
Pagi ini, Abid pergi ke sekolahnya mengendarai motor sport yang baru di modifikasi.
Manusia ajaib itu memakai kacamata hitam. Baju putihnya sebelah kanan di masukkan sebelah kiri dikeluarkan. Dasinya hanya digantungkan di leher. Sedangkan topi sma-nya di kebelakang kan.
Persis seperti orang stress:')
Itu ciri khas Abid.
Guru yang menegurnya bukan hanya satu. Hampir setiap lorong dia menemukan guru dan menegurnya.
Namun semua percuma karena telinganya tertutup rapat sehingga Abid mengabaikan setiap teguran guru.
Pagi ini harusnya upacara bendera.
Tapi Abid, dia malah ke kantin dan tidur di kursi kantin.
Bukan Abid namanya kalau tidak beda dari yang lain.
"Abidd!!"
"Ahh tolonglah tolong bangettt. Gue gak upacara sehari ajaa" keluh Abid sambil menutup matanya.
Dia tanda siapa wanita ini.
Bukan guru, melainkan wakil ketua OSIS.
Sisi Aprilia.
"Upacara seminggu sekali loh!! Cepet bangun woi kamprett"
"Bawel lu betina!"
"Bid, upacara ato gue panggilan Bu Tika? Semua toilet belum di bersihin tuh. Sampah daun gugur juga belum--" Abid pergi kelapangan.
"Baju lo woi!!" Abid mengangkat satu jempolnya tanpa berbalik.
"Untung ganteng!"
__
"Mau bolos ketauan lagi?" tanya Rangga.
"Mata dia ada berapa sih? Banyak ya?" tanya Abid heran.
"Kakinya juga bermata bid" sahut Tio.
"Kaki lu aja yang gak punya mata" balas Eldi.
"Depan depan aja, jangan ikutan belakang. Kang lele"
"Eh anjirre gue udah cukur kumis coy"
"Sst" Sisi datang.
"Pengacau datang" Sisi menatap tajam Tio.
Mereka hening menikmati upacara hari Senin yang begitu panas membara.
Abid yang paling belakang ingin mundur untuk sedikit meneduh. Namun gagal karena di belakang ada anggota OSIS bagian ketertiban.
Abid pun diam di tempat.
"Gak adil banget" Abid sambil tertawa receh. Semua memperhatikan Abid.
"Apanya gak adil?" tanya Rangga.
"Haha.. lucu sekolah ini. Disaat semua panas-panasan juga. Eh anggota osis nya ngadem. Mana keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?" ujar Abid.
Sisi melihat ke belakang dan benar saja ada anggota osis yang ngadem.
"Siapapun itu yang ngadem dibelakang maju kedepan!" Instruksi kepala sekolah. Beberapa anak osis pun maju.
"Hukuman kalian di akhir upacara! Dan kamu Abid, jangan sampai sendirinya terciduk sedang ngadem"
"Saya ngerti keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia kok pak" jawab Abid santai.
Upacara dilanjutkan kembali.
"Lama lagi?" bisik Jefri.
"Dua jam lagi mungkin" jawab Tio.
"Ngaco" Tio tertawa.
"Eh itu yang bawa bendera di tengah bukannya Balqis?" tanya Heon berbisik. Mereka pun melihat kearah pengibar bendera pusaka.
"Tu anak emang gak ada capeknya gue rasa" kata Tio.
"Dia kapan latihan nya coba? Gila aja bisa kompak mereka" sahut Rangga.
"Latihan pas masih sebesar biji jagung" jawab Abid ngarang.
"Emang minta di tampol si Abid" balas Tio.
"Mode pms by Abid on" Abid cengengesan.
"Kalian gak bisa diam? Ngoceh terus berisik!" protes Sisi.
"Lu juga gak bisa diam? Ngebacot mulu!" jawab Tio.
"Lu bedua bisa diem? Gue jodohin ni" sahut Abid.
"Najis"
Bruk..
"Eh apaan?" tanya Heon.
"Balqis pingsan! Bid Balqis---"
Jefri diam ketika melihat Abid langsung lari ke depan menghampiri Balqis. Tim PMR sekolah ikut menghampiri Balqis.
"Siapkan uks aja sana!" suruh Abid. Mereka mengikuti perintah Abid.
Abid pun menggendong Balqis lalu berlari menuju uks. Satu sekolah dibuat heran dengan sikap panik Abid. Abid yang biasanya cuek tapi saat ini terlihat begitu panik.
Semua orang bertanya-tanya sekarang.
Apa hubungan mereka berdua?
•~•
"Lo kenape megangin kepala mulu?" tanya Rangga sambil memakan nasi goreng.
"Salah banget gue! Harusnya kagak usah bawa Balqis tadi. Kagak usah gendong Balqis ke uks" jawab Abid.
"Lah kenapa? Bagus lo bawa tadi begoo. Kan lebih cepat jadinya" balas Tio.
"Udah lah gak usah di pikirin. Gak bakal di buli tu. Yakin deh gue" ujar Jefri.
"Lagian lu nya tumben banget tau nggak"
"Reflek El reflek" jawab Abid.
"Gak yakin reflek. Gercep banget tadi coy" sahut Heon.
"Lagi pula, kalau si Abid kagak ngebantu. Berarti Abid bukan manusia" kata Tio.
"Yang bilang dia manusia siapa?" tanya Jefri.
"Lah kalau bukan manusia gue apaan begoo?!" tanya Abid.
"Lo alien"
"Ngaco" mereka tertawa.
Disisi lain..
"Kok lo bisa sih di gendong kak Abid? Lo udah jadian kan sama doi?!" tanya Indira.
"Hah? Nggak! Mana ada" elak Balqis.
"Terus tadi kenapa dia panik banget ke lo?!" tanya Ayu.
"Ya gak tau" jawab Balqis pelan.
"Ah udah lah kalian. Kenapa malah mempermasalahkan itunya? Balqis nya loh sekarang gimana" lerai Vane.
"Btw lo gapapa kan?" tanya Vane.
"Gak apa apa, cuma kurang tidur kecapekan terus juga belom sarapan"
"Lagian tau masih capek sok-sokan masuk sekolah. Sok-sokan jadi pengibar bendera" Abid nongol di depan pintu uks.
"Eh kak Abid.." Abid hanya melambaikan tangannya dan senyum sekilas.
Abid menghampiri Balqis. "Lo mau balik?" Balqis menggeleng.
"Bagus dirumah lo bisa tidur"
"Uks juga bisa kok kak" jawab Balqis.
"Kebiasaan ngeyel" Balqis cengengesan. Abid mengedarkan pandangannya menuju ketiga teman Balqis yang terdiam.
"Nanti kalau mau kemana pun bareng Balqis. Kalau Balqis di buli kalian gue jadiin sasaran. Kalau Balqis baik-baik aja, gue kasih nomor WhatsApp, Line, sama follback Instagram" Abid senyum sekilas lalu keluar uks.
"Wagilasi"
"Balqis, jujur aja deh. Lo ada hubungan apa sama kak Abid? Kak Abid yang biasanya cuek kenapa jadi care banget?!" tanya Indira lagi.
Balqis tersenyum paksa. "Aku juga gak tau kak Abid kenapa.."
"Lo pacarnya kan pasti atau nggak istrinya. Kalian di jodohin. Bener kan?!" tanya Ayu.
"Nggakk!" tolak Balqis cepat.
"Aneh tau, dari awal lo masuk sma juga dia care banget sama lo. Lo pasti ada hubungan kan sama kak Abid" tanya Indira.
"Lu bedua kenapa nanya begituan mulu sih?" Vane tanya balik.
"Ya kalau itu beneran... Gue sakit hati"
- -·- -
"Gue denger ada siswi baru?" tanya Rangga.
"Iya. Di kelas kita lagi" jawab Eldi.
"Sotoy amat. Tau dari mana lo?" tanya Tio.
"Lo lupa Eldi siapa?" tanya Eldi.
"Inget kok. Tukang ikan lele kan?" ujar Heon.
"Kurang ajar"
"Hahaha"
Bruk...
Seseorang menabrak Abid.
"Sorry" siswa itu pun ingin langsung pergi. Abid bukan orang yang peduli banyak hal. Dia membiarkan orang itu pergi.
"Lo gak apa-apa?" tanya Jefri.
"I'm fine"
Namun, ada satu hal yang mengganjal di hati Abid.
"Tunggu" siswa itu berhenti.
"Kenapa bid?" tanya Tio. Abid menggeser teman-temannya lalu maju menghampiri orang ini.
Abid menarik bahu sang penabrak.
Orang itu berbalik sambil senyum. Abid tanda dengan senyum iblis manusia satu ini. Dia membuka topinya.
Tebakan Abid benar. "Lama gak ketemu! Salam kenal, gue Johan"
Yaa!
Orang itu Johan. Tangan kanan Abiyyu!
"Bacot lo!!" Abid meninju Johan.
"Bid bid bid.. jangan cari ribut. Jangan" Jefri menarik Abid.
"Bajingann"
"Hahahaha" Johan tertawa jahat. Dia berdiri menghampiri Abid.
"Selamat menikmati hidup baru" bisik Johan lalu pergi. Abid ingin mengejarnya namun di tahan Jefri.
"Lepas! Lepas gue bilang lepas!" amuk Abid.
"Sadar woi sadar!!" Teriak Jefri. Abid mengusap wajahnya.
"Mau apalagi sihh Abiyyu?!"
_____________________________________________
Maaf telat up guys, tugas author numpuk bgt:")