
"Yaaah, Fany udah gede rupanyaa" Abid menghampiri Fany dan Rangga.
"Apaan sihh kamu, aku emang udah gede kalii" Abid tertawa.
"Misteriii, ini beneran atau pendalaman dramaa?" tanya Putra.
"Beneran lahh, real no dramaa" jawab Rangga meyakinkan.
"Seriuss luu? Lu beneran suka kagak sama ni anak kecil" tanya Abid sinis, ia merangkul Fany.
"Abidd!!"
"Sstt" Abid menutup mulut Fany dengan jari telunjuknya.
"Macem om pedo" sindir Eldi. Abid tertawa.
"Bid, lu pura pura gatau yaa?? Ato amnesia?? Ohh iya pahamm, lu pasti gak bener-bener berteman sama gue makanya gak ngertiin guee"
"Lah anjirrrr kenapa baperrrrr" Abid menendang Rangga, Rangga pun mengelak lalu tertawa. "Lu tau kan, gue tu udah suka sama Fany sejak awal dia masuk. Gue beneran suka sama diaa"
"Cieeeeee" Ledek yang lain.
"Aaaa maluu" Fany menutupi mukanya dengan tangan.
Rangga menarik tangan Fany lalu memeluknya, Fany bersembunyi di balik dada bidang Rangga.
"Jangan sakiti Fany, lu pasti tau akibatnya kalau lu sakitin Fany"
"Amannn bangg"
"Yah yahh kak Rangga sold out"
"Kak Fany juga sold out"
"Gapapa deh mereka sold out, penting kak Abid belum"
Abid tersenyum miring. 'Gue udah lama sold out' batin Abid.
"Heh hehh!! Kalian bedua kenapa pelukan" Rangga dan Fany melepas pelukan.
Rangga mengangkat kedua tangannya lalu menggaruk kepalanya, ia sedikit malu.
"Saya bercanda, saya pernah muda kok. Lanjutkan, gapapa" ujar Pak Dayat.
"Wahhh, pak Dayat penuh misterii"
"Hahahaha"
Drrrttt.. Drrttt..
Ponsel Abid berbunyi.
"Lah, bang, lo bawa hape tadi?? Kan tadi main airr di air terjunn" ujar Dodi heran.
"Hape Abid mahal laa.."
"...ANTI AIRRR" jawab mereka serentak, kecuali Abid, Andi, Denis, Dodi, dan Putra.
"Haha, gue juga gak inget bawa hape"
"Bentar ya, panggilan dari bokap" Mereka mengangguk.
Abid pun berjalan menjauh.
"Assalamu'alaikum ayah"
π "Wa'alaikumsalam, Abid, kamu bisa balik ke kota? Ayah butuh bantuan"
"Loh yah, Abid lagi camping"
π "Iya ayah tau, ayah udah izin sama bu Jihan. Kamu balik yaa?? Jam setengah empat kita punya pertemuan"
"Ayah ini udah jam tigaa, sampe rumah jam empat. Mana sempatt lagi"
π "Yah jadi gimanaa??"
"Ayah kok dadakan??"
π "Sekretaris ayah baru bilang"
"Yaudahh gini ajaa deh. Ayah atur ulang jadwalnya ya. Minta jam setengah lima, ini secepatnya Abid balik"
π "Tadi ayah udah nyuruh asisten ayah buat jemput kamuu"
Abid pergi menuju tendanya.
"Dimana sekarang, yah??"
π "Ayah gak tau"
"Eh iya, masa iya Abid ninggalin timm?"
π "Sejam aja, nak. Bisa ya?? Ini demi masa depan kamu. Investor kita mau ketemu penerusnya sekalian bicarain tentang bisnis"
Abid menghela nafas.
"Yang jemput Abid siapa, yah??"
π "Firman"
"Kalau gitu, Abid tunggu disini"
π "Oke oke, ayah matikan dulu ya. Nanti ayah kabariin, assalamu'alaikum"
"Iya, yah. Wa'alaikumsalam"
Abid keluar dari tendanya. Dia mengechat Firman, asisten ayahnya. Abid kenal dengan Firman karena pernah berjumpa beberapa kali.
Abid
Mas, dimana??
Abid
Mas beliin setelan jas sekalian yaa? Abid ga ada setelan jass disinii
Mas Firman
Iya, nanti saya belikan. Saya lagi di jalan, kamu bisa sharelock gak? Saya belum di kirimin alamatnya.
Abid mengirimkan lokasi camping, ia juga mengecek lokasi Firman melalui laptopnya.
"Bid, kenapa?" tanya Rangga yang ke tenda.
"Gue kudu balik bentar, bersangkutan sama Eidi"
"Sekarang?" Abid mengangguk.
"Lu bedua jaga tim ya, jangan sampe kenapa-napa. Jaga si ono jugaaa, jaga si lepoo"
Mereka mengangguk. "Lepo siapaa, bang??" tanya Andi.
"Laptop kesayangan gue, isinya berkas penting itu" Andi berohria.
"Kalau ilang, berarti kalian yang ngilangin. Gue gak segan segan ngehukum orang yang ngilangin barang gue"
Mereka terdiam. "Dijamin aman bang"
"Oya, btw abang naik apa? Pake mobilnya bu Jihan?" Abid menggeleng.
"Ntar di jemput"
Abid keluar tenda menemui bu Jihan.
"Bu,"
"Iya saya tau. Jemputan kamu belum datang kan?"
"Ah iya bu, belum"
"Yaudah kamu tunggu dulu, ya" Abid mengangguk, ia duduk lesehan di rerumputan.
Ting...
Chat dari ayahnya.
Ayahh
Investor setuju, ayah kirim datanya ya
Abid
Iya yah
Abid membaca data nya.
"Abid, kamu kembali sebelum api unggun ya"
"Oke buk, di usahakan" jawab Abid.
"Ada api unggun, buk?" tanya Denis heran.
"Ada. Di api unggun itu juga kita bakal makan bersama. Saya udah pesan ayam mentah untuk di bakar nanti malam"
"Untuk semua"
"Wowww!! Debes banget buk Jihan" puji Tio.
"Kalau makanan aja cepet otaknya" cibir Rangga. Tio cengengesan.
"Yaudah kalau gitu. Saya gabung sama guru lain dulu, ya" Mereka mengangguk, bu Jihan pun pergi.
"Lu beneran balik lagi kann?" tanya Rangga.
"Mungkin iya"
"Serius dong lu anjiiirr" Abid tertawa kecil.
"Gue usahakan balik"
Abid membuka whatsapp nya, ia ingin mengechat Balqis.
Abid
Sayang, where are you??
Finding Doryy π
Di tenda, kenapa bby?
Abid
Aku mau ke kota bentar, ada urusan. Ditinggal gapapa??
Finding Doryy π
Balik lagikann???
Abid
InsyaAllah balik, mau nitip??
Abid
Ketemu yukklah, cari tempat sepi.
Finding Doryy π
Nggaa bisaa bbyy. Ni mak lampir lagi ganass
Abid
Maantep yaa, udah berani lawan Silviaπ€£
Finding Doryy π
Kalo kemaren kemaren gaada halangan, terus Balqis bisa latian gelut sama kamu. Huuuh udah penyet dia.
Abid
Gayanyaaa istrikuuu, liat orang gelut aja takut kok.
Finding Doryy π
Lah iyaaa π
Finding Doryy π
Kamu naik apaa?
Abid
Di jemput mas Firman, asistennya ayah.
Finding Doryy π
Ati-atiii
Abid
Kamu juga harus ati-atiii
Abid
Mau nitip apa jadinya
Finding Doryy π
Nitippp sosisss bolehh??
Abid
Sosis?? Sedikit ambigu
Finding Doryy π
Mesum banget ihhh
Abid
π€£π€£π€£
Abid
Nanti dibelikkan, oke?
Finding Doryy π
Maaaciiiwwww
Finding Doryy π
Bby udah dulu yaaa, mak lampir marah liat Balqis main hapee. Kamu jangan lupa balik, jangan jelalatan.
Finding Doryy π
Love you!!β€
Abid
Love you too sayang! β€
Abid tersenyum melihatnya.
"Bucin woi ahh" cibir Eldi. Abid tidak menjawab, dia memasukkan ponselnya ke saku.
"Cobain gih, rasanya aaaahhhhhhhh mantep"
"Abid meresahkan sekalii" Abid tertawa.
"Mereka ni udah pada bucinnnn"
"Si Rangga bucin sama Fany. Si Abid juga sama si ono, bentar lagi si Tio sama Sisi. Gue sama siapaa?" tanya Heon.
"Sesill kan ada" jawab Jefri.
"Sesill punya gueee" sahut Eldi.
"Najiss dih pedeannn"
"Syirik lu, emang lu sama siapaa?" tanya Eldi.
"Gue sama Devi, adeknya Abid"
"Gue tendang lu ya macem-macem aja" Jefri tertawa.
"Gue dari tadi penasaran bang, si ono si ono siapa??" tanya Andi.
"Rahasiaa"
Tin tinn..
"Mas Firman bawa mobil ngajak mati emang" gumam Abid. Abid menghampiri bu Jihan lagi.
"Buk saya permisi yaa" Bu Jihan mengangguk. Abid tersenyum pada guru yang lain. Setelah itu dia kembali ke temannya.
"Gue pergi dulu, jangan lupa pesan gue"
"Aman itu amann, jangan lupa balik lu" Abid mengangguk, ia berlari menuju Firman.
"Mau ganti sekalian gak, bid?"
"Udah mas beliin kan?" Firman mengeluarkan paper bagnya.
Abid langsung membuka kaos yang ia kenakan, sontak semua siswi menajamkan matanya. Firman langsung menutupi tubuh Abid.
"Abidd kamu malah ganti disinii! Saya kira ke kamar mandii atau apaaa gituu"
"Mas, hutan gak punya kamar mandi" jawab Abid sambil mengancingkan bajunya, ia merapikan rambut lalu memasang jas.
Setelah selesai, dia mencari Balqis dengan matanya. Balqis dan Abid tersenyum ketika mata mereka bertatapan.
Dua menit kemudian, Abid masuk ke mobil. "Mas ayooo"