A B I D

A B I D
– Menghargai sepenuh hati <3



"Abangg bangunn"


"Abaaaangg"


"Hmm? Kenapa sayang??" tanya Abid sambil mengeratkan pelukannya.


"Udah pagii, bangun hey! Belum sholat subuh tauu" Abid langsung melek.


"Ini jam berapaa?"


"Setengah enamm" Abid loncat dari tempat tidur, ia langsung pergi mengambil air wudhu.


"Nihh" Balqis menyodorkan sarung dan peci Abid. Barang-barang Abid sudah berpindah ke kamar Balqis, ruangan sebelah mereka jadikan ruangan kerja Abid dan ruangan belajar bersama.


Abid mengambil sarung dan peci yang diberikan Balqis kemudian mulai sholat subuh. Balqis memilih keluar untuk memasak sarapan.


"Sayang, gak usah sekolah yuk" ajak Abid, ia sudah selesai sholat.


"Ngacoo heh, abang itu udah kelas tiga. Gak usah bolos muluu, jangan ngelawan guru muluuu, jangan berantem muluuu kerjaannya" Abid berdehem sambil meletakkan dagunya di bahu Balqis.


"Abangg, Balqis lagi masaaakk"


"Gak ada yang bilang kamu lagi nyanyi" jawab Abid spontan.


"Dih ngeselinn! Awas ih"


"Abang mending mandiii sanaa"


"Udah ganteng ngapain mandi"


"Astaghfirullah abang.."


"Pengen dimanja kamu" rengek Abid.


"Iya nantii, awas dulu yaa. Abang mandii dulu sanaa"


"Nggak ahh"


'Subhanallah, gini manjanya cowok yaa. Diluar sok kerasss, dirumah sebelas dua belas sama ichii' batin Balqis.


"Abanggg"


"Hmmm"


"Mandiii, sekarang!"


"Morning kiss"


Cup..


"Hiiiiii dasar tukang nyosorr" ledek Abid.


"Loh lohh?!!"


Abid tertawa pelan lalu membalas kecupan Balqis di keningnya.


"Gak ada niatan mau mandi bareng?"


"Hiiiihhh, mau Balqis getokk kepalanyaaa?!" Abid menggeleng sambil cengengesan. Ia langsung pergi ke kamar.


Balqis melanjutkan masakannya, ia membuat nasi goreng pagi ini.


Sembilan menit kemudian, Abid keluar dari kamarnya. "Mandi sanaa, buruan"


"Iyaa iyaa, kalau telat salah abang yaa. Disuruh mandi tadi gak mau!"


"Gak akan telat, udah sana buruan" Balqis masuk ke kamar untuk mandi.


Abid menunggunya di depan televisi. Merasa ada yang kurang, Abid masuk ke kamar. Ia mulai mencari-cari letak kunci mobil.


Balqis yang baru keluar kamar mandi dan memakai bathrobe tidak melihat Abid yang sedang berjongkok mencari kunci.


Karna tidak melihat Abid, Balqis tersandung tubuh Abid. Abid langsung bangkit lalu menahan tubuh Balqis.


Abid menarik tubuh Balqis ke atas kasur. Mereka berdua terjatuh diatas kasur dengan posisi Abid menindih Balqis.


"Duh, istriku cakep bangett. Mau di unboxing sekarang gak, hmm??"


"A-apaan sih abang, awasss ih. Balqis belom pake bajuuu. Ntar telat gimanaaa?!"


Abid menoleh sekilas ke arah jam, "seronde cukup lah" ujarnya.


"Abang!! Geserr Balqis belom pake bajuuu"


"Mau main tapii, kan gak pake bajuu"


"Ab--" Ucapan Balqis terhenti ketika Abid mencium bibirnya.


Dua menit kemudian, Abid melepasnya. Ia menatap lekat Balqis.


"Aku gak kuatt" ujar Abid dengan suara beratnya.


"Macem-macem Balqis getok yaa!!"


"Berani??"


"B-beranii" Abid tersenyum smirk. Mukanya ia dekatkan ke muka Balqis. Reflek, Balqis menutup matanya.


Drrtttt... Drtttt...


Abid langsung menjatuhkan tubuhnya kesamping. "Hape pengganggu, selalu mengganggu" Gumam Abid kesal.


Ia langsung bangun, "aku tunggu di luar. Lima menit, jangan sampe telat." Abid keluar kamar.


Balqis menatapnya kesal, "dikira bisa secepat itu?!! Sendirinya yang buat telatt!!"


▪▪▪


"Enak yaa, ga backstreet backstreet lagiii" bisik Abid sambil menggandeng tangan Balqis, mereka berjalan menuju kelas Balqis.


"Ya enakk sii, tapi gak usah pegangan muluuu. Kagak mau nyebrang iniii"


"Bodo amatt, sayangg" Abid cengengesan melihat muka kesal Balqis.


"Yohooo! Awali pagi dengan bucin. Gak lu nggak Rangga nggak Heon, sama ajaa!" Abid tertawa.


"Lu belom ngerasain sihh"


"Ntarrr tunggu sukses kea lu dulu" jawab Jefri.


"Kira-kira siapa ya, yang beruntung dapetin cowok secakep gua?" tanya Tio sambil pura-pura mikir.


"Kuntilanak noh!!!" Sisi datang menyahut dari belakang.


"Woppp, mantappp sekalii teman-temann. Ada yang udah ehem nih" ledek Rangga.


"Ehem ehem matamuu!!! Yakali gue demen sama mak lampir. Mana rata bangett lagi" jawab Tio ngegas.


"Dasarrr jodoh kuntilanak!! Macam bohay aja lu!"


"Bohay gua mah, bohay banget. Mo liat??"


"Najisss anjingg" Abid dan yang lain terkekeh melihat keduanya.


"Kalian ditakdirkan berjodoh" ujar Eldi.


"Diam jomblo!!" sentak mereka berdua.


"Anj-- astaghfirullah... sabar El sabarr"


Mereka terkekeh lagi, "gak usah gelut masih pagii" lerai Abid.


"Biasanya juga lu gituuu"


"Mood gue bagus pagi ini, jadi jangan rusak"


"Uuu, ada apanii? Abis dapat jatah?" tanya Jefri menggoda.


"A-apaan sih kak Jefri?! Mana adaa!!"


"Hahaha"


"Jatah apa maksudnyaa?" tanya Sesill dan Sisi bersamaan.


"Jaaaatah makannn"


▫▫▫


"Mie teros yang dimakan, dikira bagus apaa?!!" tanya Abid sinis, ia dan squadnya baru tiba di kantin.


Balqis yang baru ingin memasukkan mie ke mulutnya terhenti ketika melihat Abid.


"Abang gak mau mii??"


"Gakk"


"Yaudah jangan marahhh" jawab Balqis sambil kembali memakan mienya.


"Biddd bid, lu tiap hari juga makan mie" sahut Fany. Fany, Sesill dan Balqis makan bersama di kantin. Entah sejak kapan mereka akrab.


"Kapan gue makan mii?"


"Bacootttt dihhh, mau aku sebutin kapan??"


"Masa lalu, fan. Oke skip ya"


"Hiiiss dasarrr" cibir Balqis kesal. Abid diam, ia memandangi Balqis makan.


"Bid, kagak bakal kemana mana kok" ujar Jefri yang iri.


"Emang gak kemana-mana, doi gabisa jauh dari gue"


Balqis tersedak, Abid langsung menyodorkan minumannya.


"Pedean banget abaaaang" Abid tidak merespon Balqis. Dia terus menatap Balqis sampai Balqis salah tingkah.


"Bang.. Kenapa natap muluuu?!"


"Pengen aja, gak boleh?? Aku harus tatap yang lain gituu??"


"Yaa nggakkk!!" Abid tersenyum menggoda.


"Abid tu ya bener-bener, sopankah begitu di depan jombloo?!" tanya Eldi ngegas.


"Sopaan"


"Behhh, geplak mati lu"


"Gue geplak duluan, lu yang mati"


"Gue tembak lu mati"


"Maaff el. Kamu terlalu baik buat aku"


"Aaaaanjingg ngapa beginiii?!" tanya Eldi kesal.


"Ashuuu, sudahlah saya menyerah" Mereka terkekeh.


Ting ting...


Abid meraih ponselnya.


"Siapa??" tanya Abid.


"Fans" jawab Abid santai kemudian meletakkan kembali ponselnya.


Balqis menatap Abid, meminta izin dengan kontak mata. Abid tersenyum sebagai jawaban.


Balqis mengambil ponsel Abid kemudian mencek WhatsApp nya.


"Siapa?"


"Nggak tau kak, tertulis disini... Hai Abid, Abid ganteng tolong temui aku di gudang."


"Busetttt dahh, mo ngapain anjritt?!?" tanya Rangga.


"Ngajakin buat keturunan pasti" sahut Tio.


"Pantes la jomblo, otaknya ilang pula" cibir Eldi.


"Bajingann" Eldi cengengesan.


"Gak mau disamperin?" tanya Balqis.


"Aku punya kamu, ngapain samperin orang yang gak aku kenal?"


"Ya kali ajaa kann, pengen liatt gituu"


"Liat kamu lebih enakk"


"Ya Allah, kenapaaa gue yang baperrr?!"


"Sesuai ekspetasi guaaa"


"Enaknya jadi Balqis, punya pacar seromantis kak Abid"


"Ahhh sayangg bangett, kak Abid udah sold out"


"Kak Rangga juga tuhh"


"Kak Heon malahh tiba-tiba udah punya gandengan, bikin sakit haatii"


"Okeee, bismillah kak Jefri"


Mereka yang mendengar itu langsung menoleh kearah Jefri yang tersedak minumannya.


"Kaget guee, berasa mau di santett"


"Anjirrr, nama lu itutu mau masuk ke sepertiga malam kenapa jadi santet tololll?!" tanya Rangga kesal.


Jefri menggeleng sambil cengengesan, "gatau kenapaa. Gue maunya nunggu Devi" Spontan Abid menoleh ke arah Jefri.


"Macem-macem lu yaa!!"


"Serius gue, bid"


"Devi masi bocil anjirrr, dia gede lu udah tua" protes Abid.


"It's okay, gue jadi sugar daddy beduit"


"Ntah iyaaa" ledek Heon.


"Dukung harusnyaaa"


"Ye gila aje lu maunya sama adek Abid" sahut Rangga.


"Kan dah gue bilang, gue mau jadi sugar daddy nya Devi"


"Gue mau cari tempat ruqyah lah. Biar bisa ruqyah si Jefri" ujar Tio sambil membuka ponselnya.


"Jep, lu mau sama Devi?" Jefri menganggukkan kepala sambil menatap Eldi.


"Kenapa??"


"Gue sama Avi"


Uhuk uhukk..


"Gila lu beduaaa!!" Mereka cengingiran.


"Sayang, pinjem hape kamu. Stress aku dengerin mereka berdua" Tanpa sepatah kata, Balqis mengeluarkan ponselnya.


"Kode?"


"Sepuluh kosong enam" Abid menoleh melihat Balqis yang minum. Abid speechless, itu tanggal dan bulan pernikahan mereka.


Agar tak mengundang rasa curiga, Abid langsung membukanya. Galeri yang terutama Abid buka.


"Isinya Jongin semuaaa, herann liatnya"


"Cie cemburuu" ledek Fany.


"Cieee" sahut Rangga dan yang lain.


"Rang, cek hapenya Fany. Cowok Thailand, Jepang, Korea, Belanda pun ada disitu" Rangga menatap Fany meminta ponsel. Fany cengengesan sebagai jawaban.


Abid menggelengkan kepalanya kemudian kembali ke ponsel, ia menjelajahi semuanya.


Sampai akhirnya, tiba di dunia orenn. Abid menemukan itu, meskipun tersimpan dan sangat rahasia.


Abid membukanya, seketika Abid terkejut. Ia menatap Balqis nakal.


"Isi dunia oren mu kenapa gini semua, hm??" tanya Abid berbisik sambil menunjukkan isinya.


Balqis terkejut langsung menarik ponselnya. "Nggak semua abang, cuma itu, cuma tigaaa"


"Lebih dari satu itu banyak."


"Jadi... kapan mau di unboxing??"


✾✾


19.35


"Capek abis latiann?" tanya Abid pada Balqis yang tepar di kamar.


"Capekk bangett, abang kenapa bisa awet banget kalau betengkar sama orangg?!?"


"Karena sering latian dulu" jawab Abid.


"Suami mu ini kan punya bisep, punya roti sobek juga. Jadinya lucu lah kalau gak bisa berantem"


"Bisep apaan, gedean bisepnya Jongin" Abid yang tadi nya duduk sambil bermain ponsel langsung menatap Balqis sinis.


"Kamu tidur gak sama Jongin!"


"Rencana, Balqis mau tidur sama Lee Soo-man"


"Betingkahhh pula manusia satu ini, minta di unboxing" Balqis langsung terkurung di antara kasur dan tubuh Abid.


"Mau lanjut tadi pagi?"


"Abang tu hari ini kenapa sii?? Kotor mulu pikirannyaa"


"Nggak kenapa-kenapa sih sebenernya, cuma kan sayang gituu punya bini cakepp seksii dianggurin"


Balqis mendorong pelan muka Abid ketika Abid ingin menciumnya. Abid bertanya-tanya sambil melihat wajah Balqis.


"Makan samyang aja yukkk"


"Nggakk mauu"


Cup~


Balqis mengecup bibir Abid sekilas.


"Ayo makan samyang"


"Gak suka pedes akuu" jawab Abid sembari merebahkan tubuhnya kesamping.


"Hmm? Gak suka pedes? Seeeejak kapan??"


"Dari kecil"


"Astaghfirullah.. istri macam apa kamu ini Balqis. Kenapa gak tau apa-apaaa?!" tanya Balqis pada dirinya.


"Abang kenapa gak bilang?"


"Kamu gak nanyaa"


"T-tapi selama ini kan Balqis masak makanan selalu pedes, abang selalu paksainn?!"


"Bukan dipaksain tapi cenderung di biasain, kan kamu sukanya pedes jadi aku harus bisa makan pedes juga dong"


"Aku menghargai sepenuh hati apa yang kamu buat, aku tau masak itu gak semudah kelihatannya. Kamu pasti susah payah dulu, kursus sama mama. Dan aku yakin itu bukan satu hari langsung pro langsung bisa langsung paham langsung ngerti, pasti nggak."


"Ya walaupun masakan kamu gak se-wow chef Renatta, tapi aku yakin kamu berusaha buat makanan sebaik mungkin untuk aku. Yakali gara gara aku gak suka pedes langsung nolak mentah-mentah usaha kamu. Aku nggak sejahat itu sayang."


Balqis memeluk Abid, "aku beruntung punya suami kayak kamu."