A B I D

A B I D
– Peringatan



"Balqisss??"


"Kenapa?" Tanya Balqis ketus.


"Cowok tadi siapa.. kenapa cincin kalian sama???"


"Gak mungkin lu gak tau, kan, maksudnya apa? So, menjauhlahh!" Balqis pergi meninggalkan Rey dan teman-temannya.


"Kan apa gue bilang, Rey! Balqis tu nggak single!"


"Oh ayolahh, jangan patahkan semangat gue! Bisa aja kan abangnya?!" Tanya Rey kesal.


"Gue tanya sama lu, ada emang abang yang cium kening adeknya? Kalau ada pun pasti gak di depan umum kayak tadii!"


"Kita gak mau lu patah hati, Rey. Inget kata tukang parkir, mundur!" Rey diam.


"Ehhh, itu tadii Abid kan?? Mas Abid? Yang ganteng itu!!"


"Yang katanya ilang kemaren kann?! Dia ngapain?!"


"Iyaaa anjirrr, ah ganteng nyaaaa! Dia nganterin Balqis."


"Balqis jurusan akuntansi itu?? Yang diem, cuek bebek itu?"


"Iya njirrr! Tadi gue liat sendiri lagii si Balqis tu benerin dasinya mas Abid ituuu."


"Wagilassiii!"


Tiga mahasiswi sedang bergosip ria duduk di dekat Rey.


"Permisii!" Mereka bertiga menoleh.


"Kalian bilang tadi siapa??"


"Abid. Kenapa?"


"Terkenal?" tanya temannya Rey.


"Nggak terlalu sih. Dia salah satu pengusaha juga, ngelanjutin perusahaan bokapnya." Rey mengangguk paham.


"Terus siapa nya Balqis??"


"Yaaa gue gak tau, pacarnya mungkin."


"Ohhh, atau mungkin istrinyaa! Setau gue mas Abid itu gak mau pacaran!!"


❃❃


Abid tiba di kantornya. Setelah berdiskusi juga tadi malem dengan sang ayah, Abid memutuskan kembali ke kantor dan mengganti nama perusahaannya menjadi Alfa Group.


Kenapa??


Alasannya karena mimpi Abid waktu itu.


Tiba di kantornya, Abid keluar dengan aesthetic. Sontak semua security terkejut melihat kedatanganya.


"Pak Abid??" Abid membalas dengan senyuman tipis.


"Parkirkan mobil saya, ya pak."


"Siap pak!!" Security itu mengambil kunci mobil Abid lalu memarkirkan nya.


Abid menghela nafas, ia membenahi jas nya kemudian melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam.


"Pak Abid??"


"Serius pak Abid??"


"Pak Abid udah balikkk??"


"Yess, enaknya bisa cuci mata!!"


"Pak Abid masih punya istri woi!"


Abid menggelengkan kepala mendengarnya. Ia berdiri di atas sambil melihat karyawan yang berkumpul di bawah.


"Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat pagi semua!"


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, pagi kembali pak!" Jawab mereka kompak.


Abid tersenyum mendengarnya. Abid berpidato singkat di sana, ia menjelaskan banyak hal yang berkaitan dengan pekerjaan termasuk tentang pergantian nama perusahaan dan sesekali memberikan mereka motivasi.


"Bapak kemana selama ini???" Tanya salah satu karyawati.


Abid diam, apakah ia harus cerita? Sepertinya tidak perlu.


"Em.. selama ini saya terjebak di dalam hati calon istri saya. Dan baru bisa keluar tadi malem." Mereka tertawa mendengarnya.


"Huh.. ya udahh, sampe sini aja basa-basinya. Udah time to kerjaa. Semogaa kalian tetap betah kerja disini. Sekian dari saya, saya akhiri. Kurang dan lebihnya mohon maaf, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Semangat kerja, pak!" Abid membalas dengan senyuman tipis.


Ia pun pergi menuju ruangannya.


"Di ubah sama Abiyyu ni pastii." Gumam Abid melihat sekelilingnya berwarna krim campur putih.


Abid duduk di kursi nya, ia menyandarkan tubuh dan menghela nafas panjang.


Tiba-tiba ia teringat dengan surat wasiat dari mertuanya, Abid membuka dan membaca surat itu.


Tok.. Tok..


Abid menoleh pintu.


"Masuk."


"Assalamu'alaikum, pak Abid yang terhormat."


"Ehh, wa'alaikumsalam pak Abay. Ada perlu apanih?"


"Ini kenape bedua sok sok an formall?!" Tanya Abiyyu sinis, Abid dan Abay tertawa kecil.


"Udah di baca?" Abid mengangguk.


"Jadi, Abid urus dua perusahaan? Satu Alfa group satunya lagi AL Company?" Abay berdehem, ia dan Abiyyu duduk di sofa ruangan Abid. Abid ikut duduk di sofa.


"AL emang di buat Erwin untuk calon mantunya, biar bisa bahagiain Balqis. Kamu sanggup, kan?"


"Eidi yang sekarang jadi Alfa group udah atas nama kamu, males ganti lagi. Jadi, urus dua-duanya."


"Mas Abiyy?"


"Setahun lebih kamu pergi, bid, perusahaan ayah udah bercabang lagii. Abiyyu pegang dua cabang yang ada di luar pulau dan dia juga punya kafe pribadi."


"Uuuuu.. gak mo tau nanti malem gue makan gratiss."


"Bisa diatur." Abid dan Abay tertawa kecil, Abid pun meminta office boy mengantar kopi untuk mereka bertiga.


"Apa rencana balas dendam lu?" Tanya Abiyyu.


Abid berfikir, "masih belum ada rencana. Ada banyak yang gue pikirin sekarang. Alfa, AL, kuliah gue, kecoa yang ganggu Balqis dan kecoa yang betingkah. Gue bingung mulai darimana."


"Kecoa yang ganggu? Siapaa?" Tanya Abay. Abid diam belum menjawab karena ob mengantarkan kopi.


"Ada tuh yah, seangkatannya Balqis. Gak ganteng sih, gantengan Abid." Abid menjawabnya setelah ob pergi.


"Terus? Lu takut kalah saing?" Tanya Abiyyu.


"Nggak jugaaa goblik, em.. gimana yaa? Gue gak mau ajaa bini gue di senggol."


"Ceilahhh"


"Nama nya siapa?"


"Balqis cuma tau Rey."


Abiyyu mencari nya di instagram.


"Inii?" Abiyyu menunjukkan pada Abid, Abid mengangguk.


"Uuuuu, cakep, bid. Mampusss lah kalah saing."


"Abiyyu laknat emang!"


"Hehe.. kalau sama lu Balqis istighfar. Kan kelakuan lu gak kea manusia."


"Istighfar lu! Gue lempar nanti," Abiyyu cengengesan.


"Jadi overthinking saya!"


"Lebayy! Kalau emang niat selingkuh, dari dulu Balqis lakuin."


Abid mengangguk setuju, "iya juga sii."


"Percaya lah, dia setia. Jangan sampe lu sia-siain cewek kek begituu!"


"Bener kata Abiyyu. Kalau sampe kamu sakitin mantu ayah, kamu auto jadi gelandangan." Abid mengangguk lemah.


"Emang bener ternyata mantu selalu jadi prioritas," Gumam Abid.


"Terus lu sendiri? Doi ada, biyy??"


"Gak laku dia mah, hobinya kerja, ngurus kafe sama ngurus geng doang. Nyari jodoh kagak!"


"Opp, jangan salah ayahh. Mas Biyuu banyak gebetannya! Beserakk malahh"


"Matamuiii," Abid cengengesan.


"Cewek aja minder deket sama gue."


"Kenapa?" Tanya Abay.


"Muka dia serem, ayah. Liatlah, galak." Abiyyu menatap nya sinis, Abid hanya cengengesan.


"Jangan tunjuk jidat biar gak keliatan galak, tutup aje jidat lu, apa ga buka setengah."


"Ada hubungannya?"


"Hairstyle itu penting." Abiyyu mengangguk setuju.


"Btw, biyy, ruangan gue lu ganti warna kan?"


"Iye, biar kagak dark-dark amattt."


"Tapi gue lebih suka dark, lebih enak mikir."


"Yah.. anak ayah satu itu benar-benar anehh!!" Abay tertawa.


"Oh iyaaa, si kembar. Mereka berdua tau tentang Ulfa??"


"Tau, dan yaaa sama kayak Balqis. Mereka berdua terpukul bangettt. Ngalihin perhatian mereka susahh, bid!"


Abid tertawa, "Abid tau tuh gimana caranya. Di sogok mainan kann?" Abay mengangguk, Abid dan Abiyyu tertawa.


"Ehh, bid, kok lu gemoy si sekarang?!"


"Gemoy apanyeee asuu?"


"Bidd, omongan mu! Ada presdir ngomong kek gitu??" Abid cengengesan.


"Gemoy darimana??"


"Ngaca coba, pipi lu chubby banget sumpilll."


Abid mengambil ponsel nya, ia berkaca di ponsel. Sesekali tersenyum. "Duh yahh, Abiyyu minta maaf yaa!"


Abid mengalihkan pandangannya, begitupun dengan Abay. Mereka berdua menatap heran Abiyyu, "kenapaa??"


"Abiyyu belok, kayaknya."


"Anjirrr biyuuu goblokkk, gada akhlakk!!!"


❃❃❃


11.23, Alfa Group.


Abid melihat arloji di tangan, waktu nya untuk makan siang. Abid memakai kembali jas nya lalu keluar ruangan.


Abiyyu dan Abay sudah pulang beberapa jam yang lalu.


"Mau kemana, pak??" Tanya sekretaris Abid.


"Mau makan siang di luar, kamu jangan lupa makan juga."


Abid tersenyum tipis kemudian pergi begitu saja. Sedangkan sekretaris nya yang di senyumin jadi tremor:v


Abid tidak tau itu, ia keluar dari Alfa group lalu meminta tolong security mengambil mobilnya. Setelah masuk ke mobil Abid menuju kampus Balqis.


Drrt.. Drtt...


– bojo galakku –


"Assalamu'alaikum, sayang. Kenapa?"


📞 "W-wa'alaikumsalam, abang dimana? Tolongin Balqis.."


"Tolong apaaan?!! Kamu kenapa gugup?!" Abid panik, ia menambah kecepatan mobilnya.


"Balqis, sayang.. kamu kenapaa heyy?! Kamu dimana?? Masih di kampus kan? Aku otw kesana ini, sabar ya!" Balqis diam.


"Balqis? Balqisss, nyaut kek kalau di panggil!"


"Yaudah sabar sebentar ya sayangg, aku di jalan. Tungguuu beberapa menit lagi sampe kampus kamu. Tunggu bentar sabar!!"


📞 "Ab--"


Abid langsung mematikan panggilannya, kata tolong membuatnya super duper panik.


Lima menit kemudian Abid tiba di kampus Balqis. Ia keluar dari mobil, matanya melihat Balqis yang berjalan santai. Ia baru keluar dari kantin.


"What the hell?!"


Abid menelpon Balqis, bukannya menjawab Balqis malah melihat sekelilingnya. Ia menemukan Abid dan langsung berlari ke arahnya.


Abid memeluk Balqis, Balqis yang di pelukan cengengesan.


"Kamu kenapaaa?"


"Gapapa, akting doang. Maen ToD terusss aku milih truth di suruh telpon minta tolong. Gitu doang hehe," Abid langsung menatapnya datar.


"Bini siapa si??" Balqis tertawa.


"Ya jangan marahhh salah siapaaa nyerocosss terusss? Salah siapa nggak ngasih waktu aku ngomong??"


Abid menggaruk rambutnya frustasi, "traumaa sayangg."


Balqis masih tetap cengengesan, ia mendekat ke arah Abid kemudian mengecup pipinya. "Yodaaa maaapp, jangan ngambek lagiii abaangg."


"Woi woi woii, liat tempat lu beduaaa!" Mereka menoleh.


"Loh kak Rangga?"


"Sejak kapan lu kuliah di sini anjjj??"


"Gue, Jefri, Eldi, Tio, sama Heon emang kuliah disiniiii oonnn"


"Wadepak," mereka tertawa.


"Parah lu beduaa, romantisan gak tau tempat. Gak sadar dari tadi diliatin?" Tanya Rangga.


"Ga!"


"Mood nya anjlok ni, lu apain?" Tanya Jefri ke Balqis.


"Kena prank," Balqis cengengesan.


Abid menatap nya, Balqis menatap balik dengan puppy eyes. Abid luluh!!


Ia mendekat ke arah Balqis ingin berbisik, "pilih gak keluar rumah tiga hari tiga malam atau gak bisa jalan tiga jari tiga malam?"


"Astaghfirullahalazim!! Gakk gakkkk" Abid tersenyum smirk lalu menoleh ke teman-temannya.


"Lu bedua mau kemana??"


"Mejengg lah. Emang lu doang yang bisa?"


"Mejeng bedua gitu? Belok beneran bahhh!"


"Si anjj, dahla ayo balik. Stress gue ngomong sama Abid." Mereka berdua langsung pergi, Abid sendiri tertawa melihat keduanya.


"Masih ada jam?" Balqis menggeleng.


Abid mengecup kening dan bibir Balqis sekilas. "Masuk mobil, ayo makan siang."


Balqis langsung menuju ke arah mobil di susul Abid.


"Misii!" Abid menoleh, ia kembali menutup pintu mobil ketika melihat Rey yang mencegahnya.


Ia berbalik, "mau apa?"


"Nggak ada... gue cuma mo nanya, lu siapanya Balqis? Kenapa seenaknya cium cium Balqiss?"


Abid mengangkat tangannya, "cincin ini kurang jelas??" Rey tidak menjawab.


Abid berjalan satu langkah mendekati Rey, "gue denger lu ganggu Balqis. Fyi, dia calon ibu anak-anak gue."


Tatapan Abid benar-benar sinis sekarang!


"Sayanggg! Ngapain??" Tanya Balqis dari dalam mobil, ia sibuk main ponsel dari tadi. Tidak sadar ada Rey yang mengganggu.


"Bentarr!"


"Peringatan doang, hati-hati kedepannya."


Abid mendekat lagi untuk berbisik, "emm lebih baik lu cari aman aja, gue ganas aslinya."