A B I D

A B I D
– Air terjun



"Masih mau ngajak ribut?"


"Nggak, nggak."


"Kamu gak asik, masaa hukumannya rondean."


"Nguji kesabaran mulu si. Kurang afdhol ya rasanya kalau gak berantem sama suami?"


Balqis cengengesan. "Iya."


"Tapikan seharusnya abang gak kasih hukuman kek beginii!"


"Ck. Mau nambah ronde?"


"Abaaaanggg..." Balqis merengek sambil menatap Abid dengan puppy eyesnya.


"Apa? Kenapa?"


"Udah yaa, Balqis capeee. Abang tu ganas!"


"Tapi kamu minta lagi."


"Heh, ndak!" Balqis masih menatap Abid seperti tadi. "Udah yaaa?"


"Hmm jago banget kalau ngebujuk. Yaudah sana siap-siap!"


"Mau ngapain??"


"Jalan pagi."


"Wauww! Sekarang?"


Abid berdehem.


"Okee. Bentar!" Balqis pergi sambil membawa selimutnya.


"Jangan lari-lari sayaaangg! Kasian baby nya kobam."


"Ini tu gak lari, cuma jalan cepat ajaa."


Abid geleng-geleng kepala melihat Balqis yang sudah masuk ke walk in closest. Ia pun pergi mengambil celana olahraganya di ruangan kerja sekalian mengganti baju di sana.


Abid keluar dari ruangan, Abid kira Balqis udah selesai ternyata belum. Balqis masih mandi.


"Udah mandi lah agaknya, kan sholat subuh bareng," gumam Abid. Dirinya lebih baik menunggu dari pada harus protes lagi.


Yang ada Abid yang di protes Balqis.


"Hai abang, bangun!"


"Lama banget ayaang, sumpah dah lama! Kamu ngapain sih di kamar mandi? Gadoin sabun?"


"Dih ngaco. Balqis mandi lah," jawab Balqis.


"Mandi apa selama itu? Tadi juga kamu udah mandi, ngapain mandi lagi?"


"Emang salah kalau Balqis mandi?"


"Udaranya dingin, Balqis."


"Yaudah sii. Yang mandikan Balqis bukan abang."


Abid diam, dirinya memilih mengalah lagi.


"Ayok! Jadi pergi kan?"


"Nggak, udah sore ini."


"Ish jahat banget. Dahlah males!" Balqis pergi meninggalkan Abid.


Oke, Abid harus ekstra sabar lagi kali ini. Abid memilih diam di kamar sembari bermain game online.


"ABANG!"


"Allahu Akbar, astaghfirullahalazim. Kenapa si Balqis? Ngagetin tau!"


"Abang sih nyebelin banget jadi orang. Ayokkkk laaa, katanya mau jalan pagi!!!"


"Udah siang, kamunya lama."


"Ish. Emang gak niat ngajak bilang! Gak usah iming-imingi gitu," dumel Balqis sembari pergi meninggalkan Abid.


"Karep mu ae lah, dek."


Abid melanjutkan gamenya.


Di lantai bawah, Balqis masih ngedumel. Dirinya benar-benar kesal dengan Abid.


"Lu ngapa pagi-pagi ngedumel?"


Balqis menoleh, "Kak Rangga?"


"Iye, gue Rangga. Lu kenapa? Abid mana?"


"Itu di kamar, main gamee. Kak Rangga sendirian?"


"Sekarang sendiri, ntar yang lain bakal datang."


"Mau kemana?"


"Abid gak bilang?"


Balqis menggelengkan kepala.


"Berarti surprise, tunggu aja ntar."


"Au ah males!!"


Balqis langsung menuju ke dapur.


Rangga menatap heran Balqis, "gue ga salah. Ga salah," kata Rangga sambil mengelus dadanya.


"Baru lu doang yang datang?"


"Bujug busett! Ngagetin lu kampret."


Abid cengengesan.


"Gue sendirian."


"Fany mana?"


"Dia mau pergi sendiri katanya."


"Tololl lu, Rang! Gak ngerti lagi gue. Sebenernya lu niat gak sih pacarin sepupu gue? Gak ada ligat-ligatnya. Macarin mulu nikahin kagak."


Rangga menatap sinis Abid, "semua butuh prosess!"


"Alah taii kucing sama lu."


"Janckk! Btw, Balqis kenapa?"


"Faktor hormon."


Rangga berohria.


Abid meninggalkan Rangga dan menghampiri Balqis, "buatin kopi."


"Gak mau."


Abid tersenyum kesal.


"Yaudah sana ke ruang tamu, saya buat sendiri."


Balqis mengedipkan mata dua kali lalu berbalik menatap Abid. Wahh, muka datarnya comeback.


"Masih pagi loh, abang tu belom sarapan. Masa udah minum kopi sih?"


"Yang minum saya, bukan kamu. Kalau gak mau buatin, geser."


Balqis diam di tempat sambil tersenyum merayu, "Balqis buatin teh aja ya? Teh lebih baik dari kopi kan? Oke teh."


"Abang ke ruang tamu ajaaaa," Balqis mendorong Abid. Abid yang di dorong membiarkan dirinya terdorong.


Melihat Abid sudah pergi, Balqis mulai membuat teh. "Bang Abid kalau bicara pake saya kamu agak nyeremin, jadi serius banget suasananya." Balqis bermonolog.


"Tatapan datar, suara yang nge-bass bangett, ahuahhh, berdemek tapi saya ga kuatt!"


"Ga kuat apa? Lima jam lagi baru di buat?"


Balqis menoleh lagi, "kek setan abang tu tiba-tiba muncul. Sabar dikit dong!"


Balqis menuangkan air panas ke gelasnya Abid.


"Ini teh nya."


"Makasih," Abid langsung pergi lagi.


"Kesambet apa bapak itu? Kenapa malah dirinya yang sensi?" Balqis menyusul Abid.


"Mereka kelamaan apa gue yang kecepatan sih?" Tanya Rangga heran.


"Mereka aja yang suka ngaret, btw lu kalau mau teh buat sendiri."


"Kampret lu!"


Abid tertawa kecil, "yakali minta buatin Balqis. Lu kata bini gue pembantu?"


"Ya ga gitu juga si. Pembantu lu mana?"


"I don't know."


"Abid oon."


"Mana pembantu kesayangan kamu, sayang?" Tanya Abid pada Balqis.


"Mungkin di kamarnya. Mau Balqis panggilkan?"


"Gak usah, Balqis. Gue juga ga kepengen teh kok," ujar Rangga. Balqis berohria.


Melihat Abid meletakkan gelas tehnya, Balqis mengambil dan ikut meminumnya.


"Kamu minum susu bumil aja gih," suruh Abid sambil mengelus rambut Balqis.


"Ntarr. Ini tu sebenernya abang sama yang lain mo ke mana?"


"Emm.."


"YUHUUII, Eldi yang tampan ini tiba!"


"Bacot asuu. Lama bangett!" Omel Rangga pada mereka semua.


"Lu yang kecepatan oonn."


"Kak Fany mana?" Tanya Meiga celingak-celinguk.


"Masih otw," jawab Rangga santai.


"Bloon! Bukannya di jemput," cibir Jefri kesal. "Kalau lu masih lembek kek gini, gue rebut Fany dari lu."


"Jangan gitu lu, Jep! Gue bukannya lembek, semua itu butuh proses."


"Ini tu mo ke manaa? Kasih tau Balqis napesii," dumel Balqis lagi.


"Aku juga gak tau mau ke mana, tadi Mas Tio langsung ngajak pergi."


"Kak Sesill gak ikut kah?"


"Sesill udah duluan kemaren, jadi ntar gue jemputnya di sana." Kata Heon.


"Ish, mo ke manaa?!"


"Udah ah bawel. Siap-siap sana, nanti Fany datang tinggal berangkat," suruh Abid. Tanpa menjawab Balqis pergi ke kamarnya.


"Assalamu'alaikum..."


Mereka menoleh arah pintu.


"Maaf guys, Fany telatt."


Tidak ada satupun yang menjawab perkataan Fany, mereka terfokus pada pria di sebelah Fany.


"Siapa dia?" Tanya Rangga sinis.


"Ini temen kecil Fany sama Abid. Kamu inget gak, Bid? Ini Ezhar."


"Ezhar? Ohhhh, Ejarr??"


"Gue kira lu lupa, Bid."


Abid tertawa kecil lu mendekat.


"Yakali gue lupa sama temen yang ngajak gue nyungsep ke got barengan."


Ezhar ikut tertawa mengingatnya, ia mendekat ke Abid dan memeluk Abid.


"Kangen masa kecil jadinya, capek gue jadi gede." Abid membalas pelukan sambil tertawa.


"Lu apa kabar, Bid?"


"Alhamdulillah baik. Lu gimana?"


"Baik juga. Kata Fany lu udah punya istri, mana istri lu?" Tanya Ezhar.


"Di kamar, lagi siap-siap."


Ezhar berohria.


"Oiya, Jar, ini temen-temen sama gue."


Mereka semua tersenyum sembari menyebutkan nama, tapi tidak untuk Rangga.


"Rang?"


"Ha?"


"Lu kenapa?" Tanya Tio.


"Lagi mikir, apa mungkin Abid bakal comblangin si Ejar sama Fany?"


"Puft, hahaha!! Bisa jadi sih," jawab Abid santai.


"Anjirr lu! Gak gak, gak boleh!!"


"MAKANYA JANGAN LAMBAT, TOLIL!"


◒◒◒


"Mas, Kak Ezhar ganteng ya?"


Tio yang sedang menyetir langsung menoleh ke arah Meiga, "muji orang lancar, muji aku gak pernah."


"Loh, kamunya gak minta di puji."


"Yakali aku minta pujian, di kata haus pujian apa?!"


Meiga tertawa kecil.


"Tanpa Mei puji pasti mas tau kalau mas ganteng."


"Halah lah, ngapusi."


"Dih ngeyell! Mas Tio tu ganteng, mirip Zayn Malik."


"Bohong teross!"


"Ngeyel banget ishh," omel Meiga kesal.


"Aku tu sering ngaca lho, dek. Yo jelas tau gimana rai ku," jawab Tio malas.


"Iya kah? Ngapain mas ngaca terus?"


"Ya natap diri sendiri lah, cocok atau nggak bersanding dengan cewek secantik kamu."


"Meiga kan gak cantik."


"Siapa yang bilang Meiga gak cantik? Bilang sama mas biar mas ajak gelut!"


Meiga salting, ia menatap luar jendela.


"Ehm, ini mau ke mana??"


"Jangan alihkan pembicaraan, sayang. Bilang dulu sama mas, siapa yang bilang Meiga gak cantik?"


"Sama kea mas lahh, Meiga juga sering ngacaa."


"Terus nyimpulin kalau kamu gak cantik?"


Meiga mengangguk.


"Dengerin mas ya. Di dunia ini, semua yang namanya wanita itu cantik. Terkecuali yang namanya Meiga, cantiknya melebihi kapasitas!!"


"Yekk moduss!"


"Aku beneran inii, kamu tu cantik bangett."


"Bohong dosa?"


"Iya sayangg. Jangan pernah berfikir kalau kamu jelek, kamu tu cantiknya plus plus pluss!"


Meiga menyipitkan mata menatap Tio.


"Iya iya iyaa, udah mujinyaa. Ntar Meiga terbang!"


Tio menarik tangan Meiga lalu mengecup punggung tangannya sambil tertawa kecil.


"Mas tu juga ganteng tauu, tapi..."


"...liatnya dari Afrika."


"Allahu Akbar. Dah la males!"


◒◒◒


"Kiw kiw, udah sampe. Turun yuk turun," ajak Abid sembari menggoyangkan lengan Balqis.


"Kita... di mana?"


"Air terjun yang kamu mau kemaren."


Balqis auto melek.


"Seriussss?!"


"Iya, seriusss. Ayok turun!" Abid tersenyum senang melihat Balqis bersemangat. Dirinya membantu Balqis keluar dari mobil.


"Nanti kita masuk ke pelosok dulu, sekitar dua puluh lima menit perjalanan. Kalau kamu capek bilang aku biar aku gendong," kata Abid memberitahu.


"Lu kuat?" Tanya Heon menatap Abid.


"Ya kuat lah."


"Ngeri ngeriiii."


"Itu lah untungnya ngegym. Lu pada ke tempat gym aja gak pernah," cibir Eldi.


"Lu pernah?"


Eldi menggelengkan kepala.


"Babinyeeee!" Eldi tertawa.


"Udah, kelamaan gosip di sini. Ayok jalan!" Ajak Abid.


Mereka mulai berjalan bersamaan. Beberapa diantaranya bergandengan, seperti Abid-Balqis, Tio-Meiga, dan Heon-Sesill.


Yang lainnya berjalan sendirian, termasuk Fany, Rangga dan Ezhar. Kalau Eldi dan Jefri, keduanya juga bergandengan tapi hanya menggunakan kelingking.


"Untung Jepri singlet."


"SINGLE!"


"Itu maksud gue," jawab Eldi cengengesan.


"Rangga sama Fany kok gak gandengan? Putus yaa?" Ledek Eldi.


"Ck, apasih jones? Diem deh lu!"


"Sadisss!" Rangga menatap sinis mereka yang sedang meledeknya. Memang agak emosi dia bun, dari tadi Fany ngomong terus sama Ezhar jadinya kepanasan.


Di tengah perjalanan menuju air terjun...


"A.. aduhh," semua menoleh ke arah Fany.


"Lu kenapaa?"


"Kesandung, Fan?" Tanya Abid khawatir, Fany mengangguk pelan. Ezhar yang melihat Fany masih meringis langsung mendekat dan membuka sepatu Fany.


"Lecet dikit. Lu bisa jalan? Apa mau gue gendong?" Tanya Ezhar.


"Cih, geser lu!" Rangga mendorong Ezhar. Tanpa sepatah kata lagi, Rangga menggendong Fany.


"Rusuh banget sih lu! Kan yang mau gendong tadi gue," omel Ezhar kesal.


"Gak usah bacot! Fany pacar gue."


"Dih pacar doang. Gue temenan sama Fany dari kecil!"


"Gue gak tanya dari kapan, yang jelas sekarang Fany pacar gue! Gue calon suaminya Fany!"


"Calon suami la kononn, jelas-jelas macarin doang nikahin kagak," cibir Abid.


"Diem lu!"


"Gak gue restui mau lu?"


"Anj- astaghfirullahalazim. Maaf, bang."


"HAHAHAHAA."