
"Bang, Devi kok lengket banget sama kak Jefri? Jodoh apa merekaa?"
"Nggak tau juga, yakali Devi bocil gitu jodohnya segede aku"
"Bisa aja loh, kan jodoh gak ada yang tau."
"Iya, sama kayak kita kan ya? Berawal dari musuh yang jebak kita terus jadinya gini"
"Jangan gomballl, kenyang Balqis dengernya" Abid tertawa pelan.
"Abaaaangg... makan seblak hayukkk"
"Seblak seblak matamu, gak gak. Masih sakit jangan macem-macem"
"Ck, kasar bangett" omel Balqis, Abid terdiam.
"Devi kan masih sakit, makan yang lain aja ya? Salad buah misalnya, nanti kakak buatkan di rumah"
"Okeee deall, timekasih kakak cantikk"
"Abangg ayo balikk" ajak Avi sambil ngos-ngosan.
"Mana bang Jefri?"
"Itu di belakang" Abid menoleh ke belakang. Jefri bersama dengan kakaknya, ntah Abid yang semakin jelalatan atau kakaknya Jefri yang terlalu cantik. Abid tak berkedip melihatnya.
"Bid, inget istri" Abid tersadar, ia melihat Balqis yang menatapnya sinis.
"Ini kakak gue, Ayumi"
"Keturunan Jepang, Jef?"
"Iya, kan gue jugaa"
"Gak nggak, lu gak sama sekali" Jefri langsung menatap nya sinis.
"Yaudah gue pulang dulu ya, udah di tunggu dirumah" Abid menganggukkan kepalanya. Jefri dan kakak ipar nya pergi.
"Liatlah betapa jelalatannya manusia satu ini" cibir Balqis.
"Cemburuu ya ayang yaa?"
"Ntahsi" Balqis langsung pergi sambil menarik tangan Devi.
"Haha kasian banget bang Abiddd, mana mukanya ngenes lagi. Makanya jangan jelalatann" Avi langsung pergi mengejar Balqis.
"Apa salah ku di masa lalu, mengapa mereka begini??"
"Eh anjirr, kok alay gini?!"
Abid menyusul ketiga wanitanya.
"Abanggg"
"Hmm"
"Kucing"
"Iya iyaaa"
Abid mengeluarkan mobilnya dari parkiran menuju tempat penitipan kucing.
"Avi, namanya siapa ya yang bagus"
"Gak tau, aku ngusulin namanya Abid aja"
"Abang tampol mau, Avi?"
"Abang tampol Avi bilang ayahhh"
"Abang bilang kalau kamu morotin abang"
"Ish licikk!!" Abid menjulurkan lidah meledek Avi.
"Gak boleh gitu tau, sama adek sendirii padahal"
Abid menatap sekilas Balqis, "sayang kayaknya aku gak mau punya anak dulu deh. Sampe selesai kuliah juga gak bakal mauu" bisik Abid sangat pelan.
"Lah kenapa??"
"Aku gak mau cinta kamu terbagi, sama Avi Devi aja aku udah terbagii"
"Waaahh, masa sama adek sendiri cemburu gituu. Sama anak sendirrii besok juga gituu??"
"Yaa gimana..." Abid mengode Balqis untuk mendekat. Balqis pun mendekat.
"Aku gak bisa berbagi sayanggg"
Cup~
Balqis menatap Abid sinis, sedangkan yang di tatap cengengesan.
"Abangg... Avi Devi masih di belakang lah, bikin dede bayi dirumah aja"
"Jangan ngadi-ngadi kamuuuu"
⚛⚛⚛
"Kakk, skincare itu apa?" tanya Devi saat menikmati salad buahnya di meja makan.
"Skincare ituu semacam alat alat perawatan untuk kecantikan gitu"
"Kakak pake skincare?"
Balqis menggeleng, "eh pakee sih. Cuma gak terlalu banyakk, kalau masker biasanya kakak pake yang alami."
"Kenapa kak?? Bang Abid gak kasih duit mau belii?" Abid yang sedang minum hampir menyemburkan airnya.
"Sembarangan bangett"
"Pelit huuuu, bilangin ayahhh gak mau beliin kak Balqis skincare"
"Behh, adek siapa ini?"
Balqis tertawa, "kakak emang gak minta sama bang Abid. Kan kakak udah cantikk alami, jadi gak mau di rusak pake kimia" jawab Balqis santai.
"Iya, cantik banget emang" sahut Abid menatap Balqis.
"Alah modus" Abid menghela nafas sambil mengelus dadanya.
"Tapi ya kak, menurut pelajaran bahasa Inggris. Care itu kan artinya peduli, skin itu yang ada di dalam game, kenapa jadi perawatan kecantikan?" tanya Avi.
"Adek pinter, skin itu bukan cuma yang di dalam game. Skin itu artinya kulit, gak percaya cek google"
"Terus jadinya kulit peduli dong"
"Kalau di pisah emang gitu, tapi kalau di gabungin artinya perawatan kulit" sahut Balqis.
"Emmm Avi, butterfly artinya apa?"
"Kupu-kupu"
"Bukan mentega terbang kan"
"Iyyyaaa bukaan"
"Berarti, besok waktu kamu udah gede kalau ada cowok yang bilang i love you itu bukan berarti dia mencintai kamu. Paham?"
"Loh bang, kan aylopyu artinya emang aku cinta kamuu" ujar Avi.
"Tapi bukan berarti pria itu benar-benar mencintaimu, bisa jadi modus"
"Sama kayak abang kan?"
Savage!!!
Abid terdiam.
Balqis dan kedua adeknya terkekeh, "sumpah demi apapun abang gak boong soal perasaan"
"Dasarrr modus huuuu"
"Ya Allah, ini.. kenapa adek gue begini sii?!" Balqis tertawa lagi.
"Dahlah, Avi mo main sama Abid junior"
"Abid junior gundulmuu!! Kamu kira itu anak abangg?!"
"Bodo amat abangggg"
"Gak usah nge-dumel mulu, lagian salah siapa sering modus" cibir Balqis.
"Aku gak pernah modus sayang"
"Prett, kamu mah modus muluu"
"Percaya atuh sama aa', aa gak pernah modus. Apalagi ke kamuu"
"Gak dengerrr euyy" Balqis pergi sambil membawa bekas makan mereka ke tempat cucian piring.
Abid mengikutinya, ia langsung memeluk dari belakang. "Abang, Balqis lagi nyuci"
"Gak ada yang bilang kamu lagi belajar"
"Dihh rusuhhh. Ini dirumah bunda tauu, ada Avi Devi!"
"I don't care!! I miss you, baby."
"Sejak kapan jadi ginii??" Abid diam sambil mengendus-endus leher Balqis.
Ting tong...
"Abangg, ada tamu tuh"
"Biarin"
"Bangg"
"Hmm"
"Aa' Abid jangan gini atuh" Abid melepas pelukannya lalu membalik tubuh Balqis.
"Kamu maunya begimana?"
"Mau apaa emang??" tanya Balqis.
"Abangggg, gimanaa buka pintunyaaaa? Kok gabisaaa?" teriakan Devi menghentikan kegiatan Abid.
Abid menghela nafas panjang, "emang minta di getok semuaa" Abid pergi menghampiri Devi yang di depan pintu.
Abid membuka pintunya dengan sidik jari. "Haii, Abid"
Abid terkejut melihat tamunya, "lo mau apa? Ngapain?"
"Abangg, kakak ini siapa?" tanya Devi. Abid menoleh Devi sekilas.
"Dorryy, ajak Avi Devi masuk kamarnyaa bentarr" Abid langsung keluar menghadapi tamunya.
"Lu mau apa, Sheliaa?"
"Em.. itu, cuma mau kasih ini. Kamu suka salad kan? Davi Devi juga"
"Mereka gak suka salad dari orang asing, apalagi orang muna"
Shelia terdiam.
"Pergi, jangan ganggu" Abid masuk ke dalam. Dengan tiba-tiba Shelia mendorong pintu sehingga dia ikut masuk.
Abid memejamkan matanya menahan amarah, "gue itung sampe tiga kalau lu gak keluar, gue kurung di ruang bawah tanah."
Shelia terpaku, perlahan ia mundur.
"Gue bukan Abid yang bodoh kayak dulu, Abid yang sekarang paling gak suka diganggu. Sampe sini paham?"
Abid masuk sambil membanting pintunya. Shelia langsung balik menuju rumahnya, ia terus memikirkan rencana untuk mendekat lagi pada Abid.
Lain halnya dengan Abid yang langsung membanting tubuh di sofa. Ia mengambil remot menonton televisi. Tanpa aba-aba kucingnya naik ke atas dada Abid.
Abid mengelusnya penuh kasih sayang.
"Abangggggggggg, kakakk cantik sakit peruuuuuttt" Abid langsung meletakkan kucingnya di meja kemudian lari ke lantai atas.
"Balqis kenapaa???"
"Sayangg??"
"Balqis gak apa-apa bang, sakit perut karena bulanan doangg" jawab Balqis sambil memegangi perutnya.
"Aku harus apaa??"
"Gak harus apa-apaa, abang beliin 'itunya' aja"
"Itunya? Ituu?" Balqis mengangguk.
"A-akukan gak tauu"
"Avi, Devi jaga kak Balqis."
♧♧
"Huh!! Bismillah, demi Balqis" Abid keluar dari mobilnya langsung masuk ke supermarket.
Abid tiba di tempat, "gue kagak tau yang mana anjritt. Mana banyak bangett lagii" Abid mengambil ponselnya.
"Assalamu'alaikum, sayang. Yang mana??"
📱"Waalaikumsalam.. Ituuu, yang ituutuu"
"Inii??" Balqis mengangguk.
Abid menggaruk kepalanya lalu mengambil yang diminta Balqis.
"Mau apalagi? Minuman pereda rasa sakit nya?? Apa mau coklat??"
📱"Coklat ajaa, udah gak sakit kokk"
"Yaudah iya, tunggu dirumahh"
📱"Maacii sayangg"
Balqis mematikan panggilan.
Abid menggelengkan kepalanya pelan, ia membawa trolinya menuju arah cemilan. "Udah berapa juta gue habis hari ini, jajan doang gemuk kagak" gumam Abid.
Setelah mengambil beberapa cemilan favorit, Abid menuju kasir.
"Tuan Abid??"
"Ehh, nona Nova"
"Sendirian?" Abid mengangguk sambil tersenyum sekilas.
"Uuuu, beli pembalut untuk siapa??"
"Untuk pacar saya" jawab Abid santai. Mbak kasir terkagum-kagum melihat Abid yang santai.
'Gak tau aja dia gue nahan malu' batin Abid yang menyadari itu.
"Udah punya pacar ternyata.."
"Itu yang di jari, cincin apaa?"
Abid menoleh jarinya, "cincin komunitas nona."
"Ini mas, total belanjaannya lima ratus tiga puluh tujuh ribu" Abid memberikan uangnya.
"Saya duluan, nona Nova" tanpa menunggu jawaban, Abid langsung pergi dari supermarket.
Abid membawa mobil dengan kecepatan full, menyalip setiap mobil tanpa rasa gugup.
Beep beep!!
“Ada penguntit, ada penguntit”
"Ribetin hidup gue ajaa" Abid menoleh sekilas ke belakang. Ia mengklik tombol otomatis kemudian berpindah kebelakang memotret plat mobil si penguntit.
Sesudahnya, Abid kembali mengemudi. Untuk mengelabui penguntit nya, Abis terpaksa putar arah mencari jalan pintas.
Butuh waktu dua puluh tiga menit, Abid tiba di rumah ayahnya. Ia langsung masuk ke kamar lamanya.
"Nih, jajannya juga ada tuh. Coklatnya ada banyakk"
Avi, Devi, dan Rian yang di depan pintu menatap takjub Abid.
"Uwahhh, suami siagaa."