
19.35, rumah Abid.
"Tok tok.. misiii, mo masuk bole ga??"
"Hmm, masuklaaa"
Balqis pun masuk ke kamar. Pemandangan yang ia lihat pertama adalah Abid yang sedang sibuk bermain game.
"Apaa-apaaann, aku diluar nunggu kamu. Kamunya disini main game!" Omel Balqis kesal.
"Reunian, bentar doang." Balqis menatap kesal Abid, ia menghampirinya lalu duduk tepat di pangkuan Abid.
"Sayang, bentarrr."
"Gak mau!" Balqis memeluknya.
"Ahh.. ada yang tegak tapi bukan keadilan." Balqis cengengesan mendengarnya, hanya sebentar, setelah itu kembali cemberut.
"Bentar ajaa sayang, turun dulu."
"Apaan sih?! Lebih milih game daripada akuuu?!"
"Nggak gituu, nggak kok, nggak."
"Terusss?! Game lebih penting dari pada aku sampe aku di kacangin? Teruss duduk di pangkuan kamu aja ga bisaaaa?!"
"Nggak gitu cantikk kuu."
"Gak tau aahh! Kalau mau main yauda main aja terus, aku mo makan di luar!" Ia hendak turun tapi Abid menahannya.
"Ish lepas!!"
"Lebih mentingin game kan!! Lepassssss!"
"Apaann nggak kok," Abid tertawa sambil memeluk Balqis. Ahh wanitanya sangat menggemaskan saat ini.
"Nggak apanya? Tadi jelas jelasss kamu pilih game daripada akuu!!"
Abid tidak menjawab, ia mengeratkan pelukan. Sesekali mengelus punggung Balqis.
Balqis yang diperlakukan seperti itu berhenti merajuk, ia diam tanpa suara. Bahkan ia menikmati posisinya saat ini.
"Udah tenang?" Balqis berdehem.
"I love you not love game, you know that."
"Yes, I know. But, i'm jealous!" Abid tertawa kecil, ia masih memeluk erat Balqis.
"So, istri ku mau apa biar gak jealous lagi??"
"Gak tauuu!" Balqis mempererat pelukan, ia mendusel-dusel di leher Abid.
"Hey heyyy, you know i don't like that."
"Yes, i know. But, i like it."
Abid melepas pelukannya, ia menatap Balqis kesal. "Turun gih, sebelum ku sosor."
"Sosor lah, kalau berani!"
"Apa pula gak berani?" Abid mendekat kan wajahnya ke wajah Balqis. Balqis tertawa kecil, ia mendorong muka Abid lalu keluar dari pelukan dan berlari keluar kamar.
"Hehhh!! Berani mancing kudu berani tanggung jawaaabbb," omel Abid kesal.
"Nggaaa dengerrrrrr!" Abid mengejar nya keluar kamar.
Ia menemukan Balqis yang duduk santai di sofa, Abid mengendap-endap.
"Derrrr!!"
"Astaghfirullahalazim!" Abid terkekeh melihat ekspresinya.
"Tanggung jawab dulu kamuu," omel Abid.
"Gak mauuuu," Balqis cengengesan.
"Dih dasarrr!" Abid menggendong Balqis.
"Abaaaanggg gamaaauuuuuu"
"Gamau apaa??" Tanya Abid sambil menggendong Balqis keluar rumah.
"Wait, ini mo kemanaa?" Balqis menatap Abid heran.
"Makann."
"Tapi tadi udahh, setengah jam yang laluu."
"Tadi kamu bilang mau makan di luar, ya ayoo!" Abid memasukkan Balqis ke mobil barunya kemudian berpindah ke kursi pengemudi.
"Balqis masih pake baju tidurrr!"
"Teruss? Gak bagusss cewek yang udah nikah keluar pake make up."
"Ish, yang pake make up juga siapaa? Setidaknya Balqis ganti bajuu abangg."
Abid tidak menjawab ia fokus mengeluarkan mobil dari garasi, "pak saya makan di luar sebentar, jaga rumah ya"
"Iya siap, mas!" Abid tersenyum lalu pergi meninggalkan rumahnya.
"Abang mah enak, udah pake hoodie. Ehhh wait, INI KENAPAA PAKE CELANA PENDEKK?!!"
"Emang kenapa?"
"Nanti di liat cewek lain lahh, gantii duluuu! Ayoo gantii" Abid tertawa.
"Gausah, kita makan tempat mas Abiyyu kok."
"Kak Biyu?" Abid mengangguk.
"O yaudah," Balqis auto kalem. Ia menoleh keluar kaca mobil.
"Sayang sini" Pinta Abid.
"Ngapain? Abang kan lagi nyetirrr, nanti ada yang tegak lagi Balqis gak mau tanggung jawabb." Abid tertawa kecil.
"Nggakk, sini lah."
"Gak mau, gak usah mesumm."
"Dosa tau istri nolak suami nya." Balqis menatap kesal Abid.
"Mo ngapain cobaa??" Perlahan ia pindah ke pangkuan Abid. Balqis juga memeluk Abid, meletakan kepalanya di leher Abid.
"Gak ngapa-ngapainn, enak di peluk sama kamuu." Balqis tersenyum, ia mempererat pelukan. Abid mengelus lembut punggung Balqis dengan satu tangan.
"Tapi abang lagi nyetirr," bisik Balqis.
"Pejem mata juga bisaa, gak bakal nabrak kokk."
"Dihhhh, sombonggg." Abid tersenyum songong.
"Posisinya anehhh, Balqis mo pindahhh."
"Pindah keluar mobil?"
"Oh di usir?"
Abid tertawa melihat ekspresi Balqis, "pindahlah. Pelan-pelann." Balqis mengangguk kemudian pindah ke tempat semula.
"Tadi kamu prank katanya lagi main ToD, kan? Berarti udah punya temen dong?" Balqis mengangguk lagi.
"Tapi kayaknya gak tulus deh bang. Soalnya tadi dia manggil terus nanya gini, 'Balqis yang tadi sama lu siapa?' gituuu."
"Kamu jawab?"
"Temen"
Abid langsung ngerem mendadak.
"Temen?? Ku kira hubungan kita istimewa, ternyata hanya sebatas teman."
Balqis mengedipkan matanya dua kali, masih mencerna situasi. "Apaapaannn, nggak gituuuuu ishh. Maksudnya kan temen hidup abanggg."
"Alesannn. Terus kamu bilang gak tulus maksudnya gimana?" Abid kembali mengemudi, aura nya berbeda, Abid keliatan badmood.
"Mereka oh doang pas bilang temen, Balqis lanjut lah bilang temen hidup. Abistu mereka ketawa bilang Balqis halu, siap ketawa Balqis diajak makan bareng ke kantin."
"Terus??"
"Nah kan main ToD tuu, dikasih tantangan yang tadi. Balqis telpon abang dehh, mereka tanya telpon siapa Balqis bilang telpon bang Abid."
"Mereka cuma diem kannn, waktu abang bilang kek tadii Balqis enceng main abistu pergi dari sana. Waktu kita beduaan tadi kayaknya mereka ngintip dehh tapi gak tau dimana. Mungkin Balqis gak di temenin lagi besok," Abid berohria.
"Udah cerita panjang cuma di jawab oh. Ini abang ngambek apa gimana??"
"Gak tau, coba tanya pak rt."
"Widiiii. Di apain nih biar gak ngambek??" Abid diam.
Cup!
Cup!
"Dah jangan ngambek!!"
❃❃
"Asoyyy, ada cogann datenggg." Abid tertawa mendengarnya.
"Sa ae lu, mas."
Abiyyu menoleh ke arah Balqis, "pake baju tidur juga cakep yaa Balqis. Pantesan Abid gak mau berpaling."
"Gak usah genit lu, gue tabok nantiii." Abiyyu tertawa geli.
"Mau makan apa?"
"Em.. yang paling populer aja."
"Balqis mau apa?"
"Terserah, kak."
"Andalan cewek terserah yaa." Balqis cengengesan mendengarnya.
"Samain aja kea punya gue."
"Oke-oke, bentar ya. Tamu spesial kudu dapet menu spesial."
"Cocoteee," Abiyuu terkekeh lalu pergi.
"Rame juga kafe kak Biyyu, pasti banyak uangnya."
"Ada udang di balik batu, ya?!"
"Apaann, nggak yaa. Suudzon muluu, herann." Abid cengengesan.
Balqis berpindah, ia menyandarkan kepalanya di bahu Abid.
"Kenapa?"
"Kamuu diliatin sama cewek-cewek." Bisik Balqis kesal. Gaya bicaranya selalu aku-kamu jika berada di luar atau sedang kesal.
"Cemburu?" Bisik Abid balik.
"Tanya aja sama pak lurah!" Abid tertawa.
Cup!
Abid mengecup keningnya sekilas kemudian mengelus rambut Balqis lembut.
Balqis mengambil ponselnya, ia mengajak Abid foto bersama. Bukan hanya foto, Balqis juga membuat video untuk di upload ke instastory instagram nya.
Di video Abid hanya menatap sinis Balqis, "selo lah matanyaaa bosss."
Abid tertawa, ia mengecup kening Balqis lagi lalu menoleh ke ponselnya. Balqis pun meng-upload satu video itu ke snapgram nya.
"Kenapa?" Tanya Balqis heran melihat Abid.
"Shelia, dia baru keluar dari tempat terpencil itu. Pokoknya besok kamu kalau kemana-mana harus lapor sama aku, kemana-mana harus bawa bodyguard."
Balqis hanya mengangguk, ia tau suaminya sedang mencemaskan dirinya.
"Kenapa muke lu?" Abiyyu datang dengan makanan pesanan Abid.
"Shelia keluar dari tempatnya."
"Seriuss? Terus gimana? Dia bakal cari luu??"
"Em.. mungkin. Gue trauma sama kepolisian, gimana kalau kita bunuh?" Tanya Abid sambil mengangkat dan menatap pisau yang di tangannya.
"Jangan gilaa lu. Yang ada ntar lu masuk penjara!" Protes Abiyyu.
"Bener kata kak Biyyu, aku gak mau kamu masuk penjara. Cukup satu setengah tahun aja jauh dari kamu, aku gak mau jauh lagiii!"
Abid menatap Balqis, 'tapi kayaknya kita emang harus jauh. Dan lebih baik, gak ketemu lagi. Karena aku, kamu selalu dalam bahaya' batin Abid.
Abid menghela nafas, "kita bicarain ini di rumah aja." Balqis mengangguk setuju.
Mereka bertiga makan bersama di satu meja, Abid makan perlahan sambil terus memikirkan masalah tadi.
Balqis terus menatap Abid yang kelihatan bimbang dengan pikirannya.
"Kak Biyyu doi manaa?" Ia mengalihkan perhatian Abid.
"Doi?? Kagak adaaalah."
"Bongakk ahhh," ledek Balqis.
"Emang tukang bongakk. Oiya biy, cariin pembantu bisa?"
"Pembantu buat di rumah lu??" Abid mengangguk.
"Ntar gue cariin, kalau ada gue kabarin."
"Nice, thanks brother."
"Jangan sungkan."
"Btw, geng lu gimana?"
"Gue mo ubah mereka jadii anggota keamanan, guee rencana mau buat perusahaan keamanan gitu." Abid berohria.
"Baguslah, daripada jadi kang malak."
❃❃
21.36
Sudah setengah jam lebih Abid diam saja setelah tiba di rumah.
"Abang.. mikirin apa??" Tanya Balqis.
Abid menatap lekat mata Balqis kemudian menghela nafas, "ini keputusan ku. Walaupun berat, kayaknya ini yang tepat."
"Maksudnya??"
"Kitaa.. pisah ya?"
"Hahh?? Apaann sih? Nggak!!"
"Sayang dengerin kalau ak--"
"Gak, Balqis gak mau dengerin. Gak! Nggggaaaak!" Ia beranjak menuju kamar.
Abid mengusap mukanya kasar lalu mengejar Balqis. Mereka berhenti di tangga, Abid membalik tubuh Balqis kemudian memeluknya.
"Dengerin aku, aku juga gak mau. Tapi ini yang terbaik, ini satu-satunya cara biar kamu aman."
"Hiks hiks.. terbaik darimanaaa?! I-ini gak ada baiknyaa! Balqis gak mauuu!!!"
"Terlalu bahaya kalau kamu terus sama aku, inget beberapa tahun lalu pas di SMA? Kamu di bully, kamu hilang pas camp, terus mama papa juga korban, aku gak mau kalau kamu dalam bahaya lagi."
"Jadi lebih baik, kita akhiri sekarang. Aku bakal pergi setelah kita pisah. Kamu pasti bisa terbiasa tanpa aku."
"NGGAAAAAKK!!" Balqis mengeratkan pelukan.
"Gak mauu! Abang tadi denger kann, Balqis gak mau jauh dari abang lagii! Kita baru ketemu setelah satu setengah tahun berlalu dan abang mau pergi lagi? Gak, gak boleh!"
"Satu setengah tahun tanpa aku, kamu baik-baik aja kan? Begitu juga nantinya tanpa aku, dan yaaa, kamu bisa ketemu pria lain yang lebih baik dari aku."
"Gak mauu! Ng-nggakk, gak mauuu!!" Balqis nangis tersedu-sedu.
Melihat wanitanya semakin menangis, Abid merasa bersalah. Ia juga mempererat pelukan sambil mengelus rambut Balqis.
"Kenapa harus milih inii! Masih banyak cara yang lain, kenapa harus perpisahan? Balqis benci perpisahan, gak sukaaa perpisahan dan gak mau pisah sama abang!" Abid diam.
Balqis menghapus air matanya kemudian melepas pelukan.
"Ayo lawan Shelia sama-sama!"
"Dia bahaya Balqisss."
"Gak perduli seberapa bahaya dia, Balqis bakal tetep bantu lawan! Kita bisa masukin dia ke penjaraa, abang kan punya bukti kuattt tentang pembunuhan yang dia buatt."
"Sewa bodyguard banyak aja bisa, keluar dari penjara juga pasti bisa dia. Dan bisa aja setelah dia keluar kamu di serang lagii"
"Cari cara lainnn, yang penting kita gak pisah!!"
Abid menghela nafas, "alasan kedua ku minta kita pisah karena aku gak mau.. kamu jadi istri seorang pembunuh."
"Maksudnya?? A-abang beneran mau bunuh dia?"
Abid diam, ia menunduk kemudian kembali mendongak. Ia menatap lekat mata Balqis, "iya."
Balqis memejamkan matanya sebentar kemudian membukanya lagi, ia membalas tatapan Abid.
"Kalau gitu, ayo sama-sama jadi pembunuh!"