dengan tenang di sana dan anak-anak kami juga terjaga dan bisa dengan mudah meneruskan pendidikannya. Selain itu, untuk hubungan dengan umat beragama lainnya, kami juga akan membuka jalan dengan jalur bisnis yang saling menjaga dan menguntungkan. Ya, hanya itu saja".
"Benarkah?"
"Tentu. Sekali lagi kami tidak akan mengganggu hak Anda. Percayalah. Anda boleh tetap tinggal di sini dengan tenang"
"Kalau benar begitu. Kami ucapkan terima kasih Nyonya".
"Tidak perlu Nyonya, kami yang meminta maaf karena sudah menunjukkan pemaksaan pada Anda berdua. Tak seharusnya niat baik diiringi dengan perbuatan tak baik bukan? Permisi Nyonya!"
"Tunggu! Saya ingin bertanya, jika sekiranya kami harus pindah, kemanakah kami harus pindah? Bisakah kami bergeser sedikit saja dari sini? Artinya kami tetap bisa tinggal di sekitaran tempat ibadah kalian di sini?", sang wanita tua nampak gusar dan malu-malu. Ayesha mengernyitkan dahi.
"Thale yang tau data lokasi yang bisa dibeli di sekitar sini Nyonya".
"Ada Nyonya. Letaknya di sebelah utara Masjid. Penghuni rumah di sana bersedia menjual rumahnya jika Nyonya ini mau bergeser ke situ", jawab Thale.
"Bagaimana Nyonya?", Ayesha bertanya balik ke sang ibu.
"Apakah di situ kami masih bisa mendengarkan suara?"
"Maksud Anda?", Thale bingung.
Ayesha mulai menangkap sesuatu.
"Maksud Nyonya suara dari Masjid yang selalu terdengar setiap hari?"
"Ya. Itu maksud saya", sang ibu tergagap. Suaminya nampak gusar dan kini mendekatinya dan menarik tangannya. Keduanya saling bersitatap.
"Sebentar. Apa sebenarnya alasan Anda berdua tidak ingin pindah Nyonya?", Ayesha mulai mereka-reka.
"Kami.... sebenarnya tidak ingin jauh dari sini karena....kami suka mendengar suara dari micropon Masjid.... Itu membuat hati kami sejuk.....", sang ibu terbata menjawab.
"Jadi...kalian suka suara azan dari Masjid yang setiap lima kali sehari dilantunkan?"
Sepasang suami istri itu pun mengangguk pelan.
"Ya Allah...Masyaa Allah...", Ayesha dan Maxwell spontan saling memandang. Maxwell menggelengkan kepalanya seakan tak percaya.
"Jadi...", Ayesha pun tersenyum dan kini mendekati sang ibu.
"Mengapa sejak awal tidak kalian ungkapkan Nyonya"
"Kami...tak tau harus beralasan apa"
"Baiklah. Sekarang kalian sudah dengar sendiri bukan? Kami akan membantu Anda untuk bergeser sedikit ke lokasi yang disebut Thale, pengacara, saya. Dan jika Anda berdua berkenan, Anda berdua bahkan bisa masuk ke area kompleks untuk ikut bergabung bersama para pemegang bisnis nantinya. Aku dengar anak Anda ada yang menjadi pemasok barang sembako bukan? Kami kira kita bisa bekerja sama nantinya Nyonya. Bagaimana?", giliran Maxwell bersuara.
"Tentu Tuan. Terima kasih", sahut sang ibu.
"Well. Sepertinya masalah ini sudah selesai bukan? Segeralah kalian berkemas. Anggotaku akan segera membantu membereskan semuanya"
Akhirnya, drama alot pembicaraan sang pasutri tua dan Maxwell pun usai. Ternyata oh ternyata. Ayesha dan Maxwell sama-sama menarik nafas lega dan kini mereka pun bergerak pulang setelah sebelumnya juga menemui beberapa pemilik rumah sebelah barat dan timur kompleks IC yang juga memiliki persoalan sama tak mau pindah. Tapi akhirnya setelah dibujuk Ayesha dan Maxwell dengan cara yang sama mereka pun akhirnya bersedia. Alasan mereka menerima cenderung karena alasan bisnis yang ditawarkan sedangkan alasan khusus selama ini menolak pindah tak terungkap.
Jam sudah menunjukkan sepuluh menit menjelang waktu Magrib ketika Ayesha dan Maxwell sampai di mansion. Begitu memasuki kamar, Maxwell langsung mengunci pintu dan meraih pinggang sang istri. Ayesha pun tergagap tak siap dengan sikap Maxwell yang tiba-tiba bertingkah genit padanya. Pria gagah itu menatap intens sang istri dan menyentuh pipi putih bersih itu seraya berbisik pelan.
"Proyek IC sudah menemui titik terang. Malam ini Honey tidak lupa dengan proyek besar kita lainnya yang tak kalah pentingnya bukan?", serak suara Maxwell sambil membelai pipi dan bibir wanita cantik di depannya. Ayesha sudah panas dingin. Ia hanya terdiam. Matanya terpejam. Denting detik-detik jam dinding terdengar jelas. Tak lama suara azan dari HP keduanya bersahutan pelan memenuhi kamar. Tuk ke sekian kalinya Ayesha bernafas lega. Namun tentunya hanya untuk sepersekian jam saat ini saja, bukan untuk satu jam kemudian. Degup jantungnya mendadak terpompa lebih kencang membayangkan sesuatu yang akan terjadi malam ini.