
20.47
"Bund, Abid balik dulu yaa"
"Gak sekalian nginap, bid?" tanya Abay.
"Nggak yah, besok sekolah. Abid pun ada sesuatu yang harus dikerjakan"
"Yaudah, hati-hatii loh. Jagain menantu bunda, awas aja kenapa kenapa!!"
"Iya bunda iya"
"Balqis, kalau Abid nakal atau genit lapor aja ke bunda"
Balqis tersenyum manis, "iya bundaa hehe"
"Lapor bunda! Tadi sore abang genit sama kakaknya bang Jefri di mall"
"Genit gimana?" tanya Abay.
"Liatinnya gak berenti-berentii, ayahhh"
"Abiddd!! Kamu inii"
"A-ampun bundaa, gak sengaja ngeliat"
"Alasann banget kamuuu!!"
"Udah gitu tadi bang Abid jahat terus ke Devi."
"Iya bundaa, tadi mukul Avi"
"Astaghfirullah, kaapaannn?? Mati gue di gebukinnn, Abid baik kok bun sumpah, dah ya assalamu'alaikum" Abid melarikan diri, ia masuk ke mobilnya.
Balqis yang masih di dalam tertawa bersamaan dengan Avi Devi.
"Bener gak itu tadi, nak?" tanya Abay.
"Hah?"
"Jujur aja gak apa-apa"
"Eh, hehe iya ayah. Cuma itu doang kok, selain itu gak pernah. Terus tadi, kalau soal jahat sama mukul kembar gak ada sama sekali"
"Yang ada Avi morotin bang Abid minta beli ps baru, yah"
"Ihhh Devi nihh!!"
Ayah dan bunda mereka menggelengkan kepala, "baik-baik sama Abid ya. Maklum aja Abid tu emang kadang suka kekanak-kanakan gitu."
"Iya bunda, Balqis ngerti kok hehe"
Tin tin!!!
"Dasar gasabarannn" cibir Abay.
"Balqis udah di tungguin kayaknya, Balqis sama bang Abid balik dulu yah, bun" Balqis menyalami tangan ayah dan bunda Abid.
"Hati-hati, bilang sama Abid jangan kebutan" Balqis membalasnya dengan senyuman.
"Avi Devi kakak pulang yaa, nanti kalau mau main sama ichiii ke apartemen abang Abid aja" Avi Devi mengangguk.
"Balqis pergi dulu ayah, bunda assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
Perlahan-lahan Balqis menuju pintu utama.
"Oh iya, Balqis" Balqis berhenti, ia menoleh.
"Jangan lupa buat cucuu" pipi Balqis memerah, lagi lagi ia membalasnya dengan senyuman. Setelah itu pergi menuju mobil.
"Lama amat pamitan nya, buk" sindir Abid yang bersandar di kursinya.
"Bawel amatt, ya gak mungkin dong Balqis langsung pergi kayak abangg"
"Iya deh iyaa, berangkat nih?" Balqis mengangguk, Abid pun mulai mengendarai mobilnya.
"Ichii mana??"
"Belakangg"
"Mabok gak yaaa??"
"Tadi udah aku tanyain, kata dia nggak"
"Abang jangan ngaco dehhh" Abid cengengesan. Balqis mengambil kucing itu lalu memangkunya.
"Bid bid, saingan mu adek sendiri sama kucing" gumam Abid. Balqis tertawa mendengarnya.
"Abangg, ichii gemoy kann??"
"Iyaa gemoyy"
"Imutt bangett aaa" Abid diam tak merespon.
"Oh yaa, abang. Tadi yang datang betamu siapa??"
"Shelia"
"Wahh!! Saingan Balqis lebih berattlahhh, game, motor, alat fitness, kak Shelia lagi."
"Sejak kapan sainganmu sebanyak itu?"
"Sejak barusan"
"Balqis mau tanya.. kalau Balqis hapus game dan jual motor abang, abang gimanaaa?"
"Paling frustasi seminggu abistu beli baru"
"Gampang bangetttt bilangnyaaaa"
"Balqis atau game?!"
"Ya kamu lahh"
"Game atau motor?!"
"Motor"
"Sini hapenya, Balqis hapus game"
"Ambil sendiri, di saku celana"
"Abangg ishh" Dengan raut wajah penuh keseriusan, Balqis mengambil ponsel Abid.
"Jangan salah pegang"
Balqis terkekeh, ia langsung membuka ponsel Abid.
"Ada tiga nih game nya, sekali lagi Balqis tanya. Game atau Balqis??"
"Balqis"
"Game atau motor?!"
"Motor"
"Balqis apus nii yaa??" Abid berdehem.
'Sadd, sadd.. aduh sedihnyaa'
"Gak jadi deh, nanti kalau bosen abang malah liat yang nggak nggak. Main game aja gapapa" Abid sumringahh.
"Sekarang abang tanya sama kamu, abang atau Jongin?"
"Abang"
"Sini hape kamu, abang hapus foto Jongin"
"Jangan ya hehe, jangan.. yang lain aja. Atau abang mau apa gitu yang lainn??" Abid menggeleng.
"Abang nomor satu kok di hati Balqis"
"Nomor duanya Jongin"
▪▫▫▪
Abid tiba di apartemennya pukul setengah sepuluh malam. Ia langsung masuk ke kamar dan membanting tubuhnya.
Abid sedikit kelelahan karena kegiatannya hari ini cukup panjang.
Toktok..
"Abangg, Balqis masuk yaa?"
"Masuklah" suruh Abid. Balqis pun masuk ke kamarnya.
Abid menggeleng lalu menarik tangan Balqis, Balqis terjatuh di atas tubuh Abid. "Maunya kamu"
"Gak usah ngacoo abangg"
Cup cup cup
"Abangg geliii" Abid terkekeh.
"Kamu jadi tidur disini??" Balqis mengangguk.
"Tidurlah, aku mau ngerjain sesuatu dulu"
"Ngerjain apaa? Nggak mauuu ahh, mau tidur sama abangg"
"Yaudah ayo tidur" Abid meletakkan Balqis di sisi sebelah kanan. Abid melepas bajunya, menarik selimut, kemudian memeluk Balqis.
"Ngapain buka baju??"
"Panass" Balqis berohria. Dia membalas pelukan Abid.
Beberapa menit kemudian Balqis tertidur. Menyadari hal itu, perlahan-lahan Abid melepas Balqis.
Ia keluar kamar sambil membawa laptop. Abid ingin menyelidiki penguntit yang tadi. Abid tidak akan bisa tidur nyenyak jika belum mengetahuinya.
Di sofa ruang tamu, Abid duduk. Ia mencari sambil menghidupkan televisi dengan volume kecil.
"Abaangg"
Baru sebentar di tinggal, Balqis sudah terbangun. Ia mendekat ke Abid.
"Kok bangunn?"
"Abang gak disanaa sihh, abang ngapainn? Itu lebih penting dari aku??"
"Nggak gitu sayang, abang gak bisa tidur kalau belum liat ini."
"Iyaudah terserahh" Balqis menggeserkan tangan Abid. Ia menaruh kepalanya di paha Abid dan mulai memejamkan mata lagi.
"Di kamar aja, sayang"
"Nggak mau, gak ada abang" Abid tersenyum, ia mengelus kepala Balqis.
"Yaudah tidur lah, good night" Melihat Balqis memejamkan mata. Abid kembali ke layar laptop.
Tanpa Abid sadari, Balqis belum tidur. Ia malah memandangi wajah Abid.
"Nona Nova, beneran dia ternyata" gumam Abid.
"Siapaa ituu??"
"Hm??" Abid menatap mata Balqis.
"Nona Nova siapaa??"
"Clientnya ayah, kemaren pas camp ayah nyuruh ketemu dia"
"Cantikk??"
"Cantikan kamu"
"Modus ihh"
"Ayok ke kamar"
"Gak mau, nanti duluu"
"Besok kesiangan gimana?"
"Nggak gimana gimana" Abid menghela nafas kemudian mengecup kening Balqis.
"Masih sakit gak perutnya??"
"Nggak kokk"
"Emang sering gituu?"
"Nggak jugaa, kadang-kadang ajaa. Abang tadi gak malu Balqis suruh beli ituu??"
"Ya malu lah, tapi demi kamu aku gapapaaa"
"Abang debbesss bangettt"
Abid tersenyum sekilas, ia mematikan televisi dan menutup laptopnya.
"Ayo ke kamar"
"Nanti dulu yaaa, yaaa"
"Mau ngapain lagii?? Hm?"
"Nggak tauu, tapi Balqis belum mau tidur. Balqis masih mau mandangin ciptaan Allah yang cakepnya warbiasaa" jawab Balqis sambil menatap Abid.
"Udah bisa gombal juga yaa"
"Hehe, belajar sama ahlinya"
"Prett"
"Abangg"
"Hmm? Kenapa sayang?" tanya Abid yang sedang mengelus rambut Balqis.
"Laperr"
"Tumben, mau makan apa? Mau abang yang buat??"
"Mau mauuu"
"Mau makan apaa?"
"Emm, kalau nasi goreng harus masak nasi dulu. Gimana kalau abang buat indomie rebus yang pedes pake telor"
"Yang biasa aja yaa, jangan yang pedes"
"Yaudah dehhh" Abid meletakkan kepala Balqis perlahan. Kemudian pergi menuju dapur.
Balqis jahil malam ini, dia menghampiri Abid memeluknya dari belakang. Melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Abid di rumah ayahnya tadi.
"Jangan sayangg"
"Hihiii, abang kok gak pake bajuu"
"Tujuannya biar kamu liat aku aja daripada liat Jongin" Balqis malah terkekeh pelan.
"Abang kok tinggi banget siii?! Waktu kecil makan tiang listrikkk?!!"
▪▫▫▫▪
07.10
"Inget ya, kalau kenapa-kenapa hubungin abang" Balqis mengangguk, ia menyalami tangan Abid lalu keluar dari mobil.
"Haii, selamat pagii"
"Eh, kak Candra. Selamat pagi juga" jawab Balqis sedikit datar.
"Lu pergi sama Abid?" Balqis mengangguk.
"Lu pacarnya Abid?? Kalau iya, gue kasih tau deh sama lu. Abid itu gak sebaik keliatannya, musuh dia di mana-mana, dia juga punya banyak senjata tajam. Bahaya kalau lu berhubungan sama pria yang bersenjata"
Balqis diam sejenak.
"Ibu bhayangkari, ibu persit, suami mereka bersenjata dan mereka gak kenapa-kenapa."
Abid tersenyum senang mendengar jawaban Balqis, ia jelas tau Candra mendekati Balqis. Abid meletakkan penyadap suara mini di saku rok Balqis.
"Bedaa sayangg"
Mendengar kata sayang, Abid sedikit emosi. Ia keluar dari mobil memakai kacamata hitam. Beberapa fans nya langsung terpanah melihat ketampanan Abid yang bertambah.
Abid diam tak merespon para fans-nya, ia sengaja memakai kacamata hitam agar tidak ada yang tau kalau matanya sedang menatap Balqis dan Candra.
"Percaya sama gue, lu bakal sering-sering sakit hati kalau sama Abid. Abid bukan cowok yang betah sama satu wani--"
Bugh!!
"Aaauuu"
Abid tersenyum puas.
Mendengar perkataan Candra tadi, ia melemparkan tas nya. Tepat sasaran, tas itu mengenai kepala Candra.
"Wahh, headshot!"