
"Devina cuma kecapean bid. Kurang istirahat"
"Udah ditebak" gumam Abid.
"Nggak terlalu bahaya kan dok?" tanya Balqis.
"Nggak kok, cuma panas biasa" jawab mama Fany.
"Oh gitu, makasih tante"
"Iya sama sama. Tante keluar dulu ya bid" Abid mengangguk, ibunya Fany pun pergi sambil menepuk pundak Abid.
"Bang.. Devi mau pulang" Pinta Devina.
"Yaudah iya pulang. Tunggu sini sama kak Balqis, abang keluar bentar" Devina mengangguk.
"Jaga Devi bentar" bisik Abid pada Balqis lalu pergi.
◑◐
"Kak Abid.."
Abid hanya berdehem, mencoba fokus untuk mengemudi. Mereka hendak kembali ke rumah. Balqis duduk di belakang sambil memangku kepala Devina yang tidur.
"Kakak marah?" tanya Balqis.
"Nggak" jawab Abid singkat.
"Nggak tapi singkat padat gitu" celoteh Balqis dengan nada pelan.
"Gue denger" jawab Abid.
"Kakak marah kan?
"Balqis tu tadi gak tau kalau ternyata kak Johan jahat. Kak Johan tadi bujukin kek gini..."
"Gue mohon tolong gue, biar gue bisa dapat duit. Gue disuruh bokap Abid ngetes dia suka apa nggak sama cewek karena takut Abid gay"
"Gitu? Serius kayak gitu?"
"Iyaa kak, suer gak boong" jawab Balqis.
"Makanya jangan mau deket sama orang baru. Jangan mau dibodoh-bodohin. Jangan terlalu polos juga. Ga baik"
"Hehe, iya maap"
"Lo bilang apa tadi ke Devi? Bisikin apa??"
"Hah? Em..."
"Apa?" tanya Abid.
"Em itu.. kakak jangan marah ya"
"Gak beres ini pasti"
"Bilang dulu apa?"
"Balqis bilang nanti kalau Devina mau berobat, kan bisa minta sesuatu sama kak Abid, pasti kak Abid bakal setuju"
"Yaa tadi gue udah bilang gitu dia gak mau kan. Pasti ada lagi yang lain" balas Abid.
"Balqis nyaranin Devina buat minta nge-make-up kakak, terus pakein kakak daster"
Cittt..
Abid ngerem mendadak, untung saja jalanan sepi.
"Apa??!" Abid menoleh kebelakang.
Balqis cengengesan. "Yaa.. maap, kan dengan begitu Devi mau ke RS"
"Ya nggak gitu jugaaa maymunah!! Astaghfirullah..." Balqis masih cengengesan.
"Rusak image seorang Abid Hafizh Althaf sebagai cowok tulen" keluh Abid.
"Demi kesembuhan Devina loh kak"
"Iyaiyaaaa!" jawab Abid dengan nada gak ikhlas. Dia berharap semoga Devina lupa dengan saran anehnya Balqis.
Abid mulai menjalankan kembali mobilnya.
"Kak?"
"Hm?"
"Kakak marah yaa?"
"Nggak"
"Marah lagi pastikan..?" Abid tidak menjawab.
"Eh, btw kak, coklatnya enak" Balqis mengalihkan pembicaraan.
"Coklat apa?" tanya Abid.
"Tadi kak Jefri kasih coklat ke Balqis, katanya dari kakak"
"Yang ngasih siapa?"
"Kak Jefri"
"Berarti dari?"
"Kak Jefri"
"Yaudah"
"Tapi tadi tu kak Jefri bilang dari kakak"
"Jefri jual nama gue, anggep aja gitu"
'kenapa jadi gengsian gini gue?!' batin Abid.
"Lo kenapa bisa dirumah?" Abid mengganti topik agar Balqis tidak membahas soal coklat itu.
"Ditelepon sama Avi" Abid berohria.
"Kak mampir ke supermarket bentar yaa" pinta Balqis.
"Mau beli apa?"
"Kepo"
"Yaudah, gak usah berhenti"
"Ish" Abid tertawa kecil.
Hening kembali di mobil.
Abid melihat dari kaca, Balqis sedang mengelus kepala Devina. Tiba-tiba pemikiran Abid menuju...
"Mama papaa.."
"Eh.. Sayang sini" anak perempuan yang cantik itu duduk di pangkuan Balqis yang berada di sebelah Abid.
"Ini siapa? Kamu gambar apa?"
"Ini mama Balqis, ini papa Abid. Dan ini.... "
"Ah pikiran gue kenapa nyasar sih?!" gumam Abid. Balqis yang mendengar itu terheran melihat Abid.
"Kak.."
"Kakk"
"Eh.. kenapa?"
"Kakak lah yang kenapa? Supermarket udah lewat tau"
Aihhss!! Ribet sendirikan harus mutar balik. rusuh emang pikiran gue' batin Abid.
"Kak Abid kenapa dah?"
"Nggak" Abid pun memutar balik mobilnya.
"Kakak tunggu disini aja kan?" tanya Balqis.
"Ng--"
Drrttt.. Drrtt
"Tunggu, jangan keluar"
⋆
–Ayah–
📞 "Assalamu'alaikum Abid. Kamu dimana? Devi??"
"Waalaikumsalam..Abid di supermarket yah, baru pulang dari RS. Devi demam biasa karena kecapekan"
📞 "Terus sekarang gimana?"
"Lagi tidur bunda. Ayah bunda dimana? Kenapa gak pulang?"
📞 "Ayah bunda di luar kota sama om Erwin juga ini. Kamu jemput Balqis sama Ulfa ya. Biar mereka berdua nginep dirumah"
"Lagi??"
📞 "Iya.. emang kamu tega biarin Balqis sama adeknya berdua doang dirumah?"
"Ayah bunda berapa hari?"
📞 "Tiga hari kalau cepat"
"Yaudah laya, yang penting jangan lupa pulang. Jangan lupa punya anak. Assalamu'alaikum" Abid mematikan panggilannya.
⋆
"Ulfa dimana?"
"Les. Kenapa kak?" tanya Balqis.
"Bokap nyokap lu gak balik kerumah, diluar kota sama bokap nyokap gue. Jadi ntar malem tidur dirumah gue"
"Hah? Emang mama papa om tante kemana?"
"Kan udah di bilang diluar kota" Abid membuka pintu mobilnya lalu keluar.
"Devina.. Dek.."
"Udah sampe rumah bang?"
"Ayok turun dulu, kamu mau beli jajan gak?" Devina mengangguk.
"Ayok" Abid merentangkan tangannya.
"Nggak mau gendong. Jalan aja sama kak Balqis"
"Bener ni?" Devina mengangguk.
"Yaudah, keluar lah" suruh Abid. Mereka berdua pun keluar dari mobil lalu ketiganya masuk ke supermarket secara bersamaan.
Abid dan kedua wanita itu mengelilingi supermarket mencari beberapa cemilan, minuman kaleng, minuman bernutrisi, dan yang lainnya.
"Lo mau beli apa ke supermarket? Dari tadi ngambilin jajanan doang" tanya Abid.
"Ya emang mau beli jajanan sama minuman jus itu untuk Devi" Jawab Balqis.
"Terus lo mau beli apa?"
"Nggak ada. Balqis gak bawa duit"
"Nanti gue yang bayar. Cepet sekalian" suruh Abid.
"Gak mau ah.. ntar di katain matre. Lagian Balqis juga gak mau beli apa apa" jawab Balqis.
"Ck, yaudah terserah"
Mereka berdua kembali berkeliling, tiba-tiba Balqis terserempet kakinya sendiri. Abid yang dibelakangnya langsung menarik tangannya agar Balqis tidak terjatuh.
Sampai posisi Abid dan Balqis sekarang.... berpelukan
Dua detik kemudian, pelukan mereka terlepas. "Jalan hati-hati!"
"Iya maap" Balqis membelakangi Abid lalu memegang dadanya.
'Ah.. Kenapa hal kek gitu sering kali terjadi sih?!' batin Balqis.
'Canggung cangguh dah jadinya' batin Abid sambil memegangi tengkuknya.
"Isss.. Devi cariin ternyata masih tersangkut disini. Ayok kakkkk, banggg" Ajak Devi.
"Untungnya ni anak gak liat" gumam Abid.
"Ehem.. Devi mau kemana lagi?"
"Devi mau beli mainan. Boleh kan bang??"
"Ini belanjaannya udah?" Devi mengangguk. Abid mengeluarkan kunci mobilnya lalu memberikan pada Balqis.
"Tunggu di mobil" Balqis mengambilnya lalu mengajak Devi keluar.
Abid kembali berkeliling mengambil barang barang yang sama untuk Davina. Setelahnya dia bayar di kasir.
༶•┈┈⛧┈♛
Mereka bertiga tiba dirumah setelah menjemput Ulfa dan berbelanja keinginan Devina.
Setibanya dirumah, mereka bertiga melihat anggota black blood yang nyantai di ruang keluarga. Sambil menarik Ulfa, Devina mengajaknya ke kamar.
"Devi!! Minum obat dulu dek!!" teriak Abid. Devi pura-pura tidak mendengar. Abid berdecak kesal lalu menyusul Balqis meletakkan belanjaan ke dapur.
"Balqis kasih obat ke Devi dulu ya kak, sekalian kasih yang ini ke Avi" Abid hanya mengangguk.
Abid pergi menghampiri teman-teman laknatnya.
"Widii.. Pantesan nyuruh gak usah ikut. Sama Balqis ternyata"
"Taiiiy! Gue juga gak tau dia di sini"
"Ya gak mungkin datang sendiri begooo"
"Tadi dia dipanggil sama Avi tolholl" balas Abid.
"Bacot kali bung!!!" ledek Tio. Abid tak peduli.
"Lo pada ngapainn?!" Abid menggusur Eldi. Eldi menatapnya sinis.
"Aku adik yang ternistakan" Abid tertawa.
"Mestinya kita gak kesini, menganggu sepasang ke kasih yang sed--"
"Bacot gue tabok lo ngga sumpah!"
Serentak mereka pun tertawa.
"Pulang aja deh yok. Naga berapi ini tidak ingin diganggu" ajak Jefri.
"Kok pulang kak?" tanya Balqis tiba-tiba muncul.
"Ketua galak" jawab Jefri.
"Sensian emang, hati hati lo. Ngeladenin abid yang pms itu susah" ujar Tio.
"Pms gundulmu!!" Mereka tertawa lagi, termasuk Balqis.
"Devi ngapain? Avi?"
"Avi masih tidur, Devi juga tidur karena efek samping obat"
"Ulfa?"
"Ikut tidur juga"
"Kakak-kakak mau minum apa? Balqis bikinin" tawar Balqis.
"Nggak usah repot-repot. Kasih aja teh campur racun tikus yang di sudut itu" sahut Abid.
Pletakk!!!
"Dasar gila!!" protes Rangga. Abid tertawa.
"Lo nggak usah repot-repot. Ada bik ja" ujar Abid. Abid pun memanggil pembantunya menyuruh siapkan kamar untuk Balqis.
Balqis mengikuti bik ja lalu bersama sama membersihkan kamar tamu yang sedikit berdebu.
"Lo pada kalau haus ambil sendiri di dapur" suruh Abid sambil menyandarkan tubuhnya.
"Itu si Balqis nginep?" tanya Rangga. Abid mengangguk.
"Serius? Ini.. sumpah, gue gak ngerti hubungan lo sama Balqis ini apa?" tanya Eldi.
"Tapi beneran berasa suami istri gitu, gue ngerasain hawanya. Seolah-olah Abid suami Balqis istri, Ulfa Devi Avi anaknya" Jefri bersuara.
"Iya juga yaa" semuanya menatap Abid heran.
"Apa?"
"Lo sembunyiin sesuatu kan?" tanya Rangga.
"Sembunyiin apaan ngaco banget!!"
"Gue sama Balqis gada hubungan apapun. Anggep aja kakak adek, atau sepupuan" jawab Abid.
"Lah taii bid taii basi banget alasan lo!! Nih ya gue cuma mau pesen ama lo jangan sampe telat sadar" ceramah Eldi.
"Alahlah, bucin banget lo jomblo!" cibir Tio.
"Kan lo juga jomblo samsudin" ledek Rangga.
"Kata siapa dia jomblo? Kan udah di jodohin sama Sisi" sahut Heon.
"Anjyng!! Najiss bangett! Astagfirullah.. ya Allah"
"Awas nanti jatuh cinta"
"Tuh kan gue di nistain juga" Abid tertawa.
"Kalau Balqis nginep sini, berarti bonyok lu sama bonyok dia lagi ada kerja di luar kota?" Abid mengangguk.
"Asssaa, bisa dong kita nginep juga" tanya Rangga.
"Dih.."
"Ngga! Manten baru jangan di ganggu"
"Manten baru palamu peyang!!"