
"AYEYYYY!! Akhirnyaa, obat Avi datangg."
Avi berlari ke arah Abid.
Obat yang dimaksud jelas bukan Abid, tapi play station yang ada di tangan Balqis.
Avi mengambilnya lalu memeluk Balqis erat. "Makasiii kakaakk."
"Sama samaa. Ohyaa, itu di dalam ada jajan favorit kamu, jangan lupa di makan yaa." Avi mengangguk senang kemudian pergi ke kamarnya.
"Beneran ngincer ps doang tu anak?? Abangnya di abaikann, parah sii!"
Avi tertawa di tangga, "makasii abang. Lop segudanggg!"
"Karepmu!"
Ayah, bunda Abid yang berada di ruang keluarga tertawa melihatnya.
"Baik bangett abangnya satu inii." Puji Bunda Abid.
"Modus ni bunda. Bunda mau apaa?"
"Bunda tokok kepalamu nanti, yaa! Di puji malah kek gitu responnya." Abid nyengir, ia dan Balqis salim ke ayah bunda Abid.
"Devina mana?"
"Ada bimbel di tempat tetangga."
"Loh.. Avi gak ikut, bun?" Tanya Abid.
"Kan sakit, Bidd."
"Sakit abal abal gituu."
"Sakit beneran diaa. Panas banget tadi badannya."
"Kok sakit coba? Abis ngapain?"
"Kemaren kelasnya ngadain renang gituu. Ntah karena kelamaan mandi atau kenapaa jadi sakitt. Yang jelas dia kebanyakan nelen air kolam, tenggorokannya sakit tadi."
Abid dan Balqis berohria.
"Bunda liat-liat.. Balqis gemukan. Kamu lagi isi, nak?" Tanya Bunda Abid.
Balqis langsung terpaku mendengar pertanyaan bundanya. "Ng-nggak kok, bundaa."
"Balqis kebanyakan makan, bun. Porsi makannya gede banget sekarang."
Balqis yang malu memukul pelan paha Abid. Abid cengengesan melihatnya.
"Tapi kamu harus tetap periksa, Bidd. Firasat ayahh, Balqis isii."
"Iyaa, besok pagi Abid bawa Balqis periksaa."
"Aseekkk, yang mau jadi ayahhh ayahhh." Ledek Abiyyu sambil menuruni tangga.
Abid tertawa mendengarnya. Ia sedikit tidak yakin dengan perkataan mereka.
Abid takut, Balqis sedih sendiri kalau nyatanya nggak seperti yang mereka katakan.
"Lu kapan nikah?" Abid mengalihkan pembicaraan.
"Buldepp, why?"
"Resepsi bareng doongg." Pinta Abid.
"Yakin mau resepsi bareng??"
"Why nott?"
"Ntar kuliah kalian gimana?"
"Beberapa temen Balqis juga pada nikah muda, yah. Ada juga yang nikah sama dosennya. Jadi gak terlalu dipermasalahkan."
Ayah Abid mengangguk paham.
"Kamunya mau resepsi bareng sama Mas Abiyy?" Tanya Abid ke arah Balqis.
"Balqis mah terserah abang maunya gimanaa."
"Pikirin aja dulu, Bid." Suruh bunda Abid. Abid mengangguk sambil tersenyum.
"Abis nikah lu tinggal dimana?"
"Tetep disini. Ayah bunda larang keras gue beli rumah sendiri."
"Kenapa gituu?"
"Sepi, Bid, kalau misalnya nanti adekmu juga udah diambil orang."
"Avi Devi masih SMP, yaahh."
"Nggak bakal kerasa nantii. Lagipula kalau udah pisah rumah trus akhirnya Abiyyu pindah ke mari kan percuma rumahnya."
"Kak Putri mau??" Abiyyu mengangguk.
"Putri mah gak masalah tinggal dimana. Yang penting sama gue, gitu katanya."
"Pande mengarang kau, Biyyu!"
"Adek laknatt!" Abid tertawa.
"Kalian bedua udah makan malam??" Abid mengangguk.
"Emang bunda masak apa??" Tanya Abid.
"Semur telor doang siih. Balqis tadi masak apa?"
"Masak sop ayam, bundaa. Bang Abid tadi maunya ituu."
Bunda Abid berohria.
"Benerr hee yang di bilang bundaa. Pasti Balqis lagi isi."
"Mengsotoy uu!"
"Balqis gak ada mual mual gitu?"
Balqis berfikir.
"Nggak ada, bund. Ehh pernah sekalii, karena cium amis telor masakan pembantu Balqis."
"Biasanya gitu emang?" Balqis menggeleng.
"Wawww, harus diperiksa!!" Bunda Abid terlihat sumringah.
"Iya bundaa, besookk periksa kokk."
"Btw, pembantu lu gak nyeleneh kan bid?"
"Nggak ada sebenernya, kakk. Tapi gak tau kenapa tu Bang Abid sensi banget liatnya."
"Takut tergoda dia tuu."
"Ck, gak gitu Biyy. Gila kali lu?"
"Ehh, bisa ajaa lohh."
"Gak gak."
"Sempat kamu macem macem.. ayah potong masdep kamu, Bid!"
Ayah Abid menatap tajam bagian bawah Abid. Abid langsung menutupinya dengan bantal.
"Ya kali mau macem-macemm. Ada Balqis udah cukup, yahh."
"The good boy."
※※※
21.12
"Abangg, kalau misalnya nggak gimana??"
"Ya gak gimana gimanaa."
"Ihh, kok gitu sih jawabnya?!"
"Jadi gimana, sayangg? Ya gak gimana gimana atuh. Kalau misalnya nggak, berarti kita buat lagiii."
Balqis diam. Kesal karena Abid.
"Abang tanya lah sekarang. Kalau iya, siap gak jadi ibu?"
"Siapp. Balqis mahh udah ngerasa siapp setelah malam pertama ituuu."
Abid tersenyum mendengarnya.
"Balqis takut ngecewain abang kalau nggak."
"Sstt, jangan berfikiran kek gitu. Okee?" Balqis mengangguk pelan.
"Mau langsung pulang?"
"Kamu mau apa?"
"Emm... Balqis pengen makan mie ayaam."
"Miii pula. Yang lain, sayaangg?"
"Bakso deh yaa? Bakso merconn!"
"Mie ayam aja deh yaa. Aku gak ngizinin kamu makan pedes pedes."
"Okeee, mie ayam ajaaa." Abid tersenyum melihat Balqis yang nurut.
"Tugas kuliah udah selesai?"
"Udahhh. Oh iyaa, Balqis besok mau main sama Indira sama Ayuu sama Vane jugaa."
"Pagii??"
"Iyaa, kan gak ada jam kuliaahh."
"Yaudah, pulang periksa yaa?" Balqis mengangguk.
"Temen kamu siapa yang jomblo?"
"Vanee, samaaa Indira. Kenapa? Abang gak mau cari istri kedua kan?"
Abid tertawa, "nggak sayangkuu. Abang tanya ajaa, siapa tau bisa di comblangin ke Eldii sama Jefri."
"Iya juga yaa. Tapi kan Kak Jefri..."
"Abang gak yakin Jefri serius, daripada dia terus baperin Devina dan berakhir abang jotos. Mending kita comblangin aja dia."
"Setuju sihh. Balqis jugaa kann kasian sama Kak Jefri, dia harus nunggu Devina. Lama banget itutuu."
"Nahh itu dia. Apalagi yang bakal di tunggu Devii, masih kebocahan banget dia. Kasian Jefri ladeninnya ntar."
Tiba di warung mie ayam, Abid membelokkan mobilnya.
"Jangan pedes pedes, okee?!" Balqis mengangguk.
Mereka berdua turun dari mobil dan masuk ke warung itu.
"Selam– Bang Abid?"
"Ohh, hai, Uttan."
"Gue kira lu bakal lupa bang. Mau makan apaa??"
"Balqis miayam bakso!"
"Sanggup?" Tanya Abid heran, Balqis mengangguk antusias.
"Mie ayam bakso nya satuu, mie ayam biasa satu. Makan disini." Uttan mengangguk.
Balqis dan Abid mencari tempat untuk duduk sambil menunggu. Setibanya, Abid malah bermain game.
"Abang main game sering temu cewek, kannn?!"
"Jarang. Kalau nemu cewek juga abang biarin."
"Prettt."
"Lohh, kok ngeyel?!"
Balqis cengengesan, "Balqis mau unduh gamenyaa!"
"Unduhlah, nanti abang ajarin cara mainnya."
"Benerr?!" Abid mengangguk. Balqis mengambil ponselnya dan mengunduh game yang sama.
"Lu dari mana, bang?" Tanya Uttan sambil mengantar pesanan.
"Tempat bokap."
Abid mengalihkan pandangannya dari mie ayam, "mau kain kafan jenis apa?"
Uttan cengengesan, "ampun deh, bang."
"Jan macem macem lu!! Awas aja betingkah."
"Iya bang iya, gak lagi. Takut kepala gue kepenggal." Balqis tertawa mendengarnya.
"Temen lu masih belum percaya?" Uttan menggeleng.
"Cemana caranya biar percaya? Pusing gue jelasinnya. Bebal bangettt!"
"Lu sih, bang. Baru muncul sekarang! Kemaren kemaren kemana?"
"Di culik guee. Satu setengah taun ngilang di culik."
Uttan menatapnya serius. "Yang benerr?"
"Ya kali boong. Tanya bini gue noh."
Uttan berpindah menatap Balqis.
"Bang Abid di culik, ortu gue dicelakain. Makanyaa guee gak punya ekspresi apapun dulu."
"Teruss, kok bisa balik lagi bang?"
"Ya karena pake sulap."
"Anjirrr, ngeselin parah sih!" Abid tersenyum miring lalu memakan mie ayamnya.
Uttan pun kembali berjualan karena ada pelanggan lain.
"Abangg, kenyangg." Padahal mie dan bakso Balqis masih tersisa.
"Makan aja baksonya."
"Kenyangg." Abid pun mengambil alih mangkuk Balqis dan menghabiskan semuanya.
Bukan rakus atau gimana, Abid cuma gak mau makanannya kebuang.
Setelah selesai, Abid pun kekenyangan.
"Kenyang?" Tanya Balqis, Abid mengangguk.
"Bangettt. Kalau gini terus bisa buncit aku."
"Gapapa, gemoy!"
"Gemoy darimana?! Kagak. Udah botak, buncit pula. Macem apa akuu?" Balqis tertawa.
"Abangg, mau donattt."
"Udah malam, sayaangg. Mana ada lagi orang jualan donatt."
"Hmm.. yaudah dehh," Abid jadi tidak tega melihat Balqis yang tiba-tiba mellow.
Abid pun pergi membayar makan mereka. "Thank u, bang!" Abid mengangguk, "makasih juga."
Abid kembali ke mejanya dan mengajak Balqis pulang.
"Mau donat yang gimana??" Tanya Abid di mobil.
Seketika Balqis menatapnya, "jadi beliin???"
"Iyaa, sayangg. Mau donat apa? Beli dimana?"
Balqis tersenyum senang, "donat buatan abang!"
◕◕◕
Pagi hari.
"Abaanggg?" Balqis terkejut melihat Abid yang baru saja keluar dari kamar mandi karena mual di pagi hari.
"Keganggu, sayang? Tidur lagi ajaa."
"Nggak mauu." Balqis mengurut leher Abid.
"Abang kenapa mual mual??"
"Morning sickness kayaknya."
"Nyehhh. Jadi periksa?"
"Jad–"
Drttttt.. Drttt..
Abid mengangkat panggilan sambil menjauh.
"Siapa??" Tanya Balqis ketika melihat Abid kembali.
"Client. Beliau minta rapat pagi ini. Pulang rapat kita periksanya, yaa." Balqis mengangguk. Abid mengelus kepala Balqis sekilas lalu pergi mandi.
Balqis sendiri menyiapkan kebutuhan Abid.
"Abang, Balqis aja yang periksa gimana??"
"Gak usah ngaco. Ga boleh!" Omel Abid setelah selesai dengan setelan jasnya.
"Ishh.. Balqis ikut abang kerja aja deh yaa??"
"Gak jadi main??"
"Oiyaa!" Balqis mengambil ponsel untuk menghubungi teman temannya.
"Jadi jadii, tapi jam sepuluhhh."
"Dirumah ajaa. Gosip tuh sama pembantu kesayangan mu." Balqis menatap kesal Abid.
"Ikut abang aja, yaaa?"
"Biar apasi? Biar ketemu Ajo?" Balqis ingin menjawab, tapi tidak jadi karena melihat ekspresi Abid.
"Yaudah nggak ikutt. Gak jadi ikuttt," gumam Balqis pasrah.
Abid meliriknya sekilas kemudian kembali merapikan jas nya.
"Awas aja tiba tiba nyusul. Jangan pergi check sendiri!"
"Kalau sama Vane, Ind–"
"Nggak. Kamu punya suami, dan itu aku. Gak ada bantahan dan gak bisa dibantah." Balqis terdiam lagi.
"Iya iyaaa! Balqis mau sesuatu boleh kann?"
"Apa??"
"Mau duittt."
Abid mengambil dompetnya lalu menarik satu kartu kredit. Kemudian ia berikan kartu itu pada Balqis.
"Pake semau kamuu. Tapi jangan beli yang macem macemm," Balqis mengangguk.
Mereka berdua pun keluar dari kamar.
"Ehhh, mbakk udah masak?" Tanya Balqis di dapur. Gea nyengir, "iya, mbakk."
Abid mengambil satu minuman kopi di kulkas, mengabaikan mereka berdua.
"Aku pergii." Kata Abid.
"Sarapan duluuu!"
"Ntar telatttt."
"Parah! Lebih penting cli–"
Cup!
Balqis terdiam. Abid mencium Balqis lagi, kali ini ia me*****nya. Gea langsung berbalik, ia tidak ingin melihat.
Balqis yang kehabisan nafas memukul dada Abid. Abid pun melepasnya.
"Jangan ngomelll. Kalau kamu ngomel teruss, gak jadi kerja aku." Balqis tidak merespon, ia sedikit memundur melihat tatapan mesum Abid.
Parah emang.
Abid mendekati Balqis yang terus mundur.
"Ngapain mundur?"
"Karena gak maju." Abid tertawa.
Cup!
Abid mengecup keningnya.
"Aku pergi dulu. Kamu jangan lupa makan, tunggu kamu pulang main baru periksa. Ngertii?" Balqis mengangguk.
Abid mengelus pipinya, "assalamu'alaikum." Abid langsung pergi setelah mendengarkan jawaban Balqis.
"Dasar soang!" Gea tertawa kecil mendengarnya.
"Emang begitu, mbak?"
"Nggaa, mbakk. Ga tau tuh dia kenapaa."
"Mas Abid gak suka sama saya kayaknya." Balqis tertawa mendengarnya.
"Dia cuma kurang nyaman aja, mbak. Belum menyesuaikan diri." Gea terdiam.
"Saya ke kamar dulu, mbak."
"Gak sarapan, mbakk?" Tanya Gea, Balqis menggelengkan kepala.
"Nggak nafsu makan, mbakk."
Di perjalanan, Abid mengemudi dengan kecepatan yang lumayan laju. Meeting dadakan yang cukup mendesak. Harusnya besok, tapi tiba-tiba jadi hari ini.
Tak lama kemudian, Abid tiba di kantornya. Ia meletakkan mobil, melempar kunci pada security lalu berlari masuk kedalam.
Di dalam terlihat tenang.
Abid mengabaikan mereka dan langsung menuju ruangan meeting.
"Boss." Abid menoleh ketika hendak membuka pintu.
"Pertemuannya ditunda satu jam lagi."
Abid menghela nafas panjang, 'tau gitu gak perlu laju laju gueee!' Batin Abid menahan emosi.
"Yaudahh," Abid pergi dari sana dan menuju ruangannya.
Melihat Ajo stay di dalam ruangan sambil berdandan ala ala, Abid menghampirinya.
Tok tok..
"Jo?"
"Ada apa bosss? Masuk ajah bosss."
Abid pun masuk ke ruangan Ajo.
"Jujur, kamu siapa?"
"Ajo bosss. Bos lupa ingatan? Lupa sama eike?"
"Eike eike ndasmu. Coba normal!"
"Ehem ehem.. ade ape bos?" Suaranya Ajo sama namun dia mencoba jadi sok cool.
"Kenapa kamu kerja disini?"
"Karenaa eike butuh kerja boss, buat makan anak bini."
"Punya bini juga?"
"Oh ya jelass. Ajo ni bosss, bukan kaleng kaleng." Abid tertawa.
"Anak berapa?"
"Dua belas otw tiga belas."
"Hah?"
"Iya boss, anak ayam eike segitu."
"Mampusss, makin gila gue disini."
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
#Abiddepresott :`