A B I D

A B I D
– My smile is only for you now



"Kakak gak mau makan dulu? Atau nggak ganti baju?" tanya Balqis di dalam lift menuju apartemen.


"Ini udah setengah jam dari waktu pulang sekolah, takutnya ayah kelamaan nunggu disana"


"Ohh yaudah, tiati jangan ngebut"


"Sini deket" suruh Abid.


"Ng-ngapain?" tanya Balqis.


"Deket aja sinii" Balqis menurut mendekat ke Abid.


Cup~


Abid mengecup kening Balqis.


"Jangan kemana-mana, jangan lupa kunci pintu apartemen. Kalau ada apa-apa langsung telepon guema. Pake terus itu jamnya, jangan lepas. Kecuali mau mandi. Oke?" Balqis hanya mengangguk.


Pintu lift terbuka, Abid membantu Balqis membawa barang belanjaan mereka sampai ke dapur.


"Inget, jangan kemana-mana!!"


"Iyaa, kak. Udah berkali-kali pun ngomongnyaa" jawab Balqis.


"Biar gak lupa"


Cup~


"Gue pergi, Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam"


Abid keluar dari apartemennya lalu kembali ke bawah menggunakan tangga darurat. Itu lebih cepat baginya dari pada menggunakan lift.


✳✳


"Assalamu'alaikum, ayah"


"Maaf, Abid telat" Abid langsung menyalami ayahnya.


"Nggak masalah, ayah juga baru datang" Abid tersenyum, lega rasa hati karna ayahnya tidak marah-marah.


"Kamu dari mana emang?"


"Nganterin Balqis ke supermarket yah" Ayahnya tersenyum.


"Ada tanda-tanda dia mengandung anakmu?"


"Tanda-tanda nya gimana yah?"


"Mual mual atau dia pengen sesuatu?"


"Nggak ada sih yah, gak pernah"


"Hmm"


"Bunda mana? Kembar? Baik-baik aja kan yah?"


"Baik, mereka baik-baik aja. Kembar nyariin kamu terus malah, nanyain kapan bang Abid balik"


"Ntar deh, kalau ada waktu Abid pulang"


"Ngomong-ngomong, ayah kenapa ngajakin Abid ketemu?"


"Ayah rindu sama kamu. Ayah rindu anak ayah yang suka buat onar" Abid menatap lekat ayahnya.


"Abid juga rindu ayah"


"Kamu gak mau tinggal dirumah ayah aja?"


"Aaaabid mau kok yah, cuma Abid harus rundingan dulu sama Balqis"


Ayahnya mengangguk-angguk. "Ayah ngerti"


"Jaga baik-baik istrimu, dia anak baik dari keluarga baik-baik"


"Jangan sakiti hatinya, kalau kamu sakiti dia sama aja kamu sakiti hati bunda"


⋇⋆✦⋆⋇ 


Abid menuju jalan pulang. Dia teringat setiap perkataan ayahnya. Abid juga mengingat perjanjian mereka.


Perjanjian..


Itu pasti menyakitkan hati Balqis. Abid merasa bersalah pada Balqis.


Hidup Abid, penuh rasa bersalah.


"Kalau perjanjian itu di hapuskan, Balqis terus terikat sama gue. Dan itu artinya, dia terus dalam bahaya. Kalau gue teruskan perjanjian, gue juga gak bakal sanggup kehilangan dia"


"Ya Allah, bantu Abid. Abid harus gimanaa?"


Tak terasa Abid tiba di parkiran apartemen.


Ia masih dilema antara turun dan tidak, batalin atau tidak. Abid benar-benar bingung, keputusan apa yang harus ia pilih saat ini?


Drrrtt... Drttt..


Abid meraih ponselnya.


–Balqis–


📞 "Assalamu'alaikum kak, kakak dimana?"


"Waalaikumsalam. Ini dijalan, bentar lagi sampe. Kenapa?"


📞 "Nggak apa-apa, Balqis cuma khawatir aja kakak kenapa-kenapa"


📞 "Yaudah, Balqis matiin ya kak. Assalamu'alaikum"


Balqis langsung mematikan teleponnya.


"Waalaikumsalam, see.. bahkan dia khawatir sama gue sekarang"


"Ya Allah, Abid harus apaa?" keluh Abid sambil bersandar di kursinya.


"Masih setahun lagi, Bid. Ini masih hari ke tiga lu nikah sama dia. Masih lama, masih 362 hari lagi"


Abid pun turun dari mobilnya.


Dia berjalan santai seolah tidak ada beban dalam hidupnya. Padahal ada batu besar yang sedang ia bawa di pundak.


Ting..


Abid keluar lift.


Dia masuk ke apartemen setelah men-scan kode QR dari jamnya. Hanya Abid yang tau dan hanya Abid yang bisa. Keamanan itu, ia sendiri yang membuatnya.


Abid masuk ke dalam, dia mengedarkan pandangannya mencari Balqis. Ternyata Balqis di dapur. Terdengar suara ricuh dari sana. Abid langsung menghampiri Balqis dan memeluknya dari belakang.


Balqis melepaskan pelukan seseorang di belakangnya. Di tangannya sudah ada sutil yang bersiap untuk menampol orang ini. Ketika Balqis berbalik. "Loh kak Abid? Masuk dari manaa? Kan Balqis kunci pintunya"


"Nggak tuh, buktinya gue bisa masuk. Mulai gak patuh sama suami ya?"


"Terus kok gue bisa masuk?"


"Kakak sihir pintunya. Eh kakak dobrak??"


Balqis menuju pintu apartemen. "Ck, ceroboh nya. Bukan di matikan dulu kompor asal pergi aja" omel Abid sambil mematikan kompor lalu menyusul Balqis.


"Pintunya aman damai sejahtera sehat sentosa. Terus kakak masuk darimana?"


"Dari hatimu"


"Aaah kak Abid ngegembel" Balqis langsung kembali ke dapurnya.


'sejak kapan gombal jadi gembel?' batin Abid heran melihat omelan istrinya.


"Kan, hantu sma sampe sini nih. Siapa yang matiin kompor?!" tanya Balqis.


"Suami muuu" bisik Abid.


"Kak Abiddd!!" Abid tertawa melihat ekspresi terkejut Balqis.


"Kenapa belum siap masaknya? Udah dari tadi lah"


"Ha itulah. Balqis tadi bingung bikin apa. Sampe sejam browsing malah ketiduran"


"Kebo emang"


"Kakak yang kebo!" Abid tertawa lagi.


"Yaudah lanjutin masaknya, gue mo mandi" Balqis hanya mengangguk. Abid pun pergi menuju kamarnya.


- -


Mereka berdua di meja makan sekarang. Baru selesai makan siang masakan Balqis. Makan siang yang sangat terlambat.


"Kak Abid kenapa natap Balqis kek gitu sih?!"


"Gak boleh?"


"Em.. ya.. em.."


Abid cengengesan. "Salting diliatin cogan?"


"Dih pedeeeenyaa" Abid tertawa.


"Gue pernah bikin lo sakit gak?"


"Sakit apa kak?"


"Sakit ati misalnya" Balqis terdiam.


"Nggak pernah kok kak"


'boong. lo gabisa boong. keliatan banget kalau lo boong, Balqis' batin Abid.


"Tapi kalau sakit yang lain pernah"


"Sakit apaa?"


"Gak tau sakit apa. Jantung Balqis deg degan gituu, sering bangett"


"Alahhh, pura pura gak tauu pulaa" Balqis tertawa.


"Sakit yang lain?"


"Kak Abid gak pernah sakitin Balqis kok" kata Balqis sambil tersenyum.


Abid menatapnya lekat. "Senyum lo gue booking. Gak boleh dikasih kesiapa pun"


"Acik gitu?"


"Acik lah" jawab Abid ngegas.


"Kalau Balqis minta hal yang sama bisa gak?"


"My smile is only for you now"


Balqis blushing!!


"Kak abiddd" Balqis memegangi dadanya.


"Eh kenapaaa?" Abid panik.


"Balqis deg-degan lagi. Tanggung jawab dong!!"


"Astaghfirullah, Balqis! Kirain kenapaa" Balqis tersenyum.


"Cie panikkk" Abid menatapnya datar. Balqis pun tertawa.


"Lo minta pertanggungjawaban kan?" Balqis mengangguk.


"Yoda sini, gue kasih nafas buatan"


Balqis langsung menutup mulutnya. "Bedosa sekali kak Abid!" Abid gantian tertawa.


"Eh kak.."


Abid menoleh sambil berdehem. "Balqis bisa minta permintaan?"


"Selagi sanggup, gue kabulin"


"Balqis mau bisa beladiri biar gak terlalu nyusahin kakak"


Abid menghela nafas, "Gue yang nyusahin lo"


"Balqis yang nyusahin kakak"


"Dealnya, gak ada yang susah. Oke?" Balqis mengangguk.


"Mau beladiri? Latihannya harus sama gue" Balqis mengangguk antusias.


"Satu lagi boleh?"


"Mau selingkuh? Big no!"


Balqis cengengesan. "Bukan ituu"


"Balqis mau latihan mengemudi"


"Gue ajarin setelah lo buat SIM" Balqis tersenyum lebar.


"Udah?" Balqis mengangguk.


"Siap-siap nanti kita kerumah ayah" Abid bergerak menuju ruang keluarga.


Ketika sudah melewati Balqis. Balqis berdiri, dia mengejar Abid lalu memeluknya dari belakang. "Thank you very much, for all"


_____________________________


Maapp gengs baru up, gatau kenapa riviewnya lama bangetttt, udah dari kemaren pun gamasuk-masukk. maappin okee, happy reading ♡♡