
Maap lama upnyaaa, author sibuk di dunia nyata ╥﹏╥
______________________________
🔊 "Pengumuman untuk semuanya, diharap berkumpul. Yang terlambat dapat hukuman! Terimakasih"
"Skuy lah kelapangan" ajak Eldi.
"Gue males la, panas" jawab Rangga.
"Gue pun" sahut Abid.
"Telat dihukum njirr, ayo buruan" ajak Jefri gantian.
"Ini sekaligus pembentukan tim ya?"
"Iyaa katanya"
"Ahh bodoamat, wakili gue sono. Bilang gue sakit" suruh Abid.
"Sakit beneran mampusss lu"
"Gue emang sakit" Abid menunjukkan siku dan lututnya.
"Tumben jadi alay" ledek Tio sedikit terkekeh.
"Eh bid liat tu si Chandra deketin Balqis" Abid langsung menoleh.
"Wahh, pengen di patahin tulang nya tu anak?!" tanya Abid kesal, ia ingin berjalan menuju Chandra dan Balqis.
"Eh begoo begoo tahan. Ntar keciduk lu gimana? Ketahuan gimana? Gue gak mau ya lu di drop out"
"Bener kata Rangga. Lu tenang, sabar, okee. Jangan cemberut yaa naks gantenggg"
"Cemburu yaa kamu.. ututututu"
Abid menghela nafas sambil menatap datar mereka, "Macam bayi aja gue lu gituin"
"Lu emang bayii!!" teriak Eldi dan Tio. Mereka jadi pusat perhatian.
"Gue bunuh sekarang deh lu beduaaa" keduanya tertawa sembari menghindar dari tendangan Abid.
"ABID DAN KAWANNYA, CEPAT KEMARI!!" Jefri mengangguk dan Rangga mengangkat jempol sebagai perwakilan.
"Kalau bisa di balas pake WhatsApp, gue jawab cuma huruf y tu guru tua" cibir Abid.
Mereka terkekeh lalu berkumpul di dekat tenda para panitia.
"Baiklah karena sudah berkumpul semua, kita mulai ya. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh"
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh"
Beberapa guru mulai berceloteh, dari A sampe Z lalu balik ke A. Itu terus yang mereka sampaikan, Abid saja sampai hafal mendengarnya.
Abid yang bosan dengar celotehan guru memilih memejamkan matanya masih sambil berdiri.
"Melek lu, ntar jatoh" Abid membuka matanya lalu menoleh kesamping, itu Chandra.
"Lama gak jumpa, Abid"
Abid tersenyum miring melihat Chandra, "Ya.. lama gak jumpa"
Chandra menarik kembali tangannya yang dianggurin. Niat awal ingin bersalaman, namun Abid enggan mengulurkan tangan.
"Apa kabar?" tanya Chandra.
"Lu bisa liat sendiri, I'm fine" jawab Abid.
"Siku lo luka tuh"
"Goresan kecil doang, lu apa kabar?"
"Gue baik alhamdulillah"
"Syukurlah, setidaknya fans gue berkurang karena lu udah datang" Chandra tertawa kecil.
"Lu koma, kenapa gak amnesia?" tanya Abid.
"Banyak yang duga gue koma setahun, tapi aslinya cuma setengah tahun"
"Sisanya, lu pake bolos?"
"Lebih tepatnya untuk pengobatan dan untuk mengembalikan ingatan. Gue homeschooling sihh" Abid berohria.
"Lo masih sering jadi incaran bk?"
"Jarang"
"Gue denger, lo gak secuek dulu. Gak se-bodo amat dulu. Lu cukup berubah ternyata" Abid tersenyum smirk.
"Kenapa? Lo takut semua fans lo gak balik lagi?"
"Gue malah bersyukur mereka gak balik ke gue"
"Mereka pengganggu" bisik Chandra.
"Gue setuju tentang itu" Mereka tertawa pelan.
"Gue seneng balik ke SMA"
"Kenapa?"
Chandra mengedarkan pandangannya, "Karena ketemu dia"
Abid mengikuti arah pandang Chandra, itu menuju ke Balqis. Abid menahan amarahnya, ia mendekat ke Chandra. "Lu bisa goda fans gue yang lain, tapi tidak untuk itu"
"Kenapa? Your girlfriend?"
'She is my wife!!' ingin sekali Abid menjawab itu, namun dia masih sadar, dia tidak ingin menambah masalah hidup. Abid memilih diam.
"Gue denger lu sedikit berubah karena dia"
"Cukup menarik sih. Gimana kalau kita bersaing untuk dapetin dia" Abid menatap datar Chandra.
"Lu bakal kalah telak"
"Kita belum coba, kalau lo menang koleksi mobil gue buat lu" tantang Chandra.
Abid tertawa pelan, dia kembali menatap datar Chandra. "Sorry, bagi gue wanita adalah makhluk ciptaan Tuhan paling berharga, gak sepantasnya untuk dijadikan bahan taruhan"
❇-❇-❇
"Tok tok tok"
"Assalamu'alaikum, kakak kakak ada yang luka gak?" Balqis datang ke tenda Abid sebagai tim pmr.
"Abid nih lukanya di apain apa itu lah namanya" jawab Rangga.
"Alay teross, gue tuh baik-baik aja"
"Baik-baik bacot" tentang Heon.
"Lu jatoh di mana sih???" tanya Eldi heran.
"Gue jatoh di gang kecil. Ngehindar dari anak kecil lari larian"
"Laju-laju?" tanya Balqis sinis.
"Pelan pelan kok, sayang"
Pletakkk!!
"Jangan meresahkan" protes Jefri, Abid tersenyum pepsodent.
"Anak-anaknya jadi gimana?" tanya Tio.
"Baik-baik aja. Mereka minta maap terus pergi"
"Gue jadi lu datengin emaknya minta ganti rugi" ujar Eldi.
"Emang jahat si Eldi"
"Otaknya kurang steril" sahut Rangga, mereka terkekeh.
"Daripada cek gue mending cek Heon aja tuh, dia kan kemaren abis operasi"
"Nggak nggak, gue baik-baik aja"
"Virus Abid menyebar cepat memang. Ini salah gue dan gue baik-baik aja. Wahh, menyebarrr" Rangga keluar tenda.
Abid tertawa melihatnya. "Gue mau cari kayu dulu"
"Jeppp, gue ikut"
"Gue jaga depan"
"Lah lah pada pergii?!"
"Enjoy boss" Abid menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka.
"Kak Abid sakit??" Abid mengangguk manja, "Sakit hatii"
Balqis tertawa, "Sakit hati kenapa hm?"
"Kamu deket deket Chandra tadi"
"Cemburu rupanyaaa" Abid memanyunkan bibirnya. Balqis mendekat lalu mengecupnya.
"Cuma ngomongin pmr tadi, dia minta Balqis bantu tim pmr. Dia kan ketua pmr" Abid memutar bola matanya malas.
"Yahh serah"
Balqis mendekat ke sebelah Abid, ia memeluk Abid dari samping. "Ngambek mulu ihh, gemesin tau nggaa"
"Gue emang gemesin" Balqis tertawa lagi.
"Kakak kok bisa setim semua sih? Balqis cuma barengan sama Vane doang"
"Pake orang dalem"
Abid memang setim dengan kelima temannya, harusnya di acak dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas, namun Abid tidak mau karena tidak suka bergabung dengan yang lain.
Bu Jihan mengizinkan mereka setim, tapi bu Jihan menyuruh empat siswa tambahan. Dua dari kelas sepuluh dan dua dari kelas sebelas.
"Kamu mau tukeran?" Balqis menggeleng cepat.
"Setim sama siapa aja?" Abid mendekatkan Balqis lalu mengelus rambutnya.
"Setim sama banyak orang lah"
"Sama Silvia?" Balqis mengangguk pelan.
"Seriusss?" Balqis mengigit kecil bibir bawahnya, ia mengangguk.
"Lu sini aja, gue minta lu dituker"
"Eh kakk jangan dong"
"Nanti lu di apa-apain!" Balqis tersenyum.
"Gak apa apa kok, Balqis baik-baik aja pasti. Jadi gak usah ya?"
Abid menghela nafas panjang, ia kembali duduk. "Kalau ada apa-apa bilang, ngerti?" Balqis langsung mengangguk.
"Sini, sikunya biar Balqis ganti perbann"
"Gue gapapa, baik-baik aja. Gak usah ganti"
"Kakk--"
"Gue beneran gapapa. Santai aja, oke??"
"Lututnya aja deh kalau gitu" Balqis menuju lutut Abid. Abid membiarkan Balqis mengobatinya.
Abid menatap lekat Balqis, setelah selesai mengobati. "Apaa?"
"Gapapa, cuma terpukau aja. Kok bisa punya istri penyabar banget" Abid tersenyum masih menatap Balqis.
"Modus banget kak"
Abid tertawa, dia melihat ke bawah menggenggam tangan Balqis. "Kok modus si, aku serius"
"Ada udang di balik batu kan ini? Kakak mau apa hm?"
"Mau ngabulin emang??" Balqis berfikir.
"Emmm... Mungkin"
"I just wanna you kiss me"
"Tuhhh, modus kann"
Abid menatap Balqis dengan tatapan bayi yang ingin menangis. "Dasarr babyy gedeee"
"Tadi katanya mau ngab--"
Cup~
Abid terpaku lagi, kecupan bibir dari Balqis menghentikan ocehannya.
"Balqis pergi dulu ke tenda lain, okee byeeee"
Sesegera mungkin Abid tersadar dia menarik tangan Balqis, "Jangan deketin cowok lain!!"
"Iyaaa kakakk jugaa"
"Aku normal lah, mana mau deket sama cowok"
"Maksudnya jangan deketin cewek lain laa. Ngeselin ih" Abid tertawa.
Cup~
Abid membalas kecupan bibir.
"Selamat bertugas, bun" Balqis tersenyum lalu keluar dari tenda.
Abid pun ikut keluar setelah dua menit Balqis pergi, "Lu emang meresahkan, bid" keluh Rangga.
"Lah apa salah gueee?"
"Lu abis ngapain bang sama kakak ipar? Keluar sambil senyum senyum loh dia" tanya Eldi gantian.
"You know lah"
"Berdosa kali emang luu"
"Makanya cari, kalau udah nemu cobain kek gue. Rasanya ahhhh mantapp"
"Bangsattt luu. Pengen di kuburr yaa?!!" Abid terkekeh.
"Wahhhh, sangat meresahkan"