
14:57
Ting tong...
"Bid buka" suruh Heon.
"Kok gue?!" tanya Abid sinis. Dia sedang berada di posisi nya yang enak dan sangat tidak ingin diganggu.
"Dah pw gue, jangan gue la ah" pinta Abid.
"Come on bid! Kamu paling deket" pinta Fany. Semua menatap ke Abid.
"Tandai satu satu kalian" Abid bergerak. Mereka tertawa melihat Abid yang merajuk.
Ting tong..
"Iyaaaa bentarr" teriak Abid.
Ceklek
Abid belum menatap tamu nya, dia malah sibuk membersihkan bajunya yang terkena remahan roti.
"Iya ada ap-- Shelia?"
Gadis itu tersenyum.
"Tau villa ini darimana?" tanya Abid.
"Hehe, maaf. Kemarin aku ikutin kamu sama yang lain balik ke villa ini" jawab Shelia.
"Woi, siapa sih?! Lama bangett" teriak Rangga menggelegar.
"KEPO BACOT!" balas Abid tak kalah menggelegar.
"Mau masuk?" tanya Abid.
"Aku takut" Shelia menunduk.
"Mereka pasti bisa ngertiin kamu kok," Abid mengajak Shelia.
"Shelia?" tanya Jefri.
"Tau dari mana villa nya? Lu kasih tau bid?!" tanya Tio sinis.
"Kagak, dia dikasih tau temen katanya" jawab Abid bohong lalu kembali ke posisinya.
"Mau apa?!" tanya Eldi ketus.
"Gak usah gitu gitu amat kali ah" protes Abid.
"Bid, come on!!" Abid hanya mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Peace, damai damai" kata Abid.
"Ma- maaf mengganggu kalian. Aku cuma mau kasih ini" Shelia meletakkan dua plastik besar yang ada di tangannya ke atas meja.
"Sogokan?" tanya Jefri datar.
"Ng- nggak kok. Ya- yaudah, a- aku pergi du- dulu. Assalamualaikum" Shelia menunduk lalu pergi.
Abid bergerak cepat menarik tangan Shelia.
"Mau gue anterin?" Shelia tersenyum lalu menggeleng.
"Nggak perlu"
"Maafin sikap mereka" Shelia tersenyum lagi.
"Aku ngerti kok, yaudah aku pergi ya. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Abid menatap perginya Shelia.
"Lu masih suka ya?!" tanya Rangga sinis ke Abid.
"Ntah" Abid menghampiri plastik yang dibawa Shelia dan membuka isi plastik itu.
"Pizza" kata Abid.
"Gak usah dimakan lah!" suruh Eldi.
"Mubazir ikan lele" jawab Abid.
"Bid, ada Balqis lho. TEGA banget lu tuh" kata Tio.
"Dih dih ngaco, emang gue ngapain? Ini namanya menghargai jerih payah orang. Lo bayangin kalau ini lo yang bawa, tapi malah gak ada yang makan. Sakit hati kan?" tanya Abid.
"Iyaa, kak Abid bener. Balqis emang gak tau masalahnya apa, dan kenapa pada nolak. Tapi kakak-kakak gak boleh kayak gini, ini namanya gak menghargai susahnya orang. Mubazir tau kak" sahut Balqis.
"Noh pinterrrr" puji Abid.
"Ck, bodo lah. Gak mau makan gue" jawab Eldi.
"Gue juga" sahut Tio.
"Gue nggak minat" Rangga, Jefri, Heon kompak.
"Parah sih lu pada. Ya kali ini dibuang" cela Abid.
"Ya bodo amatt" mereka kompak.
"Ck. Luknut"
--~--
"Sebenarnya hubungan kak Abid sama kakak yang tadi datang apa si? Kenapa temen temen kak Abid malah benci gitu?" gumam Balqis, dia sedang berada di dapur mengaduk teh susu yang dibuatnya.
"Itu Shelia" jawab seseorang.
"Eh kak Fany denger Balqis ngomong apa?" Fany mengangguk.
"Hehe"
"Shelia itu dibenci karena pernah celakain Abid dengan sengaja. Shelia itu pacar temennya Abid. Tapi temennya itu jadi musuh sekarang" jawab Fany.
"Yang serang villa kemarin itu kak musuhnya?" tanya Balqis. Fany menggeleng.
"Musuh Abid itu nggak satu, nggak itu itu aja. Hidupnya juga gak jauh jauh dari kata berantem. Sebenarnya dia gak mau deket sama siapapun kecuali beberapa temannya karena itu tadi, dia banyak musuh"
"Musuh musuh Abid buat pancingan itu pake orang terdekatnya Abid. Jadi, kalau misalnya ada yang cedera atau sejenisnya. Bisa dipastikan Abid yang paling merasa bersalah"
"Ya gitulah Abid," jelas Fany.
"Kak Abid kok punya musuh?" tanya Balqis lagi.
"Karena iri" sahut satu manusia lagi.
"Eh kak Rangga"
"Dari awal" jawab Rangga. Rangga duduk di sebelah Fany.
"Kenapa disini? Kan pada Mabar disana" kata Fany.
"Haus tadi, gak sengaja denger kalian berdua gibahin Abid" jawab Rangga.
"Mau minum apa? Balqis bikinin" tawar Balqis.
"Nggak usah, ntar gue ambil minuman kaleng aja di kulkas" jawab Rangga.
"Tadi kamu bilang karena iri. Iri kenapa?" tanya Fany.
"Lo nggak tau?" Fany menggeleng.
"Kamu tau?"
"Yaa lo tau sendiri gue Abid sama yang lain udah temenan dari masih boncel sampe sekarang, ya jelas gue sama yang lain tau semua masalah Abid. Gak semua sih, ya pokoknya ngerti tentang gimana Abid"
"Mereka itu iri karena beberapa kali dalam kegiatan apapun tim gue sama Abid selalu menang. Ya gara gara hal hal sepele gitu doang musuhnya Abid banyak. Dan musuh musuh Abid itu adalah mantan temannya sendiri"
"Eh ralat, bukan musuhnya Abid. Tapi musuhnya black blood. Karena musuh Abid juga musuh gue, Heon, Jefri, Tio, juga Eldi." kata Rangga.
"Jadi musuh nya itu banyak cuma karena iri hal hal sepele?" tanya Fany.
"Betul" jawab Rangga sambil mengacak rambut Fany.
"Ranggaaa" panggil Fany kesal. Rangga tertawa.
"Udahkan? Gue kedepan dulu"
"Eh ikutt" pinta Fany.
"Kuy" ajak Rangga.
"Aku duluan ya Balqis" Balqis tersenyum. Mereka berdua pun pergi.
Drtttt...
Suara ponsel Balqis mengagetkan lamunannya.
π "Aihh, sombongnyaaa sementang sama orang cakepp" suara Vane.
"Apaan sih ngaco" Vane tertawa.
π "Lagi dimana?"
"Villa nya Bu Jihan"
π "Ah enaknya bisa liburan, apalagi banyak cogannya. Jadi pengen"
"Susulin aku aja sini"
π"Ngaco lu, mana bisa" kali ini Balqis tertawa.
"Apa kabar Vane?"
π "Emm.. baik"
"Jawabnya pake mikir dulu, bener baik kan?"
π "Baik kok"
Bla bla bla..
Mereka terus teleponan sambil bercanda tawa.
Balqis sampai tidak sadar jika adeknya minta dibuatkan telor mata sapi karena lapar.
Karena tak kunjung diladeni, dengan terpaksa Ulfa menemui Abid untuk minta tolong.
"Kak Abid" panggil Ulfa.
"Iya Ulfa, kenapa?" tanya Abid.
"Ulfa lapar, tadi minta bikinin telor sama kak Balqis, tapi kan Balqisnya enak teleponan" curhat Ulfa.
"Devi Avi mana?"
"Masih tidur kak" jawab Ulfa.
"Yaudah yok, kakak masakin" ajak Abid.
"Nyenengin adek ipar ceritanya" cibir Rangga.
Pletak..
Jidat Rangga disentil.
"Sesekali beradab gitu bid" Abid tertawa lalu pergi.
--
Abid melihat Balqis yang sedang tertawa tawa sambil teleponan.
Abid mendekat langsung menarik ponsel Balqis. "Kakk ab--" Balqis menutup mulutnya.
Abid melihat kearah hp Balqis lalu mematikan telepon.
"Kak Abid kok asal tarik aja sih?" tanya Balqis kesal. Abid tidak perduli lalu beralih memakai celemek dan mengambil telor, piring dan kebutuhannya yang lain.
"Kakk" panggil Balqis kesal.
"Adek lu laper pengen telor mata sapi, lo nya asik asikan telepon" jawab Abid cuek.
"Hah?"
"Hah heh hah heh" balqis mencari keberadaan adeknya. Dia menemukan Ulfa yang duduk santai di meja.
"Ya maaf" lirih Balqis. Abid tidak menjawab, Balqis pun menghela nafasnya.
"Kakak masak apa?" Balqis mendekat ke Abid. Abid tetap diam.
"Iya maaf Balqis salahh" rengek Balqis.
"Kaakk" Balqis menarik ujung tali celemek Abid. Abid tidak perduli.
Balqis masih tetap membujuk Abid yang merajuk layaknya suami yang merajuk pada istrinya.
"Kakk abidd yang gan--" mulut Balqis disumpel pisang oleh Abid.
"Ih kwak abwid mwahh" Abid tertawa.
"Jangan diulangi. Liatin Ulfa makan, jangan ditinggal" Abid mengacak rambut Balqis.
Setelahnya dia pergi meletakkan nasi goreng dengan telur mata sapi pada Ulfa lalu kembali ke teman temannya yang lain.