
Sudah berjam-jam mereka mencari, namun sampai matahari tenggelam kembali mereka belum juga menemukan Abid, Balqis dan Silvia.
Iya!
Silvia ikut hilang, dia belum keluar sama sekali dari hutan.
"Kok gue takut Abid udah di makan hewan buas siii?" tanya Eldi.
"Gue juga punya ketakutan yang sama"
"Silvia juga kenapa belum nampak batang hidungnya? Udah mati?"
"Keknya si iya, kena karma" sahut Rangga santai.
"Heh, ngomongnya sembarangan aja ih" protes Fany.
"Nggak sembarangan, sayang. Nyatanya mah begitu, dia kena karma"
"Iya juga si" Rangga tersenyum gemas melihat ekspresi Fany.
"Gue yakin kalau si Silvia masih di sekitaran sini" ujar Jefri.
"Taruhan berapa pun berani gue, pasti dia masih disini. Feeling gue dia nyusruk ke jurang"
"Jurang??" beo Jefri.
"Tunggu, apa jangan-jangan Abid sama Balqis masuk jurang??"
"Bisa jadii"
"Gue tau rute jalan arah ke jurang"
"Kalau gitu kita bagi dua tim gimana? Satu tim ikutin tempat gue sama Abid mencar, satunya lagi ikut Heon" usul Jefri.
"Gue setuju"
"Rangga, Jefri, Fany satu tim"
"Eldi, Tio, Heon"
"Oke, ayok"
"Ehh tungguuu" Mereka menatap Fany.
"Kita makan cuma tadi pagi. Kalau mau cari Abid kalian pasti butuh tenagaa, kita makan aja dulu yaa"
"Jujur, gue setuju sama Fany karena gue laper" sahut Tio.
"Kenapa gak bilang kalau lo laper?!"
"Ya gimana mau bilang, gue kan tau situasi"
"Yaudah ngedelive aja gimana? Bahan makanan kita gak ada"
"Gue keluar aja sama Fany, cari nasi bungkus"
"Anjirrr, mencari kesempatan dalam kesempitann" Rangga tersenyum sinis.
"Kalian tunggu sini aja oke"
"Rang, jangan lama-lama. Sekarang udah jam delapan malem, gimana pun juga kita harus temuin mereka malam ini" pinta Jefri.
"Amannn" Rangga mengajak Fany menuju motornya.
Ada dua motor dan satu mobil di camp. Mobil itu milik bu Jihan sedangkan motornya milik Jefri dan Rangga.
Motor mereka berdua ada di sini karena mereka menyuruh supir untuk mengantarnya.
Rangga dan Fany pun pergi mencari nasi bungkus, tidak jauh dari tempat camping mereka ada yang jual nasi bungkus.
Rangga berbelok lalu memesan untuk semuanya, termasuk untuk Balqis dan Abid.
"Sayang"
Fany berdehem sambil menatap Rangga. Mereka sedang menunggu pesanan.
"Kamu kenapa terima aku?"
"Biar kamu gak malu doang sih" Rangga mengangakan mulutnya.
"Paksaan?"
"Nggak juga, kan kamu gak ada maksa"
"Jadi maksudnya tadi apa?"
"Yaa aku terima biar kamu gak malu, kan di liatin banyak orang"
Rangga menatap Fany dengan tatapan yang susah di utarakan. "Becanda, sayangg"
"Aku terima kamu karena itu kamu, kamu pria sinis dengan sejuta perbedaan. Sebenarnya aku juga suka sama kamu sejak awal kita ketemu"
Rangga tersenyum lebar, dia mengambil tangan Fany lalu mengecupnya. "I love you"
"Love you too"
"Ehemm" Mereka menoleh.
"Mas sama mbaknya kalo mau uwuan jangan disini, saya teh jomblo. Gak sanggup liatnyaa" Rangga dan Fany terkekeh.
"Ohya ini nasinya udah siap, selamat menikmati ya mas, mbak"
"Makasih mbak" Mbak yang jualan tersenyum. Rangga dan Fany pergi meninggalkan tempat.
Karena jarak yang tidak terlalu jauh, Rangga dan Fany tiba di camp dalam waktu tujuh menit saja.
"Untung cepet"
"Jam delapan empat puluh lima kita otewe cari lagi, ya" ajak Eldi.
"Okeeesiappp"
⛓⛓⛓⛓
Sesuai ajakan Eldi, mereka kembali mencar sesuai tin yang dipilih Jefri tadi.
"Kalau gak ketemu juga, kita minta bantuan polisi lah ya" ujar Heon.
"Setuju gue"
"Makan apa si Abid di sini? Gue takut dia udah mati"
"Mulut lu, Tio!! Kaga di saring dulu kalau ngomong" Tio menatap melas Eldi.
"Najis liatnya"
"Eh diem-diemm" Eldi dan Tio langsung menutup mulutnya.
Samar-samar mereka mendengar suara wanita menangis sambil minta tolong.
"Gue takut itu hantu"
"Feeling gue menyatakan itu bukan hantu"
"Gue yakin itu Balqis atau mungkin Silvia"
"Daripada nerka-nerka bagus kita samperin"
Dengan langkah yang mengecil, Heon memimpin jalan menuju sumber suara.
Mereka menemukan seorang wanita yang bertumpu pada akar pohon, wajahnya menunduk sehingga mereka tidak dapat mengenalinya.
Sebelum bersuara, mereka menunggu wanita ini bersuara. "Tolong.. hiks hiks.."
Eldi menepuk pundak Heon dan Tio, "Ini Silvia". Heon menatap intens wanita ini, proporsi tubuhnya sama dengan Silvia.
"Lo kena karma, ya?" kalimat pertama yang diucapkan Heon.
Wanita ini mendongak, ternyata benar, itu Silvia. "Heon, Eldi, Tio tolongin gue"
"Nolong lu? Bukannya lebih bagus kalau lo mati? Mending mati sekarang atau mati pelan-pelan dibuat Abid?"
"G-gue minta maap. Gue tau gue salah, g-gue minta maap. Tolong gue, gue mohon"
"Bacot bangettt si. Lu tau sendiri kan, Abid itu gak gampang maapin orang"
Heon, Tio dan Eldi menatap Silvia. "Kalau kita biarin dia mati, kita yang ketuduh gak si?" tanya Eldi berbisik.
"Kita bakal merasa bersalah nantinya"
"Wahh anjirrr anjirrr, Heon psycho" Heon tersenyum miring.
Silvia yang masih berpegang pada akar yang menggantung hanya menghela nafas pelan.
Heon jongkok lalu mengulurkan tangannya, "Pegang tangan gue". Tanpa babibu lagi Silvia meraih tangan Heon.
Dibantu dengan tenaga Tio dan Eldi, Silvia berhasil naik. "Dimana Balqis?"
"Ntahh" Silvia lari.
Dengan santainya Eldi mengulurkan tangan, ia menarik rambut Silvia. "Jangan harap bisa lolos dari sini"
▪▪
Rangga, Fany dan Jefri masih berkeliling di area yang dikatakan Jefri tadi.
Mereka menandai jalan dengan tepung agar tidak tersesat.
"Udah jam setengah sepuluh, apa kita balik lagi? Kalau dipaksakan takutnya kita malah ngedrop" ajak Rangga.
"Jam sepuluh aja, kalau belum ketemu kita balik"
"Kamu gak kecapekan?" tanya Rangga pada Fany. Fany menggelengkan kepalanya.
"Lo beneran gapapakan? Lo juga jangan maksain diri yaa" Fany mengangguk lagi.
Dorrr!! Dorr!!
"Tembakan???"
"Itu Abid??"
"Kalau Abid, dia pistol darimana??"
"Bagus kita cekk" Fany berlari menuju suara.
"Fany!! Jangan maju tanpa rencana!!" Fany berhenti di tempat.
"Maaf maaff"
"Jangan mencar lagi, ayok bareng bareng"
Rangga mengedarkan pandangannya, ia menemukan pecahan kaca, batu dan kayu. "Fany, pegang ini"
"Gue megang batu aja deh, lo pegang ni kaca" Jefri langsung mengambilnya.
Perlahan-lahan mereka berjalan menuju suara tembakan tadi. "Itu dia orangnya"
"Mirip badannya Abid"
"Abiddd!!" Pria itu berbalik. Mereka langsung berlari karena itu beneran Abid.
"Ahhh syukurlah lu ketemuu, bid! Kita takut lo kenapa-kenapaa" Abid membalas dengan senyuman.
Balqis yang tadi di pangkuannya ditarik ke pelukan Fany. "Kamu baik-baik aja kan??" Balqis mengangguk pelan.
"Kalian masih nyari juga jam segini"
"Jam berapa pun kami jabanin demi cari lu sama Balqis"
"Lo nembak apa tadi?? Lo bawa pistol??"
"Bawa, tadi ada serigala kecil. Udah cabut duluan padahal belum kena"
"Yang penting lo gapapa"
Abid beralih menggendong Balqis, "Kalian tau jalan keluar kan?"
Mereka mengangguk, "Kenapa?"
"Ayok keluar, Balqis kedinginan"
✿✿
"Bid, Silvia di apain ini??"
"Lo letak aja di kamar markas, kunci dia"
"Serius lu?"
"Lu pikir gue becanda??"
"Sensi amatt, yodah gue kesono dulu" Tio dan Eldi menggotong Silvia yang pingsan keluar apartemen Abid.
"Bang Abiddd" Abid menoleh ke sumber suara.
"Rian?"
"Astaga bang, gue hampir mati karena lu gak balik-balik"
"Hampir mati?" beo Heon.
"Gue belum di gaji"
"Anjirrr" Mereka terkekeh.
Abid merogoh dompetnya lalu mengeluarkan uang lima ratus ribu. "Di dompet gue cuma ada enam ratus ribu, sisanya besok"
Rian mengangguk, "no problem bang. Betewe, lo gapapa??"
"Gue gapapa" jawab Abid sambil bersandar di sofanya.
"Mending lo mandi dulu deh, bid. Muka lu kusut"
"Gue tinggal mandi bentar gapapa ni, ya?"
Rangga, Jefri, Heon dan Rian mengangguk. Abid pun pergi menuju kamarnya. "Ahh, akhirnya bisa napas lega gue"
"Abid mana?" Fany keluar kamar Balqis, dia baru saja menggantikan baju Balqis dan mengobati lukanya.
"Mandi, Balqis gimana?"
"Lagi tidur"
"Karena pencarian tadi, gue jadi laper"
"Jep, lu jadi kea Tio ya? Demennya makan. Lo gak liat udah jam dua belas malem??"
"Ni baru liat" Rangga menatapnya sinis.
"Di dapur mereka cuma ada mie, mau gak?" tawar Fany.
"Okee buatin, fan"
"Gue juga mauuu"
"Aku sekalian, sayang" Fany mengangkat jempolnya.
"Lu kok disini, yan? Udah tengah malem"
"Gue pindah apartemen. Ngeliat bang Abid balik jadi gue samperin. Jujur, gue juga takut dia dimakan hewan buas"
"Lo tau berita darimana??"
"Pacar gue, si Ayu. Dia bilang Balqis di culik otomatis keinget bang Abid" mereka berohria.
"Lu pada kalau mau mandi ke kamar gue aja" Abid keluar kamarnya. Mereka mengangguk.
"Bid, mau mie??" Fany juga muncul dengan lima mangkuk mie.
"Gue gak laper kok, kalian makan aja. Kenyangin, kalau mau nginep disini silahkan. Kalau Fany juga nginep, tidur di kamar gue" suruh Abid.
"Lo belum makan apapun, bid. Makan dulu nih punya gue, sesendok dua sendok juga gapapa yang penting perut lo keisi"
"Besok pagi aja gue makan"
"Dah ya, jangan ganggu gue ya" Mereka mengangguk, Abid masuk ke kamar Balqis.
Pemandangan pertama yang ia lihat adalah Balqis yang kedinginan. Abid mendekat, ia melepas kaosnya dan melepas baju tidur Balqis.
Jangan nething, Abid hanya ingin menghangatkan istrinya. Ya walaupun ada yang tegak dibawah, Abid akan menahannya demi sang istri.
Abid masuk ke selimut lalu menarik Balqis ke pelukannya. Abid mengelus rambut Balqis.
"Good sleep, baby"