A B I D

A B I D
– 1½ years later...



"Rangga, Balqis nya manaaa??" tanya Fany khawatir.


Pukul setengah tujuh malam mereka baru balik ke rumah ayah Abid.


"Ranggaaa"


"Kenapa sayangg?? Balqis di belakang, dia ketiduran di mobil Jefri. Tuh di gendong sama Jefri," jawab Rangga.


Jefri masuk ke rumah ayah Abid, "ini Balqis pingsann??" tanya Eldi terkejut.


"Ketiduran," jawab Jefri.


"Om Abay sama yang lain manaa?" tanya Rangga.


"Jemput almarhum bareng Heon, gue sama Tio di suruh jaga kembar" Rangga berohria lalu merebahkan tubuhnya di sofa.


"Capekk?" tanya Tio.


"Bangett, kalau ada jin pengabul permintaan gue cuma minta satu hal"


"Apa?" tanya Eldi.


"Kembalikan Abid. Sumpahh, gue lemes bangett gak ada Abid"


"Huft.. gue juga!" Sahut Jefri yang telah meletakkan Balqis.


"Kapan Abid ketemu?" tanya Eldi lesu.


"Fann!!" Fanny menoleh sekilas, ia juga baru keluar dari kamar Balqis.


"Kenapaa?" tanya Fany pada Rangga.


"Nggak jadii," Fany menatap sinis Rangga lalu melanjutkan jalan ke dapur.


"Lu bedua di suruh makan sama tante Desty kalau udah pulang," kata Tio.


"Gue belum laper, lu duluan sana rang!" Rangga pun menuju dapur.


"Sayangg"


"Hm?? Kenapa? Mau makann?" Tanya Fany, Rangga mengangguk. Fany pun mengambilkan lauk dan nasi untuk Rangga.


"Thank u byy" Fany mengangguk, ia duduk di samping Rangga.


"Balqis gak kenapa-kenapa kann?" Rangga menggeleng.


"Kamu tuu, kenapa sii merhatiin Balqis muluu? Aku gituuu kek yang di perhatiinn"


Fany tertawa, "yaudahh ini aku perhatiin. Kamu mau apaa?"


"Mau liat kamu senyumm!" Fany terkekeh, "senyum doang?"


Rangga meneguk air lalu mengangguk, Fany pun tersenyum manis sambil menatap Rangga.


"Ahhh.. gak kuattt pengen cium!" Fany tertawa lagi.


"Malah buat dosa disiniii" cibir Jefri. Fany dan Rangga cengengesan.


"Lu sama Heon dapet apaa tadii? Di serang jugaa??" tanya Rangga pada Eldi.


"Hmm.. tapi gak separah mereka, anggota Abiyyu gak terlalu banyak tadii"


"Lu bedua jumpa Abiyyu?" tanya Jefri.


"Iya, jumpa. Sama Johan juga jumpa."


"Lu tau hal yang mengejutkan apaa?" tanya Eldi.


"Apa??"


"Abiyyu menawarkan diri buat bantu nyari Abid"


"Seriusss?!!" tanya Rangga, Jefri dan Tio bersamaan.


"Seriuss, gue juga kaget bangett dengernya"


"Terus lu bedua jawab apa??" tanya Tio.


"Kami gak jawab, langsung masuk ke mobil."


"Kayaknya jelas bukan Abiyyu sihh," kata Jefri.


"Lu beduaa gimana? Kok bisa babak belurr?" tanya Eldi.


"Anak buah nya Jordan banyak nya naudzubillah" jawab Tio.


"Ketemu Jordan??" Jefri dan Tio berdehem.


"Mereka kan di penjaraaa," sahut Fany.


"Mereka bisa keluar karena duit. Jordan keluar dari penjara dan nerusin Lion king. Sedangkan Tama, dia di luar negeri."


"Luar negeri?"


"Tama di keluarin sama bokapnya dengan syarat Tama gak lagi tinggal di Indonesia. Disini gue yakinnnn banget kalau Tama yang culik Abid" kata Jefri.


"Teruss?? Abid ada??" tanya Rangga dengan muka serius.


"Gak ada, gue sama Jefri nyari ke penjuru markas mereka juga gak nemu Abid. Waktu kami bedua mau keluar dari markas, anggotanya Jordan nyerang." Tio gantian menjawab.


"Ehh Rangg, Abid bawa hp kan? Hp nya sama dia kan bukan sama Balqis??"


"Oh iya hp nya!!"


"Gue udah coba lacakk, dan gak nemu apa apaa. Kayaknya hp Abid di matikan atau bisa aja di rusak" jawab Rangga lesu.


"Jadi siapa lagii kira-kiraa?? Silvia? Dia masih di penjara. Jelas nggak mungkinn lahh di bebasin pake duit, bokap nyokapnya aja udah gak peduli sama tu anak. Capek juga ngurusinnyaa," ujar Heon.


"Bener sihh."


"Aaahh pusinggg!" Keluh Rangga.


"Btw, si kembar udah tau belom?" Tio dan Eldi menggeleng.


"Nggak tau gimanaa mau ngasih taunyaa."


"Mereka kelas berapa?" tanya Rangga.


"Lima sd, ntah enamm" jawab Eldi.


"Kelas lima kalau gak salahh," sahut Tio.


"Kelas lima segemoyy ituuu," ujar Jefri gemas.


"Mereka kalau di kasih tau baik-baik, di kasih tau dari hati ke hati kayaknya bakal paham dehh" kata Eldi.


"Masalaahnyaa cara ngasih tau mereka gimanaa? Lu kan tau mereka sayang banget sama Abid," jawab Rangga.


"Yaaa gimana pun juga mereka harus tau njayy, gak mungkin kita sembunyiin terusss"


"Sembunyiin apa bangg?" Avi dan Devi muncul.


"K-kalian sejak kapan disini??" tanya Rangga gugup.


"Sekitarr tiga puluh detik yang lalu. Sembunyiin apaa maksud abang??" tanya Avi lagi.


Mereka menghela nafas, "Devi sini sama abang." Devina pun mendekat pada Jefri. Jefri memangku Devina.


Sedangkan Avi, dia di pangkuan Eldi.


"Kalian dengerin baik-baik ya, tapi.. jangan sampe teriak-teriak terus tanya kak Balqis." Mereka berdua mengangguk.


"Bang Abid.. hilang"


"HAHHH??"


"Aviii," omel Fany.


"Avi kagett kakk!! Ilang gimanaa? Ilang dimanaa?" tanya Avi.


"Ceritanya panjang, kalian gak perlu tau. Yang terpenting sekarang kalian berdoa supaya abang sama yang lain bisa nemuin bang Abid. Okee??" Mereka mengangguk.


Devi sedari tadi diam, ia sudah menangis. Jefri menenangkannya dalam pelukan.


"Ulfa pergi.. bang Abid hilang.. hiks hiks..."


Mereka menatap Devina, "Devi tauu tentang Ulfa??"


Devina mengangguk, "tadi gak sengaja dengarr ayah telponan" jawabnya sambil terisak.


"Do'ain aja yaa, semogaa... Ulfa sama kedua orang tuanya masuk surga. Semogaa kelak kalian bisa ketemu lagii" ujar Rangga lembut sambil mengelus tangan Devina.


Devina mengangguk masih terisak tangis.


"Pantesan kak Balqis tadi diem ajaa..." Avi bersuara sambil menunduk.


"Jangan tanya-tanya kak Balqis yaa?"


"Kalau kalian ngomong sama kak Balqis tapi dia diem ajaa berarti dia lagi gak mood, kalian jangan sakit hati. Okee?" Mereka berdua pun mengangguk.


❃❃


21.23, di keesokan malamnya.


"Kalau gak di paksa Rangga, gue gak mau ikut prom malem inii." Jefri memecahkan keheningan, mereka di markas, pulang dari prom night.


"Gimana pun juga kita pergi mewakili Abid" kata Rangga.


Mereka menghela nafas serentak, Tio mengusap kasar wajahnya.


"Ahh gue keinget ketawa nya Abid terusss, keinget jokesnya diaaa. Keinget amukannya diaa," keluh Tio.


"Kita aja gini, apalagi Balqis?"


"Oiya Balqis dimanaa?" tanya Jefri.


"Di rumah bokap nyokap Abid, Fany bilang dia gak terlalu ngurung diri. Cuma jadi pendiem" jelas Rangga.


"Setidaknya dia dengerin omongan gue, berusaha hidup seperti biasa" ujar Jefri.


Drrtt.. Drtt...


Jefri merogoh sakunya, panggilan dari Rian.


📞 "Assalamu'alaikum banggg"


"Wa'alaikumsalam yann, kenapaa?"


📞 "Ada Abiyyu di rumahh om Abay, om Abay nya gak dirumahh"


"HAHH?? GUE OTW KESANA"


Jefri mematikan telepon nya.


"Kenapa?" tanya Heon heran.


"Abiyyu ke rumah om Abay"


"Wtf" Mereka memakai kembali jas nya lalu pergi meninggalkan basecamp.


Hanya butuh waktu sepuluh menit sampai akhirnya mereka tiba di rumah Abay.


Jaraknya cukup jauh, tapi karena mereka jago salip-menyalip hanya memakan waktu sepuluh menit.


Mereka berlima masuk ke rumah Abay.


"Abiyyuu!!"


"Mau apa luu?!" tanya Rangga sinis.


"Ahh plis.. gue cuma mau damaii" pinta Abiyyu memelas.


"Tantee.. tante Destyy" Fany dan Desty keluar dari kamar.


"Fanyy" Rangga menghampiri mereka berdua.


"Kalian gapapa?"


"Gapapa kok, waktu Abiyyu datang aku sama tante Desty langsung masuk ke kamar" jelas Fany.


"Yang suruh dia masuk siapa?" tanya Jefri.


"Masuk sendirii" Mereka menatap Abiyyu.


"Lu bilang mau damai, damai apa masuk rumah orang tanpa izin?!"


"Satpam nyuruh gue masuk, gue juga anggota keluarga ini, tuan Rangga. Nama gue Abiyyu Farel Althaf."


"Ada emang keluarga yang nyakitin keluarga nya sendirii?" tanya Eldi sinis.


"Ayo bicara baik-baik, pliss. Gue kesini gak ada niatan burukkk"


"Assalamu'alaikum.. A-Abiyyu?"


"Ayahhhh, Devi, Avii?" Muka Abiyyu sumringah.


"Mass Abiyyyy" Devina menghampiri dan memeluk Abiyyu. Abiyyu membalas pelukan Devina erat.


"Devi!! Kamu gak inget apaa kalau mas Abiyyu jahatt?!" Devina tersadar, ia melepaskan pelukan dan beranjak menjauh.


"Mas Abiyyu udah gak jahatt, seriusss. Mas Abiyyu ke sini mau ketemu sama kalian. Mas Abiyy bawa mainan untuk kalian berdua" Abiyyu menyodorkan dua paperbag.


Saat ingin menerimanya ayah Abid menarik kembar, "Fanyy bawa mereka ke kamar" Suruh Ayahnya. Fany pun menurut, ia membawa pergi kembar.


"Jujur sekarang Biyu, kamu mau apa?"


"Ayah.. Abiyyu mau minta maaf. Abiyyu sadar, Abiyyu salah. Abiyyu gak bersyukur punya ayah dan bunda, Abiyyu minta maaff." Mata Abiyyu berkaca-kaca.


"Jangan drama biy, pliss" pinta Tio.


"Gue serius, beberapa bulan terakhir gak ada masalah kann? Bahkannn gue suruh Johan buat balik ke markas karena gue gak mau nyakitin keluarga Althaf lagii."


"Percaya sama gue, gue gak ngedrama."


"Ayahh, bunda.. kasih Abiyyu kesempatan kedua. Izinin Abiyyu kembali ke keluarga Althaf"


Abay menatap Rangga dan Jefri bergantian. Abay yakin, mereka berdua mengerti maksud dan tujuan Abiyyu.


Abay bertanya melalui tatapannya, Rangga dan Jefri pun mengangguk pelan.


Mereka melihat tatapan Abiyyu benar-benar tulus. Mereka yakin Abiyyu tidak berbohong, itu sebabnya mereka mengangguk setuju.


"Ayah kasih kamu kesempatan kedua, jangan kecewain ayah lagi"


"Makasih ayaahhh" Abiyyu memeluk Abay. Abay membalas pelukannya.


Abiyyu melepas lalu mendekat ke bunda nya, ia menyalami tangan Desty dengan tulus.


"Jangan permainkan kepercayaan kami ya, biyy"


"Iya bundaa" jawab Abiyyu sambil tersenyum.


"Kalian udah ketemu sama Abid?" tanya Abiyyu, mereka menggeleng.


"Gue bakal bantu cari!"


❃♛┈⛧┈┈•༶❃༶•┈┈⛧┈♛❃


Satu setengah tahun terlewati begitu saja. Semua usaha sudah di kerahkan untuk mencari Abid namun hasilnya tetap sama.


Mereka tidak menemukan Abid, Abid seolah-olah menghilang begitu saja dari bumi.


Selama itu juga Balqis berubah. Yang awalnya ceria berubah menjadi pendiam dan tidak peduli sekeliling. Ia hanya ramah pada orang yang di kenal.


Saat ini Balqis kuliah semester dua, ia mengambil jurusan akuntansi. Balqis memilih itu karena terlalu banyak berfikir membuatnya sedikit melupakan kesedihan.


Sampai hari ini, Balqis masih tidak terima dengan kenyataan.


"Nona muda.. nona muda mau kemana? Mau saya antarrr?" tanya supir pribadi Balqis.


Balqis memaksakan kehendak untuk tinggal di rumah barunya. Mereka semua mengizinkan dengan syarat Balqis harus di kelilingi bodyguard.


"Nggak, pak. Saya ke kampus sendiri aja" Balqis tersenyum sekilas lalu masuk ke mobil nya, mobil peninggalan Abid.


Ia mengendarai mobil itu menuju universitas tempat dia menempuh pendidikan. Di sana Balqis terkenal karena sikap diam, dingin dan ketidakpedulian nya terhadap siapapun.


Parasnya yang cantik menjadikan ia incaran banyak pria, tapi tidak sekalipun Balqis melirik ke arah mereka.


Beberapa menit di perjalanan, Balqis tiba. Ia keluar mobil dengan santai. Selama kuliah Balqis sama sekali tidak punya teman.


Apapun tugas kelompok ia lakukan sendiri. Balqis menikmatinya, menikmati kesendirian.


"Balqisss!" Balqis menoleh sekilas.


Ahh ternyata pria yang selalu mendekatinya dengan iming-iming ingin jadi teman. Padahal Balqis mengerti maksudnya.


"Balqisss, lu kalau di panggil nyaut kekkk"


"Gak penting" Hanya itu yang di jawab Balqis.


"Seburik itu kah gue sampe luuu gak pernah mau deket sama guee?"


"Rey, jangan ganggu gue bisa??! Go away!!"


"Astagaa, kenapaa sih lu gak mau deket sama guee???" Pria itu terus mengejar Balqis.


Balqis pun berhenti, ia berbalik. "Gue gak suka sama lu, lu pengganggu, lu bukan tipe gue, dan alasan terakhir.. inisial R meresahkan! Puas?" ini pertama kalinya Balqis bicara sepanjang itu setelah satu setengah tahun berlaluuu.


Tanpa menunggu jawaban Rey, Balqis pun pergi. Rey mengejarnya setelah tersadar, "Balqis balqisss"


"Apalagi siihh? Berhenti ganggu gue bisaa?!"


"Y-yaa maapp" Rey pura-pura bertingkah seperti anak-anak. Balqis tidak perduli, ia memilih pergi.


Ketika Rey ingin mengejar Balqis, teman-teman nya menahan.


"Demen kagak sampe buat risih goblokkk," Rey menghela nafas.


"Kenapa si lu ngejer tu anak mulu? Udah di kacangin jugaa"


"Au tuh, begoo banget. Lu kagak liat di jari manis nya ada cincin? Gue liat jelas tadi"


"Cincin mainan mungkin, gue juga make cincin di jari manis" jawab Rey santai sambil menunjukkan cincinnya.


"Bedaa Rey, ngeyel banget lu setan!"


"Lagiannn, kalauu pun Balqis udah nikah suaminya pasti sering antar jemput. Atau mungkin emang udah nikah tapi Balqis nya gak suka, semacammm perjodohan" celoteh Rey.


"Kalau gak suka ngapain dia make tu cincin tiap hari begooo?!"