
Maxwell mengerjapkan matanya dan bangun dari tidurnya. Ia duduk dan langsung menatap ke arah bed di sampingnya. Sontak ia pun merasa lega karena masih mendapatkan Ayesha di sana. Maxwell melirik jam dinding dan kemudian mengambil ponselnya.
"Bagaimana?"
"Dokter itu sudah sampai?"
"Good"
Maxwell bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri. Ia sekarang sudah berganti pakaian dan nampak segar. Dipandanginya sang istri yang masih terlelap dan menutup wajahnya dengan masker yang dibawakan perawat. Tak lama Ayesha pun bangun dan mendapati sang suami yang berdiri di dekatnya.
"Hubby..."
"Ada apa Sayang?"
"Terima kasih"
"Don't mention it"
"Terima kasih sudah setia menemaniku dalam suka maupun duka"
"Aku juga demikian. Jangan berkata seperti itu lagi. Aku yang harusnya minta maaf karena sudah membuatmu terluka seperti ini. Menjadi pendamping seorang mafia sepertiku, sungguh banyak resiko yang harus Honey alami. Contohnya seperti saat ini", Maxwell meraih tangan Ayesha dan menciumnya. Belum sempat Ayesha menjawab, seseorang membuka pintu kamar. Ingin rasanya Maxwell marah karena tidak mengetuk pintu lebih dulu, namun ia teringat bahwa ini ruang ICU dan di rumah sakit, adalah hak dokter dan perawat berbuat sesuai tugas mereka.
Muncul tiga orang di pintu. Mark, sang perawat suruhan Maxwell selama ini dan seorang wanita paruh baya berkaca mata yang sepertinya berkebangsaan China. Di tangannya ada sebuah tas hitam yang cukup besar.
"Tuan. Ini dokter spesialis dari Singapore itu", jelas Mark.
Sejenak Maxwell dan sang dokter saling bertatapan. Maxwell ingat dengan foto yang diberikan padanya. Ia sudah mendapat informasi tentang biografi dr Mei Link melalui anak buahnya di Ausy. Ia juga sudah mentransfer sejumlah uang yang cukup besar agar sang dokter yang terkenal ini mau datang mengobati Ayesha.
"Anda dr Mei Ling?".
"Ya. Sayalah yang Anda telpon kemarin malam", sang dokter berkata dengan Bahasa Inggris yang sangat fasih.
"Terima kasih. Anda datang tepat waktu"
"Berterima kasihlah pada anak buah Anda Mark yang sudah memaksa saya datang", dr Mei Ling melirik Mark dengan tatapan datar. Maxwell mengernyitkan dahi. Jadi bukan hanya karena uang yang banyak sehingga dokter super sibuk ini mau datang?, gumam Maxwell dalam hati. Seketika Maxwell melirik Mark. Yang dilirik hanya menunduk menghindari. Kau berhutang penjelasan padaku, Mark, batin Maxwell.
"Sudahlah. Aku tak punya waktu banyak. Inikah istri Anda yang harus saya tangani?", tanya sang dokter.
"Ya. Aku ingin membawanya segera pulang ke Ausy hari ini juga. Bisakah kau memberikan obat yang terbaik untuknya?"
"Diamlah. Aku akan memeriksanya dulu", ketus sang dokter. Maxwell menelan ludah melihat sikap sang dokter yang sangat berani.
"Maaf Nyonya, saya periksa dulu", dr Mei Ling meminta ijin pada Ayesha yang menatapnya dengan bingung.
Dr Mei Ling kini mendekati Ayesha dan tanpa basi-basi melakukan pemeriksaan. Mulai dari melihat layar monitor di samping bed, memeriksa detak jantung dan kini hendak membuka baju bagian atas.
"Tunggu", sela Maxwell. Dr Mei Ling menatapnya dengan kesal.
"Mark, dan kau, keluarlah!", seru Maxwell pada Mark dan sang perawat pria. Yang disebut namanya seketika tersadar dan bergegas keluar dan menutup pintu pelan.
"Lanjutkan!"
Dr Mei Ling hanya menggelengkan kepalanya menyaksikan tingkah Maxwell yang menunjukkan keposesifannya. Wanita cantik setengah baya itu melanjutkan kembali pemeriksaanya. Ia membuka baju atas Ayesha dan mulai menge-check bekas luka operasinya. Setelah selesai ia pun memeriksa kandungan Ayesha melalui USG.
Beberapa waktu kemudian, setelah pemeriksaan dan menyuntik Ayesha via selang infusnya dengan beberapa jenis obat, sang dokter kini berkata pada Maxwell yang sejak tadi mengawasi dari awal hingga akhir.
"Tidak buruk. Meski di sini bukan rumah sakit besar, namun tindakan awal para dokter di sini sudah benar. Aku sudah memberikan tambahan obat yang paling paten. Istrimu tidak akan kesakitan lagi dan ini bisa bertahan hingga kalian tiba di Ausy. Janinnya juga sehat. Sepertinya calon anakmu memang akan terlahir sebagai jagoan karena ia bisa bertahan demikian kuatnya melalui berbagai goncangan dan kejadian"
"Terima kasih. Apakah aku bisa membawanya sekarang?"
"Setengah jam lagi. Bisa. Gunakan kursi roda"
"Baiklah. Terima kasih banyak"
"Ini obat yang harus diminumnya nanti malam dan besok pagi. Setelah ini kalian bisa rutin check up di Ausy. Bukankah di sana banyak dokter hebat?", sang dokter memberikan sebuah bungkusan obat.
"Terima kasih dokter. Anda baik sekali. Terima kasih sudah bersusah payah kemari", sahut Ayesha sambil tersenyum.
"Sudah menjadi tugasku. Permisi"
Maxwell mengantar dr Mei Ling keluar. Sampai di pintu luar ia mengatakan sesuatu pada dokter wanita tersebut.
"Dokter, tolong periksa juga pasien bernama Luke. Mark akan mengantar Anda. Pastikan pasien itu baik-baik saja".
"Baiklah", sahut dr Mei Ling.
"Mark, kau tau apa yang harus kau lakukan bukan?"
"Tentu Boss", sahut Mark.
Mark dan dr Mei Ling pun kini melangkah ke arah ruangan Luke berada. Sang perawat masih menunggu Maxwell.
"Anda, tolong panggilkan perawat wanita yang akan melepaskan infus Ayesha"
"Baiklah Sir", sang perawat pun berlalu.
Maxwell menarik nafas pelan dan masuk kembali menemui istrinya.
Selang beberapa jam kemudian, Ayesha dan Maxwell serta rombongan anak buah Maxwell pun kini sudah berada dalam pesawat pribadi Maxwell.
Ayesha yang duduk bersisian dengan suaminya kini terbangun. Sejak baru naik di pesawat tadi dia sudah terlelap karena kelelahan. Ia memandangi wajah tampan Maxwell yang ternyata juga terlelap seperti dirinya. Wajah maskulin yang rupawan itu begitu tenang. Pahatan sempurna dari Zat Yang Maha Indah itu adalah sosok pasangan hidupnya yang jika diingat kembali bagaimana mereka bersama maka akan sangat sulit dipercaya oleh siapa pun. Ayesha membayangkan kembali awal pertemuan mereka dulu dan ia hanya bisa berdecak kagum pada skenario yang Allah berikan dalam kehidupannya. Pelan ia menyentuh perutnya dengan tangan kanannya, mengelus sayang buah hati yang Allah titipkan padanya melalui pernikahan dengan seorang mafia di sampingnya. Sementara tangan kirinya masih saling bertaut seolah tidak ingin dipisahkan dengan sang suami.
Ayesha tersenyum dari balik cadarnya. Ia kembali teringat kejadian di kamar mandi ketika Maxwell membantunya membersihkan diri. Jika saja ada yang bisa mengintip wajahnya yang putih di balik cadar, maka akan terlihat rona merah malu-malu di sana. Ayesha mengingat kembali tiap adegan ketika ia berdua bersama Maxwell di kamar mandi. Mulai dari sang suami yang membantu membuka helai demi helai pakaiannya dan kemudian membersihkan tubuhnya yang polos dengan handuk basah, juga kemudian memakaikannya kembali pakaian baru yang dibawakan sang perawat. Jika semua itu hanya itu saja, tentu tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah, ketika Maxwell terlihat begitu menahan dirinya ketika melakukan semua itu. Hingga ia kemudian mencuri ciuman pertama setelah pertemuan mereka sejak Ayesha diculik. Maxwell tak mampu menahan diri untuk tidak menyalamkan bibirnya ke bibir sang istri yang sangat menggodanya. Awalnya hanya sebatas menumpahkan kerinduan namun setelah itu hasratnya yang lama tertahan semakin menuntut hingga akhirnya Ayesha pun harus membantunya untuk menuntaskan. Sebenarnya Ayesha sangat malu melakukannya karena selama ini yang langsung memuaskan suaminya dengan layanan di atas ranjang. Namun dalam kondisinya yang sedang sakit dan Maxwell juga tak mau melakukannya karena khawatir akan menambah rasa sakit sang istri akhirnya memohon padanya untuk membantu dengan cara yang tak biasa.
Ayesha menggelengkan kepala mengingat semuanya. Begitulah kebutuhan biologis seorang pria. Tak sama dengan wanita. Meski Ayesha juga sangat merindukan sentuhan sang suami, namun ia bisa menahannya dengan mudah. Namun jika seorang suami yang menginginkan? Ternyata menahan keinginan tersebut sangatlah berat karena fitrah kebutuhan biologisnya sebagai seorang pria sehat yang sudah menikah sangatlah besar. Mungkin karena itulah, dalam Islam, pria boleh berpoligami karena faktor tersebut.
Maxwell tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan dengan buru-buru langsung berdiri dan berlari ke arah toilet sambil menutup mulutnya. Ayesha hanya bisa menyaksikan tanpa bisa berbuat apapun ketika sang suami 10 menit kemudian baru kembali dengan muka pucat.
"Hubby...ada apa denganmu?"
"Tidak apa-apa Sayang...", Maxwell mendudukkan kembali tubuhnya di sisi Ayesha. Tak lama Mark sudah muncul dengan sebuah kotak.
"Ini Tuan, makanlah segera"
"Terima kasih", dengan semangat Maxwell pun meraih kotaknya dan membukanya. Ayesha yang melihat isinya yang terdiri dari beraneka ragam cemilan buah mulai menduga-duga. Apalagi kini Maxwell dengan semangat menyantap isinya. Mark yang sudah biasa melihat sang tuan seperti itu di pesawat sebelumnya hanya menelan ludah merasakan ngilu membayangkan rasa asam mangga muda. Ia kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Honey...kau mau?", tawar Maxwell di sela-sela makan.
"Tidak Hubby. Sejak kapan Hubby suka makan nenas? Dan itu...bukankah itu mangga muda?"
"Sejak...", Maxwell tidak melanjutkan bicaranya. Ia nampak terburu-buru menyelesaikan makanannya. Setelah selesai, Maxwell nampak sangat lega.
"Hubby....Hubby nyidam?"
"Ya"
Ayesha terperangah dan hanya bisa menatap sang suami dengan pandangan shock.
"Itu karena aku sangat mencintaimu. Biarlah aku yang mengalaminya. Jika bisa, ketika ia lahir, biarlah aku yang merasakan sakitnya. Honey cukup mengandungnya dalam rahim yang tak kupunyai dan mengeluarkannya dengan selamat", Maxwell menatap mata biru di depannya dengan senyumnya dan menyentuh wajah istrinya di balik cadar dengan kedua tangannya.
"Hubby....", hati Ayesha terasa meleleh. Ia speechless mendengar kata-kata sang suami yang sangat mengharukan baginya.
"Sayang...I do love you. I love you very much. How do I live without you..."
"Semoga Allah menjaga cinta kita hingga ke syurga. Semoga Allah selalu beserta kita dan menjaga kita dengan penjagaan-Nya. I love you too", Ayesha membalas dengan meraih tangan Maxwell di wajahnya dan menciuminya. Sepasang mata mereka bertemu dan cukuplah pandangan merindu di sana memancarkan perasaan di hati masing-masing, yang dipenuhi rasa cinta sebagai pasutri, pasangan suami istri.
Sementara itu, Mark yang melihat adegan mesra boss-nya melalui cctv pesawat hanya bisa memalingkan wajahnya. Aghhhh, tak seharusnya aku menyukai istri boss-ku sendiri. Ya Tuhan, berikan aku sosok wanita yang bisa mengalihkan perasaan ini. Aku hanya mengagumi Nyonya. Ya, hanya mengagumi saja, gumam Mark dalam hati. Mendadak ia teringat sesosok wanita berhijab yang sedang terluka yang ditinggalkannya di resort Maxwell. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya bingung.