
"Gue Abid. Suami sah Balqis"
"Kalau kejebak sama modelan begini ya... gak masalah dah ciss" Balqis menatap kesal kakaknya.
"ABANG IPARRR KAK NITA GENIT!!"
"Hehhh adek kamprett"
Balqis menjulurkan lidahnya mengejek sang kakak.
"Genit gitu ntar ujungnya balik lagi sama abang, cis. Dia gak bisa tidur kalau gak meluk abang"
Seorang pria ’lumayan’ tampan muncul dari dapur sambil menggendong anak umur lima belas bulan. Ia abang ipar Balqis, Edwardio Rendy dan anaknya, Elsio Auzy.
"Pede-an" sahut Anita.
"Halahh ngaku aja udahhh kok susah, gengsian huuu" kata Balqis ngegas.
"Jujur deh, lu ngadu sama abang ipar lu takut Abid gue ambil kan"
"Geer banget kak Nita astaghfirullah. Emang kak Abid mau sama kak Nita? Taruhan juga Balqis yakinnnya..."
"Yakinnya?" tanya Rendy.
"Yakinnya... yakinnya"
"Apa apaa?? Yakinnya mau sama gue kan" tanya Anita.
Balqis diam menatap tajam Anita, Abid dan Rendy tertawa melihat kakak beradik ini.
"Nggak lah. Yakinnya kak Abid gak mau, yakan kak?"
"Eng--gak"
"Jawabnya aja ragu-ragu, gak tulus tuh" ledek Anita.
"Kak Abid menghargai kakak, biar kakak gak sakit hati!"
"Alasan"
Balqis menatap sengit kakak laknatnya ini.
"Btw, tadi apa? Kakak?"
"Manggil tu yang sweet dikit. Apaan kakak, honey gitu atau ngga bee"
"Bii? Babii maksudnya?" tanya Balqis polos.
"Udah lama gak ditabok, pengen ditabok?" balas Anita sengit.
Balqis tertawa puas. "Suka suka Balqis la manggil apa!"
"Ya tapi kalau lu manggil kakak jadinya aneh. Emang ada di keluarga kita cowok dipanggil kakak? Kan gadak!"
"Nah ini Balqis adain"
"Mau bertarung?" tanya Anita kesal.
"Ayoo" jawab Balqis.
"Heh!! Kalian tu berantem terus, Abid bingung ini dengernya!" protes Rendy.
Semua menatap ke Abid, Abid tersenyum kikuk.
"Maklum aja deh ya bid. Tau sendiri kalau sodara sejenis sering berantem, apalagi betina" kata Rendy, dia sedikit berbisik di dua kata terakhir yang diucapkan.
"Hubby!"
"Bang Rendy!"
Rendy tertawa melihat keduanya kompak.
"Oh iya.. gue Rendy, Edwardio Rendy. Suaminya Anita" Rendy mengulurkan tangannya ingin bersalaman dengan Abid.
"Aahh.. suaminya kak Nita, gue Abid bang" Abid membalas uluran tangan Rendy.
"Ganteng juga ternyata, maaf kemaren gak sempat datang acara nikahnya kalian"
"Gak apa-apa bang, dadakan juga" jawab Abid sambil memegangi tengkuknya.
Abid melihat ke anak yang digendong Rendy, sangat lucu. Dia tersenyum pada Abid. "Halo cantik"
"Haii uncle, aku Auzy"
"Lucunyaa" balas Abid dengan ekspresi gemasnya.
"Lucu kan? Siapa dulu emaknya"
"Yeehh.. aunty-nya lebih lucu keles!"
"Dih apaan, cantikan emaknya lah"
"Heh heh! Malah berantem lagii, liat ni Auzy ikut bingung gara-gara kalian bedua tengkar terus"
"Dari tadi gak selse selsee"
"Salahkan kak Nita"
"L--"
"Ssstt.. udah diemm"
Balqis dan Anita terdiam. "Nah kan adem"
▪▪▪
"Kenapa manggilnya Auzy bang? Kenapa ngga Elsio. Gue lebih suka manggil Elsio" kata Abid cengengesan.
"Yaa emang awalnya manggil Elsi atau kadang Elsio, tapi emaknya ga setuju karena pake inisial 'E' sama kayak gue. Gue di London dipanggil Edwardio bukan Rendy" jawab Rendy.
"Heh apaan?! Nggak-nggak, emaknya lebih berjuang!" jawab Anita kesal.
"Bapaknya yang lebih berjuang" balas Rendy.
"Ahh gak tau gak tau, pembahasan apa ini?!! Balqis gak tau, Balqis cabut"
Balqis pergi menuju dapur. "Heh Dory balik luu"
"Dory ndasmuu" Anita terkekeh.
"Dory apa kak?" tanya Abid.
"Dory nama dia sebelum jadi Balqis" jawab Anita.
"Jauh juga dari Dory ke Balqis" sahut Rendy.
"Emang iya, nama dia asal buat aja itu. Papa sebutin random"
"Gini ceritanya, dulu tu waktu dia lahir pas pula papa siap nonton animasi kartun ikan itu Nemo terus papa ngefans sama Dory. Abistu papa ditanya sama mama namanya Balqis apa gitukan, lah papa langsung jawab Dory"
Rendy dan Abid tertawa, "Pada ngakak gak tu?"
Anita mengangguk sambil ikut tertawa kecil. "Berganti jadi Balqis gimana ceritanya kak?" tanya Abid.
"Pas mau di sahkan jadi Dory, itu mama nggak mau. Terus itu kan gue lagi nonton TV di ruangan VVIP rumah sakit. Ada iklan bola, jadi papa bilang 'Ball' sambil mikir sampe akhirnya jadi lah Balqis"
"Nama si Acis penuh filosofi" Rendy, Anita dan Abid tertawa.
"Kak Nita buka kartu, gak acik" Balqis datang lagi. Anita cengengesan.
"Yoda sekarang Balqis mo tanya, kakak mau ngapain kesini?! Ada maksud dan tujuan tersembunyi kan, jujur!"
"Lu emang adek gue, paham bangett"
"Dih" Anita tertawa.
"Jadi.. gue sama my sweety baby honey Rendy mau nitip Auzy, malam inii aja boleh yaa"
"Ngga usah ngaco deh kak, lu mau kemana sampe nitip Auzy?"
"Lu kan tau tue balik Indonesia karena nemenin abang lu nyari impostor..."
"Investor bege, ish punya kakak begoonya nauzubillah" cela Balqis.
"Meleset dikitt" Rendy dan Abid tertawa.
"Gak usah ketawa"
"Udah, teruss?" tanya Balqis.
"Ya gue mau nemenin dia kesana lah. Yakali dia pergi sendiri, di colong tante tante gimana?!"
"Cari baru" jawab Balqis asal.
"Abid ya"
"Ehh jangan main-main kamu" Anita tertawa.
"Cemburu ni yeeee" ledek Rendy dan Anita barengan.
"Hisss" Mereka tertawa kecuali Balqis. Auzy aja senyum menampakkan gusi seolah mengerti topik pembicaraan.
"Mau ya cis? Sekalian latihan sebelum punya baby. Satu malem aja kok, besok subuh gue jemput"
"Balqis terserah kak Abid" mereka menatap Abid.
"Iy--yaudah kak, bang. Gak papa"
"Lahhh kak, Balqis kira bakal nolakk"
"Mana mungkin gue nolak liat bayi seimut Auzy" jawab Abid sambil mengelap pipi Auzy yang beselemak karena makan roti.
"Manteppp, adek ipar gue debes" puji Anita.
"Ini susunya ya, terus ini mainannya" Anita menunjuk dua kotak yang di meja ruang tamu.
Abid mengangguk sambil senyum. "Aunty-nya kampret emang. Masa gak mau jagain ponakan sendiri" ceplos Anita.
"Bukan gak mauu kak, Balqis ga ngerti cara jaga bayi. Apalagi kea Auzy, Auzy aja lincah banget" jawab Balqis.
"Ya kan ada Abid, beduaan tuh jagainnya"
Balqis tidak menjawab dia mendekat ke Auzy mengecup pipinya gemas.
"Btw, bid" Abid langsung melihat ke Rendy.
"Lo ngomong sama Balqis lo gue?" Abid mengangguk.
"Ganti lah, yakali suami istri bahasanya lo gue. Lo juga cis, jangan panggil Abid kakak. Lu manggil Nita kakak manggil suami lu masa kakak jugaa"
"Iyeee bang iyeee ntar di ganti"
"Kapan-kapan" lanjut Balqis.
"Bagusnya gak usah dikasih tau deh bee, Balqis tu bebal banget. Otaknya berlapis lapis kayak Tango"
"Ngaco aja terosss" Anita tertawa.
"Auzy sama uncle Abid ya. Jangan bandell" Seolah paham, Auzy tersenyum. Anita mengecup pipi Auzy.
"Dah yaa, gue sama Rendy pulang dulu. Mau ehem, byeee" Anita keluar apartemen duluan. Rendy geleng-geleng kepala sambil nyengir melihat tingkah istrinya.
"Gue balik dulu" Abid dan Balqis mengangguk.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, hati hati bang" Rendy mengangguk lalu keluar dari apartemen.