
"Anak-anak hari ini kita kedatangan siswa siswi baru"
Abid dan teman-temannya yang tidak ingin tau memilih diam. Mereka bahkan sibuk dengan ponsel karena tidak mau melihat orang ini.
"Silahkan perkenalkan nama kamu"
"Saya Shelia Puspitasari pindahan dari Bali" sontak Abid beserta temannya melihat ke orang itu.
Ternyata benar!
Shelia bersama dengan Johan.
"Haha, apaan ni? Makin sial gue" gumam Abid kesal.
"Cemburu?" Bisik Heon yang sebangku dengan Abid.
"Mau mati muda?" Heon cengengesan.
"Kamu juga perkenalkan diri" wali kelas menunjuk Johan.
"Saya Johan Abdiantama. Senang bertemu dengan kalian"
'segitu banyaknya kelas bisa-bisanya dia sekelas sama gue? wah.. gue bisa gila!' Batin Abid.
"Oke kalau gitu Shelia duduk sama Abid, Heon duduk dengan Johan"
"Gak usah betingkah gusur-gusur orang deh bu! Mereka berdua disatuin kan bisa" protes Abid.
"Mereka sepasang kekasih bu, gak mau pisah. Gabungin aja" sahut Rangga.
"Tau darimana kamu mereka sepasang kekasih?" tanya wali kelas.
"Ah serah" Abid beranjak keluar kelas.
"Abid kembali atau kamu saya alfa?!!" ancam wali kelas.
"Silahkan, i don't care. Ah iya, jangan sampe ibu pindahin Heon dari tempat saya" ujar Abid sinis lalu melanjutkan jalannya.
"Abid Abid!!"
"Ahh.. kenapa sih murid tampan seperti dia gak punya adab?"
"Pelajaran buat kalian para wanita, cari pria yang beradab bukan yang tampan tapi gak beradab" ujar wali kelas.
Black blood tertawa. "Emang anda beradab?"
-·•·-
"Kak Abid? Bolos?" tanya Balqis tiba-tiba muncul dihadapan Abid.
"Dikeluarkan. Kenapa? Mau ikut?" tanya Abid sarkas.
"Dih nanya doang, sensi amat"
"Kenapa sendiri? Mana temen lo?!"
"Di kelas kak. Tadi gak diizinin keluar berdua" jawab Balqis.
"Lu mau kemana?"
"Kelas"
"Dari?"
"Toilet"
"Udah gak usah tanya lagi, kayak wartawan aja" protes Balqis. Abid memilih pergi.
"Eh? Kan bener kak Abid jidatnya kepentok. Pasti tadi kepentok lagi jadi balik ke semula" gumam Balqis.
"Jangan gibahin gue" Abid tiba-tiba berbisik.
"Kak Abid goib" Abid tertawa.
"Udah sana balik ke kelas"
"Kak Abid juga sanaa" suruh Balqis.
"Ogah,"
"Emang siapa sih kak gurunya?" tanya Balqis.
"Gabakal kenal. Udah sana ke kelas" Abid mengacak rambut Balqis lalu pergi menuju kantin.
~•
"Bolos lagi mas?" tanya penjual kantin, mbak Dui.
"Eh akhirnya balik juga, mbak dari mana? Lama bener" protes Abid.
"Tadi jemput ponakan dulu"
"Terus mana mbak?"
"Assalamualaikum bi. Ini teh letak dimana?" Seorang gadis cantik muncul dengan membawa dua kantong kresek.
"Waalaikumsalam... Kok gak bilang punya ponakan cantik mbak ini" ujar Abid.
"Sini, biar aa' Abid bantu" tawar Abid.
"Dihh.. kenapa jadi buaya gitu kamu bid" sahut mang Atang, penjaga kantin.
"Ah mang Atang syirik aja sama Abid. Abid tau Abid ganteng" jawab Abid.
"Dih kepedeannn" protes mbak Dui.
"Awasss nanti jatuh cinta" ledek Abid.
"Kayaknya sih udah" jawab Mbak Dui. Abid tertawa.
"Biasa ya mbak"
"Jus tomat sama roti bakar?" Abid mengangguk. Dia kembali merebahkan tubuhnya di kursi kantin.
"Mas nya gak belajar?" tanya ponakan mbak Dui.
"Gak usah di tanya dia mah. Pinter tapi sering bolos" sahut mbak Dui.
"Ah, mbak Dui ngerusak image saya"
"Sok sok jaim" protes mang Atang lagi. Abid tertawa.
"Teteh gak sekolah?" tanya Abid.
"Oo ja--"
"Abidd" Shelia datang.
"Apa?" tanya Abid ketus.
'buset tadi ramah pisan' batin mang Atang, mbak Dui dan Sahra –ponakan mbak Dui–
"Kamu di Alfa tau. Ayok masuk"
"Kalau mau masuk yaudah sana, gue gak mau masuk" jawab Abid. Shelia terdiam.
"Lo ngapain pindah?" tanya Abid.
"Em.. aku dikeluarin karena gagal olimpiade kemaren" jawab Shelia.
Abid tertawa renyah. "Cari alasan yang bagusan dikit. Mana ada guru drop out siswi karena gagal" ujar Abid.
"Tapi itu bener" gumam Shelia.
"Ntah bener ntah nggak. Gue gak perduli, mending sekarang lo balik ke kelas"
"Tap---"
"Jangan buat gue marah Shelia!!"
"Maaf" Shelia pun pergi.
"Ini mas jus nya" Abid meminumnya sekali sedot.
"Mas lagi emosi ya?" tanya Sahra.
"Nggak terlalu, kenapa teh?" tanya Abid balik.
"Nggak, serem aja keliatannya" Abid tertawa.
"Abid mah emang gitu. GGG"
"GGG? Apaan tuh mang?" tanya Abid.
"Ganteng ganteng galak!"
"Hahahaha.. sa ae mang Atang" ujar Abid.
"Eh iya, Abid bisa minta tolong mang?" tanya Abid.
"Apa tuh?" tanya mang Atang.
"Nggak jadi deh. Abid aja. Abid pergi dulu. Yang satunya nanti mbak" Abid pun pergi menuju gerbang sekolah.
"Mau kemana mas Abid?" tanya penjaga gerbang.
"Pak gendon santai aja. Saya kan gak bawa motor. Cuma mau keseberang beli bahan praktek" jawab Abid berbohong.
"Oke bapak bukain. Jangan lama-lama ya mas" Abid hanya mengangkat jempolnya.
'gue tua apa dipanggil mas mulu?' batin Abid kesal.
Di supermarket depan kampus. Abid membeli Goodmood, Yakult, dan Kuku Bima. Abid juga membeli satu coklat untuk Balqis.
Ntah.
Gak tau kenapa Abid ingin memberikan coklat untuk Balqis.
Setelah selesai, Abid membayar di kasir. Sesudahnya Abid kembali ke sekolah menuju kantin untuk mengeksekusi barang belanjaannya.
"Mas Abid beli coklat buat saya?" tanya mbak Dui.
"Mbak Du mau?" tanya Abid. Mbak Dui ngangguk.
"Beli di depan banyak mbak" jawab Abid.
"Untung aja ganteng" Abid pun tertawa.
- -
Jam pelajaran berakhir.
Dari pagi hingga menjelang sore, Abid tidak ada masuk kelas sedikitpun.
Waktu-waktu tadi yang seharusnya digunakan untuk belajar malah Abid gunakan untuk bermain game di kantin.
Walau begitu, dia tetap nomor satu di kelas. Karena Abid memiliki IQ yang tinggi di atas rata-rata.
"Woi peakk" Jefri datang ke kantin lalu melempar tas Abid.
"Makasih bujang" ujar Abid cengengesan.
"Lo kenapa gak mau masuk sih?" tanya Rangga.
"Eneg begoo liat muka Johan" jawab Abid.
"Kenapa lo disini?" tanya Tio.
"Mau ngojol gue kan setia kawan. Gak mau start duluan" jawab Abid.
"Iyainnnn" Abid tertawa.
"Yaudah kuy" ajak Abid.
Mereka bersamaan menuju parkiran.
"Itu coklat buat siapa?" tanya Heon.
"Buat siapa lagi kalau nggakkk..."
"Twins bacot gak usah kuat kuat, gue tampol ntar!" Tio dan Eldi tertawa.
Belum sampai parkiran, mereka menemukan Balqis dan Johan berada tidak jauh dari tempat mereka.
Abid dan yang lain hanya memperhatikan mereka berdua yang berinteraksi.
"Gue mohon tolong gue, biar gue bisa dapat duit. Gue disuruh bokap Abid ngetes dia suka apa nggak sama cewek karena takut Abid gay" itulah bujuk rayu Johan pada Balqis sebelum Abid tiba.
Black Blood hanya memperhatikan mereka berdua tanpa berbuat apapun. Tiba-tiba Johan memeluk Balqis.
Abid yang menyaksikan langsung adegan itu tertawa receh. "Nice drama" ujar Abid menggunakan suaranya yang berbeda.
Abid memberikan coklatnya pada Jefri. "Kasih ke yang membutuhkan" Abid pun pergi melalui jalan yang berbeda.
"Abid cemburu??"