
Balqis POV
Sekarang jam setengah sembilan pagi dan gue baru bangun. Untung aja nggak ada kelas hari ini.
Gue capek banget karena ulah manusia yang ada di depan mata gue. Sekarang gue seutuhnya punya dia karena kejadian tadi malem.
Melepas rindu versi kami luar biasa kan? Hehe.
Sampe detik ini gue masih gak percaya kalau orang yang ada di depan gue itu bang Abid. Sumpah, gue rindu banget sama diaaaaa!
Kalau ini mimpiii gue gak mau bangun lagi. Tapi kayaknya ini mimpi, bukan kenyataan. Eh tebalik, ini kayaknya kenyataan bukan mimpi belaka.
Gue bingung, sebenarnya apa yang terjadi sama bang Abid? Satu tahun lebih dia hilang dan kenapa baru muncul sekarang??
Beribu tanda tanya muncul di otak gue.
Oh iyaa, btw, bang Abid sedikit berubah tauu. Pipinya sedikit chubby tapi makin ganteenggg! Roti sobek nya.. gue liat sendiri tadi malem.
Aaahhh! Jangan bahas tadi malem, gue malu!
Di detik ini gue masih mandangin bang Abid. Mas masyaallah, mas imamm dan calon ayahnya anak-anak gue. Aihh jauhnyaaa pemikiran mu Balqiss!
"Sampe kapan mandangin nya, hm?"
"E-eh.. abang udah bangun???"
"Sebelum kamu natap aku juga aku udah bangunn natap kamu duluan" Gue nutup muka karena malu.
"Berubahh banget ya sekarang? Bahasa nya lo gue, terus suka mabok-mabokann"
Bahasa dan sikap gue emang berubah, bang Abid sendiri pernah bilang dulu, “jangan jadi lemah kalau aku gak ada nanti.”
Dan gue berubah karena gak mau di anggap lemah.
"Ihh nggak suka mabok-mabokann, cuma nyoba doang semalemmm."
"Abistu besoknya nyoba lagi"
"Nggakk" Gue cengengesan. Bang Abid natap teruss, demi apa gue gugup!
"Abang.. kemana aja selama inii?"
Bang Abid ngelus rambut gue sambil tersenyum, ia mendekat terus ngecup kening gue.
"Nanti aku cerita ya, sekalian pas ketemu ayah sama bunda" Gue ngangguk sambil senyum.
"Kenapa senyum-senyum teruss dari tadi? Mau lagii?"
"Apaan sih!!" Dia ketawa.
Tok tok..
"Nona mudaa, di tunggu pak Rangga" Itu bodyguard.
"Iya.. nanti saya turun"
"Kenapa kak Rangga kesini??"
"Aku yang manggil, pake nomor fake. Mandi sanaa pake baju tertutup yaa, jangan liatin bagian leher." Gue tarik selimut buat nutupin tubuh terus ke kaca besar.
Bener-bener ya bang Abid! Banyak bangett tandanyaaaa.
Gue natap sinis dia, dia malah ketawa. Dia udah pake celana pendek makanya biasa aja pas gue narik selimut.
"Cantik bangett karya nya Abid"
"Cantik dari manaaa, ini Balqis pake baju apa jadinyaa?"
"Ya mana aku tauu.. pake baju turtleneck atau sejenisnya gituu"
Gue tatap kesel dia abistu masuk ke kamar mandi. Mungkin nanti gue pake baju yang super duper tertutup.
❃❃
Author POV
Balqis keluar dari kamar mandi, "gak mandi abang??"
"Aku bangun satu jam sebelum kamu bangun, aku mandi terus tidur lagi" jawab Abid santai. Ia sedang mengancingkan baju kemejanya.
Balqis tersenyum, ia mendekat ke Abid membantunya mengancingkan baju.
Abid menatap nya sambil tersenyum, ia mengecup kening Balqis setelah Balqis selesai mengancingkan baju nya.
"Kamu gak kuliah?" Balqis menggeleng.
"Ada yang gangguin?" Balqis diam tidak menjawab.
"Jawab ajaa, gak usah ragu-ragu. Atau kamu udah dapet cowok baru?"
"Ih apaan ngaco!!"
"Kalau emang gak ada cium akuu!" Balqis jinjit, ia mengecup bibir Balqis.
"Cium bukan kecup"
"Jangan cari kesempatan dalam kesempitan ya kamu! Kita udah di tungguin" Abid cengengesan, ia membalas kecupan Balqis lalu mengajak nya keluar kamar.
"HELLOO BRADERR, APA KABAR??"
"Ha? Apa ini??" tanya Tio heran.
"Itu Abid??" tanya Heon gantian.
"Mata guee subhanallah sekalii," ujar Jefri.
"Mata gua ngelag ni anjjj," keluh Rangga.
"Pulang yok, rumahnya udah seremm" ajak Eldi. Abid tertawa mendengar celotehan mereka.
"Balqis.."
"Ini bang Abidd, kakk" jawab Balqis sambil senyum.
"Seriuss??"
"Jadii, yang nelpon gue tadi beneran? Beneran Abidd??" Abid menganggukkan kepalanya.
"Aaaaaaaaaaaaaa Abidd!!" Mereka semua memeluk Abid.
"Eanjjj, lu pada.. ii geli anying. Lepasssss" berontak Abid.
Balqis menjauh, ia tertawa ngakak melihat ekspresi Abid.
"Bid, ini serius Abid??"
"Black blood passwordnya??"
"Cowok cakep semakin di depan" jawab Abid asal. Mereka malah tertawa.
"Lu apa kabarrr?!"
"Alhamdulillah, baik"
"Chubby banget ni anakk"
"Lu kapan kesini? Gue semalem sore kesini lu kagak ada anying" protes Rangga.
"Lu ngapain kesini??" tanya Abid heran.
"Nyari Balqis lahhh, taunya dia di supermarket" Balqis cengengesan.
"Apa yang terjadi sama lu bid?" tanya Jefri.
"Ke rumah bokap yok, sekalian sarapan" ajak Abid.
"Gue ada jam kuliah anjirr" keluh Heon.
"Bolosss ajasii kok susahh"
"Liatla, penghasut betul" cibir Balqis. Abid terkekeh.
"Balqis tumben pake baju kek gitu?" Eldi keheranan.
"Sok gak paham si Eldi"
"Sok polosss"
"Hahahahaa!"
❃❃
Mereka tiba di rumah ayah Abid. Abid sudah meminta Abiyyu untuk menyuruh asisten rumah tangga bundanya masak makanan banyak.
"ASSALAMU'ALAIKUM!!" teriak Abid kencang.
"Wa'alaikumsalam.. Ab-- Abiddd?"
"Ayahh" Abid memeluk ayahnya.
"Abidd" Bunda Abid datang. Abid melepas pelukan lalu memeluk bundanya.
"Kembar mana bun?"
"Merasa terpang-- HAHH? BANG ABIDD?!" Mereka berdua pun memeluk Abid sampai Abid hampir terjatuh.
Abid tertawa melihat keduanya, "wah.. adek abang udah gedeee"
"Iya, bid. Kamu kemana ajaa?" tanya bundanya terharu.
"Ceritanya panjang bunda. Abid baru sampe ni, belum makan dari semalem, gak ada niatan ngajak Abid makan?" tanya Abid cengengesan.
Mereka terkekeh melihat ekspresi Abid, "ayo kita makan dulu. Anak-anak juga ikut yaa"
"Hehe iyaa om," mereka pun menuju dapur. Makan sambil lesehan, rasanya mantapp.
"Fany mana?? Mas Abiyyu?" tanya Abid selesai makan.
"Fany kuliah, Abiyyu di kantor" jawab Ayahnya.
"Bid, lu.. lu tau Abiyyu balik?"
"Dia malah yang nolongin guee keluar dari tempat laknat ituu"
"Tempat laknat maksud nya gimana?" tanya Davina. Abid beranjak, mereka pindah ke ruang keluarga.
"Sebelum nya Abid minta maaf sebesar-besarnya karenaa terlalu lama buat kalian nungguu"
"Jelas dimaafin" Abiyuu masuk.
"Abiiiiiiiddd" Fany ikutan masuk.
"Apa kabar??"
"Ntaran aja bid, ayah udah penasaran" Abid cengengesan.
"Jadi setelah di tembak waktu itu, Abid di bawa orang gak di kenal. Waktu di bawaa hp Abid kan di tangan, Abid genggam erat-erat tu hp. Abid idupin perekam suara dan pura-pura pingsan. Sampe di suatu tempat, Abid mulai ulang perekam suaranya. Abid merem melek nahan sakittt nya"
"Sampee di tempat ituu, Abid langsung umpetin hp di bawah kursi ruang tunggu. Ntah bodoh atau tololll gak ada satupun orang yang ngeh kalau disitu ada hp."
"Abid di operasi. Gak tau gimana pas operasi karena Abid udah gak sadarkan diri. Lima jam setelah itu Abid sadar, dokter kaget dongg karena dia ngira Abid koma. Dia bilang hidupnya Abid mukjizat."
"Lu kok tau lima jam??"
"Gue nanya sama dokternya."
"Terusss?" tanya Rangga.
"Gue ancem dokternya buat diem ajaa, gue ancem penjaga CCTV juga buat diem aja. Sebenarnya bukan ngancem tapi lebih ke nyogok mereka."
"Uang darimanaa?" tanya Bunda Abid.
"Abid pake tabungan sendiri, Abid sogok mereka lewat m-banking."
"Terus kenapaaa lu diem disitu selama ituuu anjjj?!" tanya Eldi kesal.
"Pemulihan pinterr! Lu kira enak kena tembak?"
"Gak tau gue belum nyoba" jawab Eldi santai.
"Abid sabarrr" Ia mengambil buah yang di meja lalu memakannya.
"Lu dikasih makan gakk?" tanya Rangga.
"Kalau nggak gue matii, pinterrr"
"Iyasi"
"Lu pada kenapa makin gesreeekk?!" tanya Abid kesal.
"Nggak tau" Abid mengelus dadanya.
"Gimana caranya abang bisa makan?"
"Pake tangan, Avi sayangg"
"Lu gantian pengen gue tabok?" Abid nyengir.
"Dokter nya tu jaga-jaga terus di ruangan gue, jadi dia yang beliin dan bawain makanan. Tau gak kerjaan gue makan tidur makan tidur terusss. Liat laaa, roti sobek gue ilang karena gak pernah ngegym" Keluh Abid.
Mereka terkekeh, "buat lagi kok susah. Lagian ada ataupun nggaknya roti sobek Balqis tetep demen ame lu!" ledek Abiyyu mengulang perkataannya.
"Ohyaajelass." Abid menoleh ke arah Balqis, dia tersipu malu.
"Lanjut cerita" suruh bundanya.
"Sampe mana tadi?"
"Pemulihan" jawab Heon.
"Nahh Abid pemulihan tuh di situu. Beberapa orang yang nyiduk Abid, Abid sogok. Itu mengakibatkan habisnya tabungan Abid. Ah anjirr, padahal itu buat ke London kemaren." Keluh Abid.
"Ntar ayah transfer!" Abid sumringah, "lop sekebon buat ayah" Abay geleng-geleng kepala melihat Abid.
"Teruss gimana? Pelakunya siapaaa?" tanya Jefri.
"Shelia" sahut Abiyyu.
"Shelia?? Mantan kamu?" Abid mengangguk.
"Satu setengah tahun kita nyari kenapa gak kepikiran ke Sheliaa?" tanya Eldi.
"Khilaf" sahut Davina.
Abid tertawa, "dia juga dalang dari meninggalnya mertua gue. Emang biadap manusia satu itu, bukan manusia lagi pun. Ah ntahlah, gak bisa di definisi kan. Rendah lagi dari sampah" umpat Abid kesal.
"Ngumpat terusss, bid. Bunda cabein mulut kamu" Abid langsung tutup mulut.
"Lu punya bukti kan?" tanya Tio.
Abid mengeluarkan ponselnya, "disini. Tapi sayangnya dia nyemplung ke air"
"Goblokk sekali" Abid cengengesan.
"Nanti kita betulin"
"Tapii bid, gue udah coba berkali-kali hp lu gak bisa di lacakk!" keluh Rangga
"Gue matiin gps dan sejenisnya. Gue kira kan beneran mau ke London ya, gue gak mauuu digangguuu"
"Ooo.. Terus waktu lu bangun gimanaa?" tanya Abiyyu.
"Malemnya gue bilang sama tu dokter, ”besokk pagi bilang majikan lu kalau gue sadar. Besok terakhir gue disini, sogokkan lu gue kirim malam ini.” Gue bilang gitu, dia cuma ngangguk-ngangguk setuju. Siapa si yang gak mau duit, apalagi gue ngasih nya banyakk"
"Abisss ituuuu, gue tidur dia pun tidur. Besoknyaaa, gue minta buat bilang gue sadar siang. Dan yaaa dia nuruttti permintaan gue."
"Gue bangunn, pura-pura amnesia. Dan lu pada tau apa yang buat gue naik darah?"
"Apa?" tanya Eldi.
"Shelia malah nuduh Balqis yang nembak!"
"Seriusss?!" Abid mengangguk.
"Aslii, disitu darah gue mendidih. Pengen ngamuk tapi ntar usaha gue sia-sia. Jadi gue diem ajaaa pura-pura percaya. Dia bilang itu di halaman depan markas karena gue mau udara segar."
"Teruss ituu, sebelum nya gue nyuruh si penjaga cctv cari tukang makanan dan suruh jualan depan markas. Itu gue bayarin dokter sama penjaga juga buat makan, eceknya mereka yang manggil. Ehh taunya yang di jual satee kambing"
"Kamu kan gak suka kambing" ujar Abay.
"Emang iyaa yah, bersyukurnya yang gak Abid suka. Kalau yang Abid suka auto gak bisa kaburr" Mereka tertawa kecil.
"Terusss gimanaa? Kok bisa keluar?" tanya Fany.
"Pas ngeliat tukang satee, gue pandangin terus tu tukang sate, alhamdulillah nya Shelia peka. Dia nanya gue mau apa nggak ya gue ngangguk lah, pura-pura mau. Dia suruh gue diem di tempat, tapi gue gak diem. Gue kaburr!!"
"Waktu gue kaburr, gak sengaja di tabrak Abiyyu. Di bawa Abiyyu pergi lah dari situ, and finally anak ganteng disini."
"Endingnya dia narsisss" Abid cengengesan.
"Gilasi lu, setaun lebih lo ngilang woii!" Ujar Jefri kesal.
"Iya bid, kita disini hampir stresss cariin kamu!" protes ayahnya.
"Hehe maaf bangettt untuk ituu. Tujuan Abid sebenernya buat ngungkap pelakunya. Penembak awal itu mau nembak Balqis, Abid yang ngeliat langsung muter posisi jadinya Abid yang kenaa"
"Nahh pas Abid ketembak Abid mikir. Bokap nyokap Balqis kecelakaan pesawat pasti juga ada hubungannya sama penembakan ini. Makanya Abid cari tauu"
"Tapi Abid gak nyangka sih, kalau ternyataa mertua Abid meninggal. Dan jujurrr sekarang, Abid merasa bersalah banget karena ninggalin Balqis waktu dia terpuruk" Abid menatap Balqis sendu.
Balqis tersenyum, "abang muncul lagi aja udah cukup bagi Balqis untuk bangkit dari keterpurukan. Jadi, jangan merasa bersalah yaa" Abid mengelus tangan Balqis kemudian mengecupnya.
"Makasih sayang"
"Gue mau cabut dehh, dia meresahkan. Gak tau tempattt" keluh Eldi.
"Kelamaan jones siih bang Eldii," ledek Davina. Mereka terkekeh bersamaan.
"Shelia nya sekarang gimana?"
"Gue yakin dia masih cariin lu."
♛┈⛧┈┈•༶❃༶•┈┈⛧┈♛
"Nona, kami sudah cari di hutan tapi Abid tetap belum di temukannn" ujar ketua tim, salah satu anggota yang di sogok Abid.
"CARIIIII LAGII!! CARII DI TEMPAT LAINN!! Ini tempat terpencil, jauh dari pemukiman penduduk!! Abid pasti masih di sekitar sini. CARIII BURUAN CARI!!" bentak Shelia.
"Siap bos!" Mereka pergi lagi.
"Budeg telinga gua denger lu teriak asuuu! Hadeh sabar-sabarrr. Akan tiba waktunya ngambil keperawanan diaa."
"Ehh, emang masih perawan? Gue rasa kagak."