
06.07, ini beberapa hari setelah insiden waktu itu.
"Abang yakin mau kuliah nanti??" Abid mengangguk.
"Hati-hati loh! Jangan sampee luka nya kenapa-kenapa!"
"Iya sayang kuu."
"Jangan genitt!"
"Kamu yang harusnya jangan genit," omel Abid.
"Balqis kalem, genit dari mana?!"
"Yain," Abid cengengesan.
"Yaudah mandi sanaa, masih betah banget keknya dalam selimut."
"Ya kamu nya juga masih betah aku peluk."
"Iyasihh, angettt. Balqis suka di peluk abang!"
"Peluk lahh, selagi bisa." Balqis mengeratkan pelukannya.
"Apa kita gak usah kuliah aja?" Bisik Abid dengan nada yang emmm... you know gaissseu >.<
"Wihh, mencari kesempatan. Masih pagi ini, jangan mengada-ngadaa!"
"Ay—"
Tok tok..
"Abaaaaaaaaaaaaaang!"
"Ya Allah, kapan perusuh itu masuk?! Merusak suasana." Balqis tertawa mendengarnya.
"Abang mandi gih, Balqis buatin sarapan."
"Ladenin tu ya si kembar." Balqis mengangguk.
Abid bangun dari rebahannya lalu menuju kamar mandi. Sedangkan Balqis keluar kamar untuk membuat sarapan, ia sudah mandi tadi.
"Kakk Balqiss."
"Uyy."
Balqis tidak heran ketika mereka bisa masuk sendiri meskipun tidak dikunci. Sebab sidik jari mereka terdaftar dan masuk dalam anggota yang diperbolehkan masuk.
"Abang mana?"
"Abang mandii. Kalian gak sekolahh?"
"Kakel ujian," Balqis berohria.
"Kakak mau buat sarapann?" Tanya Devi, Balqis mengangguk.
"Kakak gak usah masakk, ini kami bawa sarapan dari bundaa. Kami juga ikut sarapan disini yaa."
"Iyaa. Tapi kok tumben bawain sarapan, ada apa gerangann?"
Devi tertawa, "katanya bundaa biar kakak gak kecapekan."
Balqis menyipitkan mata, mencurigai mereka.
"Semalem kan kakak mual mual." Sahut Avi.
"Aaaahh ituu. Kakak masuk angin biasaa," jawab Balqis cengengesan.
"Masa iyaa??" Balqis mengangguk.
"Oalahhh, ayah bunda ngira kemaren pas kakak kerumah terus mual-mual ituu karena mo punya debayyy."
"Nggak." Balqis tertawa kecil.
"Kalian mau punya ponakann??"
"Mauuu."
"Kalau kakak suruh bantu asuh, mau?"
"Mau mauu."
"Request cewek!" Devi bersemangat.
"Cowok ajaaa!" Sahut Avi.
"No, cewekk!"
"Cowokk, biar enakk!"
"Cewekk!"
"HEH HEHH, KOK KALIAN PULA YANG NENTUIN?!" Abid datang.
Wahhh, sangat mempesona!!
Abid mengenakan celana hitam, kaos polos berwarna putih dan kemeja tanpa dikancing. Abid juga mengenakan sepatu.
"Abang kok ganteng sii?" Tanya Avi.
"Pertanyaan bodoh macam apa ini?!" Balqis tertawa mendengarnya.
"Bangg, kasih adek cewek yaaa!"
"Cowokk!"
"Abang tendang nanti kalian! Di kira bisa request apa?!"
"Emang gak bisa bang?"
"Devi, Avii, anak kan karunia dari Allah jadi kita gak bisa nentuin mau dikasih cewek atau cowokk." Jawab Balqis mereka berohria sambil mengangguk paham.
Mereka diam sambil memperhatikan Balqis yang menyiapkan makanan untuk mereka berempat.
"Makasih, sayangg." Balqis tersenyum.
Abid mulai mengunyah makanannya. Melihat kedua adeknya yang diam, Abid melirik ke arah Balqis.
"Kalian kenapa?" Tanya Balqis.
"Masih berfikirr, kak. Gimana cara buat bayii?"
Puft!!
Abid nyemburr.
"Abaaaangg!" Avi ngamok karena kena semburan Abid.
Uhuk uhuk!
"Pelan-pelann," Balqis memberinya air putih.
Abid mengelus dada, "gak usah dipikirin! Kalian masih di bawah umurr!"
"Iya tau, tapi penasaran abaangg."
Abid menoleh kearah Balqis yang pura-pura tidak mendengar.
"Oke, abang kasih tau. Caranyaa–"
"Baaaanggg!"
"Yang bener aja mau dikasih tauu!" Abid terkekeh melihat ekspresi Balqis.
"Avi tau tu pasti. Pernah nonton kan kamu!"
"Gak pernah! Jangan su'udzon ishh!"
"Jujur, keliatan kalau kamu tauu."
"Iyy.. yaa Avi tau karena baca di novel."
"Novel apa? Aku juga mau bacaaa." Kata Devi.
"Heh astaghfirullah, jangannn!"
"Ish, kenapaa. Kan edukasii," jawab Devi.
"Iyaa edukasi, tapi kalian belum cukup umur buat tauu! Jangan jangann. Nantii kan ada pelajarannya tuu di IPA." Devi mengangguk paham.
"Avi, siapa yang ngajarin baca gituan di novel?!"
"Em.. anuu–"
"Mas Abiy mesti. Parahh ah. Jangan di baca lagi!" Avi mengangguk pelan.
"Mana hp kamu? Sini abang liatt!"
Teramat sangat terpaksa, Avi memberikan ponselnya. Abid mengambil ponsel Avi, menghapus aplikasi dan melarang aplikasi itu terinstal lagi.
Mantap.
"Vi, kamu tadi pake aplikasi apa?"
"DEVIIIII."
"Iya iyaaa, gajadii." Balqis tertawa melihat interaksi abang beradik ini.
Mereka kembali makan.
"Bang." Abid menoleh.
"Abang udah praktek buat bayi?"
"NGOMONGIN BAYI LAGI ABANG LEMPAR BENERAN KAMU!!"
❃❃❃
09.12, Abid dan Balqis sedang dalam perjalanan menuju kampus.
Kedua adiknya tadi sudah pulang karena diusir Abid. Abang laknat emang :^
"Abangg." Abid berdehem.
"Di kampus Balqis panggil apa ya? Kalau manggil abang ntar gak mantepp!"
"Panggil.. sayang?"
"Issh, malukk. Panggil oppa aja gimana?"
"Aku bukan makanan, sayang."
"Kalau makanan kan opakk bang!! Ngajak berantem lahh!" Abid cengengesan.
"Panggil mas gimana?"
"Apa bedanya abang sama mas, sayangku cintaaa?"
"Ya nggak beda si, tapikan damage nya bedaa."
Abid tertawa, "terserah kamu. Cincin jangan lupa di pakee!"
Balqis menunjukkannya sambil tersenyum. Abid meraih tangan Balqis lalu mengecup punggung tangannya.
"Hm?"
"Rada gelayy ish. Tapi gapapa deh," Abid geleng-geleng kepala.
"Mass, aku mo tanyaa."
"Apa tuh?" Tanya Abid masih sambil mengemudi.
"Kalau misalnyaaa.. kita dapet anak cowok gimana?"
"Ya gak gimana-gimanaa. Yang penting aku ayahnya, kamu bundanya." Balqis tersenyum mendengarnya.
"Kalauuu, Balqis gak bisa kasihh.. abang tinggalin Balqis gak?"
"Pertanyaan mu tu suka nyeleneh kadang."
"Hihii, jawabannya??"
"Nggak lah, ngapain juga ninggalin kamu. Kamu gak usah mikir yang nggak-nggak, yaa." Balqis mengangguk sambil tersenyum.
Abid mengelus lembut rambutnya dengan satu tangan.
"Tapii–"
"Gak ada tapi-tapii." Balqis auto diem, Abid tertawa kecil melihatnya.
Tak terasa mereka tiba di kampus. Abid membelokkan mobil, memasukkannya ke area parkiran.
Abid memakai kacamata hitamnya lalu turun. Balqis juga ikut turun, bedanya ia tidak memakai kacamata.
Abid menghampiri Balqis, ia menggandeng tangan Balqis. Gak perlu lapor, karena semalam Abid sudah laporan. Ia masuk di kelas yang sama dengan Balqis.
Bucin bangetttkann!
"Kamu tuu yaa, gak pernah sekalipun diabaikan. Selalu jadi pusat perhatiannn!" Bisik Balqis kesal.
"Yaaa gimana lagi sayangg, aku kan gantengg. Lagipula aku jadi pusat perhatian sekarang karena cewek di sebelah aku cantik!" Bisik Abid balik.
"Moduss!" Abid tertawa kecil, ia mengangkat tangan Balqis lalu mengecupnya.
Setelah adegan itu, banyak yang membicarakan mereka.
"Gak usah tebar pesona!!" Omel Balqis.
"Cemburu, ya? Ciee." Balqis menatap kesal Abid yang meledeknya.
"Balqis." Balqis dan Abid terhenti.
Abid membuka kacamatanya ketika melihat Rey di depan.
"Lu mau apalagi, Reyy?" Tanya Balqis kesal.
"Dia siapa sih? Orang baru, ya? Gue yang udah lama pengen deket sama lu aja gak bisa, kenapa dia yang baru muncul bisa sedeket itu sama lu?"
"Orang baru?" Abid tersenyum miring.
"Lu gak tau apa-apa tentang gue dan Balqis. Jadi, sebaiknya lu diem!"
"Lu nyakitin Balqis kan? Sampe dia jadi pendiem."
"Udah gue bilang, lu gak tau apa-apa lebih baik DIAM!"
"Mass, sabarr."
Abid menghela nafas terus kembali memakai kacamatanya.
"Lu gak mau kesempatan gue buat deket sama lu?"
"Lu gak liat gue pake cincin ini? Dan gak liat cincinnya mas Abid?"
"Gue gak percaya itu cincin sakral."
Abid tertawa remeh, "perlu gue tunjuk–"
Balqis menutup mulut Abid lalu menggeleng.
"Tunjukkin apa? Foto editan?"
"Gue baru masuk, jangan cari ribut. Gue udah kasih lu peringatan kan? Cari aman!"
Abid menggandeng tangan Balqis lalu membawanya pergi.
"Aah, gila! Sok cooll bangetttt anjj!" Rey kesal.
Kedua temannya pun muncul.
"Rey, plis mundur aja deh. Selain gue takut lu sakit hati, gue takut lu mati. Keliatan dia serius sama ucapannya."
"Benerr. Cewek banyak, Rey. Cari aja yang lainn."
"Gak bisaaa, gue udah say–"
"Gue yakin, lu bukan sayang sama Balqis. Tapii, lu cuma penasaran sama dia karena dia tertutup selama ini."
Di sisi lain, Balqis mengarahkan Abid ke kantin kampus. Abid tenang setelah mendapatkan jus tomat kesukaannya.
"Besok aku bawa buku nikah, biar ku pamerin. Ku fotokopi terus pajang di mading."
Balqis tertawa, "mengadi-ngadi kamuu mahh."
"Ya abisnya, kesel weii. Aku nampaklah, bukan cuma si Rey Rey itu yang liatin kamu tapi mahasiswa lain juga. Kalau aku pajang kan ntar mereka tau kamu punya ku, aku punya kamu."
"Yaa tapi ga gitu jugaaa."
"Ohh, apa aku harus buatt kissma*k di leher kamu? Biar Rey Rey itu sadar diri, sadari rai?"
"Makin ngada-ngadaa! Kalau cemburu suka asbun kamu yaa!" Abid tidak menjawab, ia sibuk meminum jus tomatnya.
"Kamu tau nggakk?" Abid menoleh.
"Kamu juga di tatap sama mahasiswi gutluking!"
"Bodoamat mo di tatap Icha atau Tapasya Uttaran juga gak perduli aku. Aku cuma tatap kamu," Balqis terkekeh.
"Kenapa jadi Uttaran? Kamu nonton ulang, yaa??"
"Nggakk, tadi cuma lewat di tipi. Aku nonton itu darah tinggii liat neneknya Tapasya."
Balqis tertawa lagii, "bagus jangan nontonn. Kalau emosian mulu cepet tuaak!"
"Iyaa, cepet tua cepet mati kan?"
"Istighfar sayaaaang!"
Abid mengelus dada lalu tersenyum, "astaghfirullah."
"Nah kan ganteng."
"Jadi selama ini aku gak ganteng?"
"Kamu pms apa gimana siii? Marah-marah mulukk!"
❃❃❃
Abid dan Balqis baru saja keluar dari kafe. Mereka makan siang disana setelah selesai kelas.
"Sayangg, kamu bisaa nyetir kan? Kamu nyetir gih, aku capek." Pinta Abid.
"Yaudah sini kuncinyaa." Abid memberikan kunci mobil pada Balqis. Belum lagi di pegang Balqis, Abid menariknya.
"Aku aja, takut kenapa-kenapa nantii."
"Terdengar seperti.. menyepelekan Balqis!" Abid tertawa kecil.
"Nggak gitu, sayangg. Kan lebih baik mencegah dari pada dicegah."
"Lebih baik mencegah dari pada mengobati! Malah digantii-gantiii," Abid cengengesan.
Mereka berdua masuk ke mobil, Abid yang jadi pengemudi.
"Panas bangettt." Keluh Balqis.
Merasa tiada respon dari Abid, Balqis menoleh.
"Abang mikir apaan?"
"Mikir dimana kemaren ngeletak buku nikah." Balqis tertawa.
"Masih aja mikirin yang tadii."
"Oh yajelass!"
"Cemburu banget, ya?"
Abid berdehem, "cemburu tandaa?"
"Cemburu."
"Karepmu waelah, sayang." Balqis cengengesan.
Tiba-tiba...
Citttt!!
Abid mengerem dadakan.
"Abangg! Kenapaaa?"
Abid mengedipkan mata dua kali, "kayaknya aku nabrak orang tadii."
Abid keluar dari mobil. Benar sajaa, ada cewek yang sedang jongkok di depan mobilnya.
"Misi, mbakk?" Panggil Balqis.
"Hah? Ah iya, mbakk." Jawabnya.
"Mbak nya gapapa? Kenapa ke tengah jalann?"
"Saya ambil HP saya tadi mbakk, HP itu penting buat ngehubungin keluarga sayaa."
"Emang keluarga mbak dimanaa?"
"Dikampung, mbak. Saya disini buat cari kerja."
Balqis mendekati Abid, "kita butuh art kan? Dia aja gimana?" Bisik Balqis.
"Jangan ngada-ngadaa. Kita baru kenal, belum tau gimana diaa."
"Ish ya tapi sebagai penebus kesalahan abang! Abang hampir nabrak orang tauu!"
"Bayar pake uang bisaa."
"Bangg."
Abid menatap kesal Balqis, "siapa sih yang ngajarin kamu keras kepalaa gini?"
"Ya abang!"
Abid terdiam sejenak, "masa iya aku??"