
Hari-hari berlalu dengan begitu cepat. Tak terasa sudah seminggu persiapan resepsi yang diinisiasi idenya oleh sang pengantin wanita berjalan dengan lancar. Semua dikelola sepenuhnya oleh Wedding Organizer milik perusahaan Maxwell. Ayesha hanya memberikan konsepnya saja. Mark dan Patch juga sudah lumayan pulih dan bisa berjalan dengan normal dan mulai beraktivitas ringan. Bibi Chrisine juga sudah pulih total dari luka-lukanya akibat peristiwa penyerangan di mansion. Julia Grace sudah kembali ke aktivitas semula sebagai dosen namun dengan pengawalan tersembunyi dari beberapa pengawal pilihan. Zeny yang sudah datang kembali pun senantiasa stand by di sisi Ayesha untuk menjadi body guard sekaligus asisten pribadinya jika tidak sedang bersama sang suami. Maxwell sudah mulai sibuk dengan rutinitasnya di perusahaan dan juga kunjungan proyek Islamic Center yang baru berjalan 50 persen. Gedung pusat pembinaan Islam di Australia nan megah dengan berbagai fasilitas lengkap di dalamnya itu menjadi proyek wakaf tersebut yang dilakukan Maxwell saat ini, di samping proyek-proyek lainnya seperti pembangunan perusahaan-perusahaan kecil di kampus-kampus ternama di Sydney dan belahan Australia lainnya.
Kini Ayesha dan Maxwell sedang berada di sebuah boutique milik Maxwell di pusat Kota Sydney untuk fitting baju pengantin. Setelah mencoba sekali baju putih mewah yang anggun dan elegan itu, Ayesha pun membukanya dibantu Maxwell di ruang ganti. Mereka hanya berdua di ruangan ganti yang tidak cukup luas itu.
"Aku belum lagi puas melihatnya Sayang, mengapa cepat sekali membukanya, hm?", Maxwell sedang berusaha membantu membuka resleting belakang baju resepsi pernikahan. Sedangkan Ayesha sibuk membuka pernak pernik jilbab bercadarnya. Mereka berdua baru saja selesai sesi foto mesra oleh WO dan Ayesha benar-benar meminta pada sang WO untuk tidak menyebarkan foto-foto tersebut selain untuk dokumentasi pribadinya bersama sang suami.
"Aku tiba-tiba merasa lapar Hubby", Ayesha berkata manja sambil mengelus perutnya dengan salah satu tangannya.
"Wah, sejak beberapa hari ini selera makan istriku makin bertambah ya?", Maxwell sudah menurunkan perlahan helaian kain sutra putih yang mewah di tubuh sang istri. Matanya selalu takjub melihat keindahan di depannya meski sudah sangat sering melihat bahkan menjamahnya.
"Entahlah By, aku sering tak mampu menahan rasa ingin makan dan makan"
"Makanlah selagi masih bisa makan Sayang...dan jika masih kurang...diriku yang tampan ini juga selalu bersedia engkau makan, hm?", bisik Maxwell genit. Bibirnya sudah menempel di bahu dan mengecupnya pelan. Sang istri pun langsung merinding dan tersipu.
"Isshhh..dasar..."
"Bukankah memang benar, hm? Makan itu bagus untuk seorang ibu hamil...karena ia bukan hanya untuk memberi makan dirinya sendiri tapi juga untuk calon anak dalam kandungannya. Nutrisinya juga harus diperhatikan agar tumbuh kembang anaknya menjadi baik. Bukan begitu?", jelas Maxwell panjang lebar sambil menahan senyum.
"Iya...iya...tapi memakan Hubby..."
"Apa? Istriku ini mau memakanku?", Maxwell pura-pura terkejut.
"Issshhh...Hubby tadi bilang...?"
"Maksudnya...makanan untuk batin Sayang...bukankah makanan lahir saja tidak cukup? Ibu hamil juga harus bahagia batinnya...dengan..."
"Ahhh...cukup...cukup...", Ayesha makin merona masih dengan memunggungi suaminya yang makin nakal. Ia meneruskan ucapannya. Ia sudah berhasil membuka jilbabnya dan meletakkannya di senderan kursi di depannya dan sibuk mengumpulkan aksesoris-aksesoris kecil yang barusan dipakai. Maxwell terus memepetnya.
"Tentu saja makan itu bagus... tapi jika berlebihan bagaimana? Aku baru saja makan buah apel 2 buah satu jam yang lalu By.... dan tadi pagi juga sudah sarapan. Aku takut ini cuma nafsu saja, tapi rasanya memang lapar. Sepertinya belum cukup juga semua yang aku makan sejak pagi...gimana nanti mempersiapkan diri menghadapi Ramadhan?", keluh Ayesha serius. Maxwell yang mendengarnya terpana. Ramadhan masih lama, istrinya sudah memikirkannya sejak sekarang?
"Buah lebih cepat dicerna bukan? Wajar jika Honey lapar lagi. Dan Ramadhan juga masih lama. Ada 4 bulan lagi. Mudah-mudahan ketika itu istriku dan anak ku sudah lebih kuat. Bukan begitu? Dan lagi, ada keringanan untuk seorang ibu hamil bukan?", tangan Maxwell mulai menggerayang. Ia yang semula berusaha serius namun kembali goyah setelah melihat keindahan yang bertambah di depannya. Tengkuk yang terekspos mulus dengan rambut indah di sana menggodanya kembali.
"Iya sih Hubby...tapi..terlalu banyak hutang puasa...rasanya lebih berat untuk menggantinya nanti..meski bisa membayar fidyah saja...tapi hatiku cenderung pada pendapat untuk membayar keduanya....", ujar Ayesha. Matanya terpejam merasakan sentuhan sang suami yang sudah semakin nakal di tubuhnya. Perasaanya campur aduk. Khawatir dengan Ramadhan-nya, geli dengan sentuhan-sentuhan Maxwell dan juga terangsang. Ayesha berusaha mengatur sensor perasaannya.
"Terserah Honey. Seberapa sanggup istriku ini menjalaninya nanti. Bisa jadi di kehamilan yang semakin tua nantinya engkau makin kuat dan mampu berpuasa dengan baik..."
"Aamiin. Semoga saja begitu. Terima kasih Hubby sudah menyemangatiku", Ayesha benar-benar khawatir. Ia merasa seminggu terakhir ini cepat lapar dan perutnya seakan perih menahannya. Begitu selesai makan walau sedikit maka perutnya terasa nyaman kembali.
"Tenanglah Sayang...atau jangan-jangan...Sayangku takut gemuk?", Maxwell tambah menggoda.
"Bukan begitu Hubby...wanita hamil menjadi gemuk itu biasa. Yang tidak biasa jika tidak hamil tapi mendadak gemuk. Pasti jadi aneh...", Ayesha mengerling nakal sambil berbalik. Ia berhenti sejenak.
"Maksudnya? Tiba-tiba seperti permen karet yang ditiup?", tanya Maxwell sambil memikirkan sesuatu di masa lalu.
"Itu dia. Kan aneh kalau ada manusia seperti itu?", Ayesha dan Maxwell membayangkan sendiri dalam imajinasi mereka dan kini saling menatap dengan ekspresi berkebalikan. Ayesha tersenyum namun Maxwell malah seperti merasa ngeri dengan sesuatu.
"Apa yang engkau bayangkan Sayang?", tanya sang suami.
"Hubby sendiri?", balik Ayesha.
"Aku membayangkan seorang manusia yang salah makan sesuatu dan tiba-tiba perutnya membesar dan makin besar...lalu...tarrrr...meletus...", sahut Maxwell seolah serius dengan ekspresi ngeri yang dibuat-buat.
"Ah, kok serem sih, Hubby kebanyakan nonton film horor", Ayesha ingat ketika Maxwell pernah bersenda gurau dengannya dan bercerita bahwa ketika remaja ia sering hang out bersama temannya ke bioskop menonton film horor.
"Honey sendiri membayangkan apa?"
Ayesha seketika bermimik serius sambil menerawang ke depan.
"Dan sekarang orang itu masih berprofesi sebagai badut?"
"Entahlah By. Waktu itu aku buru-buru mengejar ujian di kampus. Aku berniat ketika pulang akan mencarinya dan menawarkan bantuan. Tapi terlambat. Aku tidak menjumpainya lagi. Untuk itulah, pelajaran untuk kita, jangan pernah menunda suatu niat baik karena bisa jadi peluang kebaikan itu tidak akan datang lagi", lirih Ayesha.
"Hei..mengapa jadi sedih begini? Ayesha-ku bisa menambah niat-niat yang lebih banyak untuk berbuat baik dan sekaligus merealisasikannya bukan? Don't be sad", ujar Maxwell. Ia kembali menyentuh sang istri untuk mengembalikan suasana yang ceria tadi. Ia menggelitik pinggang Ayesha dengan sentuhan nakal. Sontak yang disentuh pun menggeliat dan memegangi pinggangnya dan tertawa. Ia benar-benar mengunci tangan Maxwell agar tidak banyak bergerak di kulitnya lagi.
Maxwell tersenyum melihat tingkah istrinya. Tidak lagi fokus, tangannya yang satu lagi makin nakal dan kini sedang menelusuri bahu polos sang istri. Ayesha hanya diam saja menahan nafas dan sesekali menggeliat geli sambil mengambil pakaiannya semula yang terletak di depannya, di samping sang suami. Setelah terlepas dari Maxwell yang cuma menggodanya saja, ia pun mulai sibuk mengenakan pakaian bawah dan atasnya. Ketika yang di atas dipasang, dengan nakal Maxwell menurunkannya lagi.
"Hubby...", Ayesha yang geli segera berusaha melepaskan tangan suaminya untuk menghentikannya. Matanya dibesarkan dengan mulut dikerucutkan.
"Wow..tambah manis saja istriku, hm?", bukannya takut, Maxwell malah makin gemas dengan tingkah sang istri yang tak pernah sebelumnya berlaku seperti itu.
"Baiklah. Baiklah. Aku takut sekali melihatmu begini", akhirnya Maxwell menyerah dan kini duduk dengan pasrah.
Wanita yang sedang hamil muda itu pun kemudian meletakkan baju yang sudah dilepasnya ke sebuah kursi di ruang ganti tersebut. Maxwell yang sejak tadi membantunya membuka pakaian dan kini duduk di kursi menatap sang istri memakai bajunya kembali dengan pandangan terpukau. Berulang kali ia menggoda dengan kembali bangkit dan menyentuh beberapa bagian tubuh Ayesha yang polos tapi sang istri lagi-lagi buru-buru melepaskan tangannya tersebut dan mengingatkan bahwa mereka tidak sedang di kamar sendiri dan harus bersegera karena dia benar-benar lapar.
Setelah selesai berpakaian, Ayesha pun duduk di kursi di samping Maxwell.
"Jika pun honey gemuk, tak masalah bagiku. Honey tetap cantik dengan berat badan berapapun. Itu bahkan akan terlihat lebih seksi, hm?"
"Terima kasih Hubby...aku percaya...Hubby tidak hanya mencintai fisikku... tapi juga batinku..
karena aku pun demikian padamu. Benarkah?", Kini Ayesha tersenyum manja sambil meletakkan kedua siku tangannya ke pangkuan Maxwell dengan wajah menghadap ke wajah kekasih tercintanya itu"
"Tentu saja, Sayang. Jika Honey tidak percaya, belahlah dada ini, maka akan engkau dapatkan ada banyak memori cinta yang hampir over load berisi namamu seorang", gombal Maxwell dengan tatapan genit.
"Argghhh...so sweet...bisakah aku merasakan gombalan suamiku ini hingga nenek-nenek kelak?", mata jelita sang istri berkedip-kedip.
"Tentu saja. Seberapa mau Honey minta aku akan terus mengatakan kata-kata mesra itu untukmu hingga di penghujung usiaku Sayang...", bisik Maxwell ke telinga Ayesha dan langsung menggigitnya pelan.
Ayesha yang sudah merasakan ada hal tak diinginkan bakalan terjadi pada hitungan detik berikutnya langsung meng-cut dan menjauhkan dirinya. Ia kembali berdiri dan memegangi perutnya.
"Hubby, aku sungguh-sungguh merasa lapar sekarang. Bisakah?", tatapnya memelas.
"Tentu saja, Sayang. Apa sih yang tidak buat istriku yang cantik ini?"
"Benarkah?"
"Tentu saja"
"Sungguh?"
"Bukankah sudah ku katakan tadi, hm?"
"Baiklah, kali ini semoga bukan cuma gombalan semata", Ayesha memasang wajah imut. Perasaan Maxwell mendadak tidak enak.
"Kalau gitu..aku ingin...Hubby..."
"No no no...tentu saja yang aku bisa Sayang. Bukan begitu?", Maxwell mulai takut. Ia pernah membaca tentang permintaan aneh para ibu hamil.
"Sepertinya ada yang sudah pakai tameng...", Ayesha tersenyum geli. Membayangkan sesuatu dalam benaknya jadi buyar melihat ketakutan sang suami.
"Hubby tenang saja...aku tidak minta yang aneh-aneh kok. Percayalah...Bukankah tadi Hubby bilang..apa sih yang tidak untukku? Ataukah itu hanya gombalan receh semata?", Ayesha menyipitkan matanya.
"Tentu saja tidak. Aku mampu memberikan apapun yang istriku ini minta...asal aku memang mampu memberikannya...", jiwa lelaki Maxwell kembali tertantang. Pantang baginya menarik kata-katanya. Ia memandangi istrinya. Menyembunyikan kekalutan hatinya. Ia baru sadar. Istrinya bukan seorang wanita materialistis, melainkan agamais. Ia tak pernah minta sesuatu berbau dunia karena ia sendiri mempunyai uang dan harta yang cukup di rekening pribadinya. Unlimited card yang diberikannya saja terdeteksi hanya dikeluarkan untuk transfer ke yayasan amal lembaga dakwah islam, panti asuhan, pembangunan mushollah dan masjid dan lainnya. Hanya sesekali untuk sesuatu yang nominalnya kecil. Pakaiannya branded namun terbatas. Tidak terlalu banyak, cukup untuk kebutuhan saja. Aksesoris-aksesori yang biasa dipakai seorang wanita juga tidak banyak. Hanya seperlunya saja. Maxwell kembali menelan ludah. Ia sekarang cemas akan sesuatu permintaan yang sulit untuk dipenuhinya. Mendadak bayangan seorang Ustadz pengelola Islamic Center yang sedang dibangunnya saat ini berkelebat. Ada satu janji pada sang istri berkaitan dengan sang Ustadz yang belum ditunaikannya. Ayesha nampak mengulum senyumnya menyadari gelagat sang suami yang mulai ciut nyalinya.