
Pria bertopeng yang semula menindih Ahmed kini luruh ke tanah dengan posisi telungkup. Ahmed menarik kakinya dan begegas menyingkap topeng si lelaki yang sudah kalah tersebut. Dadanya berlumur darah. Ia lalu bangkit menjauh. Matanya tak lepas dari sosok tubuh sang penyerang yang tak bergerak lagi. Ia melirik ke tangan kanannya sendiri yang masih memegang pistol. Ahmed terkesiap. Ia menatap tajam ke ujung pistolnya yang berdarah. Dadanya bergemuruh. Seumur hidupnya ia tak pernah membunuh orang meski dalam keadaan genting karena diserang orang jahat. Hatinya bergetar. Ada rasa takut dan penyesalan dalam dirinya karena gegabah meski ia tak sengaja menembakkan peluru pistol yang jadi rebutan antara dia dan si penyerang. Ahmed menelan ludah. Matanya kini beralih mengawasi keadaan sekitarnya. Ia memastikan bahwa semua penyerangnya sudah tak berdaya. Sambil menatap was was sekeliling, Ahmed memutuskan untuk pergi sebelum terjadi lagi penyerangan. Dia ingat bahwa 9 orang sebelumnya hanyalah pingsan dari pukulannya dan cuma satu terakhir yang kemungkinan tewas akibat tembakannya.
Peter kembali menyunggingkan senyum tipisnya ketika mendapatkan laporan dari anak buahnya. Ia melipat kedua tangannya di dada dan memberi perintah selanjutnya. Sang anak buah memberi hormat dan berlalu. Peter kemudian mengambil HP nya dan menelpon Boss-nya.
"Hallo Boss. Sekarang masuk plan ke tiga"
"Akan saya kabari selanjutnya"
"Baiklah", tutup Peter.
Sementara itu Maxwell dan Ayesha yang saat ini sedang dalam perjalanan sedang menonton video yang dikirimkan Peter di dalam mobil. Ayesha nampak menggeleng-gelengkan kepalanya menyaksikan ulah para anak buah Maxwell.
"Hubby benar-benar ingin membuat Kak Ahmed berkeringat dan sport jantung ya....?"
"Bukankah dia sudah lama tidak melakukannya?"
"Tapi Hubby, Kak Ahmed pasti saat ini dihantui rasa bersalah karena menyangka telah membunuh orangmu"
"Biarkan saja. Itu hanya sebentar saja bukan?"
"Lalu apa lagi yang akan Hubby lakukan?"
"Masih ada Plan 3. Honey tenanglah. Akan ada pertunjukan yang lebih seru lagi. Kita akan lihat seberapa kuat jiwa kakak kesayanganmu itu", Maxwell tersenyum penuh makna. Ayesha hanya bisa menarik nafas. Ia penasaran namun meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.
"Aku percaya Hubby tidak akan mencelakakan Kak Ahmed. Buatlah ia bersenang-senang hari ini menurut versi Hubby. Nanti malam sudah berakhir bukan?"
"I promise. Tapi sebelum sambutannya berakhir, kita akan menikmati suasana pantai yang menghangatkan bukan?", Maxwell menggenggam tangan istrinya meyakinkan. Diciumnya tangan nan lembut itu disertai tatapan nakal. Ayesha menunduk. Ia jengah dan selalu tersipu jika sang suami sudah mulai menggoda. Maxwell yang melihat tingkah sang istri yang tak pernah berubah jika digoda makin bersemangat meneruskan rencananya. Ia menyibakkan kain penutup wajah Ayesha dan mengelus pipi mulus di baliknya dengan lembut. Zeny yang menjadi supir mereka sekilas menatap dari kaca spion mobil dan langsung mengalihkan pandangannya. Sang bodyguard cantik itu tersenyum tipis. Ia hanya bisa membayangkan kemesraan kedua tuannya saja karena saat ini ia harus fokus mengemudi.
"Apakah aku boleh minta tolong Tuan? I lost my wallet and my cell phone and I need to call my sister now", pinta Ahmed memohon pada sang petugas. Sang pria yang dimintai pertolongan nampak berpikir sejenak sambil menelusuri penampilan Ahmed juga mobil yang dibawanya. Tak lama ia pun memberikan HP nya.
"Thanks Sir"
Ahmed pun langsung menelpon Ayesha di depan sang pria petugas. Dering panggilan terdengar beberapa saat namun tidak lama. HP Ayesha tidak bisa dihubungi lagi. Ahmed kemudian mencoba menghubungi Maxwell. Hanya kedua nomor itu yang dia punya di Ausy, itu pun ia beruntung karena nomor Maxwell mudah untuk dihafal dan nomor Ayesha sendiri memang tidak pernah ganti sejak adiknya itu membeli ponselnya pertama kali ketika kuliah. Namun harapan Ahmed seketika sirna, nomor Maxwell tidak bisa ia hubungi, sambungan dialihkan. Tak kehilangan ide, Ahmed pun berusaha menghubungi Uncle John. Setelah tersambung ia pun bercerita ke Uncle John sedikit bahwa ia kehilangan dompet dan ponselnya di Ausy dan ia meminta Uncle John untuk menolongnya mengirimkan sejumlah uang ke nomor rekening yang akan dikirimkannya melalui no HP yang dipakainya saat ini. Sekilas Ahmed melirik box ATM di area pom bensin dan setelah menutup telponnya ia pun menyampaikan permintaannya pada sang petugas.
"I'm sorry to make you busy Sir, please help me. My Uncle will send me money. Can I ask your account number?"
"Oh God. Can I trust you?"
"Sure. You can take this car key as the guarantee if you are still doubt of me. I'm waiting for you here".
Sang petugas akhirnya memberikan nomor rekening bank nya dan Ahmed pun mengirimkannya ke Uncle John. Selang lima belas menit kemudian masalah uang pun selesai dan kini Ahmed dengan lega meneruskan perjalanannya. Sebuah counter ponsel. Itulah tujuannya. Ia harus membeli ponsel baru agar mudah menemukan mansion Maxwell yang dia sendiri tak tau sama sekali dimana keberadaannya. Dia hanya ingat alamatnya.
Ketika sedang melamun memikirkan peristiwa yang menimpanya, Ahmed dikejutkan dengan sebuah teriakan. Sesosok tubuh tiba-tiba sudah berada di depan mobilnya yang melaju tidak terlalu kencang dan Ahmed pun langsung merem dengan semaksimal mungkin. Hatinya berdebar. Ia pun langsung keluar dari mobil dan melihat apa yang terjadi. Sesosok tubuh wanita paruh baya tergeletak di tengah jalan dengan kepala bersimbah darah. Wajahnya tertutup rambut dan darah. Ahmed beristighfar. Apakah aku menabraknya? Bukankah tadi tidak terlihat ada orang yang menyebrang jalan? Ahmed bertanya-tanya dalam hati. Ia pun langsung melihat ke sekeliling bermaksud mencari pertolongan. Namun jalanan sangat sepi. Ia sedikit heran. Bukankah ini jalan raya, mengapa tidak terlihat lalu lalang pengemudi seperti biasa? Wanita itu, mungkin dari pemukiman di sekitar sini, namun mengapa tidak terlihat ada rumah di sekitar sini? kedai atau tempat bisnis apapun tidak ada. Sepi. Hanya pepohonan di pinggir jalan. Perumahan dan ladang bisnis nampak cukup jauh. Ahmed pun segera tersadar dengan keanehan yang ditemukannya dan semakin merasa aneh ketika kembali ke tempatnya semula dan tidak lagi menemukan sosok perempuan yang ditabraknya tadi.
Ahmed pun kembali ke mobilnya dan segera melajukannya dengan kencang. Ia ingin segera mendapatkan ponsel dan mencari penginapan sementara untuk menenangkan hatinya. Rencananya ia akan meninggalkan mobil yang dipakainya nanti di penginapan tersebut dan segera mencari mansion iparnya. Tak lama, Ahmed pun menemukan apa yang dicarinya. Setelah membeli ponsel dan mengaktifkan kembali nomor ponselnya yang biasa juga mengaktifkan lokasi untuk mencari alamat mansion Maxwell ia pun menarik nafas lega. Ternyata alamat Ayesha tinggal masih jauh dan membutuhkan waktu sekitar 2 jam lagi. Ia pun menuju hotel terdekat setelah sebelumnya membeli beberapa stel pakaian. Setelah makan malam di restoran hotel, Ahmed pun masuk ke kamarnya dan mulai mencoba menghubungi Ayesha dan Maxwell. Namun tak satupun yang aktif. Ahmed pun heran. Tak biasanya mereka berdua sulit dihubungi, apalagi ia sudah mengatakan kalau akan datang hari ini. Tidakkah mereka bersiap untuk menyambutku? Apakah mereka melupakanku? Ahmed mulai merasa kesal. Sambil beristighfar ia pun menutup malamnya dengan sholat witir dan bersiap tidur. Ahmed ingin merenggangkan otot-ototnya yang tegang seharian ini akibat pertarungan dan pembunuhan yang dilakukannya. Sengaja atau tidak.
Jam menunjukkan waktu tengah malam ketika Ahmed terbangun dari tidurnya akibat listrik mati dan suara-suara yang tak biasa didengar. Setelah meraba-raba tempat tidurnya dan menemukan ponselnya dan menghidupkan senter kini Ahmed pun bisa bernafas dengan tenang. Kegelapan dan kegerahan karena lampu dan AC yang mati perlahan bisa dihadapinya. Masih setengah sadar dengan keadaan di sekitarnya lampu senter dari ponsel Ahmed menangkap bayangan putih seperti berjalan melayang dari arah pintu kamar. Ahmed terkesiap. Ia memfokuskan kembali senternya namun tidak menemukan apapun lagi. Suara jam dinding berdetak menandakan sepinya malam ini, karena mungkin listrik padam sehingga aktivitas malam di hotel tersebut berhenti. Atau mungkin karena kamar hotel kedap suara.
Ahmed pun bangkit dan bulu kuduknya seketika berdiri ketika terdengar suara rintihan perempuan. Mendadak muncul wajah mengerikan penuh darah dengan rambut terurai panjang tertangkap senter HP nya membuat Ahmed spontan berteriak.
Aghhhh....
Ahmed beristighfar berulang-ulang. Wajah wanita yang ditabraknya sore tadi kembali terbayang dibenaknya, persis dengan bayangan yang barusan dilihatnya. Pria itu merasa berhalusinasi. Ia kemudian mencoba tenang dan kini duduk di sisi tempat tidur sambil membaca ayat kursi. Ia berkonsentrasi untuk melakukan ruqyah agar terbebas dari gangguan jin yang menurutnya sedang menyerangnya saat ini. Ketika tidak lagi terdengar dan melihat apapun dia pun mulai tenang. Pria itu mulai berpikir jernih kembali dan menguatkan hatinya bahwa ini tak seperti yang ia bayangkan. Tidak ada hantu. Ini semua pasti gangguan jin yang mencoba menakutiku karena peristiwa hari ini. Ya Allah, ampunilah aku, gumamnya. Ahmed pun melangkah menuju kamar mandi dengan bantuan senter HP di tangannya dan seketika ia berteriak ketika wajah seorang lelaki muncul dengan dada penuh darah tertangkap lampu senternya tepat di depan pintu kamar mandi. Mata dari sosok berdarah itu melotot mengerikan dan Ahmed pun langsung terduduk lemas di lantai dan memejamkan matanya. Ia ingat, itu adalah wajah pria yang berebut pistol dengannya di hutan dekat pantai. Ia kembali membaca ayat suci al quran berharap semua gangguan ini akan segera berlalu. Setelah beberapa saat suasana pun kembali tenang. Dengan cepat Ahmed pun masuk ke kamar mandi dan berwudhuk. Tak lama kemudian ketika ia selesai menunaikan sholat tahajjud, lampu dan AC kembali menyala. Ahmed bergegas mengambil ponselnya ketika terdengar dering telpon. Sudut bibirnya naik. Ia merasa sangat lega. Ayesha memangggilnya.